Arsip Kategori: hamba uang

HAMBA UANG (9)

Oleh : Peter B
Ciri keenam
Ciri terakhir yang bisa menjadi tanda bahaya bagi kita bahwa kita mungkin telah terjerat dalam perhambaan kepada uang disebutkan dalam pengertian dari terjemahan-terjemahan Alkitab berikut ini : 
Jaga kelakuanmu supaya jangan mengejar kebendaan;…
~Ibrani 13:5    
Biarlah percakapanmu tidak menunjukkan suatu ketamakan (akan uang) 
~ Ibrani 13:5 KJV
Tindak tandukmu atau perilakumu haruslah bebas dari cinta uang 
~ Ibrani 13:5, NET
Pastikan bahwa karaktermu bebas dari cinta akan uang
~ Ibrani 13:5, NASB
Sesungguhnya tidak terlalu sukar mengetahui seseorang hidupnya bertuankan uang atau tidak. 
Perhatikanlah tingkah lakunya sehari-hari. Amati pembicaraan-pembicaraannya sehari-hari. Apa yang paling banyak dipikirkan, dibicarakan dan diusahakan seseorang itulah yang telah menguasai hidupnya. 
Ciri terakhir seorang hamba uang akan terlihat dari PIKIRAN, PERKATAAN, PERBUATAN, TINGKAH LAKU DAN GAYA HIDUP YANG BERORIENTASI UANG. Segala-galanya adalah tentang uang, tentang memiliki dan mengumpulkan uang, memperbanyak atau melipatgandakan uang.
Mereka yang memusatkan hidup dikuasai uang akan terus membicarakan uang hampir dimanapun mereka berada.
Mereka bertemu satu sama lain untuk kemudian berujung membahas tentang peluang usaha terbaru, yang paling memberi keuntungan dengan cepat. Mereka terus mencari cara menambah pundi-pundi kekayaan mereka. Di sisi lain, apabila ada pembicaraan tentang hal lain,  misalnya tentang Tuhan dan makna kehidupan, mereka memandang itu sebagai sesuatu yang tidak perlu dan berguna, jika itu tidak mendatangkan uang. Wajah mereka bersemangat saat mendengar kiat dan cara baru memeroleh uang tapi menjadi dingin dan tidak berminat ketika membahas tentang yang lain. Mungkin jika pembicaraan itu disuarakan oleh para pebisnis, bisa jadi masih terdengar wajar.  Meski begitu, mereka harus berhati-hati supaya bukan hanya kepentingan bisnis yang menjadi pengejaran utama di hari-hari mereka. 
Namun, sebenarnya ada jauh lebih banyak orang yang diperhamba uang. Misalnya saja jika saat membuka mata di pagi hati dan pikiran pertamanya ialah bagaimana menghasilkan uang (bahkan itu demi kebutuhan keluarga) serta kemudian sepanjang hari hanya hal itu yang menjadi usahanya, maka uang telah memegang kendali atas hidup seseorang. Hal serupa juga terlihat ketika seseorang tidak pernah memikirkan atau sangat sedikit peduli akan hal-hal rohani karena alasan pekerjaan dan mencari nafkah. Termasuk ketika seseorang hanya menyediakan waktu satu atau dua jam seminggu datang ke gereja (itupun kemudian harus buru-buru sebab harus segera mulai bekerja atau membuka usaha) sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Bagaimana bisa Tuhan disebut sebagai penguasa hidupnya jika tidak sampai 2% dari 168 jam selama seminggu yang diberikan untuk Tuhan?
Dalam bentuk lainnya lagi, seseorang bisa saja membicarakan hal-hal rohani atau meneliti semuanya namun jika yang kemudian dikhotbahkan, diajarkan, dijadikan bahan renungan kelompok sel atau dalam pertemuan doa adalah terkait bagaimana memperoleh berkat jasmani, menjadi kaya, memperoleh tuaian melalui taburan persembahan dan semua pembicaraan lain terkait keinginan memperoleh kekayaan melalui cara-cara yang disebut rohani, maka sekalipun tampak merupakan suatu acara ibadah pada Tuhan namun uanglah yang menjadi fokus dan yang utama di dalamnya. 
Syair lagi dangdut berikut ini mungkin menggambarkan bagaimana sikap hati kebanyakan orang (Indonesia) terkait uang : 
Duit duit, ke sini dong aku mau duit
Duit, ke sini dong kekasihku minta duit

Emak dan bapakku lagi perlu duit
Tetanggaku semua lagi butuh duit
Sedang sulit, bagi duit
Jangan pelit, bagi duit

Duit duit, yang namanya duit
Duit duit duit, semua suka duit

Dicari-cari setiap hari
Ditunggu-tunggu setiap minggu
Bahkan dinantikan setiap bulan gajian

Duit duit, aku perlu duit
Duit duit, semua butuh duit

Reff:
Duit adanya duit
Urusan lancar tidak akan pernah sulit

Duit dompet berduit
Sudah sok pasti yang cantik-cantik melirik

Di daratan mencari duit
Di lautan yang cari duit
Dimana-mana banyak orang mencari duit

Bersyukurlah bagi yang lagi banyak duit
Tetapi jangan lupa sumbanglah masjid 
(amal euy)
Meskipun di akhir lagu dikatakan harus mengingat amal dan ibadah tapi uang menjadi semacam kebutuhan utama yang seolah-olah manusia mustahil darinya karena semua orang dan setiap bidang kehidupan memerlukannya. Terasa sekali bahwa fokus hidup sehari-hari bahkan sepanjang usia ialah mencari uang. Inilah sebenarnya yang dimaksud sebagai hamba uang. 
Di masa sekarang ini haruslah kita menyadari bahwa manusia masih tetap menggunakan akal budinya memanfaatkan segala kemajuan teknologi yang ada untuk lagi-lagi menghasilkan uang. Hari ini hampir semua media sosial baik pengguna maupun pembuatnya, menjadikan model komunikasi paling modern ini sebagai cara memeroleh uang. Walaupun itu sah dan tidak salah untuk dilakukan namun dapat dilihat bahwa apapun yang ada digunakan manusia pada akhirnya berujung pada pencarian uang juga. Yang terbaru, bahkan orang dijanjikan iming-iming keuangan untuk sekedar bermain game atau membagikan video di dunia maya. Semuanya lagi-lagi tentang uang dan uang. 
MEWUJUDKAN “MENCARI DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEBENARAN-NYA”
Matius 6:33 telah menjadi ayat hafalan yang klasik di antara orang Kristen. Hampir semuanya tahu bunyi ayat itu. Ayat ini berisi perintah Kristus supaya kita memprioritaskan pencarian Kerajaan Allah dan kebenaran di dalam Tuhan di hidup kita.  
Hanya, berapa banyak orang Kristen yang telah mempraktekkannya sebagaimana perintah Kristus?
Apa sesungguhnya yang Kristus minta dari kita melalui perintah itu? 
Bagaimana hidup sehari-hari yang mencari dahulu Kerajaan Allah itu lebih daripada mengejar harta dunia? 
Apakah itu berarti kita tidak perlu bekerja dan fokus menekuni hal-hal rohani saja? Tentu tidak  
Sebagian besar orang hidup dalam berbagai pekerjaan dan profesi yang tidak berhubungan langsung dengan hal-hal rohani. Dan Yesus tidak sedang mengatakan itu di hadapan para biarawan atau para pendeta! 
Jadi bagaimana?
Itu berarti jika kita hendak mengikut Kristus, kita harus mengadakan penyesuaian yang diperlukan sehingga hidup kita di hadapan Tuhan menyatakan suatu pencarian akan perkara-perkara dari Tuhan lebih daripada yang lainnya sementara kita keseharian kita untuk bersekolah, berdagang, berbisnis, memiliki profesi atau mencari nafkah dalam bidang apapun juga. 
Itu lebih dari sekedar mengambil waktu beberapq menit untuk bersaat teduh. Juga lebih dari menyediakan waktu untuk berdoa dan membaca sumber-sumber rohani. 
Mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya BERARTI MENGETAHUI DAN MENJALANI HIDUP SETURUT KEHENDAK TUHAN YAITU DALAM HIKMAT-NYA DAN PIMPINAN-NYA DI DALAM AKTIVITAS KITA MASING-MASING SEHARI-HARI. Ini artinya bukan hanya tahu, hafal atau mengerti bunyi ayat firman tetapi mampu mengaplikasikan kebenaran-kebenaran firman itu dalam hidup PRIBADI sehari-hari. 
Dalam hal suka merenungkan, menanyakan, mencari tahu, menyelidiki, menghubung-hubungkan dan membicarakan jalan-jalan Tuhan dalam hubungannya dengan aktivitas sehari-hari itulah YANG SEMESTINYA MENJADI SESUATU YANG MEWARNAI PEMIKIRAN, PEMBICARAAN DAN TINGKAH LAKU KITA. 
Itulah sebabnya kemudian di dalam Alkitab meskipun Abraham, Ishak dan Yakub itu pengusaha kaya namun iman dan hubungan mereka dengan Tuhan terasa nyata. Demikian pula Daud. Politik bukan yang utama dalam hidupnya sekalipun itu urusannya sehari-hari. Hatinya terus mencari cara mengenal dan menyenangkan hati Tuhan : ia membawa tabut Tuhan ke Yerusalem untuk berada dekat dengan istananya, ia mendirikan rumah penyembahan (pondok Daud) dan memulai penyembahan 24 jam, ia membawa semua peristiwa buruk menimpa bangsanya dalam terang Tuhan dan mencari perspektif ilahi sebagai solusinya, ia mencari strategi Tuhan pada saat harus berperang dan ia pula yang merancang sebuah bait yang hendak digunakannya sebagai tempat penyembahan yang megah bagi Allah. Betapa Daud memikirkan Tuhan sepanjang waktu!
Contoh lain ialah Daniel. Hatinya selalu gelisah ingin berjumpa Tuhan sekalipun di tengah kesibukannya sebagai perdana menteri. Daniel senantiasa lapar dan haus akan Tuhan. Ia berdoa. Berpuasa. Mencari wajah Tuhan. Berdoa syafaat bagi bangsanya. Menerima berbagai penyingkapan Tuhan yang luar biasa. Hidup rohani Daniel dan hubungannya dengan Tuhan merupakan salah satu yang paling luar biasa yang digambarkan dalam Alkitab karena bagaimana bisa seorang yang begitu sibuk dengan urusan kerajaan dan mengutus sebuah bangsa masih sempat menyediakan waktu untuk menghadap Tuhan, berkomunikasi dua arah dan bahkan menerima pewahyuan akan rahasia-rahasia terbesar tentang akhir zaman dari sorga. Jelas sekali terlihat perbedaannya dengan kolega-kolega Daniel yang gila hormat, haus kekuasaan dsn mengincar kedudukan-kedudukan dalam pemerintahan (yang seringkali terkait juga keuntungan materi yang bisa diperoleh) sedangkan Daniel tetap tanpa kompromi menjadikan pencarian Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya sebagai prioritas utama dalam hidupnya. 
Dan SEBENARNYA BISA DIKATAKAN, MESKIPUN TAK DISEBUTKAN SECARA LANGSUNG DALAM ALKITAB, HIKMAT YANG MEMBUAT DANIEL BERHASIL DALAM PEKERJAAN (SEKULER) NYA ADALAH BERASAL DARI PERSEKUTUANNYA YANG HIDUP DENGAN TUHAN. Tuhanlah yang memampukan Daniel bekerja sebaik-baiknya melampaui semua yang lainnya sehingga Daniel berhasil dalam apa yang dikerjakan-Nya. 
Mereka yang mengabdikan hidup pada Tuhan menghindari gaya hidup yang fokus pada keuntungan materi. Jika mereka menjadi sukses, itu bukan karena rajin memikirkan atau membicarakan berbagai taktik dan siasat demi memperoleh lebih banyak uang tapi mereka mencari Tuhan dan hikmat-Nya, yang jika diikuti akan membawa mereka pada keberuntungan yang besar sekaligus membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. 
Mereka mencari Tuhan untuk kemudian melihat janji Tuhan digenapi dalam hidup mereka. Mereka tahu bahwa bersama Tuhan mereka akan berjalan di jalan yang benar dan akan beroleh keberhasilan : 
Ingatlah TUHAN dalam segala sesuatu yang kau lakukan, dan Dia akan menunjukkan padamu jalan yang benar
(Amsal 3:6, GNB) 

Dalam segala sesuatu yang kamu lakukan, dahulukanlah Tuhan di tempat pertama, dan Dia akan menuntunmu dan memahkotai usahamu dengan kesuksesan 
(Amsal 3:6, LB) 

Carilah kehendak-Nya dalam setiap yang kau kerjakan dan Dia akan menunjukkan padamu mana jalan yang harus kautempuh
(Amsal 3:6, NLT) 

Dengarkanlah suara TUHAN dalam segala sesuatu yang kau lakukan, kemanapun engkau pergi: Dialah yang akan menjagamu tetap di jalur yang benar. 
(Amsal 3:6, The Message) 
Sebagai penutup, biarlah setiap kita sadar bahwa semakin kita memusatkan diri, perhatian, pemikiran dan usaha untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya maka semakin hidup kita dikuasai oleh uang, yang akan terus membawa kita menjauh dari apa yang penting dan perlu bagi hidup yang sesungguhnya yaitu HUBUNGAN PRIBADI DENGAN TUHAN dan untuk berjalan dalam kehendak-Nya.
Jangan sia-siakan waktu, tenaga dan sumber daya untuk memperoleh yang fana padahal kita beroleh janji bahwa yang fana itu akan ditambahkan pada kita ketika kita mengejar yang abadi. 
(Bersambung)

HAMBA UANG (8]

Oleh : Peter B
CIRI KELIMA
Salah satu terjemahan dari Ibrani 13:5 memberikan kita petunjuk yang lain mengenai satu ciri lainnya dari seorang hamba uang :
Janganlah mengandalkan uang. Hendaklah kamu puas jika mempunyai secukupnya untuk hari ini, sebab Allah telah bersabda: “Aku tidak pernah akan mengabaikan atau meninggalkan engkau. “
~ Ibrani 13:5  (versi KSKK) 
Betapa benar pengertian tersebut! 
Orang yang menjadi hamba uang tidak dapat tidak adalah orang yang MENGANDALKAN UANG sebagai penolong atau solusi bagi kebutuhan atau masalah mereka. 
Harap jangan berpikir terlalu jauh dulu. Kita semua memerlukan uang untuk kelangsungan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Sulit dibantah bahwa orang dapat hidup dengan normal hari-hari ini tanpa uang. Meskipun demikian MENGGUNAKAN uang berbeda dengan MENGANDALKAN uang. 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “mengandalkan” dimaknai sebagai “menaruh percaya kepada” atau “menjamin kesanggupan, kekuatan dan kemampuannya”. Dari definisi ini, jika dihubungkan dengan uang maka mengandalkan uang berarti “menaruh percaya pada kesanggupan, kekuatan dan kemampuan uang” dalam hidup ini. 
Orang yang mengandalkan uang ditandai dengan ia merasa aman ketika ia memiliki atau memegang uang dan sebaliknya, merasa gelisah, takut, panik, cemas ketika ia tidak memiliki uang. Ketika ada uang ia tersenyum lebar dan tampak ceria tapi saat tiada uang di kantongnya ia menjadi murung, sensitif dan mudah tersinggung, tertekan dan depresi. Tanpa uang, orang yang percaya kekuatan uang akan merasa hidupnya terancam dan sial sedangkan ketika banyak uang ia merasa tenang dan bahagia. Begitu pula dengan perkataan atau pikiran bahwa “Asal ada uang semua bisa diraih dan dilakukan” berasal dari hati orang yang mengandalkan uang. 
Mengandalkan uang dapat dikategorikan sebagai seorang hamba uang karena Yesus menggunakan istilah “mengabdi” atau “menjadi budak” ketika membandingkan perhambaan kepada Tuhan atau kepada Mamon : 
Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.… 
Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
~ Matius 6:24 
Kata “mengabdi” dalam bahasa aslinya mengandung pengertian “menjadi budak atau hamba dari”. Dan yang disebut oleh Yesus sebagai tindakan “menjadi hamba”  mengandung dalam suatu pengertian “secara sengaja” melakukannya. Maksudnya, dalam hal mengabdi kepada Tuhan atau Mamon, seseorang memutuskan dan memilih dengan sadar ia hendak menjadi hamba siapa : Tuhan atau Mamon. 
Dari pengertian ini, maka kita bisa masuk lebih dalam untuk mengetahui hati para pengabdi Mamon ini. 
Pikirkanlah. Adakah orang yang dengan sengaja menjadi budak? 
Meskipun jarang kita jumpai di masa kini, namun ada. Ada orang-orang yang merelakan diri dan hidupnya diserahkan untuk melayani seseorang atau sesuatu. 
Pertanyaannya kini, mengapa orang dengan sengaja menyerahkan dirinya untuk mengabdi atau menjadi hamba bagi seseorang atau sesuatu? 
Jawaban sederhananya adalah bahwa figur atau sesuatu yang membuat orang menundukkan diri dan mengabdi itu MERUPAKAN SESUATU YANG DIPANDANG LEBIH KUAT, LEBIH MAMPU DAN LEBIH BERKUASA DARI DIRINYA. Karena tidak ada seseorang yang mau menjadi hamba dari seseorang atau sesuatu yang lebih lemah daripada dia. Yang lebih lemah selalu menjadi hamba dari yang lebih kuat dan sebaliknya, yang (dianggap) lebih kuat memperhamba yang (merasa atau menganggap dirinya) lebih lemah. 
Mereka yang menghamba pada uang pastilah memandang uang sebagai kekuatan yang besar, yang dipercayai dapat menjadi penolong dan pemberi jawaban atas masalah hidupnya, sebagaimana mereka yang menyembah pada TUHAN percaya bahwa Tuhanlah yang mampu melepaskan mereka dari berbagai krisis maupun persoalan. 
MENGANDALKAN UANG ITU TERBATAS DAN DAPAT MENYESATKAN JIWA
Alkitab beberapa kali mengungkapkan bahwa uang atau harta benda itu seperti benteng dan kota berkubu bagi orang-orang yang memiliki banyak harta (Amsal 10:15; 18:11)
Meski tampak kuat dan kokoh dengan bersandar pada hartanya, bukan berarti mereka tak terkalahkan. Benteng setebal tembok Yerikho runtuh tak berdaya di hadapan kekuasaan Allah Israel. Sementara di masa kini, uang yang banyak tak mampu menyelamatkan bangsa-bangsa dari krisis ekonomi akibat tulah Covid-19 dua tahun terakhir ini. 
Kekuatan harta dunia itu terbatas. Dan ketika sampai batasnya, itu akan mengecewakan karena akhirnya mereka yang mengandalkan harta tahu bahwa mereka telah tertipu dan tersesat dengan mengandalkan sesuatu yang tidak pasti (lihat 1 Timotius 6:17).
Salah satu contoh terbaik bagaimana kekayaan itu mengecewakan dapat dilihat dari catatan seorang paling kaya yang pernah hidup di bumi, raja Salomo. Dalam kitab Pengkhotbah, ia menyimpulkan bahwa bergelimang kekayaan di dunia tetap saja berujung apa yang disebutnya “kesia-siaan” dan “usaha menjaring angin” – karena pada akhirnya setiap orang akan mati, tanpa bisa ditolong oleh hartanya maupun membawa kekayaannya itu pergi bersamanya di kekekalan. 
Ada yang lebih hebat dan kuat melebihi kesanggupan uang.  Itulah KUASA TUHAN. Dan Alkitab berkali-kali menunjuk pada kita. Beberapa raja dalam kitab Raja-raja atau Tawarikh mencoba mengandalkan kekayaannya pada saat krisis melanda bangsa mereka atau pada saat mereka terdesak oleh lawan-lawan mereka. Nyatanya mereka mendapat teguran Tuhan atau ketidakberuntungan karena hal itu (lihat 2 Tawarikh 16:1-8; 28:21-22). Kekuatan harta tak mampu menolong mereka. 
Begitupun dengan Naaman, panglima Aram, yang kaya raya itu, tak mampu menemukan kesembuhan ketika kusta menjangkitinya (lihat 2 Raja 5). Hanya dengan iman pada kuasa Allah Israel saja akhirnya ia disembuhkan setelah mandi tujuh kali di sungai Yordan. 
Dalam Injil, ada kisah Zakheus yang semula percaya pada harta kemudian memandang semuanya tak lagi berarti ketika ia dijamah kuasa Tuhan dan berjumpa pribadi dengan Yesus (lihat Lukas 19:1-10). Tuhan saja yang kini diandalkan Zakheus sebagai penjamin hidupnya, di bumi sampai kelak pada waktu ia mati. 
Ada pula kisah Simon mantan tukang sihir atau dukun yang lalu menjadi orang percaya. Dipikirnya dengan sejumlah uang, ia dapat membeli karunia-karunia Roh Kudus yang ajaib dan menarik perhatian banyak orang. Tak kurang, rasul-rasul sendiri yang menegurnya dengan keras (lihat Kisah Rasul 8:9-24). Kuasa Tuhan tak dapat dan tak boleh dibandingkan dengan harta dunia seberapapun banyaknya. 
Dan mungkin tidak ada yang menunjukkan perbandingan kesanggupan uang dengan kuasa Tuhan seperti peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang sebagaimana dicatat dalam Markus 6:30-43. Yesus yang melihat orang yang sedemikian banyak itu telah kelaparan, menyuruh murid-murid-Nya memberi mereka makan. Murid-murid berkata itu mustahil. Kas mereka yang kemungkinan hanya 200 dinar tak akan mampu memberi makan sekian banyak manusia pada saat itu juga. Dan berapa banyak dana yang harus dikeluarkan agr bisa memberikan makanan secara serentak dengan begitu mendadak saat itu juga tanpa perencanaan sebelumnya? Uang berapapun mustahil mengadakannya saat itu juga. Tapi tidak demikian dengan kuasa Tuhan. Hari itu, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya diperagakan pertama kali di bumi. Kekuatan dari tempat yang mahatinggi mengubah 5 roti dan 2 ikan menjadi makan malam yang mengenyangkan sekaligus menggetarkan jiwa bagi setiap yang mengalami dan mengingatnya. 
Ada kehadiran dan kuasa Tuhan yang tersedia yang dapat selalu kita andalkan. Ketika kita mengingat Dia di hari kesesakan kita dan berlari kepada-Nya, Ia tidak akan mengecewakan:  
 Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.
~ Amsal 18:10
 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. 
~ Mazmur 46:2
HIDUP KITA TIDAK TERGANTUNG PADA KEKAYAAN YANG KITA MILIKI
Bacalah ayat-ayat berikut ini dan terceliklah :
Kekayaan tidak dapat menghalangi maut menjemput kita
 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”
 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”
 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
~ Lukas 12:13-15
Kekayaan tidak mampu menjamin tempat kekal kita di sorga
 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
~ Matius 19:23-24
Kekayaan tak mampu membeli dan mendapatkan hal-hal terindah dan termanis bagi jiwa 
 — Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! 
 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina. 
~ Kidung Agung 8:6-7 (TB)
Mengandalkan kekuatan harta benda akan membawa menyimpangkan kita dari jalan yang benar sehingga kita berbuat kejahatan. 
 Jikalau aku menaruh kepercayaan kepada emas, dan berkata kepada kencana: Engkaulah kepercayaanku; 
 jikalau aku bersukacita, karena kekayaanku besar dan karena tanganku memperoleh harta benda yang berlimpah-limpah; 
 maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas telah kuingkari. 
~ Ayub 31:24-25, 28
Kekayaan, jika direnungkan secara jernih, adalah sesuatu yang tidak pasti. Memiliki kekayaan belum tentu memperoleh hidup yang bahagia dan nikmat tapi kekayaan sejati dari Tuhan lah yang memastikan hidup kita penuh kedamaian, sukacita dalam kepenuhan segala sesuatu. 
Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. 
~ 1 Timotius 6:17
Mengandalkan uang mungkin menguntungkan untuk sementara waktu. Namun pada waktunya, itu akan menjadi jerat. Yang melakukannya akan diperhamba oleh uang dan dikecewakan oleh uang karena berjerih lelah untuk sesuatu yang belum pasti dan kapan saja dapat lenyap, yang hanya dinikmati sementara waktu lalu ditinggalkan begitu saja ketika ajal menjemput
Hidup dalam kuasa Tuhan dan selalu mengandalkan Dia membuat kita memiliki jaminan yang pasti. Kini. Nanti. Hingga anak cucu. Sampai di keabadian. 
 Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; 
 tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat. 
 Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; 
 sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan. 
 Orang-orang benar akan mewarisi negeri dan tinggal di sana senantiasa. 
~ Mazmur 37:25-29
Masihkah kita akan mengandalkan uang dan menghamba pada Mamon daripada mengabdikan diri kepada Yesus Kristus Tuhan? 
(Bersambung)

HAMBA UANG (7)

Oleh : Peter B
Sekarang kita akan mempelajari ciri ke-4 dari perhambaan uang. 
Perhambaan atau perbudakan merupakan suatu hubungan yang ikatannya kuat. Entah yang satu menguasai dan menindas yang diperbudak. Atau, yang menjadi budak dengan sukarela bersedia menjadi hamba atau budak dari yang memperbudaknya. 
Dalam perhambaan pada uang, seseorang begitu terikat pada uang.  Ia mengasihi uang sebagai suatu hal yang menguasai hidupnya. Ia mencintainya dan tak bisa lepas daripadanya. Walau seseorang terlihat sebagai yang mempunyai atau mengatur uang, namun orang yang diperbudak hartanya sesungguhnya diikat dan dikendalikan hidupnya oleh hartanya itu. 
Dalam pengertian cinta akan uang yang menjadikan seseorang kemudian sebagai hamba uang, terkandung suatu sifat atau karakter manusia yang menunjukkan bagaimana ia dperhamba uang
Ciri ke-4 dari seorang hamba uang adalah adalah sifat PELIT atau Kikir.
Kamus Besar bahasa Indonesia menerjemahkan “kikir” sebagai tindakan “terlalu hemat menggunakan harta bendanya”
Kamus Vine menggunakan kata “miserly” dan “stinting” sebagai pengertian yang terkandung dalam kata “avarice” (keserakahan akan uang)  yang bermakna : “tidak suka atau benci menggunakan uang” atau “memakai sedikit sekali dalam menggunakan, memberikan atau mengeluarkan uang”
Ya. Orang yang begitu mencintai uang TIDAK RELA kehilangan uangnya. Ia ingin menyimpannya, mengumpulkannya, dan memilikinya sebanyak-banyaknya. Jika ia harus mengeluarkan uang, ia berhitung lebih dahulu, berpikir dua, tiga hingga sepuluh kaki, bahkan setelah semua itu masih terasa berat hati menggunakan uangnya. Melepaskan kepemilikannya akan uang jelas merupakan sesuatu yang sukar bagi orang kikir. 
Memahami sikap seperti ini, jelaslah bagi kita bahwa tidak selalu seorang yang banyak hartanya yang men­jadi hamba uang. Yang tidak memiliki banyak uang pun, masih dapat terjerat menjadi pecinta uang. Dan seperti yang telah kita ketahui, menjadi pecinta uang dapat melahirkan berbagai hal yang jahat karena cinta uang adalah akar dari segala kejahatan. 
Mereka yang kikir atau pelit dapat melakukan hal-hal yang jahat yang diatas namakan sebagai ‘berhemat’ atau sedang ‘melakukan pengaturan keuangan’ padahal mereka sebenarnya sangat mencintai uang dan bermaksud memuaskan keinginan-keinginan mereka sendiri. Misalnya saja, orang-orang yang tidak mudah mengeluarkan uang acap membatasi pembelanjaan mereka bahkan terhadap hal-hal yang perlu dan mendasar bagi hidup sehari-hari seperti untuk membeli makanan dan minuman yang layak maupun untuk pendidikan anak-anak mereka.  Padahal di sisi lain, demi kesenangan dan kenikmatan pribadi, entah disadari maupun tidak, mereka cenderung memboroskan uang mereka. Contoh untuk ini adalah para pria atau suami yang berpandangan misalnya “lebih baik tidak makan daripada tidak merokok.” Belum lagi pengeluaran yang besar untuk membiayai hobby mereka maupun hidup dalam kebiasaan-kebiasaan buruk seperti berjudi atau minum minuman keras. 
Dalam bentuk lain, ada juga pengusaha-pengusaha yang dengan segala akal menyiasati bagaimana supaya dapat mengurangi gaji para pekerjanya. Dengan cara demikian mereka menahan sesuatu yang baik bagi orang yang seharusnya menerimanya (lihat Amsal 3:27) sedangkan untuk kepentingan pencitraan atau profit yang lebih besar mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana yang tidak sedikit seperti untuk acara-acara pencitraan, untuk menyuap pejabat atau untuk melobi rekan-rekan bisnis mereka. Suatu sikap yang sama sekali tidak mencerminkan keadilan , yang dengan cara demikian orang-orang seperti ini telah melakukan kekejian di hadapan Tuhan. 
Hal yang serupa juga masih terjadi di antara jemaat Tuhan hari-hari ini. Berkebalikan dengan suasana jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul, jemaat hari ini hampir-hampir tidak memiliki kejelasan dan kejernihan dalam menggunakan hartanya.
Jemaat termotivasi oleh janji-janji berkat materi dari pengkhotbah-pengkhotbah Injil kemakmuran, tergerak oleh pesan “investasi rohani” ini lalu berbondong-bondong menyumbangkan hartanya  mendukung ambisi pembangunan fasilitas fisik berupa gedung-gedung gereja megah dengan fasilitas lengkap (yang sebenarnya demi kenyamanan dan kesenangan mereka sendiri dalam ibadah namun yang kini kenyataannya menjadi tampak semakin kurang bermakna ketika situasi pandemi memaksa setiap orang tidak dapat beribadah di tempat-tempat megah tersebut) sedangkan di sisi lain, jemaat tidak termotivasi bahkan sama sekali tidak tergerak memberikan dukungan keuangan kepada hamba-hamba Tuhan yang benar-benar hidup sebagai hamba Tuhan dan mengerjakan visi serta program dari Tuhan yaitu pembangunan manusia rohani dan murid-murid sejati. Dalam hal-hal seperti ini, banyak anak Tuhqn, tanpa sadar, ternyata lebih diperhamba Mamon daripada Tuhan sendiri. 
TUHAN MENCARI KEMURAHAN HATI
Sifat pelit atau enggan memberi bukan berasal dari Tuhan
Allah kita penuh dengan kemurahan dan kasih karunia. Itu berarti Dia suka mengaruniakan berbagai hal. Dan itu diberikan-Nya dengan murah dan limpahnya. Jauh melampaui yang bisa kita duga, kita banyak menerima dari Tuhan melebihi batas-batas yang kita butuhkan. Itu sebabnya sering kita jumpai dalam Alkitab, istlah-istilah seperti “mencurahkan atau dicurahkan” atau “berkelimpahan.”
Allah kita suka membagi-bagikan. Dan itu tercermin dari setiap ciptaan-Nya. Baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan memberikan sumbangan atau kemanfaatan dari diri mereka kepada makhluk yang lainnya. Bahkan bintang, bulan, dan matahari memiliki berbagai fungsi yang sangat berguna bagi keberadaan manusia. Dan alam masih terus memberikan hasil-hasilnya bahkan dari bagian bumi terdalam sekalipun. 
Allah yang suka memberi, merancang ciptaan-ciptaan yang suka memberi pula. Seharusnya demikian dengan manusia, yang diciptakan seturut rupa dan gambar Allah sendiri. Manusia seharusnya menjadi makhluk dengan manfaat paling besar dan banyak bagi bumi sekaligus pencipta mereka.  Ketika manusia mencerminkan sifat dari Allah sebagaimana anak seharusnya menggambarkan sifat ayahnya, maka Allah Bapa akan sangat disenangkan hatinya melihat kesemuanya itu. Sayangnya, kenyataan yang demikian tampaknya belum benar-benar dikerjakan manusia bahkan sejak mereka diciptakan pertama kalinya. 
Kejatuhan Adam dan Hawa, manusia-manusia pertama dalam dosa, merusak sifat Allah dalam diri mereka. Mereka tak lagi berpusat pada Tuhan dan ciptaan yang lain, untuk mengasihi mereka dan membaktikan hidupnya sebagai berkat. Dosa manusia justru melepaskan kutuk atas bumi dan isinya. Termasuk kepada keturunan-keturunan mereka sendiri.  Alih-alih mereka mengasihi Tuhan dan sesama, mereka berubah hanya memusatkan hidup bagi diri mereka sendiri. Mereka ingin memiliki sebanyak-banyaknya. Untuk diri mereka sendiri. Jika perlu, tidak masalah jika mereka harus mengorbankan pihak lain demi keuntungan mereka. 
Dalam hal kecintaan akan uang, alih-alih menggunakan uang untuk memberkati dan menolong manusia lain, orang-orang yang dikuasai oleh uang siap mengorbankan sesamanya demi memperoleh lebih banyak uang.
Tuhan sendiri menyebutkan bahwa mereka yang MURAH HATINYA akan berbahagia, tergolong sebagai orang yang diberkati (blessed) : 
 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. 
~  Matius 5:7 
Dan sesungguhnya Roh Kudus dalam kita mengerjakan kasih di dalam hati yang terlihat nyata dalam karakter mulia yang disebut Paulus sebagai buah roh. Salah satu elemen dari buah Roh itu disebut : “kemurahan”
 Tetapi buah Roh ialah: kasih,… kemurahan,..
~ Galatia 5:22
Oleh sebab itu, tidak mengherankan ketika kita membaca dalam Alkitab bahwa pada saat Roh Kudus turun, melawat, memenuhi dan bekerja dengan kuat di tengah-tengah jemaat mula-mula maka anak-anak Tuhan pada waktu itu menjadi pribadi-pribadi yang suka memberi, senang berbagi sampai-sampai milik mereka  masing-masing seperti menjadi kepunyaan bersama :
Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 
 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
~ Kisah Para Rasul 2:44-45
Dan sepanjang Perjanjian Baru, kita dapat menemukan dalam Alkitab begitu banyak kisah-kisah jemaat dari berbagai kalangan bahkan di antara jemaat-jemaat yang terbatas hartanya, pada kenyataannya memberi melampaui batasan mereka : 
 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
 Aku bersaksi, bahwa  
 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
~ 2 Korintus 8:1-5
Tak terkecuali, pengajaran rasul-rasul selalu menekankan supaya jemaat rajin memberi, menjadi pribadi-pribadi murah hati sebagaimana teladan Kristus sendiri yang seluruh hidup-Nya menunjukkan bahwa “Lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kisah Rasul 20:35).
Alih-alih didorong memberikan harta miliknya demi menerima janji menerima berkat keuangan lebih besar lagi, orang-orang percaya di masa rasul-rasul baik jemaat Yahudi maupun bukan Yahudi diajar dan didorong menjadi orang-orang yang murah hati termasuk di pasal yang sama dengan nats utam kita di Ibrani 13:5, misalnya dalam Ibrani 13:2 dan 16 : 
 Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.

 Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.
Inilah kehidupan orang-orang yang di zamannya menggoncang serta menjungkirbalikkan dunia. Di tengah-tengah keadaan yang sukar, dianiaya, dibenci, dan disebut sebagai sekte sesat, dibatasi serta dilarang dalam berbagai aktivitasnya, mereka tetap menjadi komunitas yang bukan saja menampilkan suatu karakter dan roh berbeda tapi hidup dengan penuh kuasa oleh karena Roh Tuhan bekerja di dalam mereka.
Penyembahan mereka kepada Tuhan terlihat dari pengabdian mereka meneladani Yesus Kristus, Tuhan mereka. Melalui suatu cara hidup yang murah hati, murid-murid Kristus menunjukkan mereka bukanlah hamba-hamba uang.
Kita akan tahu apakah kita menghamba kepada Tuhan atau menghamba pada uang dengan melihat seperti apa kita memutuskan menggunakan uang kita : mengikuti ketakutan dan berusaha memuaskan keinginan-keinginan kita sendiri ATAUKAH menyerahkan pengaturan pemakaian keuangan kita pada Tuhan sebagai pemberi petunjuk dan pemegang keputusan akhir dari setiap penggunaannya. 
Ingatlah selalu, orang yang menghamba kepada Tuhan itu MURAH HATINYA. 
(Bersambung)

HIKMAT DAN KUTIPAN

“Manusia diciptakan untuk dicintai. Benda-benda diciptakan untuk dipakai atau digunakan sebagai alat. Alasan mengapa dunia menjadi kacau adalah karena benda-benda dicintai sedangkan manusia dijadikan alat.”

Kutipan di atas menggambarkan kenyataan hari² ini di dunia, lebih khusus lagi di Indonesia. 
Sedikit sekali yang peduli dengan orang lain. Banyak sekali yang peduli pada jabatan, kepopuleran, pencitraan, dan segala yang lain. Yang kemudian jika ditelusuri akhirnya banyak yang menyimpulkan sebagai urusan UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Jadi semua yang tampak sebagai kerja, kerja sosial, untuk kepentingan dan kemajuan bangsa, penegakan hukum dan sebagainya semuanya bermuara pada seberapa banyak uang yang akan didapatkan. Jadi hukum bisa disetel. Peraturan bisa diatur dan dirancang sesuai kepentingan. Jadi pemimpin biar dapat kekayaan yang lebih besar dari jabatan dan menguasai jalur² perdagangan basah di negeri ini. 
Orang hidup demi memperoleh uang dan mendapatkan lebih banyak uang lagi.
Itulah perbudakan uang. Ketika orang lebih memilih uang daripada hubungan dengan orang lain, juga nasib dan nyawa orang lain. 
Tidak heran hari ini Indonesia begitu kacau karena yang utama salah satunya adalah uang. Karena memperoleh uanglah , agama dibelokkan, keadilan disimpangkan, kebenaran diputarbalikkan, keputusan pengadilan menjadi cacat dan bengkok, dan hukum menjadi alat kejahatan. Orang ingin menjabat bukan karena semata ingin mengabdi pada nusa bangsa tapi untuk mengumpulkan kekayaan bagi diri dan keluarganya. 
Kekacauanlah yang kini kita alami. Dan karena itu, negara kita dalam krisis perbudakan yang parah. 
Hanya Tuhan melalui anak²Nya dan umat-Nya yang tidak sudi tunduk pada perhambaan uang saja maka negara kita akan mulai dipulihkan Tuhan. 

~ Cuplikan pernyataan dari Peter B. dalam group Telegram

HAMBA UANG (6)

Oleh : Peter B
Sementara sikap cinta uang dan serakah dapat membuat seseorang  diperhamba oleh uang, ada sisi lain yang  menjadi sebab sekaligus menjadi indikasi seseorang  telah menjadi hamba uang. 
Ciri ketiga dari seorang hamba uang disiratkan oleh Ibrani 13:5 dalam bagian ayat yang berhuruf tebal ini : 
 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. 
Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  
~ Ibrani 13:5
Dikatakan di sana bahwa Tuhan berjanji akan menyertai, Ia tidak akan membiarkan anak-anak-Nya bahkan sama sekali Ia tidak pernah meninggalkan mereka. Itulah mengapa Yesus memerintahkan murid-murid-Nya supaya, “… janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu” (Matius 6:31-32).
Jika kita percaya bahwa Allah Bapa menjaga kita, memelihara kita dan pasti mencukupkan kebutuhan dasar kita, maka SUDAH SEHARUSNYA KITA TIDAK LAGI HIDUP DALAM KEKUATIRAN. 
Namun jika sebaliknya yang terjadi, yaitu kita tidak percaya kepada Dia, maka KEKUATIRAN MENYUSUP MASUK DI HATI yang LAMBAT LAUN BISA MENGUASAI HATI KITA. Kita menjadi takut, cemas, bingung akan bagaimana kita memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu solusi manusia mengatasi kekuatiran tanpa menaruh percaya kepada Tuhan ialah BERPALING PADA UANG, karena uang dipandang sebagi sarana pemenuhan kebutuhan hidup. 
Yesus menyebut mereka yang kuatir dan tidak mengenal Allah, akan mengisi hidupnya dengan “mencari” pemenuhan akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya saja. Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah hanya tahu satu hal selama hidupnya : bagaimana mencukupi dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu. Didorong oleh kebutuhan dan kekuatiran tidak memperoleh penghidupan, umumnya manusia menjadikan pemenuhan kebutuhan hidup sebagai inti dan tujuan hidupnya. Ini bukan berarti mencari penghidupan bukan merupakan sesuatu yang buruk dan merupakan sesuatu yang rendah. Tetapi manusia, dari tujuan penciptaannya mula-mula dirancang demi sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mulia dari sekedar menjalani hidup mencari penghidupan. Manusia diciptakan untuk memiliki hubungan kasih dengan Tuhan dan hidup bagi pencipta-Nya. 
Jadi, inilah ciri ketiga dari seseorang yang hidupnya dikuasai uang : Hamba uang HATINYA KERAP DIRUNDUNG KEKUATIRAN TIDAK MENDAPATKAN KEBUTUHAN HIDUPNYA. 
Kekuatiran seharusnya membuat kita sadar betapa lemahnya kita dan kita memerlukan pertolongan dsn berkat dari Yang Mahakuasa dan Maha Memelihara kita sehingga karena itu maka kita memandang pada Tuhan dan mengandalkan Dia dalam hidup kita. 
Sayangnya, tidak semudah itu. Putusnya hubungan manusia dengan Tuhan, membuat manusia hanya percaya dan mengenal kemampuan dirinya. Tanpa Tuhan, manusia mengandalkan apa yang dapat diusahakannya dan dimiliknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena uang menjadi alat untuk memperoleh kebutuhan serta keinginan hidup, maka manusia berpaling pada kekuatan uang dan mengandalkannya bagi hidupnya. 
Sebagai penenang batinnya yang kerap diliputi ketakutan dan kekuatiran menjalani kehidupan, manusia menimbun harta. Demi memperoleh semacam jaminan bagi hidupnya melalui uang, orang rela menyerahkan dirinya, waktu, tenaga, dan setiap daya upaya.
DIJERUMUSKAN OLEH KEKUATIRAN KITA
Alkitab menunjukkan hubungan antara kekuatiran dan pencarian kekayaan bendawi dalam ayat-ayat berikut ini :
Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
~ Matius 13:22 (TB)  
 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu,
 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
~ Markus 4:18-19 (TB)
Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.
~ Lukas 8:14 (TB)  
Dari tiga kali gambaran perumpamaan Yesus mengenai benih yang jatuh di tengah semak duri, kesemuanya menyebutkan suatu kehadiran bersama-sama dan hubungan yang erat antara kekuatiran dunia dan (tipu daya) kekayaan.  Ketika kekuatiran disebut maka kekayaan juga turut disinggung di sana. 
Ini setidaknya menunjukkan pada kita beberapa hal : 
1- karena dikendalikan oleh kekuatiran, manusia dapat berpaling pada kekayaan yang disangkanya dapat diandalkan serta menjadi jaminan baginya
Kekayaan materi memang diumpamakan seperti kota benteng bagi pemiliknya
 Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya,… .
~ Amsal 10:15 
 Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya.
~ Amsal 18:11 
Dengan harta yang banyak, secara jasmaniah seseorang lebih berpeluang bertahan hidup. Itulah sebabnya mengapa banyak sekali orang yang mengandalkan harta sebagai perlindungan dan merasa aman karenanya. 
 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
~ Lukas 12:18-19 (TB)
Perkataan d atas barangkali merupakan perkataan umum yang kerap muncul di hati banyak orang. Namun, sesuai yang disampaikan Yesus, itu merupakan perkataan seorang kaya namun bodoh di pandangan Tuhan. 
Melalui kisah orang kaya yang bodoh itu, Tuhan memperingatkan bahwa hidup manusia tidak tergantung berapapun banyaknya hartanya
 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
~ Lukas 12:15
Adalah ajaran serta kehendak Tuhan supaya kita tidak bermegah atas banyaknya kekayaan kita : 
Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,”
~ Yeremia 9:23
Meskipun harta dipandang dapat menolong, seharusnya itu tidak boleh diandalkan dan m:n jadi tempat bergantung. 
2- kekuatiran di hati rawan membawa orang terjerat tipu daya kekayaan
Kekayaan dalam batas tertentu memang menguntungkan. Barangkali itu pula sebabnya tidak sedikit yang tergiur memilikinya sebanyak-banyaknya melalui segala cara.  
Hanya, banyak yang tiada menyadari bahwa di balik kekayaan yang besar ada bahaya yang besar pula. 
Yesus berkata, “Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan sorga” (Matius 19:24) yang dapat diartikan jika kekayaan bisa menjadi PENGHALANG BAGI ORANG UNTUK MENGEJAR DAN MEMILIKI PERKARA-PERKARA SORGAWI. 
Kekayaan juga menjadikan orang menjadi sombong, menilai dirinya terlalu tinggi sehingga merasa tidak perlu bergantung pada Tuhan. 
Rasul Yakobus memperingatkan bahwa sekalipun dipandang tinggi oleh dunia, kedudukan orang-orang kaya tidak sekali begitu di hadapan Tuhan. 
Yang terjadi kerap kali malah kebalikannya :
Orang kaya tidak perlu merasa dirinya lebih tinggi dari orang miskin : 
 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi, 
 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.  
~ Yakobus 1:9-10
Seanjutnya, kehidupan yang nyaman dan mewah tanpa mengingat Tuhan dan sesama, merupakan kehidupan yang sengsara dan harus diratapi!
Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! 
 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!  
 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.
~ Yakobus 5:1-3
Berbeda dengan kebanyakan orang-orang dunia memandangnya, Paulus  menyebut kekayaan dengan istilah yang barangkali mengejutkan. Ya, harta benda disebut Paulus sebagai “sesuatu yang tidak tentu (atau yang tidak pasti)”
 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, … 
~ 1 Timotius 6:17 (TB) 
Mengandalkan diri pada kekayaan, sekalipun sekilas tampak dapat dijadikan sandaran, sesungguhnya tidak akan bertahan lama. Banyak contoh kekayaan lenyap dalam waktu singkat dan dalam situasi tertentu, uang yang banyak sekalipun tak dapat digunakan untuk apa-apa seperti misalnya ketika bencana alam terjadi dan perdagangan lumpuh. Begitu pula jika terjadi krisis ekonomi sehingga menyebabkan nilai uang menjadi jatuh sangat rendah.  
Pengharapan kita yang pasti dan tak tergoyahkan adalah TUHAN sendiri, yang memiliki tubuh dan nyawa kita. Mereka yang berharap kepada Tuhan akan dipelihara dengan segala cara, bahkan melalui cara-cara yang melampaui akal, untuk membuktikan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan. 
3- kekuatiran yang mengendalikan hidup manusia bisa membuat orang memusatkan diri mengejar kekayaan daripada mengisi hidup sebagai pelaku-pelaku firman setiap harinya
Sebagaimana diungkapkan dalam perumpamaan Yesus, kekuatiran hidup yang disandingkan bersama tipu daya kejayaan diumpamakan seperti semak duri yang menghimpit benih firman, menghalangi benih itu tumbuh dengan baik dan sempurna sebagaimana mestinya. Benih itu bertumbuh namun pertumbuhannya terhambat. Dengan susah payah, ia muncul sebagai tanaman yang kurang nutrisi dan tidak subur. Hasil dari benih tersebut adalah suatu tumbuhan yang tidak berbuah atau tidak menghasilkan buah yang matang. 
Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu,
 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
~ Markus 4:18-19
Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.
~ Lukas 8:14 
Sari-sari makanan dalam tanah yang seharusnya diserap dengan baik dengan kadar penuh, rupanya diserap oleh tanaman semak-semak duri di sekitarnya. Ini menggambarkan mengenai perhatian, sumber daya serta energi yang ada tidak difokuskan untuk mengejar buah-buah rohani di dalam Tuhan tetapi juga untuk perkara-perkara lain.
Akar dari kata “kuatir” dalam bahasa Gerika mengandung pengertian “memecah” atau “membagi”. Dan ini memperjelas pengertian bahwa mereka yang kuatir seringkali terpecah perhatiannya, pemikirannya dan fokus pengejarannya. Orang yang kuatir lebih dikuasai kebimbangan daripada keyakinan dan keteguhan hati. Ketika keraguan menyusup, maka kekuatan dan usaha kita menjadi lebih lemah daripada seharusnya. 
Begitu juga jika kita hendak berjalan bersama Tuhan tetapi hati kita menyimpan kekuatiran. Pandangan kita terbagi. Iman kita mendua. Tak lagi fokus mengejar apa yang Tuhan kehendaki untuk kita kejar. Kita mengusahakan kehendak Tuhan dengan setengah hati untuk kemudian mencoba melakukan yang lain, yang dirasa dapat meredam kekuatiran kita. 
Alih-alih menaruh keyakinan PENUH dan SATU-SATUNYA pada Tuhan, kekuatiran membuat kita terbagi : mengandalkan Tuhan SAMBIL mengandalkan yang lain -yang sejatinya sama dengan TIDAK MENGANDALKAN TUHAN dalam prakteknya.
“Tidak ada waktu untuk hal rohani, sulit menyediakan waktu untuk Tuhan karena harus mengejar target memenuhi kebutuhan hidup” adalah alasan klasik dari mereka yang hatinya penuh kekuatiran sekaligus masih percaya pada kekayaan sebagai sandaran hidup. Tidak mengherankan jika pada akhirnya pertumbuhan rohani mereka TIDAK NORMAL, menjadi MENYIMPANG DARI YANG SEMESTINYA, yang seharusnya bertumbuh sebagai manusia-manusia rohani yang kuat dan perkasa dalam Tuhan, mengerti jalan-jalan Tuhan dsn hukum-hukum rohani Kerajaan Allah dalam suatu kehidupan yang penuh kuasa namun kemudian muncul sebagai orang-orang Kristen yang memusatkan hidup serta mendambakan perkara-perkara duniawi. Orang-orang Kristen seperti ini lebih rindu mencapai kesuksesan sebagaimana ukuran dunia, dengan cara meyakini dan mengklaim berkat-berkat jasmani itu melalui ayat-ayat Alkitab yang diajarkan dan ditafsirkan menurut pengertian serta harapan-harapan di hati yang tertuju pada dunia ini. 
Kekuatiran yang berkelindan dengan keserakahan membelit jiwa manusia ke dalam jerat maut yang membawa mereka menjauh dari Tuhan lalu tunduk pada perbudakan  uang. 
PERBEDAAN MENDASAR
Mengetahui betapa kekuatiran dapat menjerat orang dalam perhambaan uang, jelas sekali Yesus tidak main-main memperingatkan supaya pengikut-pengikut-Nya supaya tidak kuatir.
Orang yang menaruh pengharapan dan meletakkan seluruh  penghidupannya kepada Tuhan PASTILAH orang yang percaya akan janji Tuhan : “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”. Orang yang menghamba kepada Tuhan tak menaruh rasa amannya pada uang maupun harta benda sebagai sandaran hidupnya. Ia sadar dan yakin sepenuhnya TUHANLAH PENENTU KEHIDUPANNYA. Orang demikian akan selalu berkata dengan yakin dalam hatinya : 
“Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut.. .” (Ibrani 13:6)
Sebaliknya, mereka yang kuatir sesungguhnya tidak percaya pada Tuhan. Mereka, akhirnya, mengandalkan yang lain, yaitu Mamon. Percaya pada kekuatan uang dan harta. Dapatkah itu mengusir kekuatiran dari hati mereka? Untuk sementara mungkin bisa. Tapi kekuatiran akan hal lain akan terus berdatangan, berusaha menyelinap masuk di hatinya. 
Kekuatiran yang terlalu banyak dan beragam jenisnya, yang bahkan banyaknya uang tak mampu mengatasinya.
Benarlah jika dikatakan : 
Uang bisa membeli minyak wangi yang termahal, tetapi uang tidak dapat membeli nafas yang teratur dan segar. 

Uang bisa membeli makanan enak, tetapi uang tidak bisa beli nafsu makan.

Uang bisa membeli rumah megah, tetapi uang tidak dapat membeli kenyamanan yang tinggal di dalamnya. 

Uang bisa membeli vitamin yang termahal, tetapi uang tidak dapat membeli kesehatan.

Uang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi tidak dapat membeli tidur nyenyak. 

Uang bisa membeli suasana pesta, tetapi uang tidak dapat membeli rasa gembira dan suka-cita.

Uang bisa membeli tiket berlibur panjang, tetapi uang tidak dapat membeli rasa senang menikmati liburan itu. 

Uang bisa membeli seks, tetapi tidak dapat membeli cinta yang sejati. 

Uang bisa membeli obat awet muda, tetapi uang tidak dapat membeli nyawa.

UANG BISA MEMBELI “SESUATU” TAPI TIDAK BISA MEMBELI “KEPUASAN DI HATI”

UANG bisa membeli KESENANGAN tapi tidak bisa membeli KEBAHAGIAAN.
  
Sungguh,  kekuatiran bercampur dengan keinginan manusia yang tak memiliki batas tidak akan membiarkan orang tenang sekalipun uang yang banyak dalam genggaman. Ketakutan kehilangan harta bercampur dengan keinginan memperoleh lebih banyak lagi akan menariknya dalam lautan kegelisahan dan keterombang-ambingan. Seumur hidupnya. Suatu kehidupan yang tak pernah menemukan kedamaian yang sesungguhnya. 
Hanya di dalam Tuhan, jiwa kita tenang. 
Beroleh damai penuh sejahtera. 
Sukacita. Kelegaan. Yang bahkan melampaui yang bisa diberikan segala harta.
Dalam perhambaan uang, kekosongan dan kehausan terus datang. 
Dalam penundukan dan perhambaan kepada Tuhan, jiwa kita menemukan ketenangan sejati.
Di dalam Dia saja ada bahagia kita. 
(Bersambung)

HAMBA UANG (5)

Oleh :  Peter B
Ciri kedua seorang yang diperhamba oleh uang diberitahukan pada kita masih dari ayat yang sama : 
Jangan tamak akan uang dan terimalah dengan rasa puas segala sesuatu yang ada padamu,….”
~ Ibrani 13:5 (SB2010)  
Djangan kamu loba uang melainkan tjukupkan dirimu dengan apa jang ada.… “.
~ Ibrani 13:5 (ENDE)  
Ciri kedua yang dimaksud adalah IA MENJADI TAMAK ATAU SERAKAH AKAN UANG. 
Tamak atau serakah memiliki pengertian “selalu ingin memiliki lebih dari yang dimiliki” (KBBI) atau “suatu keinginan yang egois untuk memiliki sesuatu (seperti misalnya uang) secara lebih daripada yang dibutuhkan” (makna kata “greed” dalam Kamus Webster).
Yesus sendiri memperingatkan supaya murid-murid-Nya berhati-hati terhadap ketamakan atau keserakahan (Lukas 12.15).
Keserakahan juga termasuk perbuatan daging serta dosa yang harus dimatikan dalam diri kita sebagaimana nasihat rasul Paulus kepada jemaat-jemaat (lihat Roma 1:29; Efesus 5:3,5; Kolose 3:5). 
Begitu pula baik diaken maupun penilik jemaat (tua-tua sidang) harus bukan terhitung sebagai orang-orang yang memiliki sifat serakah (lihat Titus 1:7; 1 Timotius 3:8). 
Sifat serakah biasa dipraktekkan oleh orang-orang duniawi yang tidak mengenal Allah. Paulus menyebut ketamakan itu SAMA DENGAN PENYEMBAHAN BERHALA. 
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu …  keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
~ Kolose 3:5 (TB)  
Mengapa keserakahan dipersamakan dengan penyembahan berhala?
Inti penyembahan berhala adalah, suatu penyembahan dan pengabdian kepada sesuatu selain kepada Tuhan sendiri.
 
Dalam hal ketamakan, maka penyembahan itu ditujukan pada diri sendiri atau tepatnya merupakan PEMUJAAN DAN PENGABDIAN PADA KEINGINAN-KEINGINAN DIRI YANG BERHASRAT MEMILIKI BANYAK HAL SECARA BERLEBIH-LEBIHAN. Dan keinginan tanpa batas itu hari ini dipandang dapat dicapai jika orang memiliki banyak uang. Kelanjutannya kemudian menjadi jelas bagi kita. Orang yang dikuasai ketamakan karena ingin memiliki banyak benda dan harta, yang tidak cukup dengan apa yang biasa dan sederhana, maka ia cepat atau lambat, akan DIPERHAMBA UANG karena uanglah yang dianggap dapat memenuhi berbagai keinginan dalam hati orang. 
Jadi, mengapa manusia menjadi hamba uang? 
Karena ia ingin memuaskan keinginan hatinya, untuk memiliki banyak hal secara limpah, untuk memuaskan hasrat hatinya, untuk hidup serba nyaman dan bahkan mewah, walaupun secara mendasar semuanya itu bisa jadi bukan merupakan hal mendasar atau merupakan keperluan pokok dalam hidup.
Terkait keinginan, saya pernah membaca suatu meme, yang mengatakan, “Sebenarnya uang selalu cukup untuk membeli kebutuhan hidup tapi tidak akan pernah cukup jika digunakan untuk MEMUASKAN GAYA HIDUP.”
Saya setuju dengan hal itu. Ada benarnya. Jika untuk kebutuhan pokok dan mendasar sehari-hari, sebenarnya tidak memerlukan sangat banyak uang. Yang membuat akhirnya orang membutuhkan dan memburu banyak uang adalah karena IA MENGINGINKAN GAYA HIDUP TERTENTU YANG TELAH DITETAPKANNYA SESUAI SELERA DAN KEINGINANNYA SENDIRI. 
Dan inilah yang dikatakan dalam hati banyak orang berkaitan dengan berbagai keinginan hatinya itu : 
“Aku tidak bisa makan makanan seperti itu. Aku mau makanan yang mahal dan berkelas” (padahal banyak yang makan makanan sederhana tiap hari dsn masih sehat dan kuat) 
“Aku malu tinggal di rumah seperti itu. Harus cari rumah yang ego sadrah elite, lebih terjamin dan tenang lingkungannya” (padahal meski rumah biasa banyak keluarga menikmati kebersamaan yang membahagiakan) 
“Aku risih dengan pakaian biasa dan umum dipakai orang banyak. Yang bermerek dong, yang nyaman dan sedap dipandang orang” (padahal baju yang sederhana memiliki fungsi yang sama dan bisa disiasati untuk serasi dengan potongan tubuh kita) 
“Tubuhku butuh perawatan. Rambut, kuku, kulit, wajah, belum lagi make up dan perawatan tubuh di spa dan klinik kecantikan. Itu sudah wajib hari gini” (padahal kecantikan seorang wanita tidak hanya ditentukan oleh tampilan fisiknya).
“Ah mobil murah gitu kurang gengsi. Setidaknya harus merk ini dan mesinnya setidaknya 2500 cc. Baru mantap” (padahal kebutuhan untuk sekeluarga cukup dengan mobil yang tidak mahal atau bisa juga berkendaraan dengan motor) 
“Wah tidak mungkin aku menyekolahkan anak-anakku di sekolah seperti itu. Minimal sekolah ternama di kota ini. Lingkungan pergaulannya kan pengaruh” (padahal proses belajar tidak hanya ditentukan oleh sekolah. Yesus, Pribadi paling berhikmat, tidak pernah sekolah formal).
“Hmm hobby ini sedang trend. Terlihat kuno dan tidak mengikuti perkembangan zaman kalau tidak ikutan. Harus ikut koleksi dan bisa dipamerkan nanti di depan teman dan kolega” (padahal keuangan yang ada belum memungkinkan untuk digunakan menyalurkan hobby tersebut) 
Dan daftarnya seolah tiada habisnya. Terus dan terus bertambah. Lain orang, lain lagi keinginan dan kemauannya, apalagi seleranya. Benarlah jika dikatakan, bahwa MANUSIA TIDAK MEMILIKI BATAS TERKAIT KEINGINAN DAN SELERANYA. Mungkin seluruh jagad pun masih kurang untuk memuaskan keinginan hati seorang manusia saja! 
Alkitab sendiri yang mengatakannya. Berkali-kali, bahkan : 
Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas. 
~ Amsal 27:20
…  mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.
~ Pengkhotbah 1:8 
 Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia.
~ Pengkhotbah 5:9 
Segala jerih payah manusia adalah untuk mulutnya, namun keinginannya tidak terpuaskan.
~ Pengkhotbah 6:7
Keinginan yang tanpa batas ini, jika terus dipupuk akan membuahkan suatu karakter buruk, yang lalu menguasai manusia dan membawanya pada suatu perbudakan oleh keinginan dan uang. 
Jika ini terjadi…. maka TUHAN akan dilupakan. Paling tidak,  Tuhan disisihkan dari pandangan dan pusat perhatian. Hidup diarahkan untuk mengejar serta memenuhi keinginan demi keinginan. Hari demi hari dilalui sebagai usaha memenuhi gaya hidup, meningkatkan gaya hidup, dan memapankan gaya hidup yang sesuai dengan seleranya. Kebahagiaan sejati dirumuskan sebagai pemenuhan berbagai keinginan itu TANPA MENYADARI bahwa meskipun keinginan itu akhirnya terpenuhi, masih akan muncul keinginan lainnya. 
Bukankah rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau? 
Dan meskipun sudah mempunyai banyak, berapa banyakkah yang menang atas iri hatinya terhadap orang lain ? (lihat Pengkhotbah 4:4; 2 Samuel 12:7-9). 
Di zaman ini, banyak yang berpikir bahwa gaya hidup tertentu merupakan suatu kebutuhan hidup. Tidak bisa atau mustahil jika tidak hidup dengan gaya hidup seperti itu. Benarkah? 
Bagaimana jika keadaan tiba-tiba mengalami perubahan drastis? 
Tidakkah pandemi memaksa orang mengubah secara tiba-tiba akan kebiasaan sehari-hari dan gaya hidupnya? 
Bagaimana jika secara mendadak terjadi bencana? 
Mungkinkah terus hidup dalam gaya hidup idaman sedangkan rumah mungkin saja telah luluh lantak oleh gempa atau tsunami? 
Bagaimana jika situasi dunia memburuk dan terjadi perang? 
Siapakah yang bisa mencegah dan menghentikannya? 
Bagaimana dengan gaya hidup yang telah ditetapkan untuk dikejar itu? Akankah orang-orang yang sebelumnya berkata tidak mungkin bisa hidup di luar suatu gaya hidup tertentu itu mengakhiri hidupnya jika situasi itu terjadi? 
Kenyataannya, kita sering mencari standar kenyamanan kita sendiri sebagai manusia yang masih kerap berpusat pada diri sendiri. Tanpa sadar, di situlah hati kita perlahan beralih dari menyembah Tuhan menjadi penyembah keinginan dan uang. 
Tidak ingatkah kita ketika Yesus mengatakan hal ini : 
Semua itu (yaitu makanan, minuman, pakaian atau pendeknya kebutuhan pokok kehidupan sebagaimana ayat-ayat sebelumnya) dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
~ Matius 6:32
Yesus tidak sedang mengatakan kita tidak boleh bekerja atau mencari nafkah demi kebutuhan penghidupan kita sehari-hari. Tidak sedikitpun. Yang Ia sedang sampaikan adalah DUNIA, YA ORANG-ORANG DUNIA PADA UMUMNYA, MEREKA YANG TIDAK MENGENAL ALLAH itu HIDUP UNTUK MENCARI PEMENUHAN KEBUTUHAN HIDUPNYA . Itulah tujuan dan usaha mereka setiap hari. 
Namun, anak-anak Tuhan MEMILIKI TUJUAN YANG BERBEDA. Mereka tidak semata-mata mencari pemenuhan kebutuhan hidup : MEREKA MENCARI KERAJAAN ALLAH DAN KEBENARAN ALLAH DI DALAMNYA. Mereka hidup bagi rencana dan tujuan Tuhan bagi hidup mereka dan DALAM PROSESNYA TUHAN MENCUKUPI KEBUTUHAN MEREKA SEHARI-HARI. 
Apakah gaya hidup demikian yang telah kita hidupi? 
Jika belum… berarti kita masih hidup sama dengan mereka yang tiada mengenal Kristus. Itu berarti kita masih menetapkan hidup demi mengejar pemenuhan kebutuhan hidup sana, yang kemudian dilanjutkan dengan pengejaran keinginan kita sendiri.  Tidak heran pada waktunya, kita terjerumus dalam PERHAMBAAN PADA UANG daripada HIDUP MENGHAMBA PADA TUHAN. 
UKURAN MINIMAL PEMELIHARAAN TUHAN
Tahukah Anda bahwa Tuhan itu berjanji memenuhi kebutuhan kita setiap hari? 
Itulah sebabnya mengapa Ia memerintahkan kita supaya tidak kuatir akan makan, minum dan pakaian kita. IA MEMBERIKAN JANJI-NYA DAN MENJAMIN PEMELIHARAAN ATAS KITA ANAK-ANAK-NYA yang Ia ciptakan dan kasihi melebihi semua makhluk lain di alam semesta ini. 
Paulus pun mengajar jemaat selaras dengan kebenaran ini. 
 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. 
 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. 
~ 1 Timotius 6:7-8 (TB)
Bisakah kita melihat bahwa kebutuhan hidup kita yang sebenarnya itu tidak banyak? Kita bisa hidup asalkan ada makanan dan pakaian. Kita lah yang membuat hidup kita semakin rumit dan kompleks dengan segala keinginan serta selera kita. 
Benar bahwa hari ini kita membutuhkan pendidikan, sekolah, kuliah. Memerlukan pulsa, kuota internet, alat transportasi dan komunikasi. Dan masih banyak lagi hal yang kita merasa kita tidak bisa hidup tanpa itu. Tapi tepatkah pemikiran seperti itu? Benarkah kita tidak bisa hidup tanpa itu semua? 
Bukankah di masa lalu sebelum ada peralatan canggih dan rumah serta berbagai fasilitas modern seperti sekarang, orang-orang hidup di zamannya dan semua berjalan baik-baik saja? 
Bahkan andaikan semua yang kita rasa kita perlukan itu tidak kita miliki sekalipun pada masa kini, akankah kita sekarat, tak dapat hidup lebih lama atau menjadi celaka? 
Bahkan perkataan Yesus telah sering kita kutip tanpa kita benar-benar menyadari maknanya. Bukankah Yesus berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja…” Tidakkah itu menunjukkan betapa kebutuhan dasar manusia seperti makanan atau roti saja TIDAK MENENTUKAN KELANGSUNGAN HIDUP MANUSIA? Bukankah ada orang-orang yang berkelimpahan roti hingga segala yang serba mewah dalam hidupnya tetapi merasa hidupnya kosong dan tak memiliki makna sampai-sampai ada yang mengakhiri hidupnya sendiri? 
Roti BUKAN segala-galanya bagi manusia. Tidak layak dijadikan pencarian, pengejaran apalagi perburuan tama, lebih-lebih hingga seumur hidup hanya dihabiskan untuk mengejar roti alias penghidupan jasmani semata. 
Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah! 
Asal kita punya makanan dan pakaian, dengan itu kita semestinya SUDAH PUAS!  (Terjemahan Alkitab lainnya)
OLEH SEBAB ITU…. jika hari ini kita melihat hidup kita masih dapat makan makanan yang kita sukai, berteduh di rumah yang layak, memakai busana yang berfungsi baik dan sedap dipandang, dapat menjelajah dunia informasi dengan fasilitas internet atau bepergian dengan mudah dengan kendaraan yang nyaman atau masih sempat menikmati berbagai hiburan dan berwisata bersama keluarga…  BUKANKAH ITU SEMUA TELAH JAUH MELEBIHI YANG TUHAN JANJIKAN YAITU AKAN MAKANAN, MINUMAN DAN PAKAIAN?
Bukankah itu KASIH KARUNIA serta KELIMPAHAN KEBAIKAN TUHAN BAGI KITA? 
Itulah yang seharusnya kita terima dengan rasa puas dan ucapan syukur!
Lalu….mengapa kita sering masih merasa kurang dan terus fokus mengejar uang daripada Tuhan???
Bukankah sudah saatnya ketika beroleh pewahyuan Tuhan bahwa hidup kita ditebus dan dijadikan baru maka pengejaran kita seharusnya menjadi pengejaran hidup yang lebih tinggi dan lebih berarti daripada sekedar mencari pemenuhan kebutuhan dan keinginan hidup maupun harta dunia? 
APAKAH KITA PERNAH DAN MASIH MELAKUKAN ITU SEBAGAI ORANG YANG MENGAKU SEBAGAI PENGIKUT KRISTUS? 
Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan yang Tuhan taruh di hati saya mengenai keinginan manusia. 
Berhati-hatilah dengan setiap keinginan kita. 
Sebagai murid Kristus, biarlah kehendak, kerinduan, keinginan, harapan serta selera kita selaras dengan hati dan kehendak Tuhan. 
Menginginkan sesuatu yang lain yang berakar serta berpusatkan pemuasan diri, lebih-lebih jika kita menginginkan apa yang serupa dengan keinginan orang-orang duniawi, akan membuat kita kehilangan iman, menyimpang dari jalan yang benar, melepaskan Tuhan untuk kemudian menghambakan diri pada Mamon. 
Almarhum Joseph Campbell, profesor literatur di AS, bahkan dengan berani mengatakan, “Saya pikir seseorang yang bekerja supaya ia bisa hidup -maksudnya, bekerja untuk mendapatkan uang- telah menjadikan dirinya sebagai budak.”
Maksud Campbell jelas, orang yang bekerja untuk memperoleh uang, sesungguhnya menyerahkan dirinya untuk dikuasai dan dikendalikan hidupnya oleh uang. Keputusannya, gerak langkahnya, waktunya, tenaga, pikiran, perhatian dan semua daya yang ada padanya diserahkan demi uang. 
Dari sini kita dapat lebih memahami mengapa Alkitab menyebut bahwa dunia akan dipenuhi para hamba uang. 
Saya percaya bahwa sebagai manusia-manusia baru, ya, ciptaan-ciptaan baru, Tuhan sanggup memberikan kerinduan, keinginan dan hasrat yang baru. Ketika kota abadi yang di dalamnya Tuhan menyediakan tempat dan harta kekal kita semakin jelas terlihat mata iman kita, maka dunia dengan segala yang di dalamnya akan terasa menjemukan dan kian kehilangan daya tariknya. 
Yesuslah yang kini harus menjadi pengejaran utama kita. Yang karena-Nya kita seharusnya meneladani Paulus, rela menganggap “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” dan bahkan “segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus!” (lihat Filipi 3:7-8).
Perhambaan pada uang terjadi ketika kita ingin memuaskan segala keinginan kita dalam hidup ini. 
Perhambaan pada Tuhan dimulai ketika kita menerima dengan syukur apa yang kita miliki dan terima dari Tuhan setiap hari lalu menjadi puas di dalam Tuhan, serta yakin bahwa Dia pasti menjaga serta memelihara hidup kita selagi kita mengabdikan hidup dalam kehendak dan tujuan-tujuan-Nya. 
Ingatlah selalu : APA YANG PALING ANDA RINDUKAN DAN DAMBAKAN DALAM HIDUP AKAN MENENTUKAN KEPADA SIAPA ANDA MENGHAMBA, pada ALLAH BAPA DI SORGA atau kepada Mamon!
Dan sekali lagi, jika kita tidak menghamba kepada yang benar maka sekalipun kita tidak mengakuinya, kita tetap menghamba kepada sesuatu yang kemungkinan bukan sesuatu yang benar. 
Dan perkataan ini benar : cara terbaik tidak menghamba kepada uang atau ilah apapun dan manapun lainnya ialah dengan menghamba kepada Kristus. 
(Bersambung)

HAMBA UANG (4)

Oleh : Peter B
Kenyataan bahwa Bait Suci di zaman Yesus dijadikan tempat berjualan dan mencari keuntungan, sejatinya menunjukkan bahwa institusi rohani maupun orang-orang yang aktif di dalamnya tidak steril dari kecintaan akan materi.
Meskipun Bait Suci jelas-jelas merupakan tempat orang berhubungan dengan sesuatu yang ilahi dan sorgawi, keduniawian sepertinya masih sangat melekat di hati orang-orang, baik yang beribadah maupun orang-orang yang (dipandang sebagai) melayani Tuhan di dalamnya. 
Harus jujur diakui, bahkan lembaga-lembaga agama (atau badan apapun yang bernuansa agama) di dunia ini telah menjadi lumbung yang besar untuk mengumpulkan dana secara instan. Nama Tuhan digunakan dan dengan alasan melakukan pelayanan kepada Tuhan atau berbuat amal bagi sesama -semuanya dijadikan dasar memotivasi orang-orang yang mendambakan pahala sorgawi serta yang berharap menuai berkat-berkat materi yang lebih besar lagi sebagaimana dijanjikan dan dikhotbahkan pada mereka itu. 
Seperti itulah kecenderungan hati manusia yang lebih mudah terpikat oleh apa yang tampak dan memberikan keuntungan instan ketimbang mengarahkan hati kepada Tuhan untuk mengenal Tuhan lebih lagi sebagai harta rohani sejati. 
Sebagaimana sudah disampaikan sebelumnya, akhir zaman ditandai dengan makin bermunculannya orang-orang yang mementingkan diri dan karenanya memperbudak dirinya pada materi. 
Meskipun sejak dulu, materi menjadi dambaan dan salah satu pengejaran utama kehidupan manusia namun yang di masa lalu tidak seperti masa-masa sekarang dan tahun-tahun ke depan, ketika dunia bergerak perlahan namun pasti menuju garis finalnya. 
Hari ini, dimanapun kita membuka media pemberitaan, hampir mustahil kita tidak menemukan berita yang berorientasi pada masalah uang atau kekayaan. Bahkan media-media sosial kita kini dibanjiri pameran kekayaan setiap menitnya. Orang-orang dari seluruh dunia membagikan foto dirinya sedang makan, berbelanja, berjalan-jalan, berlibur, menggunakan fasilitas mewah atau sekedar memamerkan hasil operasi plastik yang baru dilakukannya, yang tentu saja di balik itu menunjukkan bahwa ia memiliki uang untuk melakukannya!
Manusia, laki-laki dan perempuan, di masa kini nyata-nyata menjadi budak uang. Mereka tidak malu melakukan kejahatan besar dan merusak seperti korupsi yang merugikan begitu banyak orang dan memilih lebih baik dipenjara sekian waktu lamanya asalkan  telah menumpuk kekayaan bagi diri dan keluarganya. Demi uang, kaum wanita seolah tak memiliki rasa malu dan harga diri lagi ketika memamerkan hidup mewahnya walaupun dengan menjadi istri simpanan atau hasil menjual diri.
Di bidang rohani, meski selalu disamarkan, faktanya baik jemaat maupun pemimpin rohani, mengukur perkenan dan berkat Tuhan dari ukuran-ukuran jasmaniah. Tidak heran kemudian pameran kemewahan pendeta ini semacam menjadi olok-olok yang lagi-lagi memantik perdebatan yang tak kunjung usai mengenai bagaimana seharusnya gaya hidup seorang hamba Tuhan itu. 
Ya, ketika ucapan-ucapan yang lebih dipercaya orang itu semacam “Siapa sih yang bisa hidup tanpa uang?” atau “Namanya hidup realistis saja. Uang bukan segalanya tapi segalanya perlu uang” atau “Yang penting kalau menikah itu uang bukan cinta, memangnya cinta bisa kasih makan dan beli keperluan rumah tangga. Makna tuh cinta” maka hendaknya Anda sadar bahwa nubuat Alkitab sedang digenapi. Hamba uang ada dimana-mana. 
Apakah kita termasuk sebagai salah satunya? 
Berhati-hatilah! 
HAMBA UANG ITU BERMULA DARI CINTA UANG, SAMPAI-SAMPAI MENJADI BUDAK CINTA DARI UANG
Lepaskanlah dirimu daripada kasih akan uang.. 
~ Ibrani 13:5 (Terjemahan Lama)  
Janganlah hidupmu dikuasai oleh cinta akan uang,… “
~ Ibrani 13:5 (Bahasa Indonesia Masa Kini) 
Sementara menggunakan dan memanfaatkan uang tidak terlarang dalam ajaran Tuhan, mencintai uang justru sesuatu yang berbahaya menurut Alkitab. 
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. 
~ 1 Timotius 6:10
Cinta uang dapat menyebabkan orang melakukan banyak kejahatan! Orang terdorong, termotivasi bahkan terinspirasi melakukan hal-hal yang jahat, keji, tidak berperikemanusiaan, dan melupakan perintah Tuhan maupun mengabaikan keberadaan Tuhan itu sendiri ketika mata hatinya tertutup oleh keinginan mendapatkan uang. 
Karena tidak dapat menahan keinginannya memperoleh lebih dan lebih dan lebih banyak uang lagi, maka orang menyerahkan dan merelakan diri untuk melakukan hal-hal yang merugikan bahkan menghancurkan banyak hal, entah itu hidup orang lain maupun dirinya sendiri. Contoh-contoh untuk ini sudah tak terhitung banyaknya. Mulai dari orang yang menipu dan berlaku curang demi memperoleh untung dalam bisnis bernilai milyaran dolar atau kita mendengar seseorang yang membunuh orang lain hanya demi memperoleh uang ribuan rupiah saja. 
Jadi tepat sekali yang dikatakan rasul Paulus : 
 Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
~ 1 Timotius 6:10
Karena memburu uang, manusia melupakan yang terutama dalam hidupnya, memburu Tuhan dan perkara-perkara dari-Nya. Lebih lanjut, setelah melupakan Tuhannya, manusia menyusahkan dirinya hingga membuat dirinya sendiri tersiksa dan penuh kepedihan hanya untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan bagi hidupnya.
Mereka yang cinta uang, merasa dirinya tidak dapat hidup tanpa uang. Ia yakin bahwa uang itu jaminan baginya. Ia percaya bahwa banyak uang sama dengan hidup aman dan sentosa. Uang jadi sumber ketenangan batinnya (tanpa sadar bahwa itu hanyalah semu dan sifatnya seperti obat penenang belaka). Memiliki banyak uang berarti hidup yang sukses dan berhasil. Uang adalah segalanya dalam hidup ini -begitu yang ada di pikiran mereka yang cinta uang. Apapun yang diangankan, dipikirkan, dibayangkan, didambakan, diusahakan semuanya melulu berkaitan tentang bagaimana memperoleh lebih banyak uang. Lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Dan jika mungkin, maka ia berharap itu bisa diperoleh dengan cara yang semudah-mudahnya dan secepat-cepatnya. 
Apakah kita termasuk orang yang cinta uang? 
Berhati-hatilah karena sedikit lagi, kita akan ditangkap dan dijadikan hamba uang oleh penguasa-penguasa kegelapan yang tahu benar apakah kita termasuk orang-orang yang cinta uang atau tidak. 
Darimana iblis tahu kita ini pecinta uang? 
Salah satu ciri khas orang-orang yang mencintai sesuatu adalah IA SIAP BERKORBAN BAGI YANG DICINTAINYA ITU. Meskipun pengorbanan bukan selalu didorong dan dimotivasi oleh cinta tapi setiap cinta pasti menuntun dan menuntut setiap orang yang memiliki cinta untuk berkorban. Pengorbanan bisa sedikit atau banyak. Semakin besar cinta yang ada pada seseorang, semakin banyak pengorbanan yang rela dilakukannya. Pengorbanan itu antara lain korban waktu, tenaga, pikiran, sumber daya, kesehatan, cita-cita,  waktu istirahat,  hingga hal-hal lain (atau pribadi-pribadi lain seperi keluarga, sahabat dan Tuhan) yang sebenarnya juga disukai atau dicintai tapi masih kurang dicintai dibanding sesuatu yang atasnya seseorang rela mengorbankan sesuatu. 
Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Dari perkataan Paulus itu, kita dapat menduga bahwa orang mengorbankan imannya, bahkan dirinya, hingga hidupnya DEMI MEMBURU UANG! 
Betapa mengerikan orang yang mencintai uang itu!. Mengorbankan seluruh hidup demi memperoleh dan mengumpulkan uang! 
Tidak heran dengan segera ia menjadi HAMBA UANG. 
Jika uang adalah segala-galanya baginya maka ia siap melakukan segala-galanya demi uang. Itulah hamba-hamba uang. 
Dan untuk itu tidak perlu orang melakukan sesuatu yang jahat atau melanggar hukum. Tidak usah sampai seperti itu. Segala-galanya demi uang itu termasuk yang disebut oleh Paulus  MENYIMPANG DARI IMAN. 
Tahukah Anda apakah Anda telah menyimpang dari iman sebagai akibat mencintai uang?
Menyimpang dari iman diterjemahkan oleh beberapa versi Alkitab sebagai “meninggalkan keyakinan mereka pada Kristus”, “berpaling dari Allah”, “meninggalkan ajaran yang benar”, “sesat dari imannya”, “tidak menuruti lagi ajaran Kristen”, hingga “menyangkal Kristus”.
Cukup luas cakupannya, bukan? Mana yang merupakan makna mendasarnya 
Pengertian dari bahasa aslinya, “menyimpang” itu bermakna “tersesat” dari iman yang benar. Maksudnya, menyimpang dari jalan keimanan dan kebenaran yang sejati. Kamus bahasa asli Alkitab juga menegaskan pengertian di dalamnya termasuk “dibawa menyimpang dari kebenaran kepada kesalahan”.
Jadi seseorang yang menyimpang dari iman, bisa memulainya dari mengikuti ajaran yang keliru, yang kemudian tanpa ia sadari membawanya semakin jauh dari Tuhan dan tak lagi menyembah Tuhan.  Puncaknya, ia menyangkal Kristus sebagai Tuhan. 
Bukankah dari sini menjadi makin jelas mengapa ada pengajaran populer yang disebut sebagai “theologia atu injil kemakmuran” itu? 
Tidakkah itu merupakan perbuatan manusia yang mengorbankan ajaran Tuhan yang sejati lalu memodifikasinya supaya cocok dengan tujuan mereka yang bermaksud memburu sesuatu yang mereka cintai yaitu uang? 
Bagaimana mungkin manusia bisa-bisanya dan berani-beraninya mengutak-atik kebenaran dan ketetapan ilahi? 
Betapa lancangnya! Betapa kurang ajarnya!
Tapi, sadarilah, itulah yang akan dilakukan manusia jika ia lebih cinta akan uang daripada cinta Tuhan. Ajaran Tuhan pun dipelintir supaya tampak mendukung kecondongan dan keinginan hati mereka akan uang dan kelimpahan materi. 
Dan orang-orang Kristen yang percaya dan meyakini ajaran yang keliru ini SUDAH PASTI HATINYA MENCINTAI UANG dan bahkan mungkin telah diperhamba oleh uang. 
Tidak perlu menjadi seorang yang melakukan hal-hal yang jahat ketika hati seorang Kristen diliputi cinta uang. Ia tinggal MENGARAHKAN HATI DAN IMANNYA PADA PENGAJARAN YANG BERPUSATKAN JANJI TUHAN SERTA KUASA TUHAN YANG AKAN SELALU MELIMPAHKAN KEKAYAAN MATERI BAGINYA. 
Dengan melakukan itu, ia telah mengorbankan iman dan kepercayaan sejatinya pada Tuhan untuk mempercayai kebohongan dan kesesatan! 
Sekali lagi, saya tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh dan tidak perlu memercayai Tuhan untuk mengirimkan berkat-berkat jasmani. Sama sekali tidak. Semua berkat jasmani juga Tuhan janjikan. Tapi fokus iman kita bukan pada yang jasmani. Pengejaran kita bukan pada hal-hal yang kelihatan dan sifatnya duniawi saja. KEBERADAAN DAN KELIMPAHAN MATERI HANYA SARANA SUPAYA KITA LEBIH BAIK LAGI MENGABDI PADA TUHAN DARIPADA TERPIKAT DAN TERIKAT OLEHNYA LALU MENGUSAHAKAN DAN MEMBURUNYA LEBIH LAGI. 
Jadi hal pertama yang dapat kita pelajari sebagai bahan introspeksi untuk menilai apakah kita ini hamba uang atas bukan adalah dengan meneliti APA YANG PALING KITA YAKINI DAN HARAPKAN DARI TUHAN. 
Apakah kita mengharapkan pertumbuhan manusia rohani kita lebih lagi atau berharap Tuhan menjamin dan memberkati keberadaan jasmaniah kita sehingga dalam kemudahan dan kenyamanan? 

Apakah kita mengorbankan uang (misal memberi persembahan atau mendukung pekerjaan / hamba Tuhan) untuk mencari Tuhan lebih lagi serta perkenan-Nya atau sebaliknya, mengorbankan iman dan ajaran Tuhan yang benar supaya memperoleh lebih banyak uang? 

Apakah kita menyembah dan memuji Dia karena ingin mendekat dan mengenal Dia lebih lagi atau supaya Dia senang pada kita sehingga mencurahkan kemudahan dan kesuksesan bagi pekerjaan dan bisnis kita? 

Apakah kita mencita-citakan suatu kehidupan serta masa depan kita dan keluarga kita suatu kehidupan yang terjamin secara materi atau kita menginginkan rencana terbaik Tuhan yang terjadi dan digenapi atas hidup kita dan keluarga kita? 

Apakah hidup sehari-hari kita lebih banyak mengorbankan sesuatu demi memperoleh lebih banyak uang atau demi mengumpulkan harta sorgawi dengan cara hidup yang semakin selaras dengan kehendak Tuhan?

Pikirkanlah kembali momen-momen di dalam hidup Anda : apakah Anda menimbang-nimbang dan mengukur serta menuda-nunda penyerahan Anda melakukan kehendak Tuhan sedangkan di saat ada kesempatan memperoleh keuntungan materi Anda menjadi sangat bersemangat dan melakukan usaha terbaik untuk mengerjakannya? 
Berapa banyak waktu yang Anda sediakan untuk merenungkan dan memikirkan Tuhan (sambil melakukan aktivitas sehari-hari sekalipun) dibanding waktu yang Anda habiskan untuk mencari nafkah dan mengumpulkan uang serta kekayaan? 
Terangilah sudut-sudut dan ruang-ruang hati Anda dengan pertanyaan-pertanyaan dan perenungan-perenungan ini. Bukalah sekat-sekat serta pintu-pintu yang menutup ruang-ruang rahasia di hati Anda. 
Jujurlah untuk menemukan apakah Anda masih mencintai uang dan diperhamba olehnya 
Jika Anda menemukan memang demikian adanya, maka Anda harus bertobat dan segera melepaskan diri dari perhambaan bahkan kecintaan pada uang. 
Lakukanlah sekarang.
Katakanlah dalam doa bahwa Tuhan Yesus itulah yang menjadi segala-galanya dalam hidup Anda. 
Anda tak dapat hidup tanpa Yesus dan Anda siap mengorbankan apapun demi mengikut Dia 
Segera lepaskanlah diri Anda dari perhambaan dan cinta uang sebelum hari-hari Anda menjadi hari-hari penyesalan yang berujung kesia-siaan di atas kesia-siaan. 
Adalah kasih karunia Tuhan, jika Anda membaca dan mendengar pengajaran ini. Tuhan memiliki rencana dan kehidupan yang terbaik bagi Anda, lebih dari yang Anda pikirkan atau rancangkan bagi Anda atau keluarga Anda. 
Hidup dalam penyerahan dan penundukan diri pada rencana Tuhan yang terbaik dan sempurna atas hidup Anda adalah salah satu tanda utama bahwa Anda TIDAK LAGI menjadi hamba uang. 
Salam revival! 
(Bersambung)

HAMBA UANG (3)

Oleh : Peter B
MENGETAHUI BANYAK AJARAN TENTANG TUHAN DAN RAJIN BERIBADAH BUKAN JAMINAN SESEORANG TIDAK MENJADI HAMBA UANG
Ada pandangan di tengah-tengah masyarakat bahwa mereka yang terlihat mendekatkan diri pada Tuhan, yang rajin melakukan ibadah, yang  perilakunya terlihat saleh dan agamis dan bahkan tahu banyak tentang ajaran agama atau  menjadi pemuka agama, akan dipandang sebagai orang-orang yang tak lagi sibuk dengan urusan-urusan duniawi, tidak lagi mengejar hal-hal yang sifatnya materi atau kebendaan dan hidupnya difokuskan pada kehidupan spiritual atau rohani semata. Pendeknya, keaktifsn orang dalam berbagai kegiatan spiritual dinilai mencerminkan kehidupan yang menghamba pada Tuhan dan bukan pada harta atau uang.   Ini pandangan yang dahulu berlaku umum dalam benak banyak orang. 
Kenyataannya, apa yang dituliskan para rasul dan penulis Injil justru yang terbukti benar. Bahwa pandangan di atas tidak sepenuhnya benar bahkan kerap kali bisa jadi berkebalikan dengan kondisi yang sebenarnya. 
Injil Lukas mencatat demikian : 
 Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia.
~ Lukas 16:14
Apa yang didengar oleh orang-orang Farisi dari Yesus? Lihat ayat-ayat sebelumnya. Inilah ayat-ayat itu:  
 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?
 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?
 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
~ Lukas 16:11-13
Ya mereka baru saja mendengar pengajaran Yesus tentang keuangan dan bagaimana mempertanggungjawabkan penggunaannya, yang atas semua itu akan dihakimi oleh Tuhan sendiri. Yesus kemudian menutupnya dengan ayat yang serupa dengan yang kita baca kemarin dalam Matius 6:24 yakni bahwa manusia tidak dapat mengabdi kepada Allah sekaligus kepada Mamon. 
Perhatikanlah dalam Lukas 16:14 di atas. ORANG-ORANG FARISI, disebut sebagai HAMBA-HAMBA UANG! Ya, Anda tidak sedang salah baca. 
Pemuka-pemuka agama dan rohani Yahudi itu ditulis sebagai para hamba uang. Tidak mungkin itu ditulis lebih tegas lagi daripada itu. 
Adalah suatu kenyataan di hadapan Tuhan jika tokoh-tokoh masyarakat yang ahli dalam pengetahuan tentang Tuhan, yang mengajarkan hal-hal rohani dan hukum-hukum rohani, serta dipandang sebagai panutan dalam hal-hal terkait dengan Tuhan dan hal-hal yang sorgawi TERNYATA MERUPAKAN PRIBADI-PRIBADI YANG DIPERHAMBA OLEH MATERI. 
Siapa yang bisa mengetahui hal? 
Tidak banyak yang tahu apalagi jika sudah memiliki asumsi-asumsi tertentu yang dibangun atas dasar citra rohani para pemimpin spiritual ini. 
Namun Tuhan mengetahui semua itu.
Dan sebenarnya kita pun bisa mengetahuinya -jika kita mau menguji dan mencermati hidup mereka dengan seksama karena pada akhirnya akan terkuak juga kehidupan yang tidak konsisten antara apa yang mereka ajarkan dengan kenyataan yang mereka hidupi.
Jika saja kita mau membuka mata dan JUJUR MENILAI SEGALA SESUATU, para pemimpin rohani ini malah secara khusus dikritik oleh Yesus terksit ketidakjujuran mereka dalam menggunakan harta dunia (yang Yesus sebut sebagai Mamon yang tidak jujur) itu
Dan Yesus tidak asal menuduh atau menghakimi tanpa dasar. Jika diteliti, nyata bahwa di balik tampilan-tampilan kesalehan mereka, orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat melakukan berbagai kejahatan terkait keuangan, sebagaimana dipaparkan dalam ayat dalam Alkitab. Terjemahan Sederhana Indonesia berikut ini :
Tetapi mereka juga biasa menipu janda-janda dengan memakai alasan seperti ini, ‘Saya akan membantumu mengurus harta suamimu yang sudah mati.’ Tetapi sebenarnya mereka hanya pura-pura membantu karena mau mencuri banyak dari harta itu.

Dan untuk menutupi kejahatan mereka itu, mereka berdoa panjang-panjang di rumah pertemuan supaya orang berpikir bahwa mereka orang baik. Akibat dari perbuatan seperti itu, Allah pasti akan memberi hukuman yang sangat berat kepada mereka.”
~ Lukas 20:47 (TSI2)  
Orang-orang yang pandai masalah agama itu ternyata bukan saja menipu tetapi juga merampas harta para janda. Alkitab selalu menggambarkan janda sebagai pihak yang lemah dan perlu dilindungi sehingga Tuhan sendiri menyatakan diri-Nya sebagai “Bapa bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda” (Mazmur 68:6).
Terhadap kaum yang lemah ini saja, para pemuka agama itu ternyata begitu tega mencari untung atau bahkan mencuri harta kaum lemah ini. Hati mereka jelas dikuasai oleh uang daripada belas kasihan dan keadilan. 
Yang lebih jahat lagi, perbuatan keji itu berusaha mereka tutupi dengan doa-doa yang panjang-panjang dan terlihat rohani di depan banyak orang sehingga tampak kesan kalau mereka orang-orang baik dan takut akan Tuhan. Betapa jahatnya! 
Dan bukankah Yesus begitu marah ketika Ia mendapati di Bait Suci “pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ” sehingga “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yohanes 2:14-16)?
Kemarahan Yesus disebabkan oleh karena Ia tidak tahan melihat rumah Bapa-Nya dijadikan serupa sarang penyamun. Dan kita bisa menduga, siapa kira-kira yang mengijinkan rumah Tuhan menjadi sarang penyamun itu. 
Perhatikanlah, bagaimana mungkin para pengajar taurat itu tidak memahami bahwa rumah Tuhan adalah rumah doa? Mengapa Yesus bisa bertindak tegas kepada para padagang ternak dan penukar-penukar uang yang ada di sana sedangkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat diam saja? 
Mungkinkah karena mereka mendapat untung dari adanya “pasar tidak resmi” di Bait Suci itu? 
Dan jika demikian adanya tidakkah mereka ini lebih mengutamakan uang, yang terlihat dari keputusan mereka mendahulukan mendapatkan keuntungan materi daripada menjaga kemurnian pelayanan dan fungsi rumah Tuhan? 
Dan bukankah para imam kepala dan ahli-ahli Taurat ini yang kemudian merasa sangat tersinggung dan karenanya berniat membunuh Yesus (baca Markus 11:13) karena Yesus menyingkap kedok mereka yang sebetulnya adalah hamba-hamba uang itu? 
(Sebab semestinya mereka akan bersukacita melihat Yesus menyucikan bait Allah dan mengembalikan pada tujuannya, namun kenyataannya mereka malah sakit hati pada Yesus karena perbuatan Yesus itu) 
Pada bagian lain, kita juga tahu bahwa bahkan di antara murid-murid Yesus sendiri ada seorang pencuri dan koruptor. Dia adalah Yudas Iskariot yang gemar mencuri kas tim pelayanan Yesus (lihat Yohanes 12:6). Ini pun menunjukkan bahwa seseorang yang menjadi murid Yesus sendiri, yang dipanggil dan diperlengkapi oleh Sang Guru Agung dan diajar sendiri oleh-Nya setiap hari tidak menjamin ia bebas dari perhambaan pada uang. 
Jelaslah bagi kita bahwa mereka yang belajar atau bahkan yang tahu serta mengajar hal-hal rohani tidak otomatis terbebas dari keterikatan dan perhambaan kekayaan materi. Dari luar ia bisa tampak menyembah Tuhan tetapi dalam hatinya ia tunduk kepada Mamon. 
Dari yang dilihat orang, ia terkesan seperti seorang yang mengejar sorga dan harta abadi tetapi dalam kenyataan sehari-hari hatinya melekat pada harta duniawi. 
Dan kita tahu kondisinya bisa lebih buruk lagi daripada itu. Itulah ketika mereka berusaha menutup-nutupi penyembahan palsu mereka dengan tampilan-tampilan yang menyerupakan pengabdian pada Tuhan. Sungguh keji dan licik. Penuh tipuan dan sangat menyesatkan. Tidak heran dalam kasus-kasus semacam itu yang menjadi korban bisa mencapai begitu banyak orang oleh karena kebanyakan orang yang mudah percaya tampilan rohani.
Masih banyak yang berpikir bahwa penampilan kesalehan itu dalam takut akan Tuhan NAMUN TIDAK MENYADARI BAHWA ORANG-ORANG AGAMIS ITU TERNYATA BUKAN MENYEMBAH DAN MENGHAMBA PADA TUHAN. 
Itu juga sepertinya yang menjadi alasan mengapa Paulus menuliskan syarat ini sebagai panduan kepada Titus, anak rohaninya, yang mewakilinya menunjuk penilik jemaat bagi jemaat-jemaat yang baru dirintis atau ditanam oleh mereka :
 Karena itu penilik jemaat haruslah… bukan (seorang) hamba uang,
~ 1 Timotius 3:2-3
Suatu persyaratan yang sangat jelas bahwa seorang gembala sidang harus seorang hamba Tuhan sejati alih-alih seorang hamba uang. Dan ini disebutkan supaya kita semua tahu dan sadar bahwa SANGAT MUNGKIN SEORANG YANG TAMPAK AKTIF DAN MENONJOL DI ANTARA JEMAAT, SEORANG KANDIDAT PENILIK JEMAAT ATAU GEMBALA SIDANG, YANG TAMPAK TERKEMUKA DALAM HAL-HAL ROHANI NAMUN SEJATINYA IA MASIH SEORANG HAMBA UANG. 
Tuhan tidak ingin seorang yang mencintai dan melayani Mamon menjadi pelayan dan hamba-Nya, lebih-lebih dipercaya menjadi teladan atau pembimbing bagi domba-domba-Nya. 
Tuhan mencari orang-orang yang jujur, bijaksana dan tahu bagaimana menangani harta duniawi untuk kepentingan-Nya dan dengan cara-Nya, bukan seorang manipulator atau koruptor yang justru mencuri dan memeras keuntungan dari jemaat. 
Hamba-hamba uang jelas bukan merupakan hamba-hamba Tuhan. 
Janganlah Anda merasa telah menjadi hamba-Nya jika ternyata uang menjadi pemegang kendali atas hidup Anda, yang membuat Anda memutuskan segala sesuatu berdasarkan diperoleh tidaknya keuntungan materi tersebut.
Kita juga seharusnya tahu membedakan mana hamba-hamba Tuhan sejati dan mana hamba-hamba uang  tetapi yang mengaku sebagai hamba-hamba Tuhan. 
Untuk itu, kita perlu menyelidiki dan belajar seperti apa dan bagaimanakah yang disebut sebagai hamba uang itu. 
(Bersambung)

HAMBA UANG (2)

Oleh : Peter B
SEMAKIN MENDEKATI AKHIR DARI SEGALA ZAMAN, MANUSIA MAKIN DIPERBUDAK OLEH UANG
Ada dua karakter yang disebutkan rasul Paulus sebagai yang terdepan untuk menggambarkan keadaan manusia di akhir zaman. 
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. 
Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. 
~ 2 Timotius 3:1-2 
Ya, yang pertama manusia mencintai dirinya sendiri dan kedua, mereka menjadi hamba uang. 
Akhir zaman sudah dimulai sejak zaman para rasul. Dan jika pada saat itu saja, manusia telah mencintai dirinya sendiri dan juga cinta akan uang, bayangkanlah manusia-manusia di masa kini, 2000 tahun setelah surat-surat rasuli ini dituliskan!
Paulus tidak sedang mengatakan bahwa di zamannya manusia tidak mementingkan dirinya sendiri. Sejak kejatuhan manusia dalam dosa mula-mula, manusia telah menjadi makhluk yang lebih mempedulikan dirinya sendiri daripada yang lainnya.
Paulus juga tidak sedang mengatakan bahwa di masa ia hidup tidak ada manusia yang diperhamba uang. Malah sejak Yesus melayani, Ia memperingatkan pendengar-Nya supaya berhati-hati untuk tidak menyembah Mamon, istilah yang digunakan Yesus untuk merujuk pada kekayaan, harta benda atau keuntungan yang sifatnya materi. 
“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
~ Matius 6:24
Yang dimaksud Paulus di akhir zaman, manusia akan menjadi hamba uang, sesungguhnya berbicara mengenai semakin berlipatgandanya orang yang menghamba kepada uang, dengan intensitas yang semakin besar yaitu dengan menjadikan uang sebagai yang utama dalam segala segi kehidupan. 
Segala sesuatu diukur dengan dan berdasarkan materi. Bahkan keberhasilan sebagai orang-orang yang beribadah pun dinilai dari seberapa banyak materi yang diperoleh karena ibadah itu. 
Mereka yang memiliki patokan bahwa ibadah serta pelayanan yang berhasil itu limpah dalam hal materi, TANPA SADAR telah menggenapi munculnya orang-orang akhir zaman yang menghamba kepada uang. 
Sebagian penafsir serta penterjemah Alkitab meyakini bahwa yang disebut Mamon oleh Yesus bukan semata-mata merujuk pada kekayaan atau harta sebagai benda mati, namun juga sebagai sosok pribadi yang disembah, semacam dewa atau ilah yang sebenarnya adalah roh jahat yang bekerja melalui godaan atau tipuan yang menggunakan kekayaan sebagai alatnya. 
Ini didasarkan pada perkataan Yesus yang membandingkan Allah dengan Mamon, yang menyiratkan perbandingan antara pribadi-pribadi yang disembah oleh orang. Yang satu merujuk pada Tuhan sedangkan Mamon merujuk pada kekuatan yang kontra dengan Tuhan, yang tak lain dan tak bukan ialah roh-roh jahat atau iblis. 
Dan yang seperti itu sudah umum berlaku di dunia. Cobalah mencari di dunia maya. Dan Anda akan menemukan betapa di tiap kebudayaan kuno atau tradisi di belahan dunia manapun, selalu ada dewa-dewa atau berhala-berhala yang disembah karena diyakini dapat memberikan kekayaan serta kemakmuran materi. Jepang memiliki 7 Dewa Keberuntungan. China terkenal dengan banyak dewa (yang pada dasarnya semula merupakan sosok manusia atau legenda yang didewakan). Mereka disembah supaya memberikan berkat kemakmuran bagi para pemujanya. Belum lagi legenda Yunani atau bangsa-bangsa Timur Tengah yang berhalanya sering menyimpangkan umat Tuhan dari penyembahan mereka pada Yahweh. Kebanyakan dari berhala itu disembah karena diyakini dapat dengan segera mendatangkan panen, kemenangan dalam perang, cuaca yang baik hingga kemakmuran dalam hidup. 
Jadi, sudah bukan merupakan rahasia lagi bahwa sejak dulu kala, manusia telah mencintai kemakmuran, yang pada masa kini diwakili secara sempurna melalui UANG, sesuatu yang barangsiapa memilikinya akan dipandang sebagai orang yang terpandang, mampu membeli atau memperoleh apa saja yang menjadi keinginannya.
Kecintaan manusia kepada uang atau kekayaan telah diketahui dan dimanfaatkan oleh kuasa gelap untuk mengendalikan hidup sangat banyak manusia. Tanpa benar-benar disadari, oleh karena ketergantungan dan keterikatannya pada uang, manusia sesungguhnya diperbudak oleh pribadi yang bukan Tuhan. 
Dan itulah mengapa, Tuhan dan rasul-rasul-Nya mengingatkan supaya pengikut Kristus tidak menjadi hamba uang. Menghamba pada uang sebenarnya sama dengan menghamba pada tuhan yang lain. Itu sama dengan menduakan Tuhan. Dan seperti yang Yesus katakan, siapa yang menyembah Mamon TIDAK MUNGKIN menyembah Tuhan. 
Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
~ Matius 6:24
Mereka yang mencintai Tuhan, dan memilih menghamba kepada Tuhan akan bebas dari penghambaan pada uang. Begitu pula sebaliknya, mereka yang mencintai harta, walau tidak menyadari dan mau mengakuinya, orang-orang ini telah mengingkari penyembahannya pada Tuhan. 
Ada anekdot beberapa dekade lalu ketika seseorang dirampok di tengah jalan dan ditanya, “Pilih harta atau nyawa?” Pada saat seperti itu, hampir semua orang memilih nyawa daripada harta. Nyawa tidak bisa dicari walau ada harta tapi harta masih bisa diperoleh asalkan nyawa masih di badan. 
Sesungguhnya di hidup kita sekarang, Yesus bertanya kepada kita melalui pernyataan-Nya di mata di atas : “Pilih Tuhan atau harta?”
Itu artinya Anda tidak bisa memilih keduanya. Hanya boleh pilih salah satunya saja. Dan di hidup yang sekarang dan singkat ini, Anda harus memilih dan pasti membuat pilihan entah Anda sadar atau tidak, entah Anda bersedia maupun tidak . 
Siapa yang Anda pilih untuk hidup Anda?  
TUHAN atau harta benda. 
Anda tidak bisa memilih mengejar keduanya. Sebab Tuhan sudah mengatakan jika Anda mengejar salah satunya, Anda akan mengabaikan lainnya. 
Mengejar Tuhan berarti HARUS MELEPASKAN PENGEJARAN AKAN HARTA DUNIA. 
Sebaliknya, MENGEJAR HARTA DUNIA AKAN MENINGGALKAN PENGEJARAN AKAN TUHAN. 
Mana yang Anda pilih? 
Hanya kejujuran dalam diri yang dapat menjawabnya. 
Dan Anda tahu Anda sedang mengejar yang mana ketika Anda memeriksa hidup Anda sehari-hari : apakah yang PALING Anda cari dan dambakan sepanjang hari-hari dalam hidup Anda? 
Apakah itu untuk mencari, mengenal Tuhan dan menyerahkan hidup Anda pada-Nya dengan keyakinan bahwa Dia yang akan menyediakan kebutuhan hidup Anda? Atau, Anda fokus mencari penghasilan atau harta kekayaan sampai-sampai Anda berdoa serta berbakti pada Tuhan supaya dimudahkan beroleh berkat-berkat jasmani serta harta dunia itu? 
Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh berharap akan menerima berkat jasmani dari Tuhan. Sama sekali bukan. Berkat-berkat jasmani bahkan Tuhan janjikan untuk “ditambahkan kepada kita” jika kita mencari dahulu Kerajaan dan kebenaran-Nya (Matius 6:33)
Yang saya maksudkan adalah APA YANG ANDA HARAPKAN TERJADI, PEROLEH DAN ALAMI BAGI HIDUP ANDA? 
Untuk mengenal, mengasihi dan memuliakan Tuhan dalam dan melalui hidup Anda atau untuk mencari kehidupan yang nyaman, sukses dan makmur secara materi? 
Hanya dengan kejujuran di hati sajalah, Anda akan mulai tahu siapa yang menjadi tuan Anda. 
(Bersambung)

HAMBA UANG (1)

Oleh : Peter B
“Janganlah kamu menjadi hamba uang… “
~ Ibrani 13:5
Pesan firman Tuhan jelas sekali. 
“JANGAN MENJADI HAMBA UANG”
Sesungguhnya kebenaran ini pun dikenal luas oleh orang-orang dunia. Sudah sering kita dengar kalimat terkenal, yang disampaikan pertama kali oleh PT Barnum, salah satu pelopor bisnis pertunjukan di Amerika : 
“Uang itu hamba yang luar biasa dan majikan yang mengerikan”
Menjadi penguasa dari uang dapat memberikan keleluasaan dan kemudahan dalam hidup seseorang namun di sisi lain, dikuasai oleh uang dapat membuat hidup menjadi penuh derita. 
Masalahnya, kita sering tidak tahu dan tidak mampu membedakan apakah kita ini menjadi tuan dari uang atau hamba darinya. 
Yang kaya dan punya banyak uang mungkin berpikir uang itu merupakan alat di tangannya sehingga ia dapat melakukan dan mencapai apa yang diinginkannya. Di satu sisi, bisa jadi itu benar. Tapi, siapakah yang benar-benar tahu bahwa di balik itu ia malah diperhamba oleh uang karena uanglah yang menjadi andalannya? 
Yang tidak memiliki banyak uang barangkali memandang dirinya bukan budak uang tapi benarkah demikian? Mungkinkah hidupnya justru mencerminkan dia sedang dikendalikan oleh kebutuhannya akan uang karena pengejarannya yang tak henti dan kenal lelah untuk mendapatkan uang? 
Apa sesungguhnya yang disebut menjadi “hamba uang” itu?
Bagaimana kita tahu kita ini hamba uang atau bukan?
Bagaimana kita dapat benar-benar yakin telah melakukan kebenaran firman bahwa kita tidak termasuk sebagai hamba uang? 
Kita akan mendalaminya melalui tulisan ini. 
MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK MENGHAMBA PADA SESUATU
Walaupun terdengar mengejutkan bagi yang belum pernah mendengar hal ini, tapi ketahuilah bahwa pada dasarnya manusia diciptakan dengan sifat dasar untuk menghamba kepada sesuatu. Secara tidak disadari, ia bisa menghamba pada ambisi, keinginan, hawa nafsu hingga kesenangan-kesenangannya sendiri. Juga, secara langsung atau tidak langsung, manusia sebenarnya menghamba pada hal-hal di luar dirinya seperti kepada figur pemimpin tertentu, pada pengaruh teman-teman pergaulannya, pada pekerjaan, atau tunduk pada tekanan hingga pada pengejaran akan hal-hal kebendaan seperti kekayaan atau uang. 
Meskipun seseorang berpikir bahwa dirinya bebas dari apapun, sesungguhnya selalu ada sesuatu yang mengendalikan diri orang. Paling tidak, ia dikuasai oleh ego atau keinginan-keinginan dalam dirinya sendiri. Karena keinginan lepas dari berbagai keinginan diri itulah, ada ajaran agama yang berusaha menunjukkan jalan supaya manusia bisa lepas dari segala keinginan yang dipandang mendatangkan siksaan dan menghambat kebahagiaan terjadi dalam hidupnya . Dan mungkin saja karena mengikuti ajaran agama tersebut kemudian seseorang mulai bisa mengatur dan menguasai keinginan atau nafsunya namun bukankah kini ia diperhamba oleh suatu ajaran agama? 
Salah satu kutipan terkenal masa kini adalah “manusia (bebas) itu (mampu) memilih, sedangkan budak hanya nurut saja”
Tampaknya memang benar bahwa ketika kita berani mengambil pilihan sendiri dan tidak sekedar menuruti keadaan atau tekanan di sekitar atau di dalam kita saja, maka kita sepertinya tampak seperti manusia yang merdeka. 
Tapi, sadarkah kemudian jika demikian bahwa kita akhirnya dikendalikan dan diperbudak oleh tirani kehendak bebas kita itu sehingga kita menjadi manusia arogan dan memandang diri super? 
Pernyataan lain berkata, “bekerja untuk uang itu budak:  bekerja untuk tujuan itu manusia (normal): tetapi membuat uang bekerja untuk suatu tujuan, itu baru menjadi tuan.”
Benar di satu sisi. Namun ketika kita memiliki tujuan yang kita fokuskan untuk kita kejar dan capai dengan segenap keberadaan kita, tidakkah hal itu membuat kita tanpa sadar diperhamba oleh tujuan (-tujuan) tersebut? 
Manusia selalu diperhamba oleh sesuatu. Ia tidak pernah tidak disetir dan dikendalikan oleh sesuatu. Tanpa hidup yang demikian, eksistensi seorang manusia bisa dipertanyakan.
Satu hal yang JARANG DISADARI oleh manusia adalah bahwa mereka diciptakan untuk menghamba kepada Pencipta mereka. Itulah yang terbaik dan paling sesuai dengan rancangan penciptaan mereka. Bahkan sejak semula, dalam kitab Kejadian dituliskan, bahwa manusia diciptakan dan diberi tugas oleh Tuhan. Itulah makna keberadaan manusia :  melakukan apa yang Tuhan kehendaki, sambil menjalin hubungan dalam ketergantungan yang besar dan mutlak pada Tuhan. 
Keberadaan manusia tanpa menghamba dan menyerahkan diri melakukan kehendak Tuhan justru menuntunnya pada jerat. Untuk jatuh dalam perhambaan lain, yang sesungguhnya makin menyiksa dan menyengsarakan dirinya sendiri. Tanpa penundukan pada otoritas sorgawi, manusia dikuasai dosa dan keinginan-keinginan jahat yang mendesak, mendorong, menyeret bahkan menghanyutkan mereka pada cengkeraman kuasa kegelapan yang makin kuat. Semakin jauh dsri Tuhan, perbudakan atas manusia semakin mengerikan. Di dalam cengkeraman iblis, manusia tidak lebih sekedar mainan-mainan atau wayang-wayang yang hanya  mengikuti permainan iblis, sang dalang yang jahat. Manusia disesatkan dan dihancurkan hidupnya, dibawa menuju berbagai hal yang tampaknya bebas, menyenangkan dan memuaskan hati namun sesungguhnya membuatnya terperangkap dalam rantai-rantai perbudakan yang lebih kuat dan banyak. 
Tanpa Tuhan, manusia sejatinya hidup dalam perbudakan keji. Jauh berbeda dengan perhambaan kepada Tuhan yang penuh dengan kelimpahan dan kebebasan sejati. Bukankah di Eden, hanya ada satu peraturan saja supaya tidak dilanggar? Oh, betapa ringan dan mudahnya di bawah pemerintahan dan pengendalian ilahi! 
Jadi, jelas sekali manusia tidak bisa lepas dari perhambaan karena itu adalah salah satu kodrat penciptaannya. 
Itulah sebabnya TUHAN menyampaikan firman seperti ini kepada umat Israel : 
“Karena engkau tidak mau menjadi hamba kepada TUHAN, Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun kelimpahan akan segala-galanya, 
maka dengan menanggung lapar dan haus, dengan telanjang dan kekurangan akan segala-galanya engkau akan menjadi hamba kepada musuh yang akan disuruh TUHAN melawan engkau. Ia akan membebankan kuk besi ke atas tengkukmu, sampai engkau dipunahkan-Nya. 
~ Ulangan 28:47-48 (TB)
Tuhan rindu kita menjadi hamba-Nya bukan supaya kita tersiksa, diperas, ditekan dan dibuat sengsara. Kita dipanggil menghamba kepada-Nya supaya kita tidak menghamba kepada sesuatu yang lain, yang cenderung membawa malapetaka dan celaka bagi kita. Di dalam penghambaan kepada Tuhan, kita menemukan kebebasan dan kemerdekaan sejati karena di dalam penundukan dan penerimaan akan pengendalian Tuhan maka kita dapat masuk dalam rencana Tuhan yang berkehendak mendatangkan kebaikan, keberuntungan dan kelimpahan sejati bagi hidup kita. 
Itulah yang berkali-kali Tuhan nyatakan di Alkitab sebagaimana halnya kita diumpamakan sebagai domba-domba dan Dia sebagai gembala kita. Penundukan domba-domba mewakili hal yang serupa dengan penghambaan. Demikian pula dengan kehidupan Yesus yang menjadi hamba untuk melaksanakan dan serta menyelesaikan pekerjaan Bapa bagi-Nya. 
Dalam kendali Tuhan, hidup kita terkendali, serta berada di tangan yang benar. Jauh lebih baik daripada di yang oknum atau perkara lain. Bahkan jauh lebih baik daripada di tangan kita sendiri. 
“…  biarlah kiranya kita jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia.”
~ 2 Samuel 24:14
Dan jangan pernah lupakan perkataan anak bungsu yang bertekad kembali ke rumah bapanya setelah tahu betapa sia-sianya hidup menghamba pada hawa nafsu dan keinginannya sendiri : 
 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
~ Lukas 15:17-19 (TB)
Kelimpahan dan tak kekurangan adalah bagian dari hidup mereka yang menghamba kepada Tuhan. Itulah sebabnya anak yang hilang ini merasa jauh lebih baik menghamba pada bapanya (yang merupakan gambaran dari Tuhan, Bapa kita di sorga) daripada kepada siapapun yang lain. 
Karena itu jelaslah bagi kita bahwa tidak ada cara yang lebih baik untuk tidak menjadi hamba uang selain hidup menghamba kepada Tuhan – yang jauh melampaui dan tak bisa dibandingkan semua harta dunia sekalipun. 
(Bersambung)