Arsip Bulanan: Februari 2021

SIAPAKAH ORANG-ORANG PENGECUT DALAM LAUTAN API YANG MENYALA-NYALA?

Oleh Peter B, MA
Dalam kitab Wahyu 21:8 tertulis demikian : Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”
Singkatnya, itu adalah sebuah daftar. Daftar dari mereka yang mengalami kebinasaan kekal. Kematian kedua, begitu tulis rasul Yohanes. Merekalah orang-orang yang dikutuk. Terpisah dari Tuhan dan kehidupan. Selama-lamanya. 
Dari daftar dalam nats, ada yang mengejutkan. Kita tidak heran bila disebutkan antara lain : orang-orang tidak percaya, orang keji, pembunuh, para sundal, tukang-tukang sihir, penyembah berhala bahkan para pendusta. Tapi jenis orang pertama dalam daftar itu, siapa yang akan paham dan tidak terkejut membacanya? Yang pertama-tama disebut di antara semua, mereka disebut ORANG-ORANG PENAKUT.
Siapakah yang dimaksud? Mengapa orang-orang penakut mendapat hukuman abadi? Mengapa di urutan pertama dalam daftar? Mungkinkah Anda atau saya masih termasuk di dalamnya? Beberapa terjemahan Alkitab lain (khususnya sebagian besar Alkitab berbahasa Inggris), menggunakan istilah “ORANG-ORANG YANG PENGECUT” (cowards) dan sebagian lagi menyebutkan “KURANG BERANI ATAU KURANG BERTEKAD/TETAP HATI (timid).
Siapa sebenarnya orang-orang yang dimaksud?
Singkatnya, inilah orang-orang yang tidak berani mengambil risiko untuk mengikut Kristus.
Bisa saja, mereka adalah orang-orang yang pernah mendengar tentang Yesus, mengetahui bahwa Dia jalan keselamatan satu-satunya, lalu dipanggil secara pribadi untuk percaya dan mengiring Kristus TETAPI mereka menolak. Mereka lebih memilih tinggal dalam keadaan semula, yaitu keyakinan atau kepercayaannya semula. Yang (dipikirnya) aman dan nyaman. Daripada menempuh babak kehidupan yang baru bersama Tuhan.
Mungkin saja mereka juga orang-orang yang telah dilahirkan dalam keluarga Kristen. Orang Kristen dari lahir. Agamanya Kristen. Tak lupa ke gereja. Selalu memberikan persembahan. Menaikkan nyanyian pujian dan penyembahan. Ambil bagian dalam tim pelayanan. Tapi saat Roh Tuhan berbisik kepada mereka untuk melangkah lebih jauh bersama Tuhan, mereka banyak pertimbangan. Sayangnya, waktu tidak berhenti bersama pertimbangan mereka. Kehidupan pun tak berjalan selalu mulus. Tanpa sadar hatinya makin jauh dari Tuhan. Semakin dingin dan tak mau tahu akan Tuhan dan rencana-Nya. Saat ajal menjemput, tidak pernah jelas apakah ia benar-benar punya komitmen pada Kristus. Ia telah memilih menjadi orang yang tidak bersungguh hati pada Tuhan. Tak pernah mau merisikokan hidupnya bagi Tuhan. Kini, keselamatannya berada dalam risiko besar.
Contoh nyata dalam Injil mengenai orang semacam ini adalah yang digambarkan dalam perjumpaan Yesus dengan anak muda yang kaya. Ketika Yesus memintanya untuk mengambil langkah penentu yang memastikan keselamatan jiwanya di kekekalan (yaitu meninggalkan hartanya lalu mengikut Yesus dengan menjadi murid-Nya) ia pergi dengan sedihnya. 
Ia takut kehilangan hartanya. 
Ia kuatir jika hidup sekedar mengikut Yesus tanpa memegang kekayaan materi. 
Ia ngeri membayangkan hidup di luar kenyamanan yang dinikmatinya selama ini. 
Ia berkecil hati melihat kehidupan sebagai murid Kristus yang serupa rakyat jelata dan biasa. 
Dalam kekuasaan dan kekuatan fisik serta kemampuan otaknya yang masih segar nyatanya IA HANYA SEORANG PENGECUT SAJA. 
Apakah ia akhirnya diselamatkan  dan memperoleh hidup kekal yang dicarinya? Kita tidak tahu. Dan memang demikianlah keadaan setiap orang yang tidak berani mengambil keputusan tegas dan berani membayar harga hidup bagi Tuhan. Keselamatannya tidak jelas dan dalam posisi yang tidak meyakinkan.
Kasih karunia Tuhan itu besar dan pasti sanggup menyelamatkan kita. Bagian kita adalah menjadikannya suatu milik yang benar² pasti dan menjadi hak kita sepenuhnya (lihat 2 Petrus 1:10-11). Dengan cara apa? Dengan menetapkan diri hidup bagi Tuhan APAPUN RISIKONYA dan BERAPAPUN PENGORBANAN YANG HARUS KITA LAKUKAN BAGI TUHAN. 
HAL MENGIKUT YESUS
Dalam Injil, kita membaca tentang orang-orang yang datang kepada Yesus, yang ingin mengikut Dia.
Adegan itu diberi perikop oleh Alkitab Terjemahan Baru sebagai “Hal Mengikut Yesus” sebagaimana dituliskan dalam Lukas 9:57-62.
Kepada ketiga orang itu, Yesus memberikan jawaban yang lugas. Kepada yang menyatakan diri secara terbuka ingin mengikut Dia, Yesus berkata bahwa jika serigala mempunyai liang untuk tidur dan burung ada sarangnya, maka Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya. Suatu gambaran mengenai penolakan akan Dia di manapun di dunia ini. Mengikut Yesus artinya harus siap ditolak dimana-mana. Apakah masih mau?
Kepada orang kedua, yang ingin menguburkan ayahnya lebih dulu (suatu alasan untuk menunggu ayahnya meninggal lebih dulu karena ia merasa harus menuntaskan kewajiban lebih dahulu pada orang tuanya), Yesus menjawab “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Gambaran bahwa dalam mengikut Yesus, kepentingan Kerajaan Allah adalah yang utama dan harus siap melepaskan segala urusan pribadi maupun keluarga jika Tuhan sudah memanggil.
Kepada orang ketiga, yang ingin berpamitan dengan keluarganya (yang maksudnya ingin minta pertimbangan lebih dahulu pada keluarganya), Yesus menjawabnya : “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Gambaran bahwa untuk mengikut Tuhan, haruslah tetap hati karena hatinya memang terpanggil mengiring Tuhan. Pertimbangan manusia lain tidak ada artinya jika itu terkait keputusan untuk melangkah bersama Tuhan.
Melalui ketiga bentuk percakapan itu, tak pelak menyiratkan pesan yang jelas bahwa mengikut Yesus memerlukan keberanian, tekad, kesungguhan, keseriusan, kerelaan meninggalkan zona nyaman, bahkan terkadang harus menentang kebiasaan atau tradisi dan kelaziman pada umumnya.
Dalam kaitannya dengan ini, bahkan Yesus memperingatkan bahwa kehadiran-Nya di tengah-tengah keluarga bisa membawa pertentangan daripada kedamaian (lihat Matius 10:34-36) sehingga yang mengasihi keluarganya lebih dari mengasihi Dia, tidak layak menjadi pengikut-pengikut-Nya (lihat Matius 10:37). Pula, mengikut Yesus, telah kita tahu, serupa memikul salib dan harus menyangkal diri. Lalu harus siap mengikut kemanapun Dia pergi. Ini sama sekali bahkan sesuatu yang mudah dan nyaman. Ini membutuhkan tekad dan keberanian. Yang sangat besar.
Untunglah, kita tidak melangkah sendiri dengan kekuatan manusiawi kita. Roh Kudus diberikan untuk menjadikan kita kuat dalam kekuatan kuasa dan kasih-Nya. Melalui persekutuan kita dengan Roh Kudus itulah kita akan dimampukan mengalahkan kedagingan lalu berbuah banyak.
Meski demikian, mengikut Yesus tetap merupakan suatu keputusan yang membutuhkan keberanian dan merupakan perjalanan yang memerlukan keberanian lebih besar lagi. Ini bukan untuk para pengecut. Yang hanya ingin mengambil keuntungan dari hubungan dengan Tuhan. Tapi tidak pernah bersedia membayar harga sebagai murid dan hamba untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan.
Ikut Tuhan tanpa meninggalkan wilayah-wilayah aman dalam hidup adalah cara orang-orang pengecut. Bukan seperti itu mengikut Kristus. Yesus yang meninggalkan segala sesuatu di sorga demi kita, layak menerima kita yang meninggalkan segala sesuatu demi Dia. Dia menghargai cinta dan pengorbanan yang sama. Yang akan diganjar-Nya dengan kekekalan abadi di sorga.
Jangan setengah-setengah iring Yesus. Atau tangung-tanggung. Jangan menunggu segalanya terasa aman baru Anda berjalan. Jangan banyak menimbang untung rugi berjalan dalam iman dan ketaatan pada Tuhan.
Melangkahlah dengan segala keyakinan dan keberanian untuk berjalan dalam kehendak-Nya setiap hari. Jangan biarkan rasa takut karena kehilangan kenyamanan hidup Anda membuat Anda menjauh dari Sumber dari segala rasa aman sehingga Anda kehilangan tempat aman nan abadi kelak.
Ambillah keputusan menjadi berani untuk Kristus.
Masuklah dalam rencana-Nya.
Ambillah bagian dalam kegerakan-Nya.
Saya yakin Anda tidak akan pernah menyesalinya.
Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!  ~ 1 Korintus 16:13 (TB)
SALAM REVIVAL!
Indonesia bagi kemuliaan Tuhan.

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 13

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB ENAM
GURU (1)

Baik Elia maupun singa itu tidak dapat terlihat atau terdengar.  Mereka sepertinya baru saja menghilang ke hutan belantara.
“Itu adalah singa terbesar yang pernah kulihat,” kata salah satu penjaga. “Aku tidak percaya Elia akan mengejarnya seperti yang dia lakukan. “Apakah kamu mendengar apa yang dia katakan?”  Mary bertanya.
“Apa yang dia katakan?”  penjaga itu menjawab.
“Bahwa ada singa yang lebih besar dalam diri kita,” jawab Mary.
“Apa yang dia maksud?” seseorang bertanya.
 
“Tapi singa itu nyata!”  kata penjaga itu.
“Begitu juga singa di dalam dirimu,” kata sebuah suara yang akrab. Elia berdiri di samping jalan di depan kami. Dia menoleh ke penjaga yang masih terguncang, dan melanjutkan:
“Jika kalian tidak belajar menghadapi singa, kalian akan lari dari mereka seumur hidup kalian. Jika kalian tidak mengejar mereka, mereka akan mengejar kalian sampai menjauh dari tujuan kalian, dan kalian akan mati di padang gurun ini.”  
“Tapi kita butuh senjata besar untuk menghadapi singa seperti itu,” protes penjaga itu.
“Kalian memiliki senjata yang lebih kuat dari senapan apapun.” Seperti yang aku katakan, ‘Singa yang ada di dalam kalian itu lebih besar.’ Jika kamu melihat Singa yang tinggal di dalam diri kalian, kalian tidak akan takut pada singa yang lain atau apa pun juga. Kalian tidak akan berhasil melewati tempat ini tanpa melihat Dia yang tinggal di dalam diri kalian,” balas Elia.
“Aku membantu kalian kali ini.  Jangan berharap aku akan sedekat ini dengan kalian saat mereka menyerang lagi Mereka akan kembali, dan mereka akan terus datang kembali sampai kalian membuat mereka lebih takut pada kalian daripada kalian takut pada mereka.” 
Semua orang berdiri memikirkan apa yang dikatakan Elia.  Seluruh pengalaman alam liar telah mengambil suasana yang jauh lebih serius. Mengetahui ajaran Kristus di dalam diri kita tidaklah cukup;  kita harus hidup dengan kenyataan bahwa Dia ada di dalam kita. Melihat Tuhan dan tinggal di dalam Dia bukan lagi hanya sekedar pilihan, tapi itu juga berarti masalah hidup atau mati.
Setelah beberapa menit, Mary berjalan ke arah Elia dan menatap langsung matanya lalu bertanya,
 “Apakah engkau Elia yang asli?”  
“Apa yang dikatakan hatimu?” dia membalas.
Semenit kemudian, Mary menjawab dengan sedikit keberanian, “Kamu benar-benar Elia. Maaf, tapi sulit dipercaya bahwa kami ini sangat istimewa sehingga engkau datang membantu kami. ”  
“Menurutmu mengapa kalian sangat istimewa sehingga aku membantu kalian?” Elia membalas, menatapnya dengan tegas. “Bukankah memiliki Roh Kudus yang tinggal di dalam dirimu sebagai Penolongmu bahkan lebih besar lagi? Aku diberi kehormatan ini untuk mewakili semua nabi dan orang saleh yang membantu mempersiapkan jalan bagi Tuhan, tetapi engkau selalu memiliki Satu Pribadi yang lebih besar dari kami semua bersama kalian. Melihat Dia yang tinggal di dalam Kalian jauh lebih besar daripada melihat aku. Engkau tidak boleh terlalu terganggu oleh orang-orang yang menyampaikan firman Tuhan padamu sehingga engkau tidak lagi melihat Firman itu sendiri dan mengikuti Dia.
“Meski begitu, kalian memang spesial. Ini adalah saat-saat yang khusus, dan mereka yang telah dipilih untuk tinggal di dalamnya adalah orang-orang istimewa. Semua yang telah berjalan di jalan ini adalah orang yang  istimewa, tetapi untuk berjalan di sini pada saat-saat sekarang ini adalah salah satu kehormatan terbesar yang pernah ada.”  
“Apakah engkau datang karena engkau tahu singa akan menyerang kita?” seseorang bertanya.
“Tidak. Aku datang karena pertanyaan yang kalian ajukan.” 
“Apakah pertanyaan itu salah?” Mary bertanya dengan kerendahan hati yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Tidak. Mereka penting seperti yang dikatakan pemimpin kalian. Penting bagi kalian untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan terdalam yang kalian miliki. Beberapa dari kalian tidak akan berhasil melewati tempat ini tanpa memiliki jawaban atas pertanyaan kalian itu”  
“Masih sulit dipercaya bahwa engkau akan datang untuk menjawab pertanyaan kami secara pribadi, dan akan muncul di hadapan kami untuk itu,” kata Mary lembut.
“Aku tidak datang untuk menjawab pertanyaan kalian, dan ada sesuatu yang lebih penting daripada meminta aku datang,” kata Elia. “Aku dikirim oleh Sang Raja. Dan terlebih penting bahwa Tuhan peduli dengan pertanyaan-pertanyaan kalian.”  
Kemudian Elia memberi isyarat kepada kami untuk mulai berjalan, dan berkata, “Penting bagi kalian untuk membuat kemajuan sebanyak yang kalian bisa ketika kalian memiliki cahaya. Kalian harus terus bergerak.” 
Saat kami berjalan melewatinya, aku berpaling untuk melihat, tapi dia sudah menghilang di pepohonan.  Kami semua berjalan diam beberapa saat. Beberapa tenggelam dalam perenungan. Yang lainnya memperhatikan dan mendengarkan apakah ada tanda-tanda singa akan datang lagi. Setelah lebih dari satu jam, Mary mendatangi aku.
“Elia akan kembali untuk menjawab pertanyaan kita, bukan?”  
“Dia mungkin kembali, tapi tidak untuk menjawab pertanyaanmu,” jawabku.
“Tapi kupikir dia berkata bahwa dia diutus oleh Raja Sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?”  
“Ingatlah ayat di mana Tuhan berkata untuk ‘memperhatikan bagaimana kamu mendengar.’ Elia berkata dia datang karena pertanyaan-pertanyaan kalian, tetapi dia tidak mengatakan dia datang untuk menjawabnya. Dia datang untuk menyampaikan kepadaku betapa pentingnya pertanyaan-pertanyaan itu dan memberi tahu aku bahwa aku punya jawabannya. Ingatlah bahwa aku berkata kepada kalian bahwa Elia bahkan tidak tahu apa pertanyaannya.  Dia juga penasaran tentang semua pertanyaan itu.”  
“Maafkan aku. Aku tahu engkau telah mengatakan ini. Aneh bagiku kalau setelah diangkat dan tinggal di surga selama ini dia tidak memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan yang kami miliki, “Mary mencoba berasumsi. 
“Dia mungkin tahu jawabannya, jika dia tahu pertanyaannya. Elia adalah salah satu nabi terbesar sepanjang masa, tapi dia bukan Tuhan, jadi dia tidak maha tahu atau mahahadir. Dia juga memiliki keterbatasan.”  
“Kami banyak berasumsi, bukan?”  Mary mengaku. “Aku hanya berasumsi bahwa setiap orang yang pergi ke surga akan mengetahui segalanya….”  

“Seperti Tuhan? Kita memang membuat banyak asumsi, bukan?  Kitab Suci memang berbicara tentang bagaimana kita akan mengambil kodrat ilahi, tetapi setelah Yesus dibangkitkan dan menampakkan diri kepada para murid-Nya, Dia berkata bahwa Dia belum dimuliakan.  Tentu saja Dia sudah dimuliakan sekarang, tetapi itu tidak berarti bahwa semua orang kudus yang telah pergi sebelum kita telah dimuliakan. Tampaknya ada perbedaan antara dibangkitkan dan dimuliakan. Dalam bahasa Ibrani, dikatakan bahwa mereka yang telah pergi sebelumnya tidak bisa menjadi lengkap, atau sempurna, tanpa kita.  Bisa jadi semua menunggu anggota terakhir dari tubuh Kristus untuk menempati posisi atau tempat mereka di sorga sebelum mereka dapat menerima pahala penuh atau dimuliakan. Dan tetap saja, untuk dimuliakan tidak berarti bahwa kita langsung akan mengetahui segalanya. Mungkin keabadian juga merupakan suatu pembelajaran dan penjelajahan yang berkelanjutan. “
 Kami berjalan diam selama beberapa menit. Mary tenggelam dalam pikirannya. Dia dan William adalah orang yang luar biasa, tetapi sangat berbeda.  Aku melihat yang lain, dan bertanya-tanya apakah mereka semua akan tampil dalam keunikannya sendiri. Aku bisa melihat menghabiskan keabadian hanya untuk mengenal mereka yang hidup di bumi dan tak akan berhenti terpesona. Sekali lagi aku bersyukur karena harus kembali ke padang gurun dan bergabung dengan grup ini, dan aku berharap punya waktu untuk mengenal mereka.
 Mary kemudian berbicara, “Engkau memiliki perspektif yang menarik, tetapi sekedar untuk pribadi kita saja, tahukah engkau apa pertanyaanku?”  Mary melanjutkan.
“Elia berkata bahwa aku dapat menjawabnya karena aku memiliki pertanyaan-pertanyaan yang sama, jadi kurasa aku tahu apa itu.”  
“Dan engkau punya jawabannya?”  
“Aku punya jawaban. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa aku dapatkan peroleh dari orang lain yang dapat memuaskanku. Ketika aku mulai mencari jawaban, aku merasa bahwa penyelidikanku dibimbing oleh suatu tangan yang khusus.  Aku sedang diperlihatkan hal-hal yang kurasa perlu kuketahui.  Aku sampai pada kesimpulan yang memuaskanku, tetapi aku tidak yakin itu akan memuaskan engkau.”
 “Sewaktu aku berbagi dengan Maria yang lebih muda, ada tertulis bahwa kita melihat sebagian dan mengetahui sebagian.  Aku tidak mengklaim memiliki jawaban lengkap untuk apa pun, tetapi apa yang aku temukan dapat membantmu.  Aku juga menduga bahwa engkau harus menambahkan kesimpulanmu sendiri pada jawaban-jawaban itu.  Engkau pun memiliki bagian untuk menambahkan sesuatu juga.”
“Yang lebih penting daripada jawaban itu sendiri adalah cara untuk menemukannya sehingga engkau bisa mendapatkannya sendiri. Aku hanya berharap bahwa aku dapat membantumu menemukan jalan dan kedamaian yang datang dari keyakinan penuh pada Raja kita yang sepenuhnya benar dan sepenuhnya adil.”
“Engkau mengatakan bahwa engkau telah diperlihatkan jawabannya.  Bagaimana caranya engkau menerimanya?” tanya Mary yang lebih muda, saat dia dan yang lainnya mulai berjalan bersama kami dan mendengarkan.
 “Itu mungkin pertanyaan terpenting dari semuanya,” jawab aku. 
“Pencarianku adalah untuk mendapatkan jawaban, tetapi ketika aku menemukannya, aku menyadari jejak yang membawa aku kepada mereka lebih berharga daripada jawaban. Ini adalah jejak yang dapat menuntun ke semua jawaban lainnya.”
“Bisakah engkau menjelaskan mengenai jejak ini?”  Mary bertanya.
“Ketika aku tidak dapat menemukan seseorang dengan jawabannya, aku mengajukan pertanyaan aku kepada Tuhan dalam doa. Dia menjawabnya dengan cara yang khusus dan menarik hati. Dia menjadi Guruku, dan Dia lebih baik daripada guru manusia manapun.” Kataku..  “Inilah mengapa aku pikir pertanyaan kalian sangat penting. Bahkan yang lebih penting daripada mendapatkan jawaban adalah dapat mengenal Dia sebagai Guru Kalian.”  
“Apakah Dia sendiri yang menampakkan diri atau mengirim seseorang seperti Elia atau malaikat untuk mengajari Kalian?” seseorang bertanya.
 “Tidak. Aku telah melihat Tuhan, dan aku telah melihat malaikat, tetapi tidak satu pun dari pengalaman itu yang menjawab pertanyaanku. Aku selalu berpikir bahwa jika aku dapat melihat-Nya, aku akan menanyakan segalanya kepada-Nya. Tetapi ketika Dia menampakkan diri kepadaku, aku bahkan tidak dapat memikirkan satu pertanyaan pun. Sebenarnya, aku tidak bisa berkata-kata dan sangat gentar pada Tuhan sehingga aku tidak dapat membayangkan mengajukan pertanyaan saat itu, tetapi itu adalah cerita lain.”
“Cara Dia menjadi Guruku adalah setelah aku berdoa dan meminta Dia untuk mengajari aku tentang sesuatu, Dia akan mengajari aku dengan cara-cara unik, yang aku mengenalinya sebagai jalan-jalan-Nya. Seseorang mungkin memberi aku sebuah buku atau pesan yang direkam yang akan memiliki jawaban untuk sebuah pertanyaan, tetapi aku tahu itu adalah Tuhan Sendiri yang memberikannya kepadaku.  Di lain waktu, aku merasa terdorong untuk menonton film atau acara televisi, dan itu akan menjadi jawaban atas pertanyaanku. Meskipun jawaban bagiku mungkin diucapkan oleh karakter dalam acara itu, aku tahu itu adalah Tuhan Sendiri yang menjawab pertanyaanku. Jadi aku tidak hanya mendengar firman Tuhan, aku belajar mendengar Firman itu sendiri melalui siapa pun yang Dia pilih untuk berbicara atau dengan cara apa pun.
“Suatu kali aku sedang duduk di bandara dan berdoa untuk jawaban atas sebuah pertanyaan, dan pasangan di sebelahku mulai berbicara. Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mendengar percakapan mereka, dan aku mendengar jawaban atas pertanyaanku itu.  Di lain waktu, butuh waktu bertahun-tahun sebelum Dia menjawab pertanyaan, tapi itu tetap suatu perjumpaan ilahi dan selalu istimewa.”  
“Aku pikir aku telah mengalami sedikit dari ini, tetapi tidak pernah berpikir bahwa Tuhan adalah Guruku,” Mary menanggapi.
 “Aku yakin engkau pernah mengalaminya. Kemungkinan besar pernah. Yang perlu kita lakukan adalah mengejar ini sebagai kehidupan seorang murid, yang akan selalu diajar oleh Guru mereka.”
 “Hubungan yang aku bangun dengan Guruku menjadi lebih indah daripada jawaban atas pertanyaanku. Aku jadi mengerti bagaimana Tuhan memiliki kesenangan khusus dalam mengajar umat-Nya. Ini adalah jenis persekutuan yang Dia miliki dengan Adam di Taman. Aku pikir, penjelajahan dan sifat ingin tahu manusialah  yang paling menyentuh sifat kreatif-Nya.  Dia tidak hanya senang menerima pertanyaan-pertanyaan kita — Dia menyukai petanyaan-pertanyaan itu.
“Saat mengejar pengetahuan, engkau akan mulai mengenali tangan-Nya mengajarmu, aku menyebutnya sebagai ‘Jejak Tuhan’. Ini seperti petualangan yang luar biasa. Sekali lagi, Tuhan tidak menyembunyikan sesuatu dari kita, tetapi Dia menyembunyikannya demi kita.  Jawaban yang kutemukan adalah harta karun, tetapi harta terbesar dari semuanya adalah petualangan dan hubungan yang aku bangun dengan Tuhan sebagai Guruku. Aku menghargai beberapa cara bagaimana pertanyaanku dijawab sama seperti aku menghargai jawabannya.”
“Aku juga pernah mengalami hal itu,” kata seseorang dalam kelompok itu, dan banyak yang setuju.
 Itu tidak hanya menarik bagiku untuk mendengarnya, tetapi menunjukkan kepadaku bahwa ini benar-benar kelompok yang istimewa. Selama bertahun-tahun aku mengejar Tuhan, aku telah menemukan banyak orang yang pernah mengalami hal ini, tetapi tidak banyak yang telah mengetahui bahwa ini adalah bagian utama dari hidup mereka. Saat aku menyurvei grup, aku tahu bahwa mereka benar-benar memahami hal ini. Aku menyimpulkan bahwa ini kemungkinan besar merupakan faktor bagi mereka yang membuat mereka menemukan jalan yang kami tempuh sekarang ini. Hanya William yang tampak terpikat oleh ini seolah-olah ini adalah pemikiran baru, dan tentu saja, dia adalah seorang yang baru percaya.
 “Bisakah engkau menjelaskannya sedikit lagi?”  kata William.
 “Apakah engkau benar-benar berpikir Dia ingin berhubungan dengan semua orang seperti itu, bukan hanya mereka yang dipanggil untuk berjalan di jalan ini?” tanya Mary yang lebih muda, jelas masih memikirkan keluarganya.
“Ada tertulis bahwa Dia telah memanggil kita ke dalam persekutuan dengan Putra Allah, jadi Dia ingin memiliki hubungan seperti ini dengan semua umat-Nya.  Tampaknya kegagalan kita untuk memenuhi Amanat Agung telah merampas banyak dari ini.  Tugas kita adalah memuridkan, bukan hanya menobatkan orang. Seorang murid adalah seorang yang belajar.  Bagaimanapun, pemuridan alkitabiah lebih dari sekedar menjadi seorang pelajar. Seorang murid memiliki tujuan tunggal untuk belajar dari gurunya dan menjadi seperti gurunya.
 Ini harus menjadi satu pengabdian terpenting dalam hidup kita, pikiran pertama kita di pagi hari dan pikiran terakhir kita sebelum tidur.”
(Bersambung ke Bagian 14)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 12

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB LIMA
UJIAN (2)


Aku tahu bahwa gadis muda itu masih mengalami masalah dengan konsep ini, tetapi sepertinya tidak dengan yang lain. Meski begitu, ini membuatnya sangat tidak nyaman sehingga dia jelas tidak akan mengajukan pertanyaan lagi. Aku telah belajar bahwa ketika seseorang memiliki selubung seperti itu di pikiran mereka mengenai kebenaran alkitabiah yang telah jelas dan mendasar, tidak ada argumen yang dapat menghapus selubung itu, kecuali yang Roh Kudus yang melakukannya. Jadi aku memberi tahu mereka bahwa kami akan membicarakan lebih banyak tentang hal-hal ini nanti dan bahwa kami perlu untuk bergerak kembali.
Saat kami mulai berjalan, gadis muda itu berhenti di sampingku. “Aku tidak bermaksud kurang ajar,” dia memulai, “tetapi jika ini benar, aku ingin memahaminya. Dapatkah aku mengajukan lebih banyak pertanyaan kepadamu selagi kita berjalan?”
“Tentu saja,” jawabku. “Engkau bisa bertanya apa saja, jika kau mengizinkan aku mengatakan ‘Aku tidak tahu’ ketika aku tidak tahu jawabannya.”
“Cukup adil,dia memulai. “Aku adalah salah satu dari mereka yang selalu mengalami kesulitan ketika memikirkan semua mengenai orang-orang yang bahkan tidak pernah memiliki kesempatan untuk mendengar Injil. Jadi sulit bagiku untuk mendengar tentang beberapa orang yang dapat mengikuti perlombaan untuk panggilan mulia yang mulia ini ketika yang lain bahkan tidak mendapatkan keselamatan.”
“Itu adalah pertanyaan yang bagus,” jawab aku, “Dan aku pikir itu adalah pertanyaan yang ada di pikiran setiap orang  yang harus mereka tanyakan jika benar-benar peduli dengan keadilan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukan jawaban yang memuaskan aku, tapi ini memang bukan masalah sederhana. “
“Maukah engkau membagikan apa yang kaupelajari denganku?” dia bertanya.
“Aku tidak pernah berbagi semua yang aku pelajari tentang ini dengan siapa pun karena akan memakan waktu lama untuk melakukannya dengan tepat. Tapi aku bersedia berbagi sebanyak yang aku bisa denganmu selama kita bersama-sama dalam perjalanan ini.
“Pertama, dalam segala hal yang kita terima sebagai doktrin, sebagai kebenaran, itu harus dikonfirmasi atau diteguhkan dalam Kitab Suci. Tidak ada pendapat manusia, atau bahkan malaikat, dapat membawa beban dari Firman Tuhan yang tertulis itu. Aku memerlukan waktu bertahun-tahun untuk sampai pada pemahamanku tentang masalah ini dan untuk mencocokkannya dengan Kitab Suci. Untuk menyampaikan dalam waktu singkat itu tidak mungkin, tapi aku dapat membantumu berjalan di jalan yang benar untuk mencari kebenaran.
“Begini saja : mari bahas pertanyaanmu satu per satu, dan aku akan berbagi denganmu kesimpulanku dan sejauh yang aku mampu terangkan tentang bagaimana aku sampai kepada kesimpulan-kesimpulan itu. Jika kesimpulanku tidak memuaskan mu, bertanyalah lagi, dan aku akan mencoba menunjukkan kepadamu bagaimana aku sampai pada kesimpulan semacam itu.”
“Aku sangat menghargai bantuan apa pun,” jawabnya. “Apa yang aku temukan melalui semua pencarianku benar-benar meyakinkanku tentang kebenaran dan keadilan Tuhan, dan bagaimana Dia bahkan melampaui semuanya itu dengan melimpahkan kasih karunia dan belas kasihan,” kataku. “Aku ingin hal-hal ditetapkan dalam hatiku,” lanjut gadis muda itu.
“Oke, tapi aku ingin memberitahumu sebelumnya bahwa tujuan utamaku berbagi hal ini denganmu adalah memberimu sesuatu yang bisa lebih baik dari kesimpulanku,”kataku.
“Apa itu?”
“Itu adalah jalan yang aku ambil untuk menemukan jawabanku itu. Terkadang bukan hanya jawabannya saja penting, tetapi bagaimana engkau dapat sampai pada jawaban itu.”
“Mereka yang diperoleh terlalu mudah bagimu tidak akan begitu berharga. Ketika engkau mengupayakan sesuatu untuk mendapatkan itu semua maka itu akan menjadi harta karun hikmat dan pengetahuan yang akan cukup berharga untuk kaujaga,”jawabku
“Yah, sepertinya kita mungkin bersama dalam perjalanan ini untuk sementara waktu, jadi aku terbuka. Jalan apa yang kau ambil untuk menemukan jawaban untuk ini?”
“Pertama, siapa namamu?”
“Aku Mary.”
“Pas,” jawabku, “Dan itu merupakan pujian. Jadi kita memiliki dua Mary dalam perjalanan ini, dan kalian tampaknya banyak kemiripan. Seperti Maria yang merupakan saudara perempuan Martha dalam Injil, engkau dipanggil untuk memiliki hubungan khusus dengan Yesus.”
“Aku hampir tidak merasa sedekat itu dengan Tuhan. Aku merasa bahwa pertanyaanku mungkin merupakan penghinaan bagi-Nya. Bukan aku memaksudkan itu untuk menghina Tuhan, dan aku tahu bahwa kepedulianku pada orang yang aku cintai dapat melampaui pengabdianku Tuhan kadang-kadang, tetapi aku tidak bisa mengabaikan pertanyaan-pertanyaan ini, dan mereka melemahkan kemampuanku untuk mempercayai Tuhan.”
Mary lainnya mendekat, dan berbicara, “Kami memiliki banyak pertanyaan yang sama. Aku sudah
mendengarkan percakapan kalian. Jika itu Elia yang asli, maka pasti dia tahu jawabannya. Bisakah engkau membuatnya kembali dan berbicara dengan kita? ”
“Percayalah, aku ingin dia menjawab semua pertanyaan kalian, dan aku ingin mendengarnya
jawabannya juga, tapi aku khawatir itu tidak akan terjadi.”
“Kenapa tidak?” tanya Mary yang lebih tua.
“Dia memberi tahu aku tentang pertanyaan kalian dan berkata bahwa aku yang harus menjawabnya. Dia tidak tahu apa pertanyaannya, tetapi dia mengatakan bahwa itu penting bagi seluruh kelompok, dan bahwa aku akan mendapatkan jawabannya, ”jawabku.
“Aneh juga, dia tahu tentang pertanyaan kita, tapi sepertinya Tuhan juga tidak marah pada kita karena memiliki pertanyaan-pertanyaan itu,” kata Mary yang lebih muda.
“Tentu saja, Dia tidak marah. Aku pikir Tuhan tidak pernah keberatan dengan pertanyaan yang tulus. Faktanya, Dia bahkan menegaskan bahwa pertanyaan-pertanyaanmu sangat penting,” kataku.
Aku kemudian berkata kepada seluruh kelompok, yang bisa aku lihat sedang mengawasi kami dan ingin diikutsertakan dalam percakapan, “Ayo pergi ke tepian dekat air hidup dan luangkan waktu untuk mendiskusikan beberapa pertanyaan yang kalian miliki.”
Aku menunggu semua untuk minum dan kemudian duduk di bebatuan dan dataran dekat sungai. Lalu aku meminta para sukarelawan untuk menempatkan penjaga sepanjang jalan. Lalu aku mulai: 
“Seorang teman pernah mengatakan kepada aku bahwa hampir setiap ajaran sesat adalah hasil dari mencoba menyimpulkan secara logika apa yang Tuhan hanya ungkapkan sebagian. Aku pikir ini benar. 
Pada saat yang sama, kita diberitahu bahwa kita tahu sebagian dan melihat sebagian. Tidak ada dari kita yang memiliki gambaran keseluruhan, atau keseluruhan pemahaman. 
Jadi untuk memiliki seluruh kebenaran kita harus mengumpulkan dan menyatukan pengetahuan yang kita miliki bersama-sama dengan pengetahuan yang orang lain miliki.”
“Ada beberapa hal yang, jika kita mengumpulkan semua pengetahuan kita bersama, kita akan tetap akan memiliki sebagian pemahaman karena hanya itulah yang Tuhan telah nyatakan kepada manusia saat ini. Bahwa yang Tuhan hanya ungkapkan sebagian, tidak boleh kita tambahi dengan mencoba membawanya mengikuti apa yang kita pikir sebagai kesimpulan logis. Dia memiliki alasan untuk tidak memberi tahu kita lebih banyak saat ini. Kita akan memiliki saat sepanjang kekekalan untuk mendapatkan jawaban pertanyaan kita, jadi jawaban beberapa dari mereka perlu menunggu. Kita menghormati Dia dan membuktikan kepercayaan kita kepada-Nya dengan menerima ini.  Itu harus dapat diterima oleh kita supaya kita berjalan dengan iman.”
“Baik. Aku tahu aku mungkin tidak mempelajari semua yang ada tentang masalah ini, tetapi beberapa pertanyaan yang aku miliki mempersulit aku untuk maju dengan tingkat kepercayaan yang aku butuhkan,” Mary yang lebih tua mengakuinya  selagi Mary yang lebih muda mengangguk setuju.
“Aku mengerti. Namun, ada beberapa hal yang tidak disembunyikan Tuhan dari kita, tetapi Dia menyembunyikannya demi kita. Apa yang membuat sesuatu menjadi harta karun adalah karena itu adalah sesuatu yang langka atau sulit didapat. Beberapa dari harta pengetahuan dan pemahaman terbesar hanya akan datang dengan ketekunan yang besar.
Apa pun yang terjadinya terlalu cepat atau terlalu mudah biasanya tidak terlalu berarti. Aku pikir beberapa pertanyaan kalian itu penting, dan aku tidak akan menyangka dapat menjawabnya dengan mudah atau cepat, tetapi Aku akan berbagi dengan kalian apa yang aku temukan dalam pencarianku sendiri.
“Agar tidak jatuh ke ajaran sesat lain, apa yang bagi kita tampaknya parsial atau tidak lengkap harus kita biarkan seperti itu sampai Dia memberikan wahyu yang jelas yang dapat kita konfirmasi dengan Kitab Suci. Jika kita tidak dapat memverifikasi penyingkapan itu dalam Kitab Suci maka kita tidak dapat menerimanya sebagai doktrin. Nubuatan atau penyingkapan tidak pernah diberikan untuk menegakkan doktrin, tetapi hanya Kitab Suci yang dapat melakukannya. Jika kalian memeriksa akar dari banyak sekte dan kultus, kalian hampir selalu akan menemukan ‘wahyu’ itu tidak dapat diteguhkan oleh Kitab Suci. Jika Yesus, yang adalah Firman itu sendiri, akan menetapkan pendirian-Nya dengan mengatakan ‘Ada tertulis’,  betapa lebih perlu lagi bagi kita melakukan yang seperti itu? ”
“Apakah pemahaman Anda tentang masalah ini dituliskan dalam Alkitab?” Mary bertanya.
“Ya, tapi itu tidak berarti engkau akan melihatnya.  Ada hal lain yang lebih mendasar yang diperlukan memahami Kitab Suci. “
“Apa itu?”
“Kau harus bersedia menerima kesimpulannya dan 
mematuhinya, terlepas dari apakah engkau menyukainya atau tidak. Yesus berkata, ‘Jika ada orang yang mau melakukan kehendak-Nya, dia akan tahu tentang ajaran, apakah itu tentang Tuhan, atau apakah aku berbicara dari diri aku sendiri. 
Jadi untuk dapat memahami kebenaran, kita harus mau mematuhinya.
“Ada perselisihan antara Aquinas dan Abelard tentang apakah kita perlu memahami dulu supaya bisa percaya, atau apakah kita perlu percaya dulu supaya dapat mengerti. Tetapi menurut apa yang Yesus katakan, kita tidak hanya harus percaya, tetapi juga harus bersedia untuk menaati-Nya supaya mengetahui apakah ajaran Yesus itu berasal dari Tuhan.”
“Itu bisa menjadi suatu tantangan tersendiri,” kata Mary muda.
“Ini memang dimaksudkan untuk menjadi tantangan,” jawab aku. “Kita harus melihat kemuliaan Tuhan dengan wajah yang terbuka dan tidak terselubung untuk dapat diubah menjadi gambar-Nya. Prasangka kita sendiri, pengalaman baik atau buruk kita, bisa menjadi suatu selubung yang menyebabkan kita memutarbalikkan ajaran-Nya. Sebelum kita dipercaya menerima kebenaran tertinggi, kita harus menetapkan dalam hati kita bahwa Dia adalah Tuhan, Dia adalah Pencipta, dan yang memiliki hak untuk melakukan apapun yang Dia
inginkan atas ciptaan-Nya. Itu nendasar, tetapi untuk mempercayai-Nya kita juga harus menetapkan dalam hati kita bahwa Dia itu adil dan tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak adil.”
“Jadi engkau tidak berpikir Dia akan menjatuhkan hukuman kekal bagi mereka yang tidak pernah punya kesempatan mendengar dan menanggapi Injil?” kata Mary muda dengan suara yang cukup keras.
“Aku tahu bahwa Tuhan kita tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak adil. Aku juga tidak berpikir kita harus mengubah konsep keadilan kita agar sesuai dengan apa yang Dia lakukan. Semua yang Dia lakukan dan semua yang Dia ijinkan dalam kerajaan-Nya adalah benar dan adil karena ‘Kebenaran dan keadilan adalah tumpuan tahta-Nya atau otoritas-Nya. Engkau dapat mengandalkan ini,” aku menjawab. Demikian pula kalian juga bisa mengandalkan kasih-Nya untuk semua orang. “
Saat itulah aku melihat Elia lagi, berdiri di dekat situ. Aku jelas-jelas menghadapi pertanyaan yang dia telah peringatkan padaku. Aku melihat sekeliling pada kelompok itu. Aku tahu bahwa beberapa mungkin tidak akan berhasil melewati titik ini jika mereka tidak puas dengan jawaban atas beberapa pertanyaan ini. Beberapa lainnya hanya akan
melewati titik ini karena apa yang akan aku katakan kepada mereka. Aku tidak pernah ingat
merasakan tekanan semacam ini sementara merasa ini tidak mampu. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh di dalam hatiku untuk pertolongan dari Roh Kudus.
“Amin,” aku mendengar Elia berkata. Saat aku melihat ke atas, aku terkejut melihat dia berjalan ke arah kami.
Saat itulah suara keras datang dari arah jalan setapak. Dua dari penjaga datang berlari ke tempat terbuka, terengah-engah sambil mencoba berteriak:
Ada singa yang mengejar kita! Elia berbalik dan dengan cepat menarik kedua penjaga itu, berkata, “Kenapa kalian lari? Ada Singa yang jauh lebih besar di dalam diri kalian! “
Kemudian dia memasuki hutan dengan berjalan kaki, tetapi dengan tegas bergerak menuju singa itu. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah bukan lagi masalah terpenting bagi siapa pun.
“Ayo pergi,” kataku, dan kami masuk di jalan dilalui Elia.
(Bersambung ke BAB ENAM)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

HIKMAT DAN KUTIPAN


“Jadi mengapa begitu banyak orang Kristen yang lebih memberikan dirinya bagi pengejaran akan hal-hal yang sementara sifatnya. 

Jelas itu karena KURANGNYA VISI ROHANI, HIKMAT dan PENGERTIAN. 

Beberapa orang telah membiarkan pengabdian mereka bagi profesi dan pekerjaan mereka melampaui pengabdian mereka kepada Tuhan dan perintah-Nya untuk mencari Kerajaan-Nya lebih dahulu. 

Banyak yang mungkin akan membantah bahwa mereka harus bekerja untuk mencari nafkah bagi diri dan keluarga mereka, namun itu tidak bisa dipertentangkan dengan mencari dahulu Kerajaan Allah. Maupun sebagai alasan untuk tidak mengerjakan profesi kita dengan cara yang terbaik. 

Jawabannya bukan dengan mengurangi waktu kerja kita tapi dengan mengubah kerja kita menjadi suatu penyembahan, mengerjakan semua yang kita lakukan itu sebagaimana kita lakukan bagi Tuhan.”

~ Rick Joyner

HIKMAT DAN KUTIPAN TERKAIT DOA

“Doa, diperhatikan di surga, secara instan. Saat Saulus mulai berdoa — Tuhan mendengarnya. Inilah penghiburan bagi jiwa yang tertekan tetapi mau berdoa. Seringkali seorang yang malang dan hancur hatinya menekuk lututnya dan hanya bisa meratap dalam bahasa keluhan dan air mata; namun erangan itu telah membuat semua harpa surga berbunyi dengan musik; air mata itu telah ditangkap oleh Tuhan dan disimpan di dalam penyimpanan air mata surga. “Engkau menaruh air mataku ke dalam kirbat-Mu,” (Mazmur 56:9) menyiratkan kenyataan bahwa air mata itu ditampung pada saat mengalir!”
~ Charles H Spurgeon

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 11

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB LIMA
UJIAN (1)

Ketika aku menyusul kelompok itu, mereka duduk di sebelah jalan setapak,  jelas sekali tampak lelah, tetapi masih saling berbicara dengan satu sama lain. Aku mendekat perlahan agar tidak mengganggu diskusi mereka. Mereka berbagi
cerita sendiri. Ketika mereka menyadari kehadiranku, mereka berhenti dan berpaling ke aku. 
Mary angkat bicara, menanyakan apa yang ingin diketahui mereka semua :
“Siapa laki laki itu?”
“Dia adalah Sang Suara,” jawab aku.
“Suara apa?” Mary melanjutkan.
“Suara orang yang berseru-seru di padang gurun” jawabku.
“Apakah maksudmu Elia?” seseorang dalam kelompok itu bertanya.
“Ya.” aku menjawab.
Ada keheningan yang lama saat mereka merenungkan hal ini. Kemudian Mary melanjutkan penyelidikannya:
“Kamu serius?”
“Aku serius.”
“Apakah dia akan kembali?” seseorang bertanya.
“Dia tidak akan pernah jauh dari kita saat kita berada di padang gurun. Dia di sini untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Cara dia mempersiapkan jalan adalah dengan bekerja sama dengan semua orang yang menempuh jalan ini, ” aku
menjawab, sedikit terkejut karena mereka semua percaya padaku dengan begitu mudah. 
Aku melanjutkan: “Kita sedang berada di jalan menuju dunia yang lain, alam yang lain. Di jalan ini, kita mulai belajar untuk hidup di dua dunia — dunia roh dan dunia alamiah. Ini bisa sulit pada awalnya, tetapi kedua dunia ini diciptakan untuk saling berhubungan, untuk berinteraksi dengan berbagai cara. Manusia, yang diciptakan untuk memiliki persekutuan dengan Tuhan yang adalah roh, juga diciptakan untuk menjadi penghubung kedua dunia ini. Karena itu, hidup di kedua dunia adalah keadaan paling alami bagi manusia. Semakin banyak kalian mampu melakukan ini semakin kalian akan menjadi sebagaimana kalian diciptakan. Ini bukannya tidak wajar, tapi wajar keadaan manusia saat kita dibebaskan dari akibat Kejatuhan manusia pertama kali dalam dosa.”
Aku melihat sekeliling wajah mereka untuk mencoba mengetahui siapa yang kesulitan memahami apa yang aku sampaikan. Yang mengejutkan aku, tampaknya ini bukan hal baru bagi mereka, jadi aku melanjutkan:
“Kitab Suci tidak hanya menjadi sesuatu yang hidup bagi kita di sini, tetapi kita menghidupinya. Faktanya, kita harus menghidupinya supaya dapat bertahan hidup. Itu akan menjadi makanan kita. Manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Tuhan.  Pernyataan ini dikatakan dalam bentuk waktu sekarang, bukan bentuk lampau. Kita harus menerima roti kita setiap hari dari atas, Firman Tuhan yang hidup dan berasal dari Dia sekarang, pada saat ini juga.
“Kita tidak bisa lagi hanya percaya bahwa hal-hal yang tertulis dalam Alkitab adalah benar, tetapi _iman yang benar dalam Kitab Suci adalah iman untuk mengalami apa yang tertulis bagi kehidupan kita pada saat ini. Tidak ada yang tertulis Alkitab yang tidak dapat kita alami hari ini, dan akan kita alami di sini. Beberapa dari kalian kemungkinan besar akan dipakai Tuhan melakukan mukjizat yang lebih besar dari apa yang dilakukan dalam Alkitab. Kita sekarang berada dalam masa-masa ‘pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar’ seperti yang Yesus katakan.
“Sekali lagi, Alkitab bukan hanya sebuah buku sejarah untuk diimani, itu adalah apa yang akan kita hidupi dan merupakan makanan yang akan menopang kita setiap hari. Alkitab adalah gudang persenjataan  yang akan kita gunakan di setiap pertempuran. Mengenal Alkitab bukan hanya hal yang baik untuk dilakukan, tetapi di sini itu berarti hidup atau mati.
“Hutan belantara ini indah, tapi mematikan. Ia akan mencoba membunuh kalian dengan cara apapun yang ia bisa, dan ia memiliki banyak jalan untuk melakukannya. Jika itu tidak membunuh kalian, tempat ini akan berusaha membuat supaya kalian berbalik dari sini. Karena sedemikian menakutkan, hutan belantara ini bisa menjadikan kalian ketakutan sehingga menuntun kalian masuk ke dalam perangkapnya. Jadi ketakutan tidak pernah boleh menjadi penuntun atau pemandu kita.
“Kita harus belajar untuk tidak membiarkan rasa takut mengendalikan kita atau mempengaruhi keputusan kita. Kita harus menggunakan setiap ketakutan yang menghampiri kita sebagai kesempatan untuk melawan ketakutan itu dan untuk bertumbuh dalam iman. Kita akan memiliki kesempatan untuk melakukan ini setiap hari, dan setiap hari kita bertahan di jalur perjalanan ini, kita akan menjadi lebih kuat di dalam Tuhan.
“Kita juga harus memanfaatkan setiap ujian kebingungan untuk bertumbuh dalam hikmat. Setiap hari akan memerlukan lebih banyak iman dan hikmat untuk tetap berada di jalan yang benar. Hikmat datang dari pengalaman yang dipandang melalui hati yang bisa diajar.”
“Ada berapa jalan yang ada di sini?” seseorang bertanya.
“Ada banyak, dan hampir semuanya sangat menggoda dan tampak menarik untuk dilewati,” jawabku.
“Bagaimana kita bisa membedakan yang benar?” seseorang bertanya.
“Tidak ada formula tertentu. Tidak ada ‘cara’ yang bisa kita gunakan. Kita mengikuti Seseorang, bukan
rumus. Namun, menurut pengalamanku, jalan yang benar sepertinya selalu terlihat lebih sulit, dan kenyataannya lebih sulit, setidaknya untuk sementara waktu. Itu kelihatannya tidak akan pernah menjadi jalan yang paling menarik perhatian, itulah sebabnya kita harus memiliki iman untuk melihatnya dan mengikuti Tuhan, bukan hanya mengikuti pemikiran dan logika kita sendiri.
“Jalan yang salah tampaknya selalu terlihat lebih mudah, dan akan menggoda kita untuk mencoba melarikan diri dari kesulitan dan cobaan. Pada kenyataannya, jalan-jalan itu mungkin lebih mudah dilalui untuk sementara waktu, tetapi kemudian akan menjadi jauh lebih sulit dari jalan yang benar. Mereka akhirnya mengarah pada jebakan dan keterikatan yang hanya sedikit orang yang bisa bebas darinya, jika mereka tidak berbalik dengan cepat dan kembali ke jalan yang benar.
“Jalan yang benar tidak akan mungkin semakin mudah, tetapi tampaknya menjadi lebih mudah saat kita bertumbuh lebih kuat dan lebih berhikmat. Jalan yang benar memiliki satu hal yang tidak dimiliki oleh jalan lain, dan itu adalah hal terbesar dari segalanya. Ketika kalian berada di jalan yang benar, kalian akan terus-menerus lebih dekat dengan Tuhan, dan kehidupan-Nya. Air hidup akan selalu tersedia. Tidak ada kedamaian dan kegembiraan yang lebih besar yang bisa kita ketahui selain keberadaan kita yang dekat dengan Dia. Kedekatan kita dengan-Nya dapat menjadi begitu indah sehingga kita akan mulai bersukacita  di padang gurun ini. Bersama Dia,  gua paling terpencil menjadi lebih baik daripada istana. Tanpa Dia, istana paling megah dapat menjadi lebih buruk dari gua yang sunyi.
“Jika kalian berada di jalan yang salah, itu akan menuntun kalian menjadi semakin jauh dari-Nya. Sukacita dan damai sejahtera dari Tuhan akan digantikan oleh kebingungan dan kegelapan. ‘Jalan orang benar itu seperti terang fajar yang bersinar lebih terang dan lebih terang sampai siang hari. ‘Jalan orang benar adalah jalan yang benar. Jalan yang benar menjadi semakin terang dan semakin cemerlang sampai kita berjalan dalam kepenuhan cahaya. Jalan yang salah menjadi lebih gelap dan menyebabkan kebingungan yang meningkat. Kebingungan mengarah kepada depresi dan akhirnya putus asa dan mati.
“Sebagaimana persekutuan di antara kalian telah tumbuh melampaui apa yang kalian nikmati di kapal, bahkan persekutuan itu akan tumbuh jauh lebih dalam lagi di sini. Berjuang bersama melalui kesukaran akan menyatukan kalian dengan cara yang hanya dapat terjadi dari beberapa situasi saja. Ada hal lain yang akan kalian alami di sini yang akan menciptakan ikatan yang lebih kuat lagi — kalian akan mengalami kemuliaan Tuhan secara bersama. Dan mengalami kemuliaan dan kehadiran-Nya secara bersama-sama merupakan ikatan terkuat dari semua hal lainnya.”
Ketika aku berbicara, aku melihat Elia di dekat situ  mendengarkan semua yang aku katakan. Ini terasa agak membingungkan, sekaligus membesarkan hati. Itu membingungkan karena aku merasa bodoh berbicara tentang alam liar dengan seorang ahli di padang gurun mendengarkan aku. Namun sungguh membesarkan hati mengetahui bahwa ahli itu sedang menyaksikan kami sedemikian dekatnya.
Dia memberi isyarat agar aku melanjutkan:
“Kalian semua di sini karena dipanggil. Kalian sudah dikenal sebelum dunia dijadikan. Kalian telah diberi kesempatan untuk mengikuti perlombaan untuk mendapatkan hadiah tertinggi yang pernah ada atau yang pernah akan diberikan. Ini adalah jalan menuju panggilan Tuhan yang tinggi yang telah ditulis oleh para rasul. Dari awal kalian telah bergabung dengan jiwa-jiwa terbesar yang pernah hidup di bumi. Itu membutuhkan iman yang besar untuk memulai, dan dibutuhkan iman yang lebih besar setiap hari untuk melanjutkan perjalanan itu. Itu tidak akan pernah untuk mudah, tetapi untuk menjadi pembentukan landasan dari orang-orang perkasa yang akan memerintah bersama Kristus dalam kerajaan-Nya.”
“Bagaimana dengan mereka yang masih di kapal? seorang gadis muda bertanya. “Orang tuaku ada di kapal. Bisakah mereka juga memerintah bersama Kristus? ”
“Jika ada yang memanggil nama Tuhan, mereka akan diselamatkan, mereka memiliki hidup yang kekal nan mulia, ”jawab ku. “Tapi jalan ini diperuntukkan bagi mereka yang akan berlomba, yang Rasul Paulus sampaikan saat mendekati akhir hidupnya. Dia berbicara tentang kebangkitan yang lebih baik dari dirinya yang ia rasa belum mencapainya, tetapi bahwa dia terus maju menuju tanda panggilan yang mulia itu. Dia tidak berbicara di sana tentang keselamatan atau kehidupan kekal. Dia sedang berbicara mengenai panggilan yang  tinggi yang tidak banyak dilihat dan tidak banyak dikejar orang. Ini adalah jalan menuju ‘panggilan tinggi Tuhan di dalam Kristus Yesus. ”
“Aku pikir kita semua akan menjadi sama di surga,” sela yang lain.
“Dari mana kamu mendapatkan itu?” aku bertanya.
Aku tidak yakin. Aku rasa aku mendengarnya, tetapi mungkin juga aku hanya berasumsi. Aku belum pernah mendengar mengenai apa yang kau bicarakan sekarang ini. Apakah engkau yakin ini ada dalam Kitab Suci? ” dia melanjutkan.
“Ya, ini ada di dalam Kitab Suci, dan kau berhak mempertanyakan ini. Ada banyak hal di dalam Alkitab tentang panggilan tinggi dan mulia itu, dan itu akan diterangi dan diteguhkan di dalam kalian dalam perjalanan ini. Kalian perlu melihat panggilan yang tinggi ini untuk berjalan di jalan ini, sama seperti Juruselamat memikul salib untuk kemuliaan yang telah ditetapkan di hadapan-Nya. Jika Dia perlu melihat upah, betapa lebihnya lagi kita perlu melihatnya supaya dapat menanggung hidup dalam salib yang kita telah dipanggil memikulnya?”
“Adalah tepat melakukan diskusi di sini,” lanjutku. “Semua makhluk ciptaan-Nya telah diciptakan untuk tujuan dan posisi tertentu dalam ciptaan-Nya. Dia telah memberi kesempatan untuk beberapa orang
dari umat manusia yang jatuh menjadi keluarga-Nya sendiri, putra dan putri Raja segala raja, dan untuk mengambil bagian dalam kodrat ilahi-Nya. Semua ciptaan mengagumi ‘ciptaan baru’ yang ada ini
dibangkitkan dari manusia yang jatuh. Saat mereka menyaksikan tekad, pengorbanan, dan karakter mereka yang berjalan di jalan ini dan bertahan melawan pertentangan dan kesulitan seperti itu semua demi Raja mereka, bahkan para malaikat mengakui bahwa mereka layak untuk menjadi hakim mereka.”
“Tapi jika itu semua karena kasih karunia, lalu bagaimana bisa orang memiliki penghargaan, atau posisi, yang berbeda di surga?” gadis muda itu berseru, jelas terlihat gelisah.
“Itu pertanyaan yang bagus,” aku mencoba menyemangati dia. “Benar bahwa kita sekarang dan keadaan yang akan kita capai adalah karena anugrah Tuhan. Karena kasih karunia Tuhanlah kalian dipanggil dan kalian mendengar panggilan itu. Tetapi kita juga diberitahu untuk ‘membuat panggilan dan pemilihan kita menjadi sesuatu yang pasti.’ Inilah alasan mengapa Roh Kudus disebut ‘Penolong’ (Helper), bukan ‘Pelaku (Doer)’ Kita juga memiliki bagian untuk kita lakukan. Kita harus menerima kasih karunia itu lalu berjalan di dalamnya. 
‘Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih,’ atau hanya sedikit yang menanggapi panggilan untuk menjadikan panggilan dan piliha mereka sesuatu yang pasti.
“Ada mentalitas yang telah merangkak perlahan dalam banyak hal di dunia bahwa kita semua sama, dan semua orang berhak mendapatkan hal yang sama, terlepas dari usaha yang dilakukan atau pencapaiannya. Itu bukanlah konsep yang alkitabiah. Faktanya, itu bertentangan dengan keadilan, yang adalah salah satu dari dua landasan tahta Allah yang ada di Kerajaan Allah. 
Janji yang diberikan kepada jemaat-jemaat dalam Kitab Wahyu adalah untuk ‘para pemenang’ di jemaat-jemaat itu. Sesuatu yang lain dijanjikan kepada mereka yang tidak cukup peduli untuk hidup dalam apa yang telah disingkapkan kepada mereka.
“Suka atau tidak suka, mengerti atau tidak, Tuhan memilih siapa yang akan diberikan kesempatan, dan kemudian mereka harus memilih untuk mengambil kesempatan itu. Inilah mengapa dikatakan, ‘Musa memilih untuk menderita bersama umat Allah yang memandang penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari  semua harta Mesir.’ Kalian juga telah membuat pilihan yang sama ketika kalian memilih untuk mengikuti jalan ini. “
(Bersambung ke Bagian 12)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

POKOK DOA DAN STRATEGI PROFETIK TAHUN 2021

Oleh Didit I. 
1. Kesediaan umat Tuhan (termasuk para pemimpin dan bapa rohani) untuk introspeksi diri dengan jujur, merendahkan diri, bertobat, mengubah diri dari segala kebiasaan hidup yang tidak berkenan di hadapanNya bahkan rela membuat kebiasaan² hidup baru yang sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan. 
2. Kerinduan dan kerelaan umat Tuhan untuk diajar, diubah, dibentuk, diarahkan, diutus sesuai kehendak, rencanaNya sebagaimana fungsi murid² dan hamba² Kristus yang sejati yang berfungsi menghadirkan kerajaan sorga di muka bumi. 
3. Kesediaan berdiskusi/bertukar pikiran di komunitas² rohani Kristen dengan semangat kasih persaudaraan dan kerinduan hidup sesuai kehendak dan rencana Tuhan seperti menguji, menyelidiki, memahami, menyambut, mengerjakan apa proses, harapan, kerinduan, kehendak, rencana Tuhan dalam hidup umatNya.
4. Sabar menanggung penderitaan yang disebabkan pilihan² kita untuk hidup sesuai kehendak dan rencana Tuhan bahkan tekun mengikuti pimpinan/arahan Tuhan sehingga kebaikan, kuasa, kasih, hikmatNya memulihkan kehidupan umatNya dan pemerintahan di Indonesia 
5. Bangkitnya generasi baru yang rindu mendengarkan dan menyampaikan isi hati, pikiran Tuhan yang murni sesuai pimpinan Roh Kudus yang menyiratkan hikmat dan kasih Tuhan yang sejati.            
6. Kesadaran masyarakat Indonesia dalam menjaga kebersihan, mengikuti protokol kesehatan, hidup sehat, menghasilkan karya²  terbaik untuk bertahan menghadapi goncangan ekonomi di masa pandemi
7. Terciptanya komunikasi yang terbuka, jujur disertai koordinasi, kerja sama yang baik antara pejabat² pemerintah, dokter², pihak rumah sakit, ahli epidemiologi, ahli ekonomi, ahli politik, masyarakat, dll dalam menghentikan penyebaran, dampak negatif dari virus covid 19.
8. Tersingkapnya berbagai faktor penghambat pertumbuhan ekonomi dan peluang bertahan bahkan menumbuhkan perekonomian yang stabil di bangsa kita sehingga masyarakat dimampukan bertahan menghadapi kegoncangan ekonomi global.
Artikel terkait 2 Tawarikh 7:14:

HATI YANG TIDAK BERUBAH BAGI TUHAN

Oleh : Peter B
17 Februari 2021
Daud mendapat sebutan yang unik dalam Alkitab. Dalam Alkitab bahasa Indonesia, Daud disebut sebagai “orang yang berkenan di hati Tuhan”
Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini : 
“Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih SEORANG YANG BERKENAN DI HATI-NYA dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”
~ 1 Samuel 13:14
“Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, SEORANG YANG BERKENAN DI HATI-KU dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” 
~ Kisah Para Rasul 13:22
BERKENAN DI HATI TUHAN bermakna bahwa Tuhan senang dengan kehidupan yang Daud tunjukkan di hadapan-Nya. Kehidupan Daud bukan kehidupan yang sempurna. Jauh malah dari disebut kehidupan tak bercacat. Daud adalah salah satu pribadi dalam  Alkitab yang sering jatuh bangun dalam dosa. Berkali-kali ia membuat kesalahan. Cukup fatal bahkan. Meskipun begitu, Tuhan selalu merindukan Daud dan menjadikan Daud sebagai standar untuk menilai raja-raja atau pemimpin-pemimpin Israel selanjutnya setelah Daud. 
Tuhan benar-benar senang melihat Daud. 
Dalam Alkitab bahasa Inggris, Daud disebut sebagai “man after God’s heart”. Itu merupakan istilah yang memiliki makna tertentu. Tidak bisa diterjemahkan begitu saja langsung dari arti per kata-katanya. 
Saya mencoba mencari tahu apa makna ungkapan “man after own’s heart itu”. Dan pencarian saya di berbagai kamus bahasa Inggris menghasilkan pengertian yang serupa dan cukup mengejutkan saya. 
Yang dimaksud dengan istilah ‘man after own’s heart” itu berarti seseorang yang : 
– memenuhi tepat maksud hati, kehendak dan kecenderungan seseorang. atau seseorang yang sehati dan sesuai dengan yang mengatakan itu. 
– memiliki pendapat dan ketertarikan yang sama dengan orang yang mengatakan itu
– memilki persamaan yang persis terkait apa yang disukai dan tidak disukai dengan seseorang yang mengatakannya
– menyukai hal yang sama maupun bersikap dalam cara yang sama dengan orang yang mengatakannya
– yang hobby dan kepercayaannya cocok satu sama lain
– memiliki roh yang serupa
– yang pas dan mampu menyenangkan secara sempurna dari orang yang mengatakan hal tersebut
Pendeknya : 
“man after own’s heart” berarti seseorang yang cocok satu sama lain. Sehati, sepikiran, seperasaan. Serupa dalam kesukaan atau ketidaksukaan. Selaras dalam sikap dan berbagai ekspresi terhadap berbagai hal. 
Dalam konteks hubungan Tuhan dengan Daud, dapat dikatakan bahwa Tuhan cocok dengan Daud. Apa yang Daud lakukan, Tuhan berkenan dan menyukainya. Dengan segala keterbatasan, kekurangan, kelemahan bahkan kegagalan Daud, TUHAN MERASA COCOK DENGAN HATI DAN HIDUP DAUD. Itu karena Daud selalu berusaha menyesuaikan dirinya dengan hidup melakukan apa yang Tuhan kehendaki baginya.
Menelisik Alkitab, kita juga tahu bahwa Daud adalah salah satu orang yang kisah hidupnya dituliskan paling panjang dan mendetail dalam Alkitab. Dengan Daud pula Tuhan mengadakan perjanjian dan bersumpah bahwa keturunan Daud akan memerintah selama-lamanya. Melalui silsilah Daud pula, Juruselamat dan Raja itu lahir ke dunia : Yesus Kristus, yang juga disebut sebagai Anak Daud. 
Pertanyaannya kini MENGAPA TUHAN MERASA COCOK DAN SENANG DENGAN DAUD?
Apa yang Tuhan dapati dan rasakan dari hidup Daud yang membuat Tuhan merasa pas dan bersuka hati?
Jawaban untuk ini bisa sangat panjang lebar Beberapa jilid buku dan tafsiran dapat mengupas semua ini bertolak dari setiap sisi kehidupan Daud. 
Namun jika saya ditanya, apa yang membuat Tuhan disenangkan hati-Nya oleh Daud, maka saya akan menjawab bahwa TUHAN SUKA HATI SERTA HIDUP  DAUD YANG TIDAK PERNAH BERUBAH DALAM HAL MENGASIHI TUHAN DAN HIDUP BAGI KEHENDAK TUHAN. 
Itulah yang telah menawan hati Tuhan.
Daud bukan seseorang yang sangat fokus dan tidak pernah teralihkan perhatiannya oleh perkara-perkara lain dalam hidupnya. Faktanya, ia sering menyimpang. Bahkan tersandung dan jatuh. Di berbagai momen dalam hidupnya.
 Meskipun demikian, Daud tidak pernah kehilangan cintanya yang mula-mula yang kepada Tuhan itu. Niatnya tidak pernah surut. Semangatnya tidak pernah luntur. Tekadnya tidak pernah berkurang. Untuk HIDUP DALAM KEHENDAK TUHAN. 
Bagi Daud, Tuhannya adalah segala-galanya baginya. Lebih dari nyawanya. Lebih dari hidupnya. Ia telah menyediakan dan menyerahkan diri untuk hidup melakukan kehendak Tuhan. DAN HANYA UNTUK MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN SAJA. Meski ia sering gagal, hatinya tidak pernah menginginkan yang lain atau beralih kepada yang lain. Bahkan ketika Daud gagal dan terpuruk, ia perbarui kembali komitmennya pada Tuhan dan ia memulai lembaran baru bersama Tuhan. 
Daud hidup dengan tidak mencari perkenan siapapun di dunia ini. Ia bahkan tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia hidup untuk menyenangkan dan memuliakan nama TUHAN, yang ia tahu sangat mengasihinya dan juga sangat ia kasihi. 
Dan lihatlah perjalanan hidup pria bernama Daud bin Isai ini. 
Sejak muda dan tidak dikenal siapa-siapa, bahkan keluarganya pun meremehkan dia, Daud telah menjalin HUBUNGAN PRIBADI dengan Tuhan. Ia sering bercakap-cakap dan berjalan bersama Tuhan -yang barangkali satu-satunya Pribadi yang berteman dan peduli pada Daud pada waktu itu.
Persahabatan ini berlangsung selama-lamanya. Sampai hari terakhir Daud di dunia dan masih berlanjut ketika Daud memandang wajah Sahabatnya itu di sorga. 
Hati Daud TIDAK PERNAH BERUBAH SEDIKITPUN. Teralihkan sejenak, ya. Menyimpang jauh dan tersesat, TIDAK PERNAH. 
Perhatikan saja, bagaimana Daud tidak menjadi tinggi hati ketika menjatuhkan Goliat dan menjadi panglima perang Israel. Ia mengembalikan segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. 
Ketika Daud menjadi perwira tinggi atau kemudian menjadi buron kerajaan karena dianggap mau memberontak dan mengambil alih tahta atas mertuanya, Daud tidak menjadi kecewa pada Tuhan sehingga ia berubah setia pada Tuhan Terlunta-lunta dan hidup menggelandang tidak menjadikan hati Daud tawar apalagi pahit pada Tuhan. Justru saat-saat itu merupakan masa keintiman yang mendalam sebagaimana mazmur-mazmur yang digubahnya sebagian ditulis pada masa-masa kesukarannya di padang belantara. 
Pun ketika Daud akhirnya menjadi raja, ia tetap mengingat Tuhan. Ia mencari cara membawa tabut ke Yerusalem, untuk ditaruh dekat istananya. Ia tidak ingin jauh-jauh dari Tuhan yag dilambangkan kehadirannya dengan tabut perjanjian. Tidak hanya itu, hari-hari Daud dihiasi dengan doa dan penyembahan. Dua puluh empat jam lamanya, Daud mengadakan penyembahan, sebagai suatu tanda bahwa kesukaannya ialah mengingat Tuhan dan mengucap syukur kepada-Nya. 
Kehidupan Daud yang bergelimang kemewahan sebagai raja, dengan banyak istri maupun selir-selirnya pun tidak membuat Daud lebih mencintai gaya hidupnya daripada mengasihi Tuhan. Istri-istrinya ditegurnya jika pendapat dan saran mereka menyimpang dari apa yang benar. 
Hartanya pun tidak membuatnya pamer kekayaan serta hidup bersenang-senang melampaui batas sebab semuanya ia simpan sebagai persiapan pembangunan bait Allah bagi Allahnya yang sangat dicintainya itu. 
Sepanjang hidupnya, Daud selalu menanyakan dan berusaha selalu melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Ia tidak ingin melangkah menuruti pikiran, perasaan dan kehendaknya sendiri. Sehingga apabila memang ia kemudian terlanjur melakukannya, ia akan KEMBALI INGAT dan  BERSEDIA DIINGATKAN untuk kembali melakukan apa yang benar sesuai kehendak Tuhan. 
Baik gua maupun tahta, tidak mengubah hati Daud. Cintanya pada Tuhan tak pernah berubah atau bergeser. Ia mencari Tuhan dan mengusahakan kehendak Tuhan seumur hidupnya. Tidak heran apabila kemudian ia menjadi raja yang paling sesuai dengan hati serta keinginan Tuhan.
Hasrat Daud TIDAK BERUBAH. HANYA SATU. Tak pernah berganti atau digantikan oleh sesuatu yang lainnya. IA INGIN HIDUP MENGASIHI TUHAN DAN SEGALA SESUATU YANG ADA PADA SERTA BERASAL DARI TUHAN. Ia telah menyediakan diri untuk hidup bagi kesenangan hati Tuhan. Dengan melakukan apa yang Tuhan ingin lakukan dalam hidupnya. Ia tidak sempurna melakukannya (dan memang siapakah yang bisa sempurna melakukannya?) namun seumur hidup Daud setia berada di jalan Tuhan dan di pihak Tuhan. Meski beberapa kali gagal, ia akhirnya kembali menetapkan hati melakukan kehendak Tuhan atas hidupnya. 
Komitmen hidup yang demikianlah yang membuat Tuhan berkenan pada Daud. 
BAGAIMANA DENGAN KITA?
Hati yang seperti Daud nyatanya sukar ditemukan bahkan beratus tahun setelah Daud tiada. 
Dan mungkinkah itu masih sukar ditemukan hingga kini?
Kebanyakan orang mudah berubah setia. Jika kepada manusia saja, komitmen dan janji mudah diingkari, apalagi kepada Tuhan yang tidak terlihat atau nyata kehadirannya dirasakan secara fisik. Hati orang umumnya mudah ingkar janjim, khususnya kepada Tuhan. 
Dulu menggebu-gebu, sekarang  letih lesu mengiring Tuhan. 
Dulu ketika masih lajang dan penuh semangat sangat fokus dan begitu bangga menjadi murid Tuhan. Setelah memasuki kehidupan kerja (mengenal dan memegang uang atau memiliki harta), setelah punya pasangan (mengenal lawan jenis dan memiliki hubungan dekat) atau setelah memiliki anak dan berkeluarga (hari-hari diisi kesibukan mengurus rumah tangga dan merawat anak-anak) BERAPA BANYAKKAH DARI KITA YANG MASIH TETAP BERKOBAR-KOBAR DENGAN KERINDUAN UNTUK MENYENANGKAN HATI TUHAN DAN HIDUP BAGI KEHENDAK DAN TUJUAN-TUJUAN TUHAN?
Berapa banyak dari kita yang dulu pernah dipenuhi kerinduan membara dan tekad untuk hidup bagi Tuhan dan mengerjakan visi kebangunan rohani yang telah disingkapkannya bagi kita namun kemudian seiring berjalannya waktu kita mulai berhenti karena lebih tertarik dan merasa nyaman dengan hal-hal lain serta lebih asyik hidup mengejar tujuan-tujuan lain daripada tujuan Tuhan???
Bahkan harus diakui jika tidak sedikit dari yang mengaku pelayan atau hamba Tuhan, yang hari ini tak lagi konsisten dan penuh tekad untuk mengerjakan kehendak serta visi dari Tuhan karena menggantikan semuanya itu dengan aktivitas gerejawi semata daripada membangkitkan murid-murid Kristus yang radikal dan hidup bagi rencana Tuhan. 
Faktanya, kehidupan (maupun pelayanan) yang kita jalani dan kemudian hidupi telah menjadi sedemikian nyaman atau sebegitu menyita waktu-waktu kita sehingga kita mulai menaruh Tuhan dalam urutan prioritas yang semakin belakang.
Betapa mudahnya hati kita berubah. Karena uang.. Karena jabatan. Karena pekerjaan. Karena pasangan. Karena anak. Karena kesibukan. Karena kenyamanan dan kesenangan hidup. Karena pencapaian. Karena kesuksesan di mata orang. Bahkan karena pelayanan dan semangat menghadiri acara-acara rohani. Dan karena apapun namanya, yang telah menggantikan hidup dalam rencana dan kehendak Tuhan yang Tuhan rindukan bagi kita dengan hidup menuruti kehendak dan kebenaran kita sendiri. 
Namun, sebab lain pun bisa,  Yaitu karena kebalikan dari yang disampaikan di atas. Karena sesuatu yang lebih gelap sifatnya : Karena kekecewaan. Karena sakit hati pada seseorang. Karena merasa nasib baik yang tidak berpihak pada kita. Karena peristiwa yang menyakitkan hati. Karena pengalaman hidup yang buruk. Mungkinkah pula karena tekanan dan penindasan keluarga atau orang/-orang sekeliling kita? Disadari atau tidak, hati kita berubah menjadi tawar, kecil, pahit dan kecut karena kesukaran telah membuat kita berbelok dari jalan Tuhan. 
Kita lebih seperti Salomo pada akhirnya, daripada seperti Daud. Ya, seperti Salomo yang terlena oleh apapun yang diberikan Tuhan daripada oleh Tuhan sendiri. Hanyut dengan apa yang kurang berharga sehingga melalaikan yang paling berharga dan  yang adalah sumber dari segala sesuatu yaitu Tuhan sendiri. Lebih siap mengikuti dan berkorban bagi manusia yang kita cintai daripada membayar harga bagi Tuhan yang lebih mengasihi kita.
Kita tidak hanya teralihkan. Kita sudah tersimpangkan dan tersesat ketika kita lebih mengutamakan yang lain daripada mengejar kehadiran Tuhan dan hidup melakukan apa yang dikehendaki-Nya bagi kita. 
Tidak berhenti di situ. Kita bahkan bertindak semakin jauh menghina Tuhan dengan memberikan persembahan-persembahan yang tidak diminta-Nya, yang sebenarnya diilahirkan dari pikiran dan hati kita yang mementingkan diri sendiri, demi memuaskan hati kita sendiri daripada mencari tahu apa yang benar-benar menyukakan dan menyenangkan hati Tuhan. 
Kita jatuh dalam sikap penyembahan seperti yang dilakukan Kain : mempersembahkan sesuatu dengan semau kita sendiri sambil dari dalam hati berharap Tuhan menerimanya dan menghargainya sebab kita telah bersusah payah menyiapkannya. 
Hai, orang-orang yang tersesat, jika hati Anda tahu mana yang menyenangkan diri Anda dan mana yang bukan dan Anda tidak bisa dipaksa menyukai apa yang memang tidak Anda sukai, MENGAPA ENGKAU BERPIKIR BISA MEMAKSA TUHAN YANG MAHA BESAR DAN MAHA KUDUS ITU MENYUKAI APA YANG TIDAK DISUKAI-NYA DARI APA YANG KAUPERSEMBAHKAN KEPADA-NYA?
Satu dua kali, Tuhan masih memakluminya. Terus menerus dan diulang berpuluh tahun lamanya? Tidak akan. Ia akan berbicara dan melakukan sesuatu untuk mengubah penyembahan semacam itu.
Dari Daud kita belajar satu rahasia besar. Satu rahasia yang membuat seseorang dapat menjadi seseorang yang cocok dengan Tuhan, yang menyenangkan hati-Nya. 
Itulah HATI YANG TIDAK PERNAH BERUBAH UNTUK HIDUP DALAM 
Hanya orang-orang yang merasakan kehadiran Tuhan, menyadari akan kasih-Nya dan rindu balas mengasihi Dia saja yang akan ingin hidup seturut kehendak Tuhan sepanjang hidupnya. 
Orang-orang yang demikian adalah pria dan wanita yang berkenan di hati Allah. Yang kepada orang-orang seperti ini, Tuhan akan mengadakan perjanjian turun temurun dan pasti memberkati kehidupan mereka maupun keturunan mereka. 
ANDAKAH YANG TERMASUK ORANG YANG BERKENAN DI HATI ALLAH ITU?
Salam revival
Tuhan Yesus memberkati kita semua

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 10

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)
BAB EMPAT
JALAN (3)

Setelah beberapa lama, orang lain
bertanya: “Apakah dia mengatakan sesuatu tentang kita semua?”
“Ya,” jawab Mark. “Aku menuliskannya, dan dapat membagikannya pada kalian. Beberapa di antaranya bersifat pribadi, dan aku tidak ingin mempermalukan siapa pun. Untuk sebagian besar yang aku tahu itu aku lebih suka menunggu sampai waktu yang tepat. Ada satu orang di sini yang harus kalian ketahui, dan menurutku akan lebih baik untuk membagikan apa yang diperlihatkan kepadaku tentang dia,” kata Mark, sambil menatapku melihat apakah dia semestinya melanjutkan.
“Silakan,” kataku.
“Ada seseorang di sini yang telah mengenal banyak pemimpin hebat, bahkan pemimpin dunia. Dia sekarang melihat dirinya sebagai seorang gagal dan bukan seorang pemimpin. Dia mengalami beberapa kegagalan, terutama dalam hubungan, tetapi dia tidak gagal. Dia akan menjadi pemimpin yang hebat di gunung itu. Dia akan membantu banyak orang lain menjadi pemimpin dan tidak mengulangi kegagalan yang telah dia alami. Dalam kelompok ini, dia akan menjadi seperti kompas
kita. Dia akan digunakan untuk membawa kita melewati beberapa kesulitan besar di padang gurun ini dan akan membantu kita
terus berjalan di arah yang benar. Aku harus memberi tahu dia bahwa Tuhan tidak pernah kecewa padanya dan bahwa masa depannya cerah.”
Semua orang memandang William, air mata mengalir di wajahnya. Mereka semua tahu Mark bisa tidak mengetahui ini kecuali itu datang dari atas. Setelah beberapa saat Mary angkat bicara lagi:
“Mark. Malaikat itu seperti apa? “
Mark secara naluriah melihat kepadaku, apakah dia harus menjawab, yang hal itu tidak disukai oleh Mary. Aku merenungkan Suara itu mengatakan betapa pentingnya pertanyaan Mary, dan penting pula bagaimana aku menjawabnya. Saat aku berhenti, Mary berbicara lagi:
“Mengapa dia harus mendapatkan izinmu untuk menjawab?”
Tidak harus,” jawabku, “tetapi ada beberapa hal yang sensitif dan perlu dibagikan pada waktu yang tepat. Aku menghargai Mark yang memiliki kedewasaan untuk mempertimbangkan nasihat orang lain mengenai apa yang akan dia bagikan.
“Kau benar,” Mary mengaku. “Aku telah kebablasan. Maafkan aku.”
“Mary, aku tidak ingin menghalangi pertanyaanmu,” jawabku. “Memang engkau menentukan apakah engkau menanyakan apa saja dengan suatu ketidaksabaran atau kesombongan seperti yang telah Mark peringatkan padamu, tetapi kau harus merasa bebas untuk menanyakan itu semua.”
“Aku juga tidak ingin menghalangi Mark atau siapa pun untuk membagikan apa yang menurutmu pantas. Kalian semua harus bebas melakukan ini karena kepada kalian semua akan ditunjukkan berbagai hal tentang satu sama lain yang tidak hanya akan membantu, tetapi akan diperlukan untuk perjalanan ini.
“Mengenai pertanyaanmu, orang-orang mengatakan bahwa satu-satunya pertanyaan bodoh adalah pertanyaan yang tidak ditanyakan. Aku tidak sepenuhnya yakin akan hal itu, tetapi pertanyaan menunjukkan kepedulian, jadi aku harap Anda dan semua orang selalu merasa bebas untuk menanyakannya.
“Aku juga berpikir bahwa pertanyaan Mary tentang malaikat adalah salah satu pertanyaan penting yang kita perlu bicarakan. Mark, malaikat itu seperti apa? ” aku bertanya.
“Dia tampak seperti anak muda, bahkan mungkin seusiaku. Aku pikir itu manusia sampai dia menghilang tepat di depanku, “jawab Mark, dan kemudian menatapku seolah-olah dia membutuhkannya sendiri pemahaman tentang ini.
“Di dalam Kitab Suci kita melihat bahwa ini bukanlah pengalaman yang tidak biasa di antara orang percaya, dan itu akan umum terjadi di sini. Kita sering menerima dan menyambut para malaikat dan tidak menyadarinya karena dalam sebagian besar waktu, mereka hanya muncul sebagai seseorang yang lain. Aku tidak yakin mengapa mereka melakukan ini, tetapi aku menduga itu untuk menjaga supaya kita tidak terlalu terkejut, yang memang akan terjadi jika kita melihat mereka dalam bentuk aslinya. Tampaknya saat kita makin dewasa rohani, mereka akan mulai muncul dalam bentuk aslinya.”
“Pernahkah engkau melihat banyak dari mereka?” seseorang bertanya.
“Ya. Dan kau juga akan melihatnya, jika engkau tetap di jalan ini,” lanjutku. “Mereka adalah roh-roh yang melayani ahli waris keselamatan. Mereka yang berada dalam perjalanan ini hampir pasti akan melihat mereka, dan akan sering melihatnya. Faktanya, kau akan menjadi pengecualian jika tidak melihatnya. Ini penting untuk dipahami, karena itu adalah sesuatu yang harus kita biasakan dan jangan terlalu gandrung kepadanya.”
“Kita harus menghormati malaikat sebagai utusan Tuhan, tapi kita hanya menyembah Tuhan. Kita akan memiliki banyak waktu untuk membicarakan lebih banyak tentang ini, tetapi untuk saat ini aku pikir kita harus segera bergerak
lagi.”
“Mark, kami semua bersyukur engkau bergabung dengan kami. Silakan gunakan kebebasanmu untuk berbagi dengan siapa pun dan tentang apa pun yang menurutmu tepat sebagaimana yang telah ditunjukkan tentang kami kepadamu.”
Saat kelompok itu mulai menyusuri jalan setapak, aku memberi tahu mereka bahwa aku akan menyusul mereka. Aku tetap tinggal karena aku telah melihat Suara di dekatku. Aku tahu aku tidak akan melihatnya jika dia tidak mau
terlihat, jadi aku tahu dia punya sesuatu yang penting. Aku menghampirinya dan dia memulai:
“Aku melihat semua orang yang melakukan perjalanan ini, tetapi aku belum pernah melihat kelompok seperti ini sebelumnya,” Suara berkata.
“Aku masih bertanya-tanya apakah itu baik atau buruk,” komentarku.
“Kita lihat nanti,” jawabnya. “Satu hal yang pasti, ini tidak akan membosankan bagimu! Kau suka mengatakannya bahwa kau mungkin mati karena banyak hal, tetapi kebosanan bukan salah satunya, tetapi aku pikir engkau sebentar lagi akan meminta sedikit kebosanan.”
“Kita akan lihat,” jawabku. “Bagaimana engkau tahu aku sering menggunakan ucapan itu, aku belum menggunakannya di alam liar ini?”
“Aku hanyalah salah satu ‘kumpulan saksi yang besar’ yang telah menyaksikan saat-saat ini terungkap dan memperhatikan kalian yang telah diberi kehormatan untuk hidup di dalamnya. Orang benar dan para nabi zaman dahulu ingin melihat hari-hari ini, dan mereka sekarang melihatnya. Kau hidup di hadapan orang-orang yang menyaksikanmu jauh lebih besar dari yang bisa engkau bayangkan, “jawab Suara itu.
“Itu semakin menambah tekanan pada situasi ini,” jawabku.
“Jika matamu terbuka sebagaimana seharusnya, engkau akan melihat bala tentara surga yang menyertaimu. Saat ini kau tidak dapat menahan tekanan di masa-masa ini, tetapi kau akan tumbuh dalam ukuran manusia rohani dan visi sampai engkau bisa menahannya,” Suara itu menambahkan dengan tegas.
“Hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang untuk menjaga perhatianku pada grup ini, jadi seperti yang bisa aku perkirakan,” aku menanggapi. “Aku ingin memperoleh posisi di mana aku bisa menangani semuanya, tapi setelah semua tahun dan pengalaman yang aku alami, aku merasa hampir seperti orang percaya baru yang baru memulai lagi. Aku tahu aku punya lebih banyak lagi untuk dipelajari. ”
“Benar. Kau telah melalui banyak hal, tetapi ada lebih banyak hal bagimu untuk tumbuh daripada apa yang telah kau jalani sejauh ini. Ini juga harus dilakukan dalam periode waktu yang jauh lebih singkat, jadi itu akan dialami secara intens. Mulai sekarang, setiap hari engkau akan diregangkan,” kata Suara itu.
“Aku yakin banyak peregangan itu akan datang dari kelompok ini,” kataku. “Ada sesuatu sangat luar biasa tentang mereka. Aku perlu berterima kasih karena telah membawa aku kembali bagi mereka. Aku tidak menghargainya saat itu, dan aku tidak pernah berpikir aku akan senang melewati tempat ini sekali lagi, tetapi aku sangat senang berada di kelompok ini. Sekarang aku tahu bahwa untuk mendapatkan manfaat penuh dari padang gurun ini, aku perlu mengalaminya bersama orang lain.”
“Itulah koinonia,” tambah Suara itu. “Ini memberi kita sedikit wawasan tentang mengapa Tuhan datang ke bumi untuk kita semua. Aku telah mengalami banyak di surga, tetapi dari semua makhluk Tuhan, ada sesuatu yang luar biasa dan menarik tentang umat manusia. Tuhan senang berada bersama kita. Malaikat juga. Salah satu daya tarik utama manusia adalah kemampuannya memiliki koinonia. Engkau memiliki pekerjaan yang sulit di depanmu, tetapi itu tidak sia-sia.”
“Aku menikmatinya sejauh ini, tetapi menurutmu, aku tidak dipanggil untuk menjadi pemandu alam liar profesional, bukan?” tanyaku.
“Tidak, itu pekerjaanku. Akulah suara di padang gurun. Tempatmu ada di gunung. 
Apa yang kau pikirkan tentang pertanyaan Mary?”
“Aku tidak berpikir ada yang kebablasan dari pertanyaan itu. Aku pikir dia membawa banyak kehidupan melalui pertanyaannya. Dia mungkin menanyakan apa yang orang lain pikirkan juga, ”jawab ku. “Apakah pertanyaan terakhir itu adalah pertanyaan ‘yang besar dan yang sangat penting yang harus aku tangani dengan benar?”
“Tidak, bahkan masih jauh dari itu, tapi pertanyaan-pertanyaan itu akan segera datang. “Sejauh ini engkau hanya baru mengecap sedikit saja.”
“Pertanyaan macam apa ini? Haruskah aku membahas tentang kehendak bebas manusia versus kedaulatan Tuhan?”
“Tidak. Akan jauh lebih sulit dari itu,” kata Suara itu, sekarang dengan senyum yang berbeda. “Dan dia tidak akan mengambil jawaban klise atau dangkal, dan engkau pun tidak akan memberikan jawaban seperti itu. Kau harus menjawab pertanyaannya. Jawabannya penting baginya dan bagi lainnya.”
“Dan engkau tidak dapat memberi tahuku beberapa pertanyaan ini sehingga aku bisa bersiap?” tanyaku.
“Aku tidak tahu pertanyaan apa itu. Aku hanya tahu betapa pentingnya pertanyaan-pertanyaan itu dan betapa pentingnya bagi orang-orang ini. Aku juga penasaran. Ini yang pertama bagiku, dikirim kembali kedua kalinya untuk memperingatkan seseorang tentang hal yang sama, “Suara itu berkata dengan tekanan lebih. “Aku tahu kau mempunyai jawaban, tapi aku rasa kau tidak akan bisa menjawab semuanya. Itu karena aku diberitahu bahwa dewan ilahi sedang menanti untuk menolongmu Anda menghadapi mereka. _Jangan ragu untuk bertanya kepada Tuhan, dan Dia akan memberimu hikmat.”_
Suara itu kemudian berbalik dan mulai pergi. Aku memanggilnya, “Apa lagi yang spesial tentang kelompok ini?”
Dia berhenti, ragu-ragu sejenak, dan kemudian berbalik dan berkata, “3“Aku belum pernah melihat sebanyak ini dalam satu kelompok yang dipanggil untuk menjadi orang-orang perkasa yang dibicarakan Henokh. Semuanya ini dipanggil untuk berjalan dengan kuasa yang lebih dari yang aku lakukan. Jelas waktunya sekarang sudah dekat.
Saat Suara itu menghilang dari pandangan, aku mulai berjalan perlahan untuk menyusul kelompok itu. Aku ingin mencerna semua yang baru saja dikatakan Suara itu kepadaku. Jika aku telah tahu apa yang menanti aku, aku tahu aku malah akan semakin berlambat-lambat.
(Bersambung ke BAB LIMA)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER