Arsip Kategori: POKOK-POKOK MENGUJI NUBUAT

POKOK-POKOK DALAM MENGUJI NUBUATAN (Bagian 6) LANGKAH PENGUJIAN 5 : KESESUAIAN DENGAN TUJUAN PELAYANAN DAN KARUNIA BERNUBUAT

Oleh : Peter B, MA
PELAYANAN BERNUBUAT DI PERJANJIAN LAMA
– Kata “bernubuat” (dalam bahasa
asli naba’) muncul pertama kali dalam Perjanjian Lama di Kitab Bilangan
11:25. Dalam terjemahan Indonesia itu diterjemahkan sebagai “kepenuhan
seperti nabi” yang sesungguhnya lebih merujuk kepada sifat dari orang yang
bernubuat itu sendiri. Kata yang sama, yang diartikan sebagai
“bernubuat” pada dasarnya digunakan untuk semua orang yang mengalami
kepenuhan (baca: dikuasai Roh Allah) maupun untuk istilah lain yang konotasinya
negatif yaitu kerasukan (seperti nabi-nabi Baal yang bertanding dengan Elia dalam
1 Raja-raja 18:29) atau dikuasai dan dipengaruhi roh-roh lain selain Roh Tuhan
(seperti halnya nabi-nabi palsu atau orang-orang yang bernubuat palsu dalam
Yeremia 5:31; 14:14-15; 29:21; Yehezkiel 13:16-17 dsb).  Dari titik ini kita bisa mulai menangkap
mengapa ada nubuat palsu, tidak murni atau yang benar-benar menyesatkan. Itu
karena seseorang bisa “bernubuat” oleh karena pengaruh roh yang lain
di luar Roh Tuhan. Tugas kita, bukan kemudian menolak seluruh pelayanan nubuat,
tetapi untuk membedakan mana yang memang berasal dari pengaruh Roh Kudus dan
mana yang dikendalikan oleh roh-roh yang lain. 
– Orang yang bernubuat selalu dipengaruhi
dengan kuat oleh suatu roh lain di luar dirinya. Dalam konteks bernubuat sesuai
kehendak Allah, itu berarti seseorang dikuasai rohnya oleh Roh Tuhan yang
menggerakkan dan menuntunnya menyampaikan perkataan-perkataan ilahi seperti
yang dikehendaki Tuhan. Begitu juga sebaliknya. Sejatinya, ada roh-roh yang
mempengaruhi seseorang untuk menyampaikan nubuat palsu, yang bukan berasal dari
Tuhan tetapi menggunakan nama Tuhan dan mengaku sebagai Roh Tuhan, padahal
sangat mungkin itu merupakan roh dusta (sebagaimana diungkapkan dalam 1
Raja-raja 22:21-23) yang bermaksud mendatangkan penyesatan atas umat Tuhan,
baik secara perorangan maupun korporat. Itulah iblis yang menyamar sebagai
malaikat terang (2 Korintus 11:14).
– Orang-orang yang bernubuat secara konstan
atau terus menerus disebut sebagai ‘nabi”, yang artinya juru bicara.
Merekalah juru bicara Tuhan. Yaitu orang-orang yang mewakili Tuhan menyampaikan
pesan yang ada di hati dan pikiran Tuhan untuk umat-Nya, khususnya terkait
hubungan mereka dengan Tuhan. Melalui para nabi inilah Tuhan memperagakan
kekuasaan yang sangat dahsyat, khususnya KEMAHATAHUAN-NYA kepada umat-Nya
-suatu pembuktian bahwa Dialah Allah yang mahakuasa, yang mengetahui segala
sesuatu dari masa lampau, masa kini hingga masa yang akan datang.
– Para nabi yang bernubuat juga kadangkala
disebut sebagai “pelihat” -suatu istilah yang kerap muncul di zaman
Samuel dan raja-raja. Disebut demikian oleh karena mereka melihat hal-hal yang
tidak dapat dilihat atau diketahui orang pada umumnya tetapi mereka melihat
hal-hal yang hanya dapat dilihat oleh Tuhan, yang kemudian menunjukkan itu
kepada para pelihat ini. Dalam kemampuan ini pula, Tuhan bermaksud menyatakan
bahwa Dia Allah yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi di alam semesta ini
namun demi kepentingan atau tujuan tertentu yaitu untuk mendatangkan kebaikan
bagi umat-Nya, Ia membukakan yang rahasia itu kepada hamba-hamba-Nya untuk
diteruskan kepada umat yang dikasihi-Nya.
TUJUAN PELAYANAN BERNUBUAT DI PERJANJIAN
LAMA
– Merujuk pada bagaimana suatu nubuat
disampaikan bahkan ditugaskan kepada hamba-hamba Tuhan di Perjanjian Lama, kita
dapat menarik beberapa kesimpulan mengenai maksud dan tujuan nubuatan tersebut
disampaikan kepada umat Tuhan, yaitu :
1> sebagai sarana Tuhan berkomunikasi
kepada umat-Nya
2> untuk menunjukkan kepedulian dan
kerinduan Tuhan terlibat secara pribadi atas hidup umat-Nya, baik secara perseorangan/pribadi
maupun secara berjemaat/korporat
3> untuk menegaskan suatu pikiran,
perasaan dan kehendak Tuhan atas suatu keadaan yang sedang berlangsung atas
umat-Nya
4> untuk mendemonstrasikan kuasa
kemahatahuan Tuhan sebagai satu-satunya Allah sejati yang layak dipuji dan
disembah oleh karena besar dan dahsyat kekuasaan dan kasih-Nya
5> demi mengusahakan kedekatan dan
kelangsungan hubungan antara Tuhan dan umat-Nya supaya hubungan tersebut tidak
menjadi renggang apalagi rusak namun terjalin semakin erat sehingga nama Tuhan
dimuliakan dan menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa yang belum mengenal Tuhan
ketika melihat betapa baik dan indahnya umat yang berhubungan dan dipimpin oleh
Allah sendiri
– Tujuan-tujuan ini akan selalu menjadi benang
merah, ya, semuanya itu pasti didapati dalam setiap pesan nubuatan yang murni
dan sejati dari Tuhan. Sebagai contoh, kita dapat mendalami dan menyelidikinya
setiap nubuatan para nabi yang disuratkan dalam kitab suci kita dan pasti akan
menemukan bahwa semuanya memiliki tujuan seperti yang disampaikan di atas.
PELAYANAN NUBUAT DI PERJANJIAN BARU
– Sebagaimana di Perjanjian Lama, pengertian
dan makna bernubuat dalam Perjanjian Baru tidak terlalu memiliki perbedaan.
“Bernubuat” dalam bahasa Gerikanya, diterjemahkan oleh kamus Strong
sebagai “berbicara oleh sebab inspirasi ilahi atau untuk memprediksikan
sesutau dengan pemikiran menyampaikan kejadian-kejadian di masa yang akan
datang yang berkaitan dengan Kerajaan Allah; atau mengucapkan atau mendeklarasikan
sesuatu yang hanya dapat diketahui melalui penyataan atau penyingkapan ilahi.
Termasuk dalam pengertian ini adalah menjalankan jawatan profetik atau
bertindak seperti seorang nabi.
– Pelayanan nabi sesungguhnya tetap ada dan
berlangsung dalam Perjanjian Baru (lihat 1 Korintus 12:28-20; 14:29,32,37 dan
Efesus 3:5; 4:11) dengan tata pelaksanaan yang sedikit berbeda dengan
Perjanjian Lama meski tetap memiliki esensi yang serupa yaitu menyampaikan
pesan terkait pikiran, perasaan dan hati Tuhan kepada umat-Nya. Hanya saja di
Perjanjian Lama, yang disebut umat Tuhan adalah dalam lingkup satu bangsa yaitu
Israel sedangkan di Perjanjian Baru, umat Tuhan adalah gereja-Nya yang tersebar
di seluruh penjuru dunia. Contoh nabi-nabi di Perjanjian Baru adalah Agabus dan
Silas (Kisah Rasul 15:32; 21:10).
Perbedaan lain, sebagian dari apa yang
dinubuatkan oleh para nabi di Perjanjian Lama telah diperintahkan oleh Tuhan
melalui ilham Roh untuk disuratkan dalam gulungan-gulungan kitab yang kemudian
dikanonisasi sebagai kitab-kitab Perjanjian Lama yang dipegang sebagai kitab
suci Yahudi hingga kini.  Apa yang telah
dicatat dalam Perjanjian Lama itu lalu menjadi dasar dan pedoman bagaimana
pelayanan nubuatan di Perjanjian Baru dijalankan dalam gereja. Ini semua karena
esensi dari pelayanan nubuatan di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah
sama.
Nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Baru hanya
sedikit saja dicatat dalam kitab atau surat Perjanjian Baru karena pesan-pesan
yang disampaikan lebih banyak merupakan pesan yang berkaitan dengan kondisi
masing-masing gereja yang sangat khusus karena tersebar di berbagai tempat.
Salah satu contoh nubuat yang sebenarnya sangat khusus untuk berbagai gereja
tetapi kemudian disuratkan pula sebagai salah satu pesan akhir zaman ada dalam
Kitab Wahyu pasal 2 dan 3 yaitu surat profetik dari Kristus sendiri yang
dialamatkan kepada tujuh jemaat.
TUJUAN PELAYANAN BERNUBUAT DI PERJANJIAN
BARU
– Mengingat panggilan dan fungsi pelayanan
kenabian tidak dihapuskan, pada dasarnya setiap tujuan pelayanan bernubuat di
Perjanjian Lama secara umum juga menjadi tujuan pelayanan nubuatan di
Perjanjian Baru.
– Meneguhkan akan tujuan pelayanan nubuat
dalam Perjanjian Lama, Rasul Paulus memberikan penegasan akan tiga hal yang
menjadi output atau hasil dari suatu nubuatan dari Tuhan.
Itu dinyatakan dalam 1 Korintus 14:3
Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata
kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur
 Disebutkan di sana, pelayanan nubuat akan :
1> Membangun jemaat
• Dalam bahasa aslinya, “membangun”
memang memiliki pengertian seperti halnya membangun rumah atau sebuah bangunan
tetapi yang dimaksud di sini sebagai membangun adalah membangun manusia rohani
(seperti dalam Kolose 2:7).
Apa yang dibangun itu mengalami perubahan ke
arah yang lebih baik, lebih indah, lebih kuat, lebih bermanfaat, lebih megah
daripada sebelumnya. Jadi, melalui perkataan nubuatan, jemaat yang menerima
pesan ilahi dari pikiran dan hati Tuhan diharapkan mengalami pertumbuhan dalam
hal hikmat, kesalehan, kebahagiaan, dan kekudusan Kristiani (sebagaimana
dituliskan dalam kamus Strong).
Dengan kata lain, pesan nubuat seharusnya
berdampak pada kemajuan dan pertumbuhan secara rohani. Jemaat yang secara
teratur dilayani secara profetik, asalkan mereka dengar-dengaran akan pesan
ilahi itu, akan dibawa menjadi lebih dekat dan lebih intim dengan Tuhan. Mereka
akan beroleh pemahaman dan pengertian yang lebih jelas serta dibawa makin
memahami jalan-jalan Tuhan. Juga semakin penuh dengan hikmat-Nya, semakin mengenal
isi hati dan kehendak-Nya sehingga hubungan mereka naik tahap demi tahap makin
menyatu dengan Tuhan sendiri. Ini diteguhkan juga dalam ayat-ayat lain dalam
pasal yang sama yaitu 1 Korintus 14:5 dan 26 yaitu bahwa sama dengan
karunia-karunia rohani lainnya, karunia bernubuat dimaksudkan untuk
meningkatkan pertumbuhan rohani jemaat.
   
• Pengertian lain dari “membangun”
adalah “mengkonfirmasi” atau “menguatkan dan meneguhkan”
(makna figuratif sebagaimana disebutkan dalam kamus Strong). Maksudnya adalah
apa yang sudah ada diperkuat dan dikokohkan oleh pesan-pesan dari pelayanan
nubuatan. Jadi, jemaat tidak hanya dibawa naik kepada level rohani selanjutnya
tetapi juga dimantapkan lebih lagi untuk tetap berada dalam jalan kebenaran dan
kehendak Tuhan yang sejati, yang selama ini telah diajarkan para pemimpin
rohani maupun yang diperoleh secara pribadi berupa tuntunan dari Roh Kudus yang
diam di setiap masing-masing jemaat. Melalui pelayanan nubuatan sejati, jemaat
merasakan kehadiran dan kedaulatan Tuhan yang mengetahui dan mengendalikan
segala sesuatu dan bahwa Ia selalu terlibat dan bekerja dalam setiap tahap
perjalanan dan pergumulan umat-Nya. Inilah yang dimaksud peneguhan itu!
• Dari pengertian akan tujuan pelayanan
nubuatan ini, kita bisa mulai menilai, menguji dan mengukur sejauh mana
nubuatan itu memang berasal dari Tuhan atau bukan. Nubuat yang nyatanya tidak
membawa anak-anak Tuhan pada pengalaman yang lebih mendalam dengan Tuhan (namun
justru sebaliknya yang terjadi yaitu kejatuhan dan kemunduran rohani) harus
diwaspadai sebagai suatu pesan yang patut diragukan, yang bukan berasal dari
Tuhan sendiri.
  
2> Menasihati jemaat
• Yang dimaksud ‘menasihati” adalah
memberikan petunjuk dan arahan. Termasuk di dalamnya adalah  memperingatkan akan suatu kesalahan maupun
memohon dengan sangat atau mendesak supaya melakukan sesuatu seperti yang
dikehendaki Tuhan.
• Ada irisan persamaan berkaitan dengan tujuan
nubuatan yang kedua ini dengan tujuan yang pertama (membangun) dan juga tujuan
yang ketiga (menghibur).
Selagi menasihati, sesungguhnya Roh Kudus juga
sedang mengadakan pembangunan dan penguatan secara rohani (seperti tujuan
pertama). Perbedaannya, menasihati menekankan campur tangan Tuhan pada sisi
yang lebih personal / pribadi dan yang lebih emosional.
Melalui “menasihati” Tuhan tak hanya
berbicara sebagai pemimpin dan penuntun tetapi Ia juga pembimbing dan
pengayom.  Melalui pelayanan profetik,
Tuhan menyatakan bahwa diri-Nya ada bersama-sama dengan umat-Nya. Ia tidak
hanya memberikan perintah dan amanat atau mengarahkan pada  target yang harus dicapai –Ia mendampingi
dan ada mendampingi setiap anak-anak-Nya. Pesan-pesan profetik sejati
seringkali menyatakan pesan yang begitu kuat yang menyatakan bahwa Ia tidak
meninggalkan anak-anak-Nya tetapi Ia menyertai, menggandeng bahkan memapah atau
membopong kita yang terlalu lemah dan lelah untuk berjalan di dalam
kehendak-Nya.
• Pesan-pesan Tuhan yang menasihati biasanya
disampaikan dalam kitab-kitab nabi-nabi di Perjanjian Lama pada bagian akhir setelah
serangkaian pesan profetik yang keras menegur dan menghardik umat-Nya. Setelah
pernyataan yang keras dan tajam, biasanya ada kata-kata nubuat yang membesarkan
hati, membangkitkan pengharapan dan mengajak untuk kembali bangkit mengasihi
Dia dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya (misalnya dalam Yesaya 31:6; 55;
Yeremia 4:1-4; 18:1-11 dsb)
3> Menghibur jemaat
• Apa yang disebut “menghibur” ialah
memberikan kekuatan dan semangat untuk hati yang sedang diselimuti kesedihan,
kepedihan, terluka, kecewa putus asa atau tawar hati. Perkataan nubuat yang
diurapi dan berasal dari Tuhan sendiri mampu menembus setiap relung terdalam
hati anak-anak Tuhan oleh karena Ia yang mahatahu itu turut merasakan apa yang
kita tanggung dan rasakan di hati. Dan karena Dia adalah Allah yang dekat
dengan orang-orang yang patah hati dan yang remuk jiwanya (lihat Mazmur 34:19;
51:19 dan Yesaya 66:2), kata-kata nubuatan dapat menjadi kata-kata penuh
penghiburan bagi hati yang dirundung beban berat.
• Tujuan ketiga ini (yaitu menghibur)  memiliki persamaan dengan tujuan kedua (yaitu
menasihati). Di dalam menasihati terkandung pesan-pesan yang membangkitkan
semangat, demikian pula dalam hal menghibur. Perbedaannya terletak pada titik
fokus masing-masing tujuan tersebut. Jika menasihati lebih kepada memberikan
masukan, saran, ajakan dan desakan untuk melakukan sesuatu yang Tuhan inginkan,
maka dalam hal menghibur, pesan nubuatan secara khusus bermaksud memberikan
suatu kelegaan, damai dan sukacita di tengah keadaan yang tertekan, dirundung
susah atau saat hati kecewa dan terluka.
Pesan-pesan semacam itu tercantum misalnya
dalam Yesaya 30:18-26; 40:27-31; 60 dan Wahyu 2:7,9-11,13,17,19,24-28;
3:104-5,8,10-12,15,30-21
– Dari tiga berkat yang diterima jemaat
melalui pelayanan nubuat, kita dapat menarik kesimpulan penting bahwa tiga hal
tersebut bukan saja menyatakan hasil karunia dan pelayanan nubuat tetapi juga
bisa dijadikan ukuran untuk menilai suatu nubuat : apakah nubuat itu murni
berasal dari Allah atau bukan. Pesan-pesan nubuat yang berasal dari hati dan
pikiran Tuhan sudah pasti akan menghasilkan ketiga hal tersebut. Begitupun
sebaliknya. Yang bukan dari Tuhan bukannya membawa berkat bagi pertumbuhan dan
penguatan jemaat tetapi mengacaukan, membingungkan dan melemahkan umat Tuhan.
MENGUJI NUBUATAN BERDASARKAN TUJUANNYA
-Mengetahui tujuan mula-mula sampai tujuan
lanjutan dari pelayanan bernubuat di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru,
dapat menolong kita membedakan mana nubuat yang bersumber dari Roh Kudus dan
mana yang digerakkan oleh roh-roh yang lain.
– Roh Kudus membawa agenda-agenda Kerajaan
Sorga dan selalu memuliakan Yesus Kristus. Dan kepentingan Kerajaan Sorga ialah
supaya gereja sebagai tubuh Kristus berfungsi sebagaimana mestinya, bersatu dan
bekerja sama dengan Tuhan menyelesaikan rencana Tuhan di bumi : membawa segala
bangsa menjadi murid Kristus sampai kesudahan segala sesuatu.
Pesan-pesan nubuat sejati selalu membawa
gereja menjadi makin jelas dan gamblang akan kehendak Tuhan, keberadaan Tuhan,
kehadiran Tuhan dan penyingkapan lebih lanjut akan rencana Tuhan yang kemudian
menjadikan gereja menggenapi panggilannya sebagai terang dan garam dunia,  pula dipersiapkan menjadi mempelai wanita
yang suci dan layak bagi Dia.
Seluruh pesan-pesan nubuat di Alkitab mengarah
pada pembentukan dan penyelarasan kehidupan umat dengan kehendak Tuhan dan demi
pembangunan Tubuh Kristus.
Agenda-agenda semacam ini tidak akan ada dalam
pikiran roh-roh lain yang bukan berasal dari Tuhan. Juga tak mungkin
terpikirkan oleh nubuat rekaan manusia yang didasari agenda pribadi yang
mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.
– Itu sebabnya, kita dapat menguji sebuah
pesan nubuat dengan mempertanyakan apakah pesan tersebut memenuhi tujuan dari
suatu pelayanan nubuat:
Apakah dalam
pesan tersebut terasa kepedulian dan kerinduan Tuhan terlibat dalam kondisi dan
keadaan yang sedang jemaat hadapi?
Adakah dalam pesan tersebut yang menunjukkan
Dia tahu benar keadaan jemaat sampai pada apa yang mereka rasakan atau simpan
dalam hati?
Adakah pikiran,
perasaan, serta kehendak Tuhanya yang diungkapkan dalam nubuat tersebut?
Adakah itu suatu pernyataan yang kuat,
menyentuh dan menghentak batin kita sehingga kita tertempelak serta tersungkur
di hadapan Tuhan?
Adakah rahasia-rahasia
atau hal-hal tersembunyi, yang tak mungkin diketahui manusia, yang disingkapkan
dan dibukakan di sana?
Adakah bukti-bukti kemahatahuan Tuhan dalam
pesan itu yaitu bahwa Dia mengetahui masa lalu, keadaan masa kini yang
tersembunyi dan masa depan yang masih tertutup itu?
Adakah pesan itu menyingkapkan keadaan-keadaan
hati manusia yang tak mungkin dapat diketahui siapapun juga selain Sang
Mahatahu?
Apakah pesan
tersebut membawa kepada suatu kedekatan, keintiman, kekaguman dan fokus kepada
pribadi Tuhan (dan bukan pribadi atau lembaga lain) sehingga pendengar
diteguhkan untuk hanya memandang dan berharap pada Dia, untuk berjalan bersama
Dia dalam ketaatan penuh kepada-Nya?
Ketika pesan
nubuatan itu disampaikan adakah itu memupuk dan menghasilkan suatu pertumbuhan
rohani bagi yang menerimanya?
Adakah peningkatan rohani dari kanak-kanak
rohani menuju kedewasaan rohani dimana jemaat dibawa makin mengenal Tuhan
jalan-jalan-Nya dan rencana-Nya atas hidup umat-Nya?
Apakah melalui nubuatan itu jemaat beroleh
hikmat, pencerahan, penyingkapan baru atau beroleh makanan rohani yang bergizi
sehingga manusia rohnya diperkuat lebih lagi?
Adakah penyingkapan mengenai jalan-jalan
Tuhan, rencana atau visi Tuhan atau pengetahuan akan kehendak-Nya yang makin
jelas bagi penerima nubuatan itu?
Setelah menerima suatu nubuat, adakah hidup
rohani yang makin teguh dan kokoh dalam komitmen pada Kristus, makin melekat
dan berbuah di dalam Kristus?
Apakah didapati
dalam nubuat itu suatu nasihat, dorongan dan ajakan untuk melangkah dan
bertindak seperti yang Tuhan kehendaki?
Adakah teguran, peringatan, masukan dan saran
yang bersifat strategis, yang memberikan solusi atas suatu kondisi jasmani atau
rohani yang sedang dihadapi oleh umat Tuhan?
Ketika ada suatu
situasi dan suasana yang menekan, penuh beban berat, dirundung kesedihan dan
putus asa, adakah perkataan-perkataan ilahi dalam nubuatan tersebut yang
membangkitkan iman dan pengharapan? Yang memberikan penghiburan dan mengangkat
segala dukacita untuk digantikan dengan kekuatan yang baru yang membawa
kesegaran rohani?
– Terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas,
apabila jawaban yang diperoleh adalah “tidak” maka sudah seharusnya
nubuat tersebut perlu diselidiki dan diwaspadai sebagai suatu pesan yang keluar
BUKAN dari Tuhan tetapi dari sumber-sumber atau pengaruh-pengaruh roh lain.
Apabila sebaliknya, yaitu dalam pesan nubuatan
itu ditemukan unsur-unsur yang membawa jemaat 
memperoleh hasil sebagaimana tujuan sebuah pesan nubuat, maka kita boleh
yakin bahwa itu merupakan suatu pesan yang dari Tuhan sendiri. Terhadap pesan
demikian, hati kita harus siap untuk melangkah dalam iman dan ketaatan demi
kasih kepada Tuhan dan jiwa-jiwa dengan pengharapan bahwa ketika kita
melakukannya semua itu takkan sia-sia melainkan berdampak secara rohani bahkan
hingga kekal.
KESIMPULAN
Jika kita memahami maksud dan tujuan Tuhan
melalui pelayanan dan karunia bernubuat, sesungguhnya tidak sukar mengetahui
apakah suatu pesan nubuat berasal dari Tuhan atau bukan.
Nubuat yang dari Tuhan akan membawa umat atau
jemaat pada hasil atau dampak yang Tuhan inginkan dari penyampaian pesan itu.
Yaitu untuk membawa mereka mendekat pada-Nya, supaya makin bertumbuh dalam
pengenalan akan Dia, juga kehendak dan rencana-Nya. Untuk diteguhkan,
dimantapkan, dikuatkan, didorong, diarahkan dan didesak untuk melangkah sesuai
kehendak Tuhan. Untuk diangkat dari keputusasaan dan dibangkitkan
pengharapannya serta menerima penghiburan ketika lemah dan terjatuh.
Sudah tiba waktunya kita tak lagi mudah ditipu
oleh berbagai hoaks dan kebohongan yang datangnya dari alam rohani. Sudah
waktunya kita menjadi peka dan tajam mengikuti suara Roh Kudus dalam kita yang
akan memberikan penyingkapan pada kita mana yang merupakan suara-Nya dan mana
yang bisikan dari roh-roh yang menipu dan bermaksud menyesatkan kita dari
kehendak Tuhan.
Pengujian yang jujur atas hati kita dan
pesan-pesan yang kita terima menjaga kita tetap berjalan seturut keinginan hati
Tuhan.
Salam revival


TERKAIT MENGUJI NUBUAT: 

POKOK-POKOK DALAM MENGUJI NUBUATAN (Bagian 5) LANGKAH PENGUJIAN 4 : PENGGENAPAN DARI NUBUATAN

Oleh : Peter B, MA

Mungkin tidak ada ayat yang lebih sering dikutip terkait pengujian nubuatan seperti nats dalam Ulangan 18:20-22 :

Tetapi
seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku
perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang
berkarya demi nama allah lain, nabi itu harus mati.
Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? —
apabila
seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi
dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN;
dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah
gentar kepadanya.


Bagi kalangan Kristiani yang
masih mengakui dan meyakini karunia Roh maupun pelayanan nubuat, hampir
selalu akan merujuk kepada pernyataan taurat di atas apabila ditanya
perihal menguji atau membedakan mana nubuat yang bisa dipercaya atau
yang berasal dari Tuhan dan mana yang bukan. Ayat ini kerap dikutip
begitu saja tanpa didalami secara jelas apa yang dimaksudkannya dan
apakah ada hubungan dengan ayat-ayat lain dalam Alkitab terkait hal yang
serupa.


SALAH SATU TANDA YANG PALING MEMBEDAKAN

Dapatlah
dikatakan bahwa Ulangan 18:22 merupakan pernyataan yang paling
terang-terangan atau eksplisit dari Tuhan dalam hal memberikan petunjuk
akan apa yang menjadi pembeda paling utama antara perkataan yang
benar-benar berasal dari Tuhan sendiri dengan yang sekedar mengaku-ngaku
berasal dari-Nya.
Jika didalami, sejatinya nats tersebut mengandung banyak rahasia terkait pelayanan seorang nabi..

Dikatakan dalam nats tersebut “apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN“.

Dengan
kata lain, seorang nabi yang menyatakan bahwa ia sedang menyampaikan
perkataan dari Tuhan dinilai dari APAKAH YANG DISAMPAIKANNYA ITU
KEMUDIAN BENAR-BENAR MENJADI KENYATAAN ATAU TIDAK. Jika sungguh-sungguh
terjadi, maka pastilah Tuhan yang memang berbicara; namun jika itu tidak
terjadi maka “ia sudah terlalu berani mengatakannya”.

Berbagai terjemahan Alkitab menuliskan pengertian yang beragam dengan apa yang disebut “ia sudah terlalu berani mengatakannya”.

Itu diterjemahkan antara lain sebagai :

“telah berkata dengan sombongnya”,
“berbicara atas namanya sendiri”,
“mengatakan pikirannya sendiri”,
“rekaan mereka sendiri”,
“telah berbicara dengan gegabah”,
“telah berbicara dengan lancang”,
“menyampaikan sesuatu yang dianggapnya benar padahal belum terbukti demikian”,
“telah berbicara  dengan terlalu percaya diri tanpa dasar dan alasan yang tepat”,
“mengarang-ngarang atau membuat-buatnya”,
“berbicara dalam otoritasnya sendiri”,
“menyampaikan ide-idenya sendiri”, dan
“secara keliru mengklaim dirinya berbicara atas nama Tuhan”

Berbicara
mengatasnamakan TUHAN padahal ia sedang menyampaikan pikiran dan isi
hatinya sendiri merupakan suatu tindakan yang sangat lancang, yang tidak
memandang sama sekali akan kedudukan dan otoritas Tuhan. Orang yang
tanpa rasa takut mengaku mewakili Tuhan dan menyatakan sebagai orang
yang menyampaikan suara Tuhan namun sebenarnya perkataan itu berasal
dari dirinya sendiri, berarti telah menyamakan dirinya dengan Tuhan (itu
sebabnya salah satu pengertian dari perbuatan tersebut adalah
“berkata-kata dengan sombongnya”).

Tidaklah mengejutkan apabila
orang yang demikian harus dilawan dengan tegas. Terhadapnya, Tuhan
menjatuhkan hukuman mati (lihat Ulangan 18:20). Jelas bukan perkara
main-main dalam menyampaikan pesan-pesan yang diklaim berasal dari Tuhan
sendiri. Semua harus dilakukan dalam suatu sikap yang penuh hormat pada
Dia, dalam suatu rasa takut akan Dia, dengan penuh kerendahan hati dan
kehati-hatian supaya jangan sampai pikiran dan maksud hatinya sendiri
yang disampaikan.

Lalu aku berkata: “Aduh, Tuhan ALLAH!
Bukankah para nabi telah berkata kepada mereka: Kamu tidak akan
mengalami perang, dan kelaparan tidak akan menimpa kamu, tetapi Aku akan
memberikan kepada kamu damai sejahtera yang mantap di tempat ini!”
Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku
tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman 
kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan
kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.

Sebab itu beginilah
firman TUHAN mengenai para nabi yang bernubuat demi nama-Ku, padahal Aku
tidak mengutus mereka, dan yang berkata: Perang dan kelaparan tidak
akan menimpa negeri ini —: Para nabi itu sendiri akan habis mati oleh
perang dan kelaparan!
~ Yeremia 14:13-15 (TB) 

Kembali pada pembeda utama suatu nubuat.
Disyaratkan
bahwa nubuatan yang disebut berasal daripada-Nya haruslah terjadi,
harus menjadi suatu realita yang pada akhirnya dapat dilihat, dirasakan
serta dialami orang-orang yang menjadi obyek dari nubuatan itu.

Mengapa harus demikian?

Sebab TUHAN tidak pernah keliru.
Ia itu mahatahu dan mampu melihat apa yang ada jauh di masa depan, akan
rentang waktu yang belum dijalani manusia atau bahkan semesta. Dan
karena Ia tahu dengan pasti dan tepat, Ia dapat menyampaikan secara
persis apa yang akan terjadi, bahkan mengenai akhir dari seluruh zaman.
Itu sebabnya yang disampaikan-Nya pasti akan terjadi, sebab Ia telah
mengetahuinya sebelumnya.
Masih ada sisi yang lain. Perkataan-Nya tentang masa depan pasti terjadi karena Ia mampu menjadikannya kenyataan. Kuasa-Nya lebih dari sanggup untuk membuatnya terjadi seperti yang diperkatakan-Nya. 

Dan karena Ia tidak pernah melakukan suatu kecerobohan serta tak pernah gagal melakukan segala sesuatu, Ia pun tidak pernah menyesal terhadap apapun yang telah dilakukan-Nya, termasuk atas manusia.

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
~ Ayub 42:2 (TB)  

Takkan
pernah Tuhan akan berada pada suatu posisi dimana Dia tersipu-sipu malu
untuk kemudian terburu-buru meminta maaf atas perkataan atau
perbuatan-Nya yang kurang pertimbangan, yang spontan dilontarkan tanpa
berpikir maupun yang terkesan emosional.
Tidak akan pernah.
Itu sama sekali bukan gaya-Nya.

Dalam
kesempurnaan-Nya, Ia senantiasa tepat –setepat-tepatnya. Ia pasti
benar –selalu benar dan terbukti pada akhirnya benar. Itulah sebabnya
Ia disebut TUHAN yang layak disembah, satu-satunya yang lengkap dan
sempurna dalam apapun yang terpancar dari-Nya.
Dan jika Alkitab
beberapa kali menuliskan bahwa Dia pernah menyesal, itu sama sekali
bukan menunjukkan karena Ia berbuat kesalahan atau ada suatu kekeliruan
ada pada-Nya. Pada manusia, ciptaan yang segambar dengan Dialah,
kesalahan itu ada. Penyesalan Tuhan seperti yang digambarkan dalam
Kejadian 6:5-6 maupun Keluaran 32:14 lebih menggambarkan pada sikap
kecewa Tuhan kepada umat-Nya daripada kepada diri-Nya yang telah
menciptakan, menebus dan memanggil mereka.

Sebab:

Allah
bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia
menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara
dan tidak menepatinya?
~ Bilangan 23:19 (TB) 

Allah bukan manusia yang mudah khilaf dan jatuh dalam kecerobohan.

Dihubungkan
dengan perkataan-perkataan nubuat yang disampaikan demi nama-Nya, maka
sudah merupakan sesuatu yang selayaknya jika itu DIBEDAKAN DENGAN SUATU
TANDA YANG SANGAT JELAS. Yaitu SUATU KEPASTIAN DAN KENYATAAN BAHWA
NUBUAT ITU DIGENAPI ATAU TERJADI.

Beberapa contoh di sini antara lain :

Tentang Yerobeam, raja pertama Israel :
Maka
Aku akan mendatangkan malapetaka kepada keluarga Yerobeam. Aku akan
melenyapkan dari pada Yerobeam setiap orang laki-laki, baik yang tinggi
maupun yang rendah kedudukannya di Israel. Aku akan menyapu keluarga
Yerobeam seperti orang menyapu tahi sampai habis. 

~ 1 Raja-raja 14:10 (TB) 

Digenapi :
Segera
sesudah ia menjadi raja, ia membunuh seluruh keluarga Yerobeam; tidak
ada yang bernafas yang ditinggalkannya hidup dari pada Yerobeam, sampai
dipunahkannya semuanya, sesuai dengan firman TUHAN yang diucapkan-Nya
dengan perantaraan hamba-Nya Ahia, orang Silo itu, 

~ 1 Raja-raja 15:29 (TB) 

Tentang Baesa, raja Israel :
Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Yehu bin Hanani melawan Baesa, bunyinya:
“Oleh
karena engkau telah Kutinggikan dari debu dan Kuangkat menjadi raja
atas umat-Ku Israel, tetapi engkau telah hidup seperti Yerobeam dan
telah menyuruh umat-Ku Israel berdosa, sehingga mereka menimbulkan sakit
hati-Ku dengan dosa mereka,

maka sesungguhnya Aku akan
menyapu bersih Baesa dan keluarganya, kemudian Aku akan membuat
keluargamu seperti keluarga Yerobeam bin Nebat.

Siapa yang
mati dari pada Baesa di kota, akan dimakan anjing dan yang mati dari
padanya di padang akan dimakan burung yang di udara.”

~ 1 Raja-raja 16:1-4 (TB) 

Digenapi :
Demikianlah
Zimri memunahkan seluruh keluarga Baesa, sesuai dengan firman TUHAN
yang diucapkan-Nya kepada Baesa dengan perantaraan nabi Yehu,

~ 1 Raja-raja 16:12 (TB) 

Tentang kematian Ahab, raja Israel :
Katakanlah
kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membunuh
serta merampas juga! Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu.

~ 1 Raja-raja 21:19 (TB) 

Tetapi
jawab Mikha: “Jika benar-benar engkau pulang dengan selamat, tentulah
TUHAN tidak berfirman dengan perantaraanku!” Lalu disambungnya:
“Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian!”

~ 1 Raja-raja 22:28 (TB) 

Digenapi :
Tetapi
seseorang menarik panahnya dan menembak dengan sembarangan saja dan
mengenai raja Israel di antara sambungan baju zirahnya. Kemudian ia
berkata kepada pengemudi keretanya: “Putar! _Bawa aku keluar dari
pertempuran, sebab aku sudah luka.”

Tetapi pertempuran itu
bertambah seru pada hari itu, dan raja tetap ditopang berdiri di dalam
kereta berhadapan dengan orang Aram itu, sampai ia mati pada waktu
petang. Darahnya mengalir dari lukanya ke dalam palung kereta.

Kira-kira
pada waktu matahari terbenam terdengarlah teriakan di sepanjang barisan
tentara itu: “Masing-masing ke kotanya, masing-masing ke negerinya!

Raja sudah mati!” Maka pulanglah mereka ke Samaria, lalu mereka menguburkan raja di Samaria.
Ketika kereta itu dicuci di tepi telaga Samaria, maka darah raja dijilat anjing, sedang perempuan-perempuan sundal mandi di tempat itu, sesuai dengan firman TUHAN yang telah diucapkan-Nya.
~ 1 Raja-raja 22:34-38 (TB) 

Tentang tempat kelahiran Yesus:
Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
Dan
engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang
terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah
akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”

~ Matius 2:5-6 (TB) 

Tetapi engkau, hai
Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari
padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang
permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

~ Mikha 5:1 (TB)

Digenapi :
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
~ Matius 2:1 (TB) 

Tentang cara kelahiran Yesus :
Tetapi
ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya
dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut
mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya
adalah dari Roh Kudus.

Ia akan melahirkan anak laki-laki dan
engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan
umat-Nya dari dosa mereka.”

_Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
“Sesungguhnya,
anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki,
dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai
kita._

~ Matius 1:20-23 (TB) 

Sebab itu Tuhan
sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya,
seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak
laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.

~ Yesaya 7:14 (TB)

Digenapi :
Sesudah
bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat
Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus. 
~ Matius 1:24-25 (TB) 

Tentang bagaimana kehidupan Yesus sewaktu masih bayi :
Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,
dan
tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah
yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”

~ Matius 2:14-15 (TB) 

Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu.
~ Hosea 11:1 (TB) 

Digenapi :
Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya:
“Bangunlah,
ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel,
karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.”

Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.
~  Matius 2:19-21 (TB) 



Tentang ditangkap dan diserahkannya Paulus kepada bangsa-bangsa lain : 
Setelah beberapa hari kami tinggal di situ, datanglah dari Yudea seorang nabi bernama Agabus.
Ia
datang pada kami, lalu mengambil ikat pinggang Paulus. Sambil mengikat
kaki dan tangannya sendiri ia berkata: “Demikianlah kata Roh Kudus:
Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh
orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan
bangsa-bangsa lain.”

~ Kisah Para Rasul 21:10-11 (TB) 

Digenapi :
Maka
terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau
mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan
untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan
membawanya ke markas.

Lalu prajurit-prajurit itu
mengambil Paulus sesuai dengan yang diperintahkan kepada mereka dan
membawanya pada waktu malam ke Antipatris.

Pada keesokan
harinya mereka membiarkan orang-orang berkuda dan Paulus meneruskan
perjalanan, dan mereka sendiri pulang ke markas.

Setibanya di Kaisarea orang-orang berkuda itu menyampaikan surat itu kepada wali negeri serta menyerahkan Paulus kepadanya.
Dan
setelah membaca surat itu, wali negeri itu menanyakan Paulus dari
propinsi manakah asalnya. Dan ketika ia mendengar, bahwa Paulus dari
Kilikia,

ia berkata: “Aku akan memeriksa perkaramu, bila para
pendakwamu juga telah tiba di sini.” Lalu ia menyuruh menahan Paulus di
istana Herodes.

~ Kisah Para Rasul 23:10, 31-35 (TB) 

Singkatnya,
APA YANG DISAMPAIKAN SEBAGAI PERKATAAN NUBUAT, KHUSUSNYA YANG
BERHUBUNGAN DENGAN HAL-HAL YANG AKAN TERJADI, HARUS DIGENAPI ATAU
MENJADI KENYATAAN SEBAGAI PERNYATAAN KEMAHATAHUAN DAN KEMAHAKUASAAN
TUHAN.

BUKAN ASAL DIGENAPI ATAU TERJADI
Meskipun
prinsip sederhana di atas tampak telah cukup jelas, itu belumlah
mencakup seluruh pemahaman mengenai prinsip pengujian nubuatan yang
keempat ini.
Masih ada yang perlu kita perhatikan. Ada nats-nats lain
yang wajib kita pertimbangkan untuk dapat menguji dengan lebih tepat
ketika menggunakan prinsip ini:

1) Perkataan yang dikatakan
sebagai nubuat tidak bisa dianggap benar dari Tuhan dengan semata-mata
menjadi suatu kenyataan. Ada pesan dan pengertian dari Tuhan yang
melatarbelakangi atau yang merupakan alasan maupun tujuan mengapa nubuat
tersebut disampaikan.

Perhatikanlah ayat berikut ini :

Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat,
dan
apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan
ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan
mari kita berbakti kepadanya,
maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu
;
sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu
sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu.
TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus
takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus
kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut.

Nabi
atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad
terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir
dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan — dengan maksud untuk
menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu,
kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu
dari tengah-tengahmu.
~ Ulangan 13:1-5 (TB) 

Diandaikan
dalam nats di atas, ada seorang nabi yang muncul di tengah-tengah umat
Tuhan. Jika ia disebut nabi, tentu ia seorang yang dianggap sebagai
pembawa pesan Tuhan. Jika ia kemudian memberitahukan tentang suatu tanda
atau mujizat tetapi ternyata kemudian tanda itu sungguh-sungguh terjadi
MAKA ITU BELUM DIANGGAP SAH ATAU PASTI MENUNJUKKAN IA BERASAL DARI
TUHAN. Masih perlu diamati lebih jauh. Oleh karena ayat tersebut
mensyaratkan bahwa meskipun tanda ajaib yang diberitahukan digenapi
tetapi apabila pesan yang disampaikan bersama dengan penggenapan tanda
ajaib itu mengarahkan orang untuk menyembah illah yang lain dan untuk
mengabdi kepada ilah itu, maka nabi itu bukan diutus oleh Tuhan.
Maksudnya
adalah, tergenapinya suatu nubuat harus dibarengi pesan yang membawa
orang untuk menyembah dan mengabdi kepada TUHAN, Allah Israel,
satu-satunya Allah yang benar, yang dalam Perjanjian Baru telah
menyatakan diri melalui gambar Anak-Nya, Yesus  Kristus.
Suatu tanda
ajaib tanpa disertai pernyataan yang membawa pendengar atau obyek dari
pesan tersebut untuk berpaling serta datang mendekat pada Tuhan bisa
jadi merupakan tipuan atau samaran dari si jahat yang menyaru sebagai
malaikat terang supaya umat Tuhan tidak pernah sampai pada perjumpaan
dan persekutuan dengan Tuhan namun pada perkara-perkara lain yang
kemudian lebih dikagumi dan dicari daripada Tuhan sendiri.

Pada
bagian ini, kita harus memahami aspek lain dari pelayanan profetik, yang
bukan sekedar menyampaikan suatu pesan yang nantinya akan menjadi
kenyataan namun kita pun perlu menelisik lebih dalam akan motif dan
tujuan pesan tersebut disampaikan oleh sang pembawa pesan.

Mengenai tujuan pelayanan profetik, kita akan membahasnya dalam langkah atau kunci yang selanjutnya terkait menguji nubuatan.

2)
Perkataan nubuat yang harus digenapi TERUTAMA ditekankan pada
pesan-pesan nubuatan yang mengandung janji-janji berkat atau menjanjikan
suatu keadaan sejahtera bagi umat Tuhan

Kitab Yeremia
adalah salah satu kitab penting terkait pelayanan kenabian. Banyak
pelajaran serta prinsip-prinsip pelayanan profetik di dalamnya khususnya
pada bagian-bagian perbandingan antara nabi sejati dengan nabi palsu.

Dalam salah satu perjumpaan Yeremia dengan nabi-nabi palsu, tercatat adegan berikut ini :

Dalam
tahun itu juga, pada permulaan pemerintahan Zedekia, raja Yehuda, dalam
bulan yang kelima tahun yang keempat, berkatalah nabi Hananya bin Azur
yang berasal dari Gibeon itu kepadaku di rumah TUHAN, di depan mata
imam-imam dan seluruh rakyat:
“Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu.
Dalam
dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas
rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja
Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.
Juga Yekhonya bin Yoyakim,
raja Yehuda, beserta semua orang buangan dari Yehuda yang dibawa ke
Babel akan Kukembalikan ke tempat ini, demikianlah firman TUHAN!
Sungguh, Aku akan mematahkan kuk raja Babel itu!”
~ Yeremia 28:1-4 (TB) 

Nabi
Hananya bernubuat di rumah TUHAN dan di hadapan seluruh rakyat. Waktu
itu ada juga nabi Yeremia. Kedua-duanya dipandang sebagai nabi Tuhan.
Masalahnya nubuat mereka berbeda bunyinya. Hananya menubuatkan “keadaan
kerajaan Yehuda akan membaik” dengan dikembalikannya perabotan bait
Allah yang dirampas ke Babel serta dipulangkannya raja untuk memerintah
seperti sedia kala. Yeremia yang mendengar itu, mengatakan hal yang
berbeda. Bukan hanya pada saat itu, namun sebelum itu Yeremia telah
menyampaikan bahwa Yehuda akan ditawan, keadaan orang-orang yang memilih
bertahan di sana dan menolak dibuang ke Babel akan sengsara karena
kondisi di kerajaan itu semakin terpuruk dan hancur. Yeremia juga
mengatakan bahwa raja Babel akan menjadi penguasa bangsa-bangsa dan yang
mau tunduk kepadanya akan lebih baik keadaannya (lihat Yeremia 27).
Itu
sebabnya mendengar ada seseorang yang mengaku nabi dan mendengar suara
Tuhan seperti Hananya, Yeremia segera merespon dalam ketidaksetujuan.

Nabi TUHAN itu berkata,
“Amin!
Moga-moga TUHAN berbuat demikian! Moga-moga TUHAN menepati
perkataan-perkataan yang kaunubuatkan itu dengan dikembalikannya
perkakas-perkakas rumah TUHAN dan semua orang buangan itu dari Babel ke
tempat ini.
Hanya, dengarkanlah hendaknya perkataan yang akan kukatakan ke telingamu dan ke telinga seluruh rakyat ini:
Nabi-nabi
yang ada sebelum aku dan sebelum engkau dari dahulu kala telah
bernubuat kepada banyak negeri dan terhadap kerajaan-kerajaan yang besar
tentang perang dan malapetaka dan penyakit sampar.
Tetapi mengenai
seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi
itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus
oleh TUHAN.”
~ Yeremia 28:6-9

Meskipun terkesan
mengaminkan nubuatan Hananya, Yeremia memberikan suatu pernyataan yang
keras -suatu kebenaran yang tak mungkin dibantah para pendengarnya. Dari
situ pula kita dapat mengetahui suatu prinsip penting dalam menilai
suatu nubuatan.

Yeremia menekankan bahwa banyak nabi sebelum dia
yang Tuhan telah bangkitkan SECARA UMUM telah kerap kali bernubuat
DENGAN PESAN-PESAN YANG KERAS BERISI TEGURAN, PERINGATAN, HARDIKAN ATAU
HAJARAN TUHAN YANG DIGAMBARKAN DALAM NUBUATAN AKAN DATANGNYA BENCANA
ATAU MALAPETAKA. Dan memang faktanya demikian. Sejak nabi Samuel, Natan,
Elia dan banyak nabi-nabi lainnya, mereka menghadap para raja dengan
pesan-pesan yang memekakkan telinga dan memerahkan wajah. Suatu bukti
bahwa pesan tersebut berasal dari raja di atas segala raja, penguasa di
atas segala penguasa, yang dengan penuh otoritas menyampaikan titahnya
kepada raja-raja manusia yang menerima otoritas karena kemurahan
hati-Nya.

Intinya, tidak banyak pesan-pesan berbunga-bunga,
penuh janji muluk-muluk akan suatu masa depan yang indah dan makmur
keluar dari mulut Tuhan, LEBIH-LEBIH YANG DISAMPAIKAN DENGAN MUDAHNYA 
tanpa ada pemaparan yang jelas mengapa ada pesan berupa janji yang
sedemikian bagi umat Tuhan!

Pesan yang semacam itulah rupanya
yang disampaikan oleh Hananya. Dan pesan semacam itu pula yang ditentang
Yeremia. Sebab pesan nubuatan berupa janji pada dasarnya diucapkan
Tuhan BERDASARKAN SUATU SYARAT TERTENTU YANG HARUS DILAKUKAN SEBAGAI
BAGIAN KEWAJIBAN DARI UMAT-NYA (ATAU HAMBA-NYA) UNTUK MEMPEROLEH
PENGGENAPAN JANJI ITU. Apabila syarat tersebut dipenuhi maka janji Tuhan
pasti menjadi suatu kenyataan.
Dan harus demikian. Allah bukan
pribadi pengobral janji. Dia ada bukan untuk menuruti atau memuaskan
hati ciptaan-Nya. Dia pun bukan Bapa yang suka memanjakan anak-anak-Nya
dengan melalaikan didikan kepada mereka. Dia memberkati setiap yang
dikenan-Nya dan yang memegang teguh perjanjian untuk hidup dalam
komitmen kepada-Nya. Dan di atas segalanya, terkait berkat-berkat yang
siap dilimpahkan-Nya, mengapakah Dia harus memberikan banyak janji
terkait itu apabila Ia sendiri adalah Allah yang kaya dengan kebaikan,
berkat dan kemurahan -yang pasti dilimpahkan-Nya sebagai ganjaran bagi
umat-Nya yang berlaku taat kepada-Nya. Atas kesungguhan dan kesetiaan
umat-Nya, sudah pasti janji-janji terbaik yang pernah disampaikan-Nya
akan digenapkan-Nya, bahkan lebih daripada yang dapat orang pikirkan!

Lalu
masuklah raja Daud ke dalam, kemudian duduklah ia di hadapan TUHAN
sambil berkata: “Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah
keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?
Dan
hal ini masih kurang di mata-Mu, ya Tuhan ALLAH; sebab itu Engkau telah
berfirman juga tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh
dan telah memperlihatkan kepadaku serentetan manusia yang akan datang,
ya Tuhan ALLAH.
~ 2 Samuel 7:18-19 (TB)

Telah Kuberikan
isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam
pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan
seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.
~ 2 Samuel 12:8 (TB)

Tetapi
seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan
tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di
dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang
mengasihi Dia.”
~ 1 Korintus 2:9 (TB)

Oleh karena Allah
tidak mudah membuat janji, maka tidak mengherankan apabila Yeremia
menekankan bahwa nubuat yang terutama harus digenapi adalah
nubuat-nubuat yang menjanjikan berkat atau keadaan-keadaan yang baik
kepada umat Tuhan dengan begitu mudahnya : 

Tetapi
mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika
nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu
benar-benar diutus oleh TUHAN.”

Ringkasnya, adalah benar
bahwa setiap nubuat yang disampaikan atas nama Tuhan harus digenapi,
sebagai bukti bahwa pesan tersebut berasal dari Yang Mahatahu. Dan
pembuktian ini terutama atau pertama-tama digunakan untuk menilai dan
menguji pesan-pesan yang menjanjikan kemudahan dan berkat-berkat. Jika
itu terjadi, maka jelaslah bahwa itu berasal dari Tuhan, tetapi jika
tidak maka itu merupakan penipuan dan usaha mengarahkan jiwa-jiwa umat
Tuhan kepada perkara dusta. Mereka yang bernubuat dengan cara demikian
akan menerima ganjaran yang setimpal dari Tuhan sendiri. Dalam
Perjanjian Lama, Tuhan menghukum mati nabi-nabi palsu ini. Suatu
gambaran akan kematian rohani yang akan menimpa mereka yang berani
berbicara dusta mengatasnamakan Tuhan sendiri. 

Kemudian nabi Hananya mengambil gandar itu dari pada tengkuk nabi Yeremia, lalu mematahkannya.
Berkatalah
Hananya di depan mata seluruh rakyat itu: “Beginilah firman TUHAN:
Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar,
raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!” Tetapi pergilah nabi
Yeremia dari sana.
Maka sesudah nabi Hananya mematahkan gandar dari pada tengkuk nabi Yeremia, datanglah firman TUHAN kepada Yeremia:
“Pergilah
mengatakan kepada Hananya: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah
mematahkan gandar kayu, tetapi Aku akan membuat gandar besi sebagai
gantinya!
Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel:
Kuk besi akan Kutaruh ke atas tengkuk segala bangsa ini, sehingga mereka
takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel; sungguh, mereka akan takluk
kepadanya! Malahan binatang-binatang di padang telah Kuserahkan
kepadanya.”
Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya: “Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta.
Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya,
Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan
mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN.”
Maka matilah nabi Hananya dalam tahun itu juga, pada bulan yang ketujuh.

~ Yeremia 28:10-17

3)
Meskipun tidak selalu terjadi, nubuatan yang berkaitan dengan
penghukuman dan malapetaka ada kalanya tidak menjadi kenyataan atau 
tertunda sekian lama penggenapannya

Meneliti lebih jauh akan
catatan Alkitab, paling tidak ada dua nubuatan yang seharusnya terjadi
atau digenapi dengan segera tetapi kemudian tidak terjadi maupun
tertunda penggenapannya.

Yang pertama, adalah nubuat nabi Yunus untuk Niniwe.
Kita
melihat dalam Yunus 3:4, Yunus menyampaikan pesan dari Tuhan, suatu
nubuatan, bahwa empat puluh hari dari sejak ia menyampaikan pesan itu
“Niniwe akan ditunggangbalikkan”. Kita mengetahui kemudian bahwa itu
tidak terjadi sehingga membuat Yunus menjadi kecewa dan kesal hatinya
pada Tuhan. Mengenai sebab mengapa nubuat itu tidak terjadi, atau dapat
dikatakan pula bahwa Tuhan tidak melakukan seperti yang dinubuatkan-Nya
melalui Yunus, kita diberitahu tahu alasannya :

Bagaimana
tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang
berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak
tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang
banyak?”
~Yunus 4:11 (TB)

Jadi bukan tanpa alasan Tuhan
tidak melaksanakan firman-Nya tetapi oleh karena pertobatan orang-orang
Niniwe secara massal.  Itulah yang membuat-Nya tergerak oleh belas
kasihan yang besar sehingga Ia mengurungkan niat untuk menghukum kota
itu.
Penjelasan Tuhan disertai bukti-bukti yang dapat dilihat
mengenai pertobatan kota itu, seharusnya cukup bagi Yunus (dan juga
kita) untuk memahami sudut pandang Tuhan serta keputusan Tuhan sehingga
kita dapat sehati dan sepikiran dengan Dia akan keputusan-Nya tidak
menggenapkan nubuat seperti yang disampaikan melalui nabi-Nya.

Yang
kedua, adalah nubuatan para nabi di zaman Manasye, raja Yehuda, yang
pada dasarnya digenapi juga pada akhirnya tetapi sebenarnya  mengalami
penundaan akan penggenapannya.

Dalam 2 Raja-raja 21:10-15 dikatakan :

Kemudian berfirmanlah TUHAN dengan perantaraan para hamba-Nya, yakni para nabi:
Oleh
karena Manasye, raja Yehuda, telah melakukan kekejian-kekejian ini,
berbuat jahat lebih dari pada segala yang telah dilakukan oleh orang
Amori yang mendahului dia, dan dengan berhala-berhalanya ia telah
mengakibatkan orang Yehuda berdosa pula,

sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sesungguhnya Aku
akan mendatangkan malapetaka atas Yerusalem dan Yehuda, sehingga setiap
orang yang mendengarnya akan bising kedua telinganya.

Dan Aku
akan merentangkan atas Yerusalem tali pengukur sama seperti atas Samaria
dan tali unting-unting sama seperti atas keluarga Ahab; dan Aku akan
menghapuskan Yerusalem seperti orang menghapus pinggan, yakni habis
dihapus, dibalikkan pula menungging.
Aku akan membuangkan sisa milik
pusaka-Ku dan akan menyerahkan mereka ke dalam tangan musuh-musuh
mereka, sehingga mereka menjadi jarahan dan menjadi rampasan bagi semua
musuh mereka,
oleh karena mereka telah melakukan apa yang jahat di
mata-Ku dan dengan demikian mereka menimbulkan sakit hati-Ku, mulai dari
hari nenek moyang mereka keluar dari Mesir sampai hari ini.”

Dengan
segala kejahatan dan kekejian yang dilakukan Manasye, tampaknya Tuhan
sudah sampai pada batas kesabaran-Nya. Sesungguhnya Ia siap melampiaskan
murka-Nya atas Yehuda dan Yerusalem. Saat Manasye tutup usia, ia
digantikan anaknya, Amon, yang memerintah tidak lama, hanya sekitar dua
tahun saja. Cucu Manasye kemudian naik tahta. Dialah Yosia.
Sangat mungkin malapetaka besar itu terjadi di zaman Yosia. Tetapi inilah perkataan Tuhan setelah Yosia memilih mencari Tuhan :

Maka
pergilah imam Hilkia, Ahikam, Akhbor, Safan dan Asaya kepada nabiah
Hulda, isteri seorang yang mengurus pakaian-pakaian, yaitu Salum bin
Tikwa bin Harhas; nabiah itu tinggal di Yerusalem, di perkampungan baru.
Mereka memberitakan semuanya kepadanya.

Perempuan itu menjawab mereka: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel! Katakanlah kepada orang yang menyuruh kamu kepada-Ku!
Beginilah
firman TUHAN: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan malapetaka atas tempat
ini dan atas penduduknya, yakni segala perkataan kitab yang telah
dibaca oleh raja Yehuda;
karena mereka meninggalkan Aku dan membakar
korban kepada allah lain dengan maksud menimbulkan sakit hati-Ku dengan
segala pekerjaan tangan mereka; sebab itu kehangatan murka-Ku akan
bernyala-nyala terhadap tempat ini dengan tidak padam-padam.

Tetapi kepada raja Yehuda, yang telah menyuruh kamu untuk meminta petunjuk TUHAN, harus kamu katakan demikian: Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Mengenai perkataan yang telah kaudengar itu,
oleh
karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan
TUHAN pada waktu engkau mendengar hukuman yang Kufirmankan terhadap
tempat ini dan terhadap penduduknya,* bahwa mereka akan mendahsyatkan
dan menjadi kutuk, dan oleh karena engkau mengoyakkan pakaianmu dan menangis di hadapan-Ku, Aku pun telah mendengarnya, demikianlah firman TUHAN,
sebab
itu, sesungguhnya Aku akan mengumpulkan engkau kepada nenek moyangmu,
dan engkau akan dikebumikan ke dalam kuburmu dengan damai, dan matamu
tidak akan melihat segala malapetaka yang akan Kudatangkan atas tempat
ini.”
Lalu mereka menyampaikan jawab itu kepada raja.
~ 2 Raja-raja 22:14-20 (TB) 

Jelas
sekali bahwa Tuhan menyatakan Dia “mengecualikan” Yosia dari malapetaka
yang hendak didatangkan-Nya atas bangsanya oleh karena (lagi-lagi sama
seperti yang dilakukannya pada Niniwe) pertobatan dari sang raja, yang
memang terbukti disaksikan seluruh rakyatnya bahkan bangsa-bangsa di
sekitarnya.

Merujuk pada dua contoh di atas, tampaknya pesan
nubuatan yang berkenaan dengan akan datangnya malapetaka atau bencana
kadangkala tidak terjadi sebagaimana yang dinubuatkan terutama karena
adanya faktor perubahan hati (baca : pertobatan) dari mereka yang
menjadi gentar akan kecelakaan yang akan menimpa oleh sebab karena murka
Tuhan atas mereka.

Ini menyiratkan kepada kita akan hati Tuhan.
Sejatinya, Ia tidak pernah senang menyampaikan pesan kemurkaan. Ia ingin
umat-Nya menjadi umat yang dengar-dengaran dan taat oleh karena kasih
kepada Dia Tetapi kenyataan yang ada seringkali merupakan kebalikan dari
itu. Banyak kali umat-Nya memalingkan wajah dari-Nya. Tak terhitung
banyaknya Tuhan diabaikan untuk kemudian umat yang dikasihi-Nya itu
melakukan apa saja yang dikehendaki hati mereka bahkan tanpa segan
melakukan apa yang jahat di mata-Nya. Dan sebagai Allah yang adil, ada
batas bagi kasih karunia-Nya ketika Ia harus menegakkan keadilan dan
menuntut pembalasan atas mereka yang ditindas dengan semena-mena. Ketika
kesabaran-Nya dipermainkan, Ia bersikap lebih keras. Pertama-tama, Ia
akan memilih nabi-nabi-Nya untuk meneriakkan jeritan dan kegusaran
hati-Nya itu -yang barangkali mungkin itulah kesempatan-kesempatan
terakhir bagi yang diperingatkan, sebelum tangan-Nya teracung
menjatuhkan penghajaran demi pertobatan umat-Nya.

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!
~Wahyu 3:19 (TB)

“Tetapi
sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan
segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”
Koyakkanlah
hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab
Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan
Ia menyesal karena hukuman-Nya.
Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik
dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan
korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.
~ Yoel 2:12-14 (TB) 


KESIMPULAN

Apa
yang dinubuatkan Tuhan melalui hamba-hamba-Nya haruslah terjadi oleh
karena itu keluar dari mulut Yang Mahakudus, yang tak pernah berlaku
ceroboh, grusa-grusu, apalagi melakukan kekhilafan atau kesalahan fatal.
Apa
yang disampaikan Tuhan,  akan terbukti merupakan perkataan penuh
otoritas dari Penguasa di atas segala penguasa, pencipta dan pemilik
semesta ini, tatkala perkataan itu terjadi sebagaimana telah diujarkan
para nabi-Nya.

Terhadap pesan-pesan profetik yang kemudian tidak
terjadi dan tidak ada penjelasan secara profetik yang menerangkan
mengapa hal tersebut tidak terjadi, maka sudah sepatutnya kita menolak
nubuatan semacam itu, membuangnya jauh-jauh dari hati dan pikiran kita.

Dan
terhadap orang-orang yang bernubuat dengan lancang sedemikian, sudah
sepatutnya kita memberikan teguran yang tegas serta memperingatkan akan
jiwanya yang akan mengalami kematian rohani jika tidak segera mengakui
kesalahannya dan bertobat dari kekurangajatannya di hadapan Tuhan.

Sudah
seharusnya kita berhati-hati menyampaikan pesan dari Yang Mahatinggi,
Mahabesar dan Mahakuasa. Berbicara mewakili  Tuhan bukan perkara enteng
dan asal-asalan. Ada pertanggungjawaban di hadapan jemaat lebih-lebih
Tuhan apabila kita tampil menyatakan diri sebagai penyambung suara
Tuhan.

Kiranya hikmat Tuhan dilimpahkan kepada kita semua.

SALAM REVIVAL
INDONESIA PENUH KEMULIAAN TUHAN

SERI PENGAJARAN TERKAIT MENGUJI NUBUAT :

POKOK-POKOK DALAM MENGUJI NUBUATAN (Bagian 6) LANGKAH PENGUJIAN 5 : KESESUAIAN DENGAN TUJUAN PELAYANAN DAN KARUNIA BERNUBUAT

POKOK-POKOK DALAM MENGUJI NUBUATAN (Bagian 4) LANGKAH PENGUJIAN 3 : KESELARASAN ISI PESAN DENGAN KARAKTER TUHAN SENDIRI

Oleh Peter B, MA

PERKATAAN-PERKATAAN KITA MENYIRATKAN SIAPA SEJATINYA DIRI KITA
– Ketika kita bergaul dengan seseorang, lalu secara rutin mendengarkan apa yang disampaikannya kepada kita atau orang-orang yang berinteraksi dengannya, maka lambat laun kita akan tahu (dari cara berkomunikasi, gaya bahasa bahasa dan pesan-pesan yang ia sampaikan) seperti apa karakter orang itu. Apa yang dikomunikasikan dari seseorang, sebenarnya merupakan refleksi atau cerminan dari karakter pribadi orang tersebut.

Sebagai contoh:

Jika seseorang kerapkali menggunakan kata-kata kotor dan kasar, kita tahu bahwa ia seorang yang suka berbicara seenaknya, pribadi yang sembrono dan kurang bersikap hati-hati setidaknya dalam berkata-kata.

Jika seseorang berbicara dengan bahasa yang baik, tertata rapi dan sangat berhati-hati menggunakan pilihan kata maka kita tahu ia seorang yang terbiasa berlaku sopan, pribadi yang santun dan sangat menjaga perilakunya.

Sisi lain, jika kita menemukan perkataan seseorang yang sering berubah-ubah, berganti pandangan atau prinsip dalam berbagai kesempatan yang berbeda, maka kita tahu ia seorang yang tidak punya pendirian.

Juga apabila antara apa yang dikatakan dalam kenyataannya berkali-kali terbukti tidak sesuai dengan apa yang terjadi dan dengan apa yang dilakukan, maka kita tahu ia seorang yang munafik dan palsu. Berkebalikan dengan itu, kesesuaian berulangkali antara perkataan dan bukti nyata dapat menjadi dasar keyakinan kita bahwa yang menyampaikannya adalah seorang yang jujur dan apa adanya.

Dari seseorang yang kerapkali memberikan kata-kata dan nasihat yang mengandung hikmat, kita tahu bahwa yang menggemakannya ialah orang yang memiliki kebijaksanaan, setidaknya dalam level tertentu. 

– KETIKA KITA BERGAUL DENGAN ALLAH, maka kita akan menemukan gaya bahasa dan perkataan-perkataan yang menunjukkan karakter-Nya: karakter ilahi.  Karakter itu pula yang akan menyatakan perkataan dan pernyataan yang hanya dapat disampaikan oleh Allah sendiri. Itulah bahasa Allah dan cara Ia berkomunikasi.  Itu mungkin saja ditiru atau dipalsukan, tetapi yang mengenal benar bunyi suara Tuhan akan segera tahu apakah perkataan-perkataan itu benar-benar berasal dari Tuhan atau dari sumber yang lain.

– Jika setiap kita memiliki gaya bahasa, pilihan kata dan karakter yang dikenali dari apa yang kita bicarakan, maka demikian pula dengan Tuhan. Ia berbicara dalam bahasa-Nya, tutur kata-Nya mencerminkan karakter-Nya.  Yang diujarkan-Nya bersumber dari pribadi-Nya yang sempurna, pencipta dan penguasa alam semesta. Sebagai Pencipta, Pemilik serta Penguasa segala sesuatu, Ia berbicara dalam suatu cara yang tidak akan pernah disamai dengan siapapun juga di manapun di seantero jagad raya ini. Dan karena itu, sesungguhnya, tidaklah terlalu sukar mengenali suara-Nya -jika kita benar-benar mengenal Dia, mencermati-Nya serta menyediakan hati untuk taat dan tunduk pada kedaulatan-Nya.

PRINSIP MAZMUR 62:12-13

– Ada satu nats penting dalam Mazmur 62 yang akan menolong kita memberikan pencerahan, akan ciri-ciri apakah suatu perkataan berasal dari Allah atau bukan:

Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar:
bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan;
sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya.
~ Mazmur 62:12-13

– Dalam setiap perkataan Tuhan, tersirat dua hal yang selalu terkandung di dalamnya. Yang pertama, mengenai kekuasaan-Nya yang besar dan bersumber dari-Nya. Yang kedua, dari pada-Nya pula terbit memancar kasih dan belas kasihan.

– Penafsir Alkitab abad 18, Adam Clarke menyebut teks Mazmur 62:12-13 di atas :

“…  merupakan dua kebenaran besar yang dinyatakan (atau disiratkan) dalam hukum Taurat, bahkan seluruh pewahyuan dari Tuhan dalam Alkitab. Dia adalah Yang Mahakuasa; Dia Maha Pengasih; dan perhatikan kesimpulannya: Allah yang penuh kuasa, adil dan kudus, yang maha pengasih dan penyayang, akan menghakimi dunia, dan akan membalas tiap orang sesuai perbuatan-perbuatan mereka. Mengapa pengertian yang indah ini seringkali tak dapat dipahami oleh setiap penafsir, sulit dijelaskan. Tetapi ayat-ayat ini memuat satu dari kebenaran yang paling memberikan kejelasan dalam Alkitab”

– Dengan demikian, jelaslah ciri komunikasi Tuhan atas manusia. Dalam setiap perkataan atau firman-Nya, selalu akan didapati dua unsur penting yang mencerminkan karakter-Nya: kemahakuasaan-Nya dan kemahakasihan-Nya.
Ini ditegaskan pada banyak nats dalam Alkitab.

Di antaranya :

Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,
yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”
~ Keluaran 34:6-7

Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya,
~ Roma 11:22

Pada waktu itu juga ia memberitahukan suatu tanda ajaib, katanya: “Inilah tanda ajaib, bahwa TUHAN telah berfirman: Bahwasanya mezbah itu akan pecah, sehingga tercurah abu yang di atasnya.”
Demi raja Yerobeam mendengar perkataan abdi Allah yang diserukannya terhadap mezbah di Betel itu, ia mengulurkan tangannya dari atas mezbah dan berkata: “Tangkaplah dia!” Tetapi tangan yang diulurkannya terhadap orang itu menjadi kejang, sehingga tidak dapat ditariknya kembali.
Mezbah itu pun pecahlah, sehingga abu yang di atasnya tercurah, sesuai dengan tanda ajaib yang diberitahukan abdi Allah itu atas perintah TUHAN.
Lalu berbicaralah raja dan berkata kepada abdi Allah itu: “Mohonkanlah belas kasihan TUHAN, Allahmu, dan berdoalah untukku, supaya tanganku dapat kembali.” Dan abdi Allah itu memohonkan belas kasihan TUHAN, maka tangan raja itu dapat kembali dan menjadi seperti semula.
~ 1 Raja-raja 13:3-6

Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.
~ Kisah Para Rasul 14:3
Pendeknya, ketika Allah hadir, menyatakan diri dan menyampaikan pesan firman-Nya, maka dua hal ini selalu akan didapati di dalam pesan atau firman-Nya. Dari sejak mulanya hingga kini. Pesan dari Tuhan akan merupakan peragaan dan pernyataan akan kuasa-Nya, yang menjadi satu dengan sentuhan kasih-Nya. Itulah sebabnya mengapa pesan Injil, yang merupakan kabar baik dari sorga selalu disampaikan dalam suatu kesan yang sangat kuat baik, di dalam demonstrasi kuasa maupun pernyataan kasih yang menembus setiap hati pendengarnya.

Unsur-unsur yang sama tidak akan berbeda di dalam pesan-pesan yang bersifat profetik, yang berasal dari Allah sendiri.

PENERAPAN PRINSIP MAZMUR 62:12-13 DALAM MENGUJI PESAN-PESAN PROFETIK
Sebagaimana yang telah kita ketahui, setiap perkataan yang berasal dari Tuhan mengandung pernyataan kuasa maupun kasih-Nya. Sekali lagi: kuasa dan kasih ILAHI. Tidak dapat lebih rendah dari itu.

Berdasar ini, kita seharusnya dapat mengenali apakah suatu pesan profetik bersumber dari Tuhan atau bukan, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai :

1) KEMAHAKUASAAN TUHAN

Apakah di dalam pesan itu tercermin kemahatahuan-Nya, kemahahadiran-Nya dan pernyataan kemahakuasaan-Nya? Ataukah sekedar berisi pernyataan yang samar, kabur, penuh keraguan maupun tanpa dasar yang jelas?

Apakah ada pernyataan akan penghakiman, mengingat kekuasaan-Nya dipergunakan-Nya untuk menghakimi manusia dan menegakkan keadilan di atas bumi di antara umat manusia?

Apakah ada pernyataan yang memberikan penyingkapan akan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang di dalamnya? Atau hanya pernyataan-pernyataan indah namun tanpa hubungan yang jelas dan sesuai dengan kondisi yang lalu, sekarang maupun yang akan datang?

Apakah di dalamnya ada pesan yang membangkitkan kekuatan dan pengharapan,  mengingat Dia adalah Allah yang perkasa dan penuh kekuasaan dimana tak satupun perkara tak sanggup dilakukan-Nya?

Apakah pernyataan-pernyataan Tuhan itu menunjukkan Ia sebagai penguasa yang berdaulat atau justru menyerupai semacam ilah yang ingin memuaskan hasrat,  kemauan, keinginan dan perintah manusia?

Mengingat Dia adalah Allah yang berdaulat dan sangat berkuasa, adakah pesan bersifat perintah atau instruksi yang jelas serta mendesak pendengarnya supaya melangkah dalam ketaatan, menerapkan strategi-Nya, membayar harga atau bagian yang menjadi kewajiban mereka, alih-alih sekedar memberikan janji-janji yang memanjakan kita?

2) KEMAHAKASIHAN TUHAN

Adakah kita mendengar pesan yang mencerminkan kasih sayang, perhatian, cinta dan kesabaran-Nya, alih-alih perkataan yang hanya mendakwa, menuntut, menekan, yang menjadikan putus asa dan merasa terhukum?

Apakah kita mendapati suatu penghiburan dan janji pemulihan di dalamnya, apabila kita mau hidup di jalan-Nya?

Apakah kita merasakan suatu kasih ilahi, kasih Bapa sorgawi yang mendidik dan mengajar kita sebagai anak-anak-Nya daripada memanjakan dan memuaskan setiap ego atau ambisi kita yang mengejar kenyamanan hidup di dunia?

Apakah isi pesan tersebut akan menarik kita dengan kasih kepada-Nya sehingga kita mendekat dan kasih kita makin bertumbuh kasih kepada Tuhan, ataukah pesan itu sekedar suatu kata-kata indah namun kosong yang berfokus pada perkara lain (yang seringkali duniawi), yang lebij menarik perhatian dan cinta kita pada hal lain daripada kepada Tuhan?

Jika kita datang dengan hati yang bersih disertai hasrat akan kebenaran sejati, maka jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas (disatukan dengan prinsip-prinsip pengujian lainnya) seharusnya menolong kita melihat lebih jelas dalam memastikan setiap pesan apapun (khususnya pesan profetik yang secara khusus diklaim diterima dari Tuhan) berasal dari Tuhan secara murni, tercampur emosi dan pikiran manusia, atau sebagian besar maupun seluruhnya dari rekaan pikiran manusia.


SEBUAH STUDI KASUS: MIKHA BIN YIMLA

– Dalam 1 Raja-raja 22:1-40 dan 2 Tawarikh 18:1-34 dikisahkan momen saat raja Yehuda yang takut akan Tuhan, Yosafat, membuat perjanjian dan rencana untuk berperang bersama raja Israel yang fasik, Ahab. Keduanya pun sebelumnya telah menjadi besan satu sama lain. Yosafat yang terbiasa mencari Tuhan (2 Tawarikh 7:14) meminta untuk bertanya pada Tuhan lebih dulu. Maka Ahab pun mengumpulkan nabi-nabi di seluruh Israel. Empat ratus orang banyaknya datang berkumpul untuk bernubuat di hadapan kedua raja itu.

– Kesemua nabi-nabi yang dipanggil Ahab menubuatkan pesan yang sama:
“Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja” (1 Raja-raja 22:6). Bahkan salah seorang dari nabi-nabi itu, Zedekia bin Kenaana, dengan sangat lancang sembari membuat tanduk-tanduk besi berkata atas nama Yahweh, Allah Israel, “Beginilah firman TUHAN: Dengan ini engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka.” (22:11). Melihat keberanian Zedekia, nabi-nabi lain makin termotivasi lalu bernubuat lagi untuk saling meneguhkan dengan pesan bernada serupa. 1 Raja-raja 22:12 menyebutkan, “Juga semua nabi itu bernubuat demikian, katanya: “Majulah ke Ramot-Gilead, dan engkau akan beruntung; TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja”

Namun Yosafat meragukan mereka semua. Ia meminta nabi lain, yang dari Tuhan, katanya.

Pertanyaan :  mengapa Yosafat tidak teryakinkan dengan nabi-nabi yang sedemikian banyak dan saling meneguhkan satu sama lain bahwa Tuhan menghendaki Ahab maju berperang lalu meraih kemenangan?

– Kisah berlanjut. Oleh karena permintaan Yosafat, dipanggillah Mikha bin Yimla, seorang nabi yang disebut Ahab sebagai nabi “yang tidak pernah menubuatkan yang baik tentang aku”. Alkitab mencatat bahkan sebelum Mikha menghadap raja, utusan-utusan raja berpesan supaya Mikha menyampaikan ramalan yang baik-baik saja kepada raja. Namun Mikha menolaknya. Meski begitu, Mikha seolah mengejek Ahab ketika ia lebih dulu menyampaikan pesan yang sesuai keinginan raja dan senada dengan nabi-nabi sebelumnya. Tetapi Ahab sendiri pun tahu, Mikha tidak sedang benar-benar menyampaikan pesan Tuhan.

-Dan inilah pesan nubuat Mikha (bandingkan dengan pesan 400 nabi-nabi yang menubuatkan pesan sukses yang sama) :

Lalu jawabnya: “Telah kulihat seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala, sebab itu TUHAN berfirman: Mereka ini tidak punya tuan; baiklah masing-masing pulang ke rumahnya dengan selamat.”
Kata Mikha: “Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhta-Nya dan segenap tentara sorga berdiri di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya.
Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, yang lain berkata begitu.
Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Dengan apa?
Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian!
Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu.”
~ 1 Raja-raja 22:17, 19-23

Inilah yang disampaikannya pula kepada Zedekia yang menamparnya karena menubuatkan hal di atas:

Tetapi Mikha menjawab: “Sesungguhnya engkau akan melihatnya pada hari engkau lari dari satu kamar ke kamar yang lain untuk menyembunyikan diri.”
~ 1 Raja-raja 22:25

Juga inilah pesan terakhir yang disampaikannya kepada Ahab, ketika raja lalim itu memerintahkan supaya sang nabi ditangkap, dipenjarakan dan diberi makan minum air dan roti yang serba sedikit sampai ia pulang dengan selamat dari perang:

Tetapi jawab Mikha: “Jika benar-benar engkau pulang dengan selamat, tentulah TUHAN tidak berfirman dengan perantaraanku!” Lalu disambungnya: “Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian!”
~ 1 Raja-raja 22:28

Dari sini kita dapat membandingkan lalu membedakan manakah yang benar-benar merupakan pesan asli dari Allah sendiri dan mana pesan nubuatan yang palsu.

– Terlihat dan terasa bagaimana pesan-pesan dari nabi palsu hanya merupakan pesan yang timpang, berat sebelah, dari satu sisi saja, yang bersifat memuaskan ego dan kepentingan (politik maupun pribadi) sang raja. Meskipun tampak seperti janji penyertaan dan kemenangan dari Tuhan, tetapi Yosafat tahu ITU BUKAN SUARA ALLAHNYA!
Dari pesan nabi-nabi (palsu) yang banyak itu tidak terdapat karakter Allah yang seharusnya dapat dirasakan sama seperti saat mempelajari taurat dan pesan nabi-nabi sejati Tuhan.

Hal yang sebaliknya dengan nubuatan Mikha. Meskipun bukan seorang nabi yang terkenal di Alkitab, ia seorang hamba Tuhan dan nabi sejati. Ia menyampaikan pesan yang tajam, bercirikan suara dan pesan yang berasal dari Pribadi yang agung, kudus, penuh kuasa dan berdaulat bahkan atas nasib raja-raja sekalipun. Pesan Mikha menyatakan :

>kemahatahuan Tuhan (yang tampak dalam pernyataan mengenai kondisi Israel, atas kepemimpinan Ahab, penyingkapan alam roh bagaimana sebenarnya nabi-nabi palsu bernubuat dan pengetahuan ilahi yang gamblang akan nasib yang akan terjadi jika Israel berangkat berperang);

>kedaulatan Tuhan atas nasib manusia (yang dinyatakan mengenai nasib yang akan menimpa nabi palsu Zedekia dan kematian Ahab);

>perhatian dan pengetahuan Tuhan atas kondisi umat-Nya (dengan menyampaikan pesan peringatan supaya Israel tidak maju berperang karena akan kalah);

>kasih Tuhan yang mendidik, menghajar dan memperingatkan Israel melalui penyingkapan profetik yang demikian tegas dan keras agar mereka bertobat sehingga diluputkan dari malapetaka yang akan ditimpakan akibat dosa-dosa mereka itu
Keseluruhan pesan Mikha menunjukkan betapa Allah yang menitipkan pesan kepada Mikha sungguh-sungguh menyatakan karakter pribadi-Nya yang tampak dari isi pesan yang disampaikan. Sulit menyangkal bahwa pesan Mikha murni dari Tuhan. Sebaliknya, mudah meragukan pesan para nabi palsu itu benar-benar berasal dari Tuhan.

– Hal yang sama masih terjadi hingga kini. Jiwa-jiwa seperti Ahab yang penuh ambisi dan kepentingan diri, condong mencari dan menerima pesan dari nabi-nabi palsu. Mereka tidak suka akan pesan-pesan yang murni dan sejati dari Tuhan. Bahkan mereka, seperti Ahab, melangkah begitu jauh dengan secara langsung atau tidak langsung meminta pesan-pesan yang menyenangkan hati dan melenakan telinga supaya setiap harapan dan tujuan mereka seakan memperoleh peneguhan dan restu yang berujung berkat-berkat Tuhan bagi mereka.

PELAJARAN BERHARGA MENGENAI PELAYANAN PROFETIK

– Dari kisah nabi Mikha di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan penting mengenai pelayanan profetik:

1) Tidak selalu pesan profetik yang menyampaikan pesan yang sama, dan yang disampaikan oleh sekian banyak orang yang saling bernubuat dan saling meneguhkan pesan profetik satu sama lain pasti merupakan pesan yang sejati dari Tuhan. Hal ini terbukti dari pesan-pesan kedatangan Tuhan kedua kali yang banyak dinubuatkan orang dari seluruh penjuru dunia, nyatanya tidak pernah terjadi sehingga menjadi suatu aib yang merusak reputasi pelayanan profetik;

2) Sekalipun hanya satu orang saja yang menyampaikan pesan profetik, bisa jadi itu yang benar-benar pesan yang benar dan murni dari Tuhan. Kebenaran dan ketepatan pesan dari Tuhan ditentukan dari isi pesan itu, BUKAN dari banyaknya orang yang menubuatkan hal yang sama yang kemudian dianggap sebagai pesan yang dari Tuhan karena banyak yang meneguhkan;

3) Tidak selalu apa yang disebut sebagai “nubuatan”, yang diklaim sebagai suatu pesan Tuhan yang dipercayakan kepada seseorang, benar-benar merupakan pesan dari Tuhan.
Sangatlah mungkin itu hasil dari pikiran manusia, atau hasil dari seseorang yang sepertinya mendengar suara dari alam roh lalu menyimpulkannya sebagai dari Tuhan (padahal dari roh dusta yang berbicara kepadanya) atau bisa juga itu merupakan suatu pesan yang belum jelas lagi matang tetapi disimpulkan dan diolah sendiri menurut pikiran dan pandangan pribadi lalu mengklaimnya sebagai suatu pesan yang berasal dari Tuhan.
Di sini kita bisa melihat bahwa sumber-sumber pesan profetik yang keliru dan bukan dari Tuhan bisa berasal dari : pikiran sendiri, suara roh jahat yang menyesatkan (iblis yang menyamar sebagai malaikat terang), pengungkapan profetik yang sepenggal-sepenggal lalu disimpulkan sendiri, atau campuran dari dua atau tiga sumber tersebut;

4) Orang yang terbiasa berjalan bersama Tuhan dan sungguh-sungguh mencari Tuhan, tidak sukar mengenali suatu pesan itu berasal dari Tuhan atau dari sumber-sumber yang lain. Dalam kisah Mikha, Yosafat sebenarnya tahu mana pesan yang berasal dari Tuhan, namun ia mengeraskan hatinya dengan maju berperang. Ketika pesan Tuhan datang melalui nabi lain bahwa Tuhan murka pada sang raja, Yosafat menerima dengan hati terbuka dan bertobat (2 Tawarikh 19:1-3) yang menunjukkan bahwa ia menyesal tidak mendengarkan pesan Tuhan melalui nabi Mikha;

5) Pesan Tuhan selalu mencirikan posisi dan otoritas-Nya sebagai Allah yang berkuasa, yang mengasihi umat-Nya dan merindukan mereka mencari kedekatan dengan Dia serta hidup dalam rencana kehendak-Nya. Itu sebabnya pesannya selalu merupakan pesan yang menyadarkan, mendidik, dan mengarahkan umat atau hamba-Nya kepada jalan kebenaran serta kehendak-Nya. BUKAN SEKEDAR PESAN-PESAN YANG TERDENGAR MENYENANGKAN DI TELINGA, MEMBAKAR SEMANGAT SERTA MOTIVASI ATAU YANG  MEMBERIKAN HIBURAN PALSU TANPA DESAKAN AKAN PERUBAHAN DAN MEMBAYAR HARGA KETAATAN.

6) Dari sikap Ahab bahkan Yosafat, kita tahu bahwa kecenderungan manusia adalah mengabaikan pesan-pesan sejati yang dari Tuhan; lebih suka menuruti langkah dan rencana mereka sendiri daripada dengar-dengaran akan Tuhan dan berlaku taat akan peringatan dan perintah Tuhan itu. Terhadap kecondongan sikap hati ini seharusnya kita waspada dan rajin memeriksa diri supaya tidak menggenapkan tabiat manusia yang tegar tengkuk ini.

7) Mengamati apa yang terjadi pada Mikha, yang tampaknya mengalami perlakuan dan nasib yang sama dengan semua nabi sejati dari Tuhan, maka kita setidaknya dapat mengenali bahwa pembawa pesan Tuhan sejati kerapkali mengalami penolakan yang hebat dan dipandang rendah oleh banyak orang ketimbang diterima, disukai dan dipuji-puji orang. Suatu hal yang jarang dialami nabi-nabi palsu.

8) Penolakan terhadap pesan profetik sejati akan dinilai Tuhan sebagai penolakan terhadap Tuhan sendiri yang akan melakukan pembalasan yang setimpal pada setiap orang atau bangsa yang menolak mendengarkan Dia. Sebaliknya penerimaan terhadap pesan profetik sejati akan menambahkan kasih karunia yang diperlukan untuk seseorang atau suatu bangsa berjalan dalam melaksanakan kerinduan-Nya itu.


KESIMPULAN

Membedakan suara Tuhan dapat dilakukan dengan meneliti pesan nubuatan yang disampaikan itu: apakah mencirikan dua hal yaitu kemahakuasaan dan kemahakasihan Tuhan, yang akan melakukan apapun yang menjadi keputusan kehendak-Nya atas nasib manusia. Pesan itu merupakan pesan yang penuh kuasa namun sekaligus juga merupakan nasihat yang diberikan oleh karena kasih yang besar.

Pesan Tuhan tidak pernah datang dengan satu wajah atau satu sisi. Hanya penghakiman atau hanya penghiburan. Ada teguran, peringatan dan hajaran namun juga ada penghiburan, janji pengharapan dan berkat jika kita hidup dalam kehendak-Nya itu. Sebab : “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula” (Ayub 5:17-18)

Kiranya Roh Kudus menolong kita dan memberikan hikmat serta pewahyuan-Nya bagi kita semua untuk membedakan dan memastikan mana yang merupakan suara Tuhan bagi kita.

SALAM REVIVAL!
INDONESIA PENUH KEMULIAAN TUHAN

SERI PENGAJARAN TERKAIT MENGUJI NUBUAT :

POKOK-POKOK DALAM MENGUJI NUBUATAN (Bagian 3) LANGKAH PENGUJIAN 2 : KESAKSIAN ROH KUDUS DALAM KITA

Oleh Peter B, MA
ROH KUDUS PENOLONG KITA
 – Kepada kita dikaruniakan Roh Kudus untuk memimpin kita dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13)
– Sebutan-Nya adalah Penolong dan Roh Kebenaran (Yohanes 14:16; 16:13) , yang menyiratkan bahwa Roh Allah sendiri yang akan menuntun kita langkah demi langkah sepanjang jalan menuju ke sorga, menyertai dan menolong kita menjadi saksi-saksi Kristus selama hidup di dunia (Kisah Para Rasul 1:8)
– Ia juga disebut Roh hikmat dan wahyu, yang menuntun kita pada pengenalan yang benar akan Allah dan menyingkapkan rahasia-rahasia ilahi yang belum kita ketahui pada kita (Efesus 1:17-20)
– Roh Kudus menolong kita menyampaikan doa dan permohonan dengan tepat sesuai apa yang ada di hati kita. Intinya, ketika kita berdoa dengan pertolongan-Nya, maka kita pasti akan menaikkan doa secara tepat dan benar di hadapan Tuhan (Roma 6:26)
– Roh Kudus juga yang bersaksi dan meyakinkan kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Ketika kita percaya, kita mendapat kedamaian, ketenangan dan keteguhan oleh karena Roh Kudus ditaruh berdiam dalam kita, meyakinkan roh kita bahwa kita telah dilahirkan kembali, menjadi manusia baru dan kini menjadi waris kerajaan sorga, menjadi anak-anak Bapa di sorga (Roma 8:16-17).
– Lebih dari segala guru/pengajar lain dalam hidup kita, Roh Kudus lah yang terutama sebenarnya mengajar kita untuk mengenali suara Tuhan dan membedakan mana ajaran yang dari Tuhan dan yang berasal dari sumber-sumber lainnya. Dialah yang dimaksud oleh rasul Yohanes dalam surat 1 Yohanes 2:20 dan 27 sebagai “pengurapan dari Yang Kudus” yang akan mengajar kita dan menolong kita membedakan mana sejati dari Tuhan dan mana yang bukan. 
PEKERJAAN ROH KUDUS YANG MENOLONG KITA MENGUJI DAN MEMBEDAKAN SUARA TUHAN 
1) Roh Kudus selalu membawa pengenalan akan Yesus. Dimana ada pekerjaan Roh, pastilah nama Yesus diakui dan ditinggikan sebagai Tuhan (1 Yohanes 4:2-3; 5:6; Yohanes 15:26, 1 Petrus 1:11; Wahyu 19:10). Setiap pesan yang mengaku dari Tuhan tidak dapat diterima secara langsung begitu saja. Roh Kudus dalam kita akan menunjukkan kepada kita apakah pesan tersebut memuliakan pribadi Kristus ataukah figur manusia, suatu pelayanan atau organisasi tertentu, golongan atau pengajaran tertentu, menyarankan kebaikan dan kehebatan manusia atau hal-hal lain di luar Kristus. 
2) Roh Kudus berbicara mengenai hal-hal yang sorgawi dan bukan hal-hal duniawi;  akan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kolose 1:1-2).  Itu sebabnya pendengar dan peminat-Nya hanyalah orang-orang rohani, yang mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, yang sepenuh hati mengikut Yesus. Mereka yang tidak gemar akan perkara rohani, yaitu pengenalan akan Allah, tidak mungkin akan mendengar dari Roh Kudus. Dengan demikian untuk dengar-dengaran akan suara Roh Kudus, pertama-tama kita harus rindu dan haus akan hal-hal yang dari Tuhan khususnya yang terkait pertumbuhan rohani dan hubungan kita dengan Tuhan, bukan justru bergairah akan perkara-perkara yang dari dunia ini (1 Korintus 2:14; 1 Yohanes 4:5-6). Pesan-pesan nubuatan sejati akan membawa pesan-pesan dari Kerajaan Allah. Yang pertama-tama bersifat rohani dan kemudian berdampak pada alam jasmaniah. Bukan kebalikannya. Pesan-pesan yang menekankan semata-mata pada hal-hal yang berkenaan dengan materi, keduniawian dan kemegahannya, hampir dapat dipastikan bukan berasal dari Roh Tuhan sendiri. 
3)  Roh Kudus juga meneguhkan pesan-pesan pengajaran maupun nubuatan yang menyatakan kemerdekaan dan melepaskan secara rohani (Roma 8:14-15; 2 Korintus 3:17) ketimbang pesan-pesan yang membelenggu atau mengikat seseorang, kuat terkesan menakut-nakuti, atau yang menolak, merendahkan sesama maupun yang mengandung kebencian terhadap orang atau kelompok tertentu lebih daripada atas kesalahan atau dosa mereka.  Ia adalah Roh yang membangkitkan kuasa, kasih dan penguasaan diri (2 Timotius 1:7) dan itu pula sebabnya Ia akan meneguhkan dan meyakinkan pesan-pesan yang menyampaikan akan kasih dan kuasa Tuhan, dengan pernyataan-pernyataan yang tegas tetapi tidak lepas kendali. Intinya pesan Tuhan merupakan suatu pernyataan yang penuh wibawa, terasa kasih di dalamnya,  dan meskipun ada emosi-emosi Tuhan di dalamnya, tidak akan didapati pernyataan yang sembrono, terburu-buru atau bernada kecemasan, kepanikan apalagi ketakutan. 
4) Roh Kudus, sesuai dengan namanya, akan mengkonfirmasi pesan-pesan yang membawa umat Tuhan kepada kekudusan, bukan kepada pembolehan akan hal-hal yang melawan Tuhan dan kompromi dengan dosa. Pesan-pesan nubuat yang bersifat menghibur kedagingan sekaligus membiarkan dosa bisa dipastikan bukan berasal dari Tuhan, yang akan ditolak melalui hati nurani yang terganggu karena pekerjaan Roh Kudus
5) Roh Kudus juga akan memberikan penerangan secara jelas melalui damai sejahtera yang kita rasakan di hati ketika mendengar suatu pesan yang diklaim atas nama Tuhan. Sebab pikiran yang berasal dari Tuhan menghasilkan hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6) sedangkan pikiran kedagingan akan berakibat kematian. Yang dimaksud hidup dan kematian di sini adalah kehidupan dan kematian rohani. 
Pesan sejati dari Tuhan membawa kehidupan dan ditandai dengan adanya ketenteraman yang besar di hati kita, yang lahir bukan karena disandarkan pada rasa aman akan hal-hal di dunia ini tetapi dari kesan yang kuat dan meyakinkan di hati, yang dikenali sebagai suara Roh Kudus, yang kian lama kian jelas ketika kita sudah terbiasa mengikuti pimpinan-Nya waktu demi waktu.
Jika kita benar-benar dipimpin Roh, kita tidak akan terlalu lama untuk mengetahui dan membedakan mana pesan Tuhan yang sejati dan yang bukan. Inilah yang dimaksud domba-domba Tuhan mengenal suara Sang Gembala Agung karena Roh Kuduslah yang memberitahukan dan meneguhkannya dalam rupa suatu kesaksian di dalam hati. 
HAL-HAL PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN DAN DIUSAHAKAN SUPAYA DAPAT MENGENALI KESAKSIAN ROH KUDUS DI HATI KITA 
1) Membiasakan diri mengambil waktu untuk mencari Tuhan serta bertanya kepada-Nya sebelum memutuskan suatu tindakan atau menyimpulkan suatu pandangan tertentu. Juga setelah merasa ada suatu kesan di hati, kita seharusnya mengambil waktu untuk merenung dan menguji yang kita rasakan di roh kita itu. 
2) Sikap hati dan hidup kita kepada Roh Kudus menentukan seberapa kuat Roh Kudus berbicara dan dikenali suara-Nya oleh kita. Itu sebabnya dikatakan bahwa jika kita ingin mengetahui kehendak Tuhan, sudah seharusnya dipenuhi Roh Kudus (Efesus 5:17-:8). Juga, dalam menguji nubuatan, kita tidak seharusnya memadamkan Roh, yang berarti menutup dan menghalangi pekerjaan atau pengaruh Roh Kudus dalam kita (1 Tesalonika 5:19-21). Tidak selayaknya kita menduakan Roh Kudus yang menuntun kita dalam kebenaran (Efesus 4:30). Yang dengan melakukan itu, kita akan kehilangan kepekaan akan suara-Nya karena kita terbiasa mengabaikan-Nya. 
3) Jika kita rindu akan kesaksian Roh Kudus secara kuat di hati, sudah seharusnya kita belajar berjalan dalam pimpinan-Nya setiap hari di waktu demi waktu (Galatia 5:16,18). Dengan belajar taat saat ada gerakan yang menuntun kita mendekat dan makin mengenal Tuhan, kita akan terbiasa mengenali desakan atau dorongan tersebut sebagai Roh Kudus yang berbicara kepada kita. Sesungguhnya, inilah masalah terbesar banyak anak Tuhan yang kesulitan membedakan mana pimpinan Tuhan dan mana yang bukan. Banyak yang ingin tahu mana pesan nubuatan yang benar dan mana yang palsu tetapi dalam hidup sehari-hari bahkan mereka tidak mau bersusah payah membedakan tuntunan Tuhan secara pribadi dalam hidup mereka. Jika kita hidup semau kita sendiri, kita akan lebih banyak mendengar pikiran, perasaan dan kehendak sendiri alih-alih mendengar suara Tuhan. Fatalnya, jika kita merasa banyak tahu hal-hal rohani dan menjadi semakin agamawi daripada rohani, kita akan sering ditipu oleh hati kita sendiri yang memberikan peneguhan ayat-ayat Alkitab atas pikiran, perasaan dan kehendak sendiri dan menyangkanya atau menyebutnya sebagai suara dan pimpinan Tuhan. Proses yang sama dapat terjadi atas orang yang menyampaikan pesan nubuat atau yang mendengar suatu nubuatan. Ayat-ayat Alkitab yang dihafalkan seolah meneguhkan suatu nubuatan tetapi kesaksian Roh tidak dapat ditipu atau dipalsukan. Suara yang terdengar mirip tidak selalu suara dari sang pemilik aslinya. Itu sebabnya hubungan dan keintiman pribadi dengan Tuhan juga menjadi dasar penting untuk menguji sebuah pesan nubuatan. 
Contoh terbaik akan kesaksian Roh ini ialah penglihatan Petrus di atap rumah Simon. Penglihatan itu berupa berbagai jenis binatang  yang tampak di atas sebuah kain yang melayang turun ke hadapan Petrus (baca Kisah Para Rasul 10:9-16). Setelah itu, terdengar suara supaya Petrus menyembelih dan memakan binatang-binatang itu. Dari firman Tuhan dalam taurat yang ia ketahui, binatang-binatang tersebut tidak boleh dimakan karena termasuk binatang haram, maka tentu saja Petrus menolaknya. Tetapi suara itu kemudian menjawab bahwa apa yang dinyatakan halal oleh Tuhan tidak boleh dinyatakan haram. Itu terjadi hingga tiga kali banyaknya.
Dari sudut pengujian melalui firman tertulis (setidaknya yang dipahami Petrus), tentu penglihatan tersebut seharusnya tidak lulus uji karena bertentangan dengan bunyi taurat Tuhan. Namun Petrus tidak terburu-buru menolaknya KARENA IA TAHU ITU SUARA YANG SERING DIDENGARNYA. Itulah suara Roh Kudus yang bermaksud menyampaikan sesuatu pewahyuan baru, yang berhubungan dengan Injil yang hendak disampaikan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ujung dari penglihatan Petrus itu adalah pemberitaan Injil kepada seluruh keluarga Kornelius, seorang perwira Romawi yang kemudian menjadi buah sulung dari orang percaya yang bukan Yahudi. 
Contoh lain dapat kita temui dalam Kisah Para Rasul 16:6-7 dimana Paulus dan tim pelayanannya tidak memasuki daerah-daerah pelayanan tertentu karena dicegah oleh Roh Kudus. 
KESIMPULAN
– Roh Kudus diutus dan dikaruniakan kepada kita untuk menjadi penuntun dan pembimbing kita mengenal seluruh kebenaran sejati. Sangatlah penting dan mutlak untuk kita dapat membedakan mana yang berasal dari Tuhan dan yang bukan melalui dengar-dengaran akan suara-Nya
– Hanya mereka yang membayar harga berjalan bersama Roh Kudus waktu demi waktu yang akan mengenali suara dan kesaksian Roh di dalam hatinya sehingga karenanya semakin mudah mengenali mana pesan-pesan apapun yang berasal dari Tuhan dan mana yang bukan
– Kesaksian Roh Kudus di hati kita meneguhkan ketuhanan dan kedaulatan Tuhan Yesus Kristus, bermuatan kasih, suatu pesan yang penuh kuasa dan dengan bahasa yang jelas dan terkendali, dengan inti pesan untuk hidup kudus, benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Itu juga membawa kemajuan dan pertumbuhan rohani. Senantiasa membawa damai sejahtera, bukan kegelisahan, di hati kita.
– Kesaksian Roh ini penting bagi kita khususnya ketika tidak ada ayat-ayat Alkitab yang secara langsung menunjukkan langkah atau jalan yang harus kita ambil dalam situasi-situasi kehidupan yang sangat pribadi. Di sisi lain, melalui Roh Kudus yang memberikan konfirmasi bagi kita, kita dapat mengenali apakah pesan-pesan yang seolah dari Tuhan dan tampaknya cocok dengan ayat-ayat Alkitab yang kita ketahui itu sungguh-sungguh berasal dari Tuhan, atau tercampur pikiran manusia atau dipalsukan oleh si jahat.
Kiranya Roh Kudus menjadi prioritas pergaulan kita. 
Jadikan Ia sahabat terbaik Anda. Anda akan dituntun-Nya di jalan kebenaran dan di jalur yang dikehendaki Allah. 
Salam revival!
Dari hamba sahaya di ladang Tuhan. 

SERI PENGAJARAN TERKAIT MENGUJI NUBUAT:

POKOK-POKOK DALAM MENGUJI NUBUATAN (Bagian 2) LANGKAH PENGUJIAN 1 : KESELARASAN DENGAN PRINSIP-PRINSIP DALAM FIRMAN TERTULIS YANG MURNI DAN TERUJI

Oleh Peter B, MA
(Apa yang saya sampaikan di sini adalah pokok-pokok pikiran dan poin-poin penting mengenai menguji pesan-pesan nubuatan sesuai petunjuk dalam Alkitab. Pembahasan mendetail mengenai hal ini akan ditulis dalam sebuah tulisan terpisah yang dibagikan secara eksklusif di waktu-waktu ke depannya)
1) Tuhan memberikan hukum-hukum-Nya secara tertulis sebagai panduan dan petunjuk untuk mengenal Dia lebih lanjut (Yeremia 6:16; Mazmur 1:2-3; 119:14,27; Amsal 1:1-5)
2) Hukum-hukum tertulis diberikan sejak zaman Musa tetapi sebelumnya suara Tuhan dikenali secara turun temurun melalui pengenalan akan Tuhan yang diajarkan bapa leluhur pada generasi-generasi selanjutnya. Itulah sebabnya Nuh maupun Abraham tidak keliru mengenali suara Tuhan yang berbicara secara pribadi oleh sebab mereka telah belajar mengenali suara Tuhan dari bapa-bapa leluhur mereka (Kejadian 5:22,24; 6:9)
3) Hukum tertulis selanjutnya ditambahkan oleh para nabi dan hamba-hamba Tuhan lainnya yang menulis kitab demi kitab sesuai ilham Roh (Yohanes 21:24; Lukas 1:1-4; Kisah Para Rasul 1:1; 2 Timotius 3:16a)
4) Kitab-kitab yang diyakini sebagai pesan dan petunjuk dari Tuhan sendiri menjadi pedoman bagi umat Tuhan segala zaman untuk mengenali pimpinan dan petunjuk-Nya (2 Timotius 3:16-17)
5) Kita yang hidup dalam Perjanjian Baru memperoleh kasih karunia yang besar karena memiliki kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai petunjuk untuk menguji pesan-pesan profetik yang diklaim tuntunan langsung dari Tuhan atas situasi riil yang dihadapi umat Tuhan secara korporat, yang disampaikan melalui anggota-anggota tubuh Kristus yang dipercayai menyampaikan pesan-pesan nubuatan (2 Petrus 1:20)
6) Intinya, suara Tuhan dapat dinilai dari keselarasan akan prinsip-prinsip yang tersurat atau tersirat dalam firman-Nya yang telah dituliskan dan yang telah teruji sehingga digolongkan sebagai pedoman yang menuntun kita pada pengenalan akan Tuhan secara benar.
NUBUATAN TIDAK AKAN BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP-PRINSIP FIRMAN TUHAN YANG TERTULIS
– Tutur kata seseorang menyiratkan karakter dan sifatnya. Demikian pula perkataan Tuhan mengandung sifat dan karakter-Nya
– Karakter Tuhan dapat kita pelajari dan selami sewaktu kita membaca, merenungkan, meneliti dan menyelidiki firman tertulis (Alkitab) dengan hati yang tulus, murni dan dipimpin oleh Roh hikmat dan wahyu itu sendiri
– Kita akan mengenali apakah itu pesan atau suara dari seseorang yang kita kenal dari : (1) gaya bahasa yang dipakainya; (2) isi pesannya, yang mencerminkan pikiran, prinsip dan karakternya (3) jika kita mendengarnya secara langsung, itu akan juga dapat dikenali dari timbre (warna) suara, intonasi atau nada suara dan, gaya berbicaranya. Demikian pula ketika kita hendak mengenal suara atau pesan dari Tuhan, kita harus mengenali gaya bahasa-Nya, isi pesan-Nya yang sesuai dengan sifat-sifat-Nya lalu gaya berbicara yang seringkali dipakai oleh Tuhan dalam menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada para nabi di masa lalu sebagaimana terekam dan terdokumentasikan dalam Alkitab.
– Oleh karena itu, SANGAT PENTING supaya dapat melakukan pengujian dengan tepat, kita perlu terus menerus belajar akan jalan-jalan Tuhan, akan isi hati dan pikiran-Nya, akan sifat-sifat-Nya, akan apa yang disukai dan tidak disukai-Nya yang tersimpan dalam berbagai ayat-ayat Alkitab yang terdiri dari beraneka ragam tipe tulisan dari narasi, deskripsi, syair, amsal, catatan dan surat rasuli. Dan itu harus dilakukan dengan sikap rajin belajar, suka merenungkan dan menyelidiki ayat-ayat Alkitab dalam pimpinan Roh Kudus yang pasti akan menuntun kita pada jalan yang benar dan pada seluruh kebenaran
– Sebagai contoh, sebuah pesan nubuatan sejati akan selalu membawa pesan-pesan yang sama yang akan ditemukan dalam penafsiran yang sehat dan murni (bukan ditafsir sesuai keinginan hati atau selera sendiri, apalagi demi maksud dan tujuan yang mementingkan diri sendiri, lihat 2 Petrus 1:20) misalnya : mengenai iman, pengharapan dan kasih (sebagai kebalikan pesan yang berisi rasa takut, keputusasaan dan kebencian); mengenai kekudusan dan ketaatan (kebalikan dari pesan yang dosa, kecermatan dan pemberontakan); mengenai solusi atau jalan keluar (kebalikan dari pesan yang bersifat merendahkan, menjatuhkan atau membiarkan kita dalam kondisi sendirian tanpa pertolongan) dan seterusnya.
Dan yang lebih penting dan terutama dari semua, pesan-pesan nubuatan menuntun pada intisari pesan dari seluruh kitab suci kita yaitu Yesus Kristus. Dialah yang merupakan pusat dari segala sesuatu dan pusat dari kehidupan kita sebagai umat-Nya. Dialah yang selalu ada dalam setiap pesan dari pelayanan nubuatan yang merupakan karunia dari Roh Kudus dan Roh Kudus sendiri senantiasa memuliakan Yesus Kristus. Pesan nubuatan yang secara terang-terangan atau terkesan kuat meninggikan hal yang lain, seperti figur manusia, organisasi, hikmat manusia, kesalehan pribadi atau berfokus pada kekuatan harta, pengaruh duniawi atau pada kehebatan alam maupun ciptaan yang lain wajib diragukan sebagai pesan yang berasal dari Tuhan.
– Jadi, dalam menilai suatu pesan nubuatan, kita perlu selalu merujuk pada kitab suci: apakah ada pesan serupa itu tercantum di sana atau setidaknya tersirat di dalamnya. Itu sebabnya, ADALAH SANGAT MENDASAR DAN PENTING kita mengenali dan memegang penafsiran yang sehat, seimbang, murni dan yang berasal dari hikmat Tuhan (sebagaimana yang disebutkan ciri-cirinya dalam Yakobus 3:13-:8) sebab apabila itu hendak digunakan menilai sebuah nubuatan maka ia akan menjadi sarana yang seharusnya untuk hasil yang tepat pula, sesuai dengan maksud dan kehendak Tuhan.
Sebagai contoh ekstrem: jika kita menerima tafsiran bahwa nubuatan sudah tidak ada lagi karena sudah berakhir di zaman para rasul, maka semua pesan nubuatan pada hari ini akan ditolak, dianggap fiksi atau dusta bahkan dipandang berasal dari kuasa gelap.
Contoh lain. Jika tafsiran yang kita percayai adalah tentang Tuhan yang hanya berbuat apa yang menyenangkan dan menjadikan manusia nyaman, menolak segala bentuk kekerasan dan keadilan Tuhan serta bahwa Ia dapat murka dan menghajar bahkan menghukum umat-Nya yang telah menyimpang dari jalan-Nya, maka nubuatan-nubuatan yang bersifat memperingatkan, menegur, bahkan menghakimi dosa-dosa umat Tuhan dengan keras akan ditolak sebagai pesan yang bukan berasal dari Tuhan, tetap dari hati yang penuh kebencian, suka menghakimi dan tidak memiliki iman.
SEKALI LAGI, TENTANG PENTINGNYA HATI SEORANG MURID
– Oleh karena diperlukan suatu pemahaman akan prinsip-prinsip Alkitab yang sehat dalam menguji sebuah nubuatan, sudah seharusnya kita mengusahakan diri tanpa lelah untuk belajar akan jalan-jalan Tuhan. Dan untuk melakukannya, hati seorang murid adalah syarat utama, jika bukan satu-satunya.
– Seorang murid tidak pernah merasa telah tahu atau sudah sampai pada pengetahuan yang sempurna. Lebih-lebih apabila yang menjadi Guru Agung kita ialah Tuhan sendiri, yang mengajar kita melalui Roh-Nya. Kita perlu terus memiliki hati yang lembut, rela belajar dan diajar, mau mendengar dan secara tulus menerima pengertian demi pengertian serta penyingkapan demi penyingkapan yang Tuhan berikan, yang bisa jadi belum pernah kita tangkap dan pahami sebelumnya. Tentunya setiap pengajaran yang sampai pada kita, juga akan diuji keselarasannya dengan ayat-ayat firman lainnya, yang jika ditambah dengan peran Roh Kudus atas hati kita yang telah dijaga dalam ketulusan dan dibersihkan dari segala kepentingan pribadi, akan kita rasakan apakah itu merupakan prinsip pengajaran yang murni atau bukan. Kesombongan mengumpulkan kepekaan kita akan suara Tuhan karena kita membatasi pengertian kita dengan pemahaman-pemahaman yang sempit, yang mungkin saja keliru atau jika mungkin benar, tidak memadai sebagai alat untuk menilai dan menilai.
– Ini menjelaskan mengapa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di zaman Yesus tidak memahami nubuatan mengenai Mesias yang sebenarnya telah hadir di hadapan mereka. Mereka telah merasa cukup mampu menentukan menurut pengetahuan dan penafsiran mereka akan siapa Mesias itu. Ironisnya, Mesias, Anak Allah yang hidup itu, kemudian hanya bisa dikenali oleh mereka yang adalah MURID-MURID-NYA (Matius 16:16). Itu sebabnya kita tidak akan pernah memperoleh pemahaman dan tafsiran yang tepat jika hati kita masih tertuju pada penafsiran manusiawi yang belum teruji dan bukan pada pencarian dalam keterbukaan akan pimpinan dan pengaruh ilahi (Matius 16:17).
– Sebagai salah satu contoh saja. Terkait pelayanan profetik, yaitu pelayanan yang terkait dengan karunia-karunia profetik seperti karunia bernubuat, karunia pengetahuan atau ma’rifat, karunia membedakan bermacam-macam roh, karunia mimpi dan menafsirkan mimpi atau karunia berbahasa roh yang ditafsirkan (yang setara dengan nubuatan) maka untuk memahaminya diperlukan suatu penyelidikan dan pendalaman baru tentang bagaimana karunia-karunia tersebut bekerja beserta seluk beluknya. Hal ini membutuhkan suatu rangkaian pengajaran khusus di bidang-bidang pelayanan semacam ini. Tanpa memahami bagaimana pelayanan profetik ini sesungguhnya, kita masih akan selalu rawan menangkap pesan-pesan profetik yang tidak murni berasal dari Tuhan.
– Dengan hati seorang murid pula, setiap anak Tuhan yang mendengar atau membaca pesan profetik atau menerima pesan secara profetik secara pribadi dari Tuhan wajib mencari kesejajaran dan keselarasan apa yang diterima dan didengarnya itu dengan prinsip-prinsip Alkitabiah. Ini bukan mencari-cari atau memaksakan suatu ayat tertentu untuk meneguhkan suatu pesan profetik tetapi memastikan bahwa yang diterimanya itu memang sesuai dengan apa yang terdapat dalam kitab suci.
Perbedaannya: yang mencari peneguhan dari ayat menunjukkan suatu posisi yang bahwa pesan profetik yang diterimanya telah tepat sehingga mencari pembenaran dari Alkitab tetapi mereka yang melakukan pemeriksaan atau pengujian terhadap pesan yang diterimanya, itu berawal dari asumsi bahwa yang diterimanya masih perlu diuji dan diperiksa kembali apakah itu benar-benar pesan dari Tuhan atau dari sumber lain (seperti misalnya dari pikiran dan hati sendiri atau bisikan roh-roh lain). Yang satu merasa telah tahu dan benar, yang lain merasa harus belajar dan mencari tahu lebih lagi di hadapan Tuhan. Yang satu angkuh dan puas diri rohani, yang lain merendahkan diri dan rindu penyingkapan lebih lagi
KESIMPULAN
– Suatu pesan nubuatan akan selalu selaras, sejiwa dan mempunyai benang merah dengan prinsip-prinsip dalam Alkitab yang sudah teruji (yaitu yang telah ditafsirkan secara sehat) sebelumnya. Ketidakcocokan suatu nubuatan dengan apa yang tersurat dan tersirat di Alkitab patut membuatnya diragukan sebagai pesan yang benar-benar dari Tuhan
– Beberapa sebab utama mengapa orang gagal mengenali suatu pesan nubuatan berasal dari Tuhan adalah karena terbatasnya pengetahuannya akan prinsip-prinsip firman yang seringkali diperparah oleh ketidaksediaannya untuk belajar dan memiliki hati seorang murid.
Ini serupa dengan seorang anak TK yang memberikan komentar dan penilaian atas pemikiran dan pandangan kakaknya yang seorang mahasiswa. Hasilnya sudah jelas tidak akurat, hanya sebagian kecil saja yang benar, serta terasa menggelikan bagi orang-orang dewasa
– Menguji nubuatan dimulai dengan mempelajari nubuatan tersebut untuk menemukan adakah yang sesuai atau tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitabiah. Jika ada yang tidak sesuai, selayaknya itu dapat dikomunikasikan dengan sang penyampai nubuatan. Jika itu tidak dimungkinkan, ada baiknya kita boleh mengabaikan nubuatan tersebut sebagai pesan yang tidak murni berasal dari Tuhan, yang tidak perlu ditanggapi lebih lanjut sampai semuanya menjadi lebih jelas.
Kiranya kepada kita diberikan hati seorang murid dan dimampukan menguji segala sesuatu sesuai perintah Tuhan!
Salam revival!
Hamba sahaya di Ladang Tuhan

POKOK-POKOK DALAM MENGUJI NUBUATAN (Bagian 1) 3 TIGA PRINSIP DASAR SEBELUM MULAI MENGUJI

Oleh Peter B, MA
(Apa yang saya sampaikan di sini adalah pokok-pokok pikiran dan poin-poin penting mengenai menguji pesan-pesan nubuatan sesuai petunjuk dalam Alkitab. Pembahasan mendetail mengenai hal ini akan ditulis dalam sebuah tulisan terpisah yang dibagikan secara eksklusif di waktu-waktu ke depannya)
MENGUJI NUBUATAN ADALAH PERINTAH TUHAN DAN TANGGUNG JAWAB KITA
1) Kita diperintahkan untuk menguji segala sesuatu (1 Yohanes 4:1; Efesus 5:9-10)
2) Kita diperintahkan bukan untuk menolak atau memandang nubuatan tidak berlaku, tetapi dipanggil untuk menguji nubuatan-nubuatan itu (1 Tesalonika 5:19-21)
3) Tuhan ingin supaya kita mengusahakan mencari kehendak-Nya (Efesus 5:17) dan Tuhan menyatakan kehendak-Nya, salah satunya, melalui karunia dan pelayanan bernubuat (1 Timotius 1:18; 4:14)
4) Nubuatan yang tidak teruji berpotensi menyesatkan dalam level pribadi maupun secara korporat bahkan hingga seluruh bangsa (1 Raja-raja 22:1-40; Yeremia 23:30-40)
5) Nubuatan yang teruji akan membawa pribadi atau korporat masuk dalam kehendak dan rencana Tuhan yang sempurna sehingga terjadi terobosan di alam rohani yang berdampak pada alam jasmani (Kisah Para Rasul 11:27-30; 13:1-3)
3 PRINSIP DASAR SEBAGAI LANGKAH AWAL YANG SANGAT KRUSIAL DALAM MENGENALI KEOTENTIKAN SEBUAH NUBUATAN
1) PRINSIP PERTOBATAN, HIDUP BAGI TUHAN DAN MENGASIHI TUHAN
Hidup yang lebih dahulu diserahkan dan dipersembahkan kepada Allah, meninggalkan pola pikir duniawi, mengalami pertobatan dan pembaharuan pola pikir dari waktu ke waktu menjadikan diri kita terbuka akan pengaruh dan pimpinan ilahi karena kita jauh lebih sedikit dipengaruhi keinginan duniawi atau semakin tidak terbiasa dengan pola pikir duniawi (Roma 12:1-3)
– Pikiran dan logika kita harus diubahkan supaya bisa memahami logika ilahi (1 Korintus 1:18-25)
– Pikiran duniawi mengenali jalan-jalan dunia ini. Pikiran Kristus mengenali pikiran Kristus dan jalan-jalan Tuhan (1 Korintus 2:16; Filipi 2:5)
– Mengenali suara Tuhan dan mengetahui kehendak Tuhan yang disampaikan melalui nubuatan sebenarnya sama dengan belajar mendengar suara dan kehendak Tuhan secara pribadi. Sebab keduanya sama-sama mengenali dan memastikan bahwa yang berbicara kepada kita secara pribadi atau melalui orang lain yang bernubuat adalah Tuhan sendiri (Roma 12:3)
– Merelakan dan merendahkan diri untuk belajar, memiliki hati seorang murid merupakan sesuatu yang vital dan mendasar (Matius 11:28-30; Mazmur 119:71,73; Yesaya 50:4). Demikian pula untuk hidup mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan (Matius 22:37; Markus 12:30). Tanpa itu semua, kita selalu akan memprioritaskan dan memilih pesan-pesan rohani yang menyenangkan dan sesuai dengan kondisi, keamanan dan kenyamanan kita, yang dengan demikian menutup pintu dan segera menolak pesan-pesan yang tidak cocok dengan pikiran dan pandangan kita yang masih fokus pada diri kita sendiri.
– Mencari dan memikirkan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya adalah prioritas utama kita (Matius 6:33, Kolose 3:1-3). Dengan cara demikianlah kita dapat mengetahui lebih jelas mana yang merupakan jalan-jalan Tuhan yang adalah kebenaran sejati dan mana yang bukan.
– Sebelum kita benar-benar rela dan memberikan diri kita setiap hari menjadi seorang murid DAN MENYEDIAKAN DIRI HIDUP DALAM JALAN-JALAN-NYA SERTA MELAKUKAN KEHENDAK-NYA, kita akan selalu mudah jatuh dalam sikap maupun dosa kesombongan, yaitu merasa tahu seluruh kebenaran dan menolak ketika Tuhan berbicara mengenai suatu kebenaran sejati yang belum pernah kita ketahui sebelumnya (Kisah Para Rasul 10:1-24). Itu jualah yang akan menghalangi kita memahami apakah suatu pesan berasal dari Tuhan atau bukan.
– Hati yang tertuju pada Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya menjadikan kita siap menerima apapun yang Tuhan hendak sampaikan dan perintahkan kepada kita. Sebaliknya, hati yang tidak tertuju pada Tuhan dan kehendak-Nya untuk hidup dalam jalan-jalan-Nya, akan terus meragukan pesan-pesan murni dari Tuhan yang menghendaki kita menaatinya.
2) PRINSIP HUBUNGAN PRIBADI DENGAN TUHAN
Hubungan pribadi dengan Tuhan yang dilanjutkan dengan suatu gaya hidup yang bergaul dengan Tuhan menjadikan kita semakin jelas, peka dan terbiasa dengan suara dan cara Tuhan berbicara
– Bertujuan belajar mengenal suara Tuhan sebab hanya dengan orang yang bergaul karib atau memiliki hubungan dekat, kita dapat mengenali warna suaranya dan gaya bahasanya (Mazmur 25:9,12,14)
– Domba-domba belajar mengenal suara gembalanya sehingga tidak keliru mengikuti pimpinan sang gembala (Yohanes 10:14,27)
– Tuhan masih berbicara kepada kita secara pribadi hingga kini. Melalui berbagai cara dan media. Bahkan sebenarnya lebih dahsyat daripada masa sebelumnya. Jika Ia tidak lagi berbicara, maka tidak perlu kita mengadakan dan menjalin hubungan dengan Dia. Sebagai contoh, kita dapat melihat di akhir masa para rasul, Tuhan masih berpesan kepada gereja-Nya (Wahyu 2-3). Roh Kudus diutus untuk memimpin kita dalam seluruh kebenaran dan hal-hal yang akan datang sesuai rencana Allah (Yohanes 16:13)
– Bukankah mengherankan jika orang-orang Perjanjian Lama mendengar Tuhan berbicara dan tidak keliru, mengapa kita yang ada dalam Perjanjian Baru yang telah menerima pencurahan dan didiami Roh Kudus, tak lagi merasakan dan mendengar Tuhan berbicara? Mengapa pula kita menjadi takut untuk keliru sedangkan kita punya panduan Kitab Suci yang memberikan petunjuk yang sangat limpah pada kita mengenai Tuhan kita?
– 1 Samuel 23:1-5; 2 Samuel 2:1-4; 2 Samuel 5:17-25 menunjukkan bahwa Tuhan berbicara secara pribadi terkait hal-hal yang praktis yang memerlukan pimpinan Tuhan secara langsung, bukan hanya melalui taurat atau firman tertulis pada waktu itu yang hanya petunjuk-petunjuk tentang hal rohani secara umum yang diperuntukkan bagi seluruh umat Tuhan
– Di sisi lain, Daud menerima pesan kehendak Tuhan yang disampaikan oleh nabi Natan (1 Samuel 7:1-17) yang menunjukkan bahwa selain mendengar secara pribadi, kita dapat mengetahui kehendak Tuhan melalui pesan-pesan nubuatan dari mereka yang Tuhan urapi menyampaikan pesan dari-Nya
– Seharusnya kita telah cukup berpengalaman mendengar suara Tuhan secara pribadi dan menguji serta memastikannya berasal dari Dia, sebelum kita bermaksud menguji suara Tuhan yang disampaikan oleh orang lain. Pengenalan kita akan bunyi dan bahasa yang digunakan Tuhan akan menolong kita mengenali lebih mudah dan lebih cepat suara Tuhan yang sejati.
3) PRINSIP HATI YANG BERSIH
Hati yang bersih dari segala ego, kepentingan,tujuan dan maksud-maksud demi kepentingan pribadi membuat hati dan pikiran kita jernih dan mudah menerima pesan Tuhan secara apa adanya
– Hati yang motifnya tidak murni cenderung mendengarkan apa yang ingin didengarkannya daripada mendengarkan apa yang didasari fakta dan yang merupakan kebenaran. Hati seringkali begitu licik dan dapat menipu kita (Yeremia 17:9). Lebih-lebih jika diliputi pengaruh kuasa-kuasa kegelapan (Yohanes 13:2; Kisah Para Rasul 8:18-24)
– Hati yang mengasihi dan mengabdi pada Tuhan saja yang dapat mendengar dengan jelas mana yang berasal dari Tuhan dan mana yang bukan (lihat Yohanes 7:14-18)
– Hati yang menginginkan hal-hal dan tertuju bukan kepada kehendak Allah dapat menjadi saluran bagi sumber yang lain, yaitu emosi, pikiran, kehendak pribadi maupun kehendak roh-roh jahat
– Karena sifat manusia yang kerap merasa dirinya benar, maka kita dapat salah menangkap apa yang ada di pikiran dan di hati kita sebagai sesuatu yang keliru atau tidak tepat. Dan karena manusia seringkali mencari keuntungan dan kepentingan pribadinya, maka apabila ia tidak sungguh-sungguh bebas dari kepentingan dirinya, Tuhan dan firman-Nya dapat dijadikan dasar alasan sebagai pembenar dan bahwa yang dirasakannya dalam hati itu sebagai suara dan kehendak Tuhan.
– Seperti menggunakan kaca mata dengan warna tertentu, dimana hasil dari penglihatan kita akan diwarnai oleh warna lensa kaca mata kita yang berwarna itu, begitu pula ketika kita mendengar suatu pesan firman atau nubuatan dengan sudut pandang kepentingan kita sendiri. Kita tidak bisa memperoleh kejelasan dan kejernihan dari pesan Tuhan itu.
– Singkatnya, jika hati kita tidak benar-benar bersih dari kepentingan dan keinginan sendiri, pada saatnya, kita dapat disesatkan atau menyesatkan orang lain dengan menerima atau menyampaikan pesan nubuatan yang benar di pandangan kita sendiri dan yang bersesuaian dengan tujuan-tujuan kita sendiri. Yeremia 6:13-14; 14:13-14 menunjukkan betapa banyak umat Tuhan yang mudah dikelabui oleh nabi-nabi palsu dengan pesan nubuatan, penglihatan dan rekaan mereka. Oleh karena apa? Karena banyak orang lebih suka prediksi dan nubuatan yang menyampaikan hal-hal yang baik, yang menyenangkan hati dan telinga pendengarnya.
– Jika kita bermaksud menguji suatu nubuatan, introspeksi diri menjadi suatu dasar persiapan yang merupakan keharusan dan keniscayaan agar kita tidak tertipu oleh hati kita sendiri. Hanya dengan kejujuran diri sendiri menilai apakah kita netral, bening, transparan dan tidak dicemari kepentingan-kepentingan kita pribadi sehingga kita berhenti dari fokus dan mendengar apa yang ingin kita dengar saja, maka kita dimampukan mengenali secara jelas itu merupakan suara dan pesan dari Tuhan.
KESIMPULAN
– Menguji pesan-pesan nubuatan yang pada umumnya selalu diklaim berasal dan diterima dari Tuhan sendiri membutuhkan suatu kondisi yang tepat dan siap untuk mengenali dan memastikannya.
– Tanpa kondisi awal yang tepat dan tanpa dasar-dasar yang benar, maka kemungkinan besar pengujian hanya merupakan sesuatu yang membuang-buang waktu saja bahkan bisa berpotensi semakin menyesatkan diri kita sendiri oleh sebab meleset dalam menafsir suatu pesan profetik. Yang bukan berasal dari Tuhan akan kita terima sebagai pesan dari Tuhan tetapi yang sesungguhnya merupakan isi hati Tuhan kita tolak sebagai sesuatu yang salah dan sesat.
– Faktor kerohanian kita (penyerahan hidup, hubungan pribadi dengan Tuhan dan kejujuran pada diri kita sendiri di hadapan Tuhan) menentukan sejauh mana kita akan melangkah ke tahap selanjutnya : tahap-tahap menguji dan memastikan suatu pesan nubuatan dari Tuhan atau bukan.
Salam revival!