Arsip Kategori: the path

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 34

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB EMPAT BELAS
NABI

 Aku masih sangat terpengaruh oleh pertemuanku dengan Henokh sehingga aku membutuhkan waktu beberapa saat untuk menenangkan diri sebelum aku bisa berbicara.  Aku tahu apa yang akan kukatakan ini dapat membimbing mereka selama sisa hidup mereka.  Aku merasa seperti akan menunjukkan kepada mereka harta karun terbesar yang pernah ditemukan, dan aku ingin menyampaikannya sedramatis mungkin supaya membuat dampak sebesar-besarnya bagi mereka
 Aku tidak membutuhkan drama, dengan menabuh genderang, atau suara terompet.  Mark telah memberi tahu mereka bahwa aku akan kembali dengan pesan yang dapat membimbing mereka selama sisa hidup mereka, dan mereka sama fokusnya seperti yang pernah aku lihat sebelumnya.  Meskipun begitu, berada bersama Henokh telah membawa pengaruh terhadapku, dan mereka bisa melihatnya.  Hal ini menyebabkan mereka menjadi lebih menaruh perhatian lagi.
 “Kita telah berhasil berjalan sejauh ini tanpa makanan padat.  Bahkan dengan air hidup, kita tetap melemah setelah beberapa hari, dan tadi malam kita hampir kehabisan tenaga.  Hari ini, kita mulai memperoleh makanan padat yang tidak hanya akan menopang kita, tetapi yang akan menjadikan kita lebih kuat setiap hari.  Makanan kita adalah melakukan kehendak Bapa, dan sukacita Tuhan akan menjadi kekuatan kita.  Sukacita yang baru akan menjadi rekan pendamping kita, dan kita akan tumbuh dalam hal ini setiap hari agar kita tetap berada di jalan ini,” jawabku.
 “Tapi apakah ada makanan nyata yang akan diberikan kepada kita?”  tanya Mary yang lebih tua.
 “Ini lebih nyata daripada makanan apa pun yang pernah kaumakan,” kataku.  “Manna yang menopang Israel adalah jenis makanan ini.  Roti baru dari surga yang akan kita terima setiap hari mulai sekarang ini.”
 “Jadi, itu roti rohani,” kata Mary dengan nada yang mengolok secara alami.
 “Bukankah itu lebih baik dari apa pun yang bisa kita makan?”  aku membalas.
 “Kedengarannya bagus untukku!”  seseorang menyatakan, dengan persetujuan bahagia dari semua orang.  Aku kagum dengan betapa senangnya perasaan setiap orang.
 “Sekarang beritahu kami tentang pertemuanmu,” Mary menuntut, tidak bisa menahan kegembiraannya dan tersenyum seperti yang belum pernah aku lihat sebelumnya, “dan ceritakan lebih banyak tentang pesan mengenai sukacita Tuhan ini.”
 “Jelas sekali bahwa kalian telah menemukan sukacita Tuhan hari ini,” aku memulai.  “Aku baru saja bertemu orang paling bahagia yang pernah aku temui.  Aku baru saja bertemu dengan Henokh.”
 “Seperti apa dia?”  Mary menyela, masih belum bisa menahan diri.  Ini sedikit menggangguku, dan aku tidak percaya betapa cepatnya aku bisa kehilangan perasaan baik yang aku miliki setelah bersama-sama dengan Henokh.  Aku berhenti, bertekad untuk tidak bersikap tidak sabar, dan melanjutkan. “Dia tampak seperti sukacita yang dipersonifikasikan,” jawabku.
 “Tapi kupikir dia seorang nabi?”  seseorang berkomentar.  “Aku rasa aku belum pernah melihat orang yang melayani secara profetik dengan banyak sukacita.“
 “Kalau begitu, engkau pasti belum pernah melihat seorang nabi yang matang atau dewasa,” jawabku.  “Henokh adalah yang pertama yang tentangnya dikatakan bahwa ‘dia bernubuat’, dan dia adalah bapa dari para nabi.  Jika engkau dipanggil untuk pelayanan ini hari ini dan engkau menjadi dewasa sebagaimana mestinya, maka kau akan lebih seperti Henokh, dan dirimu akan menjadi salah satu orang paling bahagia di dunia.”
 “Henokh adalah suatu nubuatan, suatu pesan dari Tuhan.  Itu adalah pesan terpenting dari semuanya — kita dipanggil untuk berjalan bersama Tuhan.  Itu adalah pesan yang akan membuat kita tetap di jalan kehidupan. 
Di hadirat-Nya ada kepenuhan sukacita, dan sukacita yang datang dari berada bersama-sama dengan Dia adalah makanan yang memberi kita kekuatan yang lebih besar daripada makanan lainnya.“
 “Henokh memberimu tongkat gembala, bukan?” tanya Mark.
 “Ya,” jawabku.
 
“Itu dipotong dari sebuah pohon.  Apa dia memberitahumu tentang pohon itu? ”  Mark melanjutkan.
 “Benar ini berasal dari suatu pohon, tapi apa yang kamu ketahui tentang pohon itu?”  aku bertanya pada Mark.
 Aku telah melihat pohon dan tongkat gembala.  Itu adalah Pohon Kehidupan.  Otoritas seorang gembala berasal dari Pohon Kehidupan.  Buah dari pohon itulah yang menjadikanmu dapat memimpin umat Tuhan.  Ini adalah ‘taruk dari Isai’ yang melahirkan Kristus yang adalah hidup kita.  Dia adalah makanan itu, yang juga adalah sukacita kita, dan sukacita-Nya adalah kekuatan kita.”
 “Itu juga tongkat Harun yang bertunas.  Tongkatnya tumbuh karena tongkat gembala berasal dari Pohon Kehidupan yang terus hidup. Kehidupan inilah yang membantu kita mengenali orang-orang yang telah diutus oleh Tuhan dan yang merupakan gembala-gembala atau pemimpin-pemimpin rohani sejati,“ kata Mark, berhenti, tapi jelas bisa melanjutkan.
 “Mark, dari mana engkau mendapatkan semua pemahaman ini?”  tanyaku.
 “Ketika aku beroleh panggilan sebagai seorang nabi aku diberi tahu bahwa salah satu tugasku adalah untuk mengenali mereka yang memiliki tongkat gembala dan untuk mendukung mereka.  Sebelumnya aku hanya melihat mereka di dalam penglihatan, tapi aku langsung bisa mengenali tongkat itu.“
 “Ceritakan semua yang kautahu tentang itu,” aku memohon.
 “Engkau mengira tongkatmu masih baru dan baru saja dipotong, tetapi tongkat itu jauh lebih tua dari yang dapat kaubayangkan.  Itu aepertinya baru dan segar karena kehidupan yang ada di dalamnya, dan kehidupan akan tetap di dalamnya selama engkau berjalan dengan Tuhan dan tidak menyimpang dari jalan-Nya.  Ini dipotong dari Pohon Kehidupan sebelum dunia dibentuk, dan ukurannya disesuaikan khusus untuk seukuranmu pada saat itu.  Memang demikian, setiap tongkat gembala diberikan kepada para gembala, bahkan bagi mereka yang memimpin kelompok terkecil dari umat Tuhan.
 Tahukah kau mengapa Henokh yang memberikan ini kepadamu?  Mark lalu bertanya.
 “Aku tahu sedikit, tapi menurutku kau mungkin tahu lebih banyak.  Tolong beritahukan padaku apa yang kauketahui.“
 “Henokh mewakili atau menggambarkan jalan dimana semua gembala (maksudnya pemimpin rohani) sejati akan memimpin umat Tuhan.  Benar, gembala dikenal dari perjalanan mereka bersama dengan Tuhan. Mereka mungkin seorang konselor, penyembuh, dan guru-guru, tetapi para gembala akan dikenal terutama dari perjalanan mereka bersama Tuhan dan kedekatan mereka dengan-Nya. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan orang mengikuti kalian, tetapi para gembala (pemimpin rohani) akan diketahui dari bagaimana mereka mengikut Tuhan di jalan kehidupan.
“Satu hal yang karenanya kita dapat mengenali para gembala yang telah bertahan di jalan kehidupan adalah melalui sukacita mereka yang terus bertambah.  Ini adalah sukacita yang kaulihat pada Henokh.  Para gembala yang telah tinggal di jalan kehidupan tampaknya tidak memiliki kekuatiran atau beban karena mereka terikat pada kuk dengan Dia yang kuk-Nya itu enak dan ringan.  Beban-beban itu tidak menekan, tetapi terus-menerus beroleh energi melalui kekuatan yang datang dari sukacita Tuhan.  Tongkat mereka, atau otoritas mereka, akan dikenali dari kehidupan yang ada di dalam mereka.  Tongkat mereka akan selalu bertunas, melahirkan kehidupan baru, karena berasal dari Pohon Kehidupan Sendiri.”
 Saat Mark berbicara, semua orang terkesima, tetapi beberapa orang lebih terpesona dari yang lain.  Aku tahu mereka adalah para gembala itu.  Kedalaman memanggil kepada kedalaman, dan hati mereka dibangunkan.  Selagi aku melihat Mark, aku tahu bahwa dia juga memperhatikan mereka yang sangat tersentuh sehingga ia mungkin akan berbicara lebih banyak dengan mereka di lain waktu.  
“Sungguh karunia yang luar biasa bagi kami,” pikirku, “dan masih sangat muda!”
 “Aku masih muda, tapi aku sudah berjalan bersama Tuhan selama beberapa tahun,” kata Mark, seolah-olah mendengar pikiranku.  Kemudian dia melanjutkan:
 “Beberapa orang mengklaim dapat menggunakan ‘tongkat peramal’ untuk menemukan air di bawah tanah;  mereka adalah pemalsuan dari apa yang kaumiliki di tanganmu.  Tongkatmu dapat menemukan air kehidupan yang tersembunyi di bawah permukaan.  Kedalaman memanggil pada kedalaman, dan hidup memanggil pada yang hidup.  Mereka yang memiliki tongkat gembala menjadi semakin peka terhadap apa yang adalah kehidupan dan di mana aliran-aliran kehidupan itu mengalir,“ kata Mark, yang kemudian merasa ragu-ragu seolah-olah dia memiliki lebih banyak untuk disampaikan, tetapi tidak tahu apakah dia harus membagikan hal itu.
 “Silakan lanjutkan,” kataku padanya.
 “Saat batang tongkat itu bertunas, kau harus mematahkannya dengan lembut.  Lalu kau harus memberikannya kepada mereka yang dibangkitkan Tuhan untuk panggilan sebagai gembala.  Tunas ini akan tumbuh bersama mereka, dan masing-masing akan menjadi tongkat seperti milikmu itu, ”katanya, lagi-lagi ragu-ragu.
 “Mark, tolong bagikan semua yang kamu tahu,” kataku.
 “Baik. Mereka yang menerima tunas itu sekarang dan tumbuh menjadi gembala, di akhir usia akan berjalan dalam otoritas Gembala.  Tongkat mereka akan menjadi tongkat Tuhan di bumi.  Mereka tidak hanya akan memimpin umat Tuhan dan melindungi mereka dari musuh dengan tongkat itu, tetapi mereka akan menyerang musuh-musuh Tuhan.  Mereka tidak hanya akan membelah lautan, tetapi mereka akan memisahkan bangsa-bangsa.  Mereka akan memimpin umat Tuhan ke Tanah Perjanjian.“
 
“Mengapa kamu ragu-ragu untuk membagikan itu, Mark?”  tanyaku. 
“Bisakah aku memberitahumu secara pribadi?” dia menanggapi.
 “Kalau menurutmu perlu seperti itu, tentu saja,” jawabku, dan kami berjalan tidak jauh dari yang lain.
 “Tongkatmu adalah kuncup yang diberikan kepadamu ketika kamu masih sangat muda di dalam Tuhan,” Mark memulai.  “Kau tidak membawanya lama sebelum kemudian kau meletakkannya.  Dalam arti tertentu, engkau melakukan apa yang Musa lakukan ketika dia melemparkan tongkatnya saat melihat semak belukar yang menyala. Dia ditugaskan sebagai gembala dari Tuhan bagi umat-Nya, tetapi tidak merasa cukup layak.  Ketika dia melempar tongkat itu ke bawah tongkat itu menjadi ular dan mengejarnya sampai dia mengambilnya kembali.  Itulah yang terjadi ketika engkau membuang panggilan Tuhan.“
 “Aku tahu kapan aku melakukan itu,” jawabku.  “Kau benar.  Tolong lanjutkan.”
 “Seperti Musa, tongkatmu menjadi ular dan mengejarmu sampai kamu mengambilnya lagi, yaitu saat engkau mengerjakan panggilanmu lagi, “lanjutnya.
 “Itu akurat,” jawabku, “dan merupakan cara yang baik untuk menjelaskannya.  Saat lari dari panggilanku semua yang aku lakukan berhasil, tapi aku merasa menderita.  Aku merasa bahwa apa yang telah aku tinggalkan — yaitu panggilan pelayananku — mengejar aku siang dan malam.  Kamu benar.  Tolong lanjutkan.”
 “Ketika kau mengambil tongkat itu lagi dan kembali mengerjakan panggilanmu, sepertinya Engkau/kalian tidak pernah melewatkan satu langkah pun dalam beberapa hal, tetapi melangkah ke tempat yang jauh lebih tinggi dari yang kau tinggalkan sebelumnya.  Seolah-olah engkau  telah berjalan dalam panggilanmu sepanjang waktu dan tumbuh di dalamnya,” dia berkata sambil menatapku dan aku mengangguk membenarkannya.
 “Tapi kamu memang melewatkan sesuatu.  Kau bertumbuh, dan tongkatmu pun bertumbuh, tetapi untuk waktu yang lama itu tidak bertumbuh di tanganmu.  Karena ini, engkau kehilangan banyak hal.  Jika kau bertumbuh bersama dengan tongkatmu itu maka kau akan menjadi lebih dewasa dan lebih stabil dalam otoritasmu.  Dirimu akan sangat menyatu dengan tongkat yang akan menjadi lengan yang lain bagi tubuhmu.  Sekarang, ini hampir seperti sesuatu yang coba kaubiasakan memegangnya.  Kau bahkan tidak tahu bagaimana memegangnya dengan benar.  Karena itu kau ada dalam bahaya untuk menyalahgunakan tongkat ini seperti yang dilakukan Musa.“
 “Apa yang Engkau/kalian katakan adalah bahwa aku berada dalam bahaya memimpin umat Tuhan menuju Tanah Perjanjian, tapi tidak bisa memimpin mereka ke dalamnya?“  tanyaku.
 “Itulah bahayanya,” lanjut Mark. “Ini berbahaya bagi semua yang tidak tumbuh dewasa bersama dengan otoritas mereka sebagaimana mestinya.“
 “Mark, terima kasih atas peringatan ini.  Apakah ada hal lain yang ingin kaukatakan kepadaku mengenai ini?”  tanyaku.
 “Kasih karunia Tuhan menjadi sempurna dalam kelemahan,” Mark memulai.  “Kamu memiliki kelemahan oleh karena waktu saat kau menjauh dari panggilanmu.  Itulah waktu ketika musuh menemukan akses kepadamu dan keluargamu yang menyebabkan beberapa kegagalan terbesar dalam hidupmu, yaitu kegagalan dengan keluargamu.  Meskipun kau melihat akibat dari kegagalan-kegagalanmu sekarang ini, engkau memiliki janji Tuhan bagi anak-anakmu dan anak-anak mereka.  Mereka akan melayani Tuhan dan memuliakan nama-Nya.  Dia yang Setia yang akan mewujudkan ini.
 “Kegagalanmu tidak akan terus menjadi tanggung jawabmu jika engkau lebih bersandar pada Tuhan oleh karena kelemahanmu, tetapi dirimu memang memiliki kelemahan.  Engkau tidak boleh lagi membuang tongkat ini lagi, dan kau harus bersandar pada-Nya secara terus-menerus.”
 Sekali lagi Mark ragu-ragu sejenak seolah-olah membiarkannya meresap, dan kemudian melanjutkan, “Bahkan gembala terkecil yang dibangkitkan dari tempat ini akan menjadi seperti Daud.  Mereka akan menjadi pejuang yang perkasa, penyembah yang perkasa, dan mereka akan menjadi nabi yang luar biasa seperti Daud.”
 “Mereka juga harus memiliki sukacita Henokh.  Setiap orang di masa-masa ini akan membutuhkan sukacita Henokh.  Penyesalanmu atas kegagalanmu harus diubah menjadi sukacita karena Penebus yang akan menebus kesalahanmu.“
 Aku perlu mendengar apa yang Mark bagikan kepadaku sebanyak aku perlu mendengar apa yang Henokh dan Elijah bagikan denganku.  Meskipun aku merindukan lebih banyak waktu dengan Henokh dan Elia, aku tidak ingin melewatkan apa yang Tuhan hendak sampaikan padaku melalui orang-orang di kelompok kami.  Mereka saja dipakai sebagai utusan Tuhan sebagaimana Henokh atau Elia.
 Aku melihat kembali kelompok kecil kami.  Setiap orang yang aku kenal benar-benar adalah harta karun, dan lebih dari berharga.  “Tuhan lagi-lagi menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir,” pikirku.  Sekali lagi, Mark sepertinya tahu apa yang kupikirkan.
 “Beberapa orang terhebat yang pernah berjalan bersama Tuhan ada di jalan ini atau akan segera berjalan di sini.  Bagian terbaiknya bukan hanya kita akan mengenal Elia dan Henokh, tetapi kita akan mengenal Tuhannya Elia, Tuhannya Henokh, Tuhannya Daud, Tuhannya Musa — Tuhan yang sama yang dikenal dan dilayani semua orang-orang perkasa yang berjalan di bumi ini.  Siapa yang bisa memimpikan kehidupan seperti ini?“ kata-kata Mark menggema di pikiranku.
 “Siapa yang pernah memimpikan hal seperti ini?” Aku setuju.
 Aku tidak bangun.  Aku tidak tidur.  Tapi Anda harus bangun.  Anda dipanggil untuk ke gunung Tuhan.
SELESAI
(BERSAMBUNG KE BUKU KEDUA : LEMBAH)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 33

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB TIGA BELAS
GEMBALA (2)

 Lalu aku mendengar suara yang tidak asing di belakangku.
 “Seperti halnya dia, kau pun bisa,” kata Elia.
 “Apakah kau ada di sini selama kami berbicara?” aku bertanya.
 “Aku mengamati.  Kami bekerja bersama, jadi kami selalu dekat.”
 “Aku tidak pernah berpikir Henokh sebagai seorang gembala, atau sebagai seseorang yang begitu penuh sukacita.  Aku sangat berharap untuk mengenalnya lebih baik, ” kataku.
 “Engkau masih harus banyak belajar dari kami berdua, tetapi sukacita yang kaulihat dalam diri Henokh tidak akan datang dari melihat Henokh, tetapi dari cara Henokh mendapatkannya — berjalan bersama Tuhan seperti yang dia lakukan. ”
 Aku ingin mengajukan pertanyaan lain kepada Elia, tetapi ragu-ragu.  Dia mengetahui itu, dan berkata,
 “Silakan tanyakan apa yang ada di hatimu.”
 “Engkau juga berjalan bersama Tuhan, dan kau dipercayakan dengan beberapa bentuk kuasa terbesar yang pernah Ia nyatakan melalui seorang nabi.  Mengapa kamu tidak tampak sesukacita Henokh? ”  tanyaku.
 “Aku tidak keberatan engkau bertanya, dan ini memang penting untuk kaupahami.  Menjadi apa dirimu di bumi akan menjadi siapa dirimu selamanya, yang tentunya tanpa ada lagi kedagingannya.  Jika ada yang menyadari betapa kehidupan mereka di bumi ini berdampak pada kekekalan maka mereka akan mengejar buah Roh lebih dari harta atau prestasi duniawi mana pun.
 “Harta karun terbesar dalam semua ciptaan adalah kasih.  Cinta adalah dasar dari sukacita dan damai sejati, dan merupakan intisari dari penciptaan manusia.  Tuhan adalah kasih, dan jika engkau berjalan dengan Dia sebagaimana kau dipanggil, kasih juga akan menjadi bagianmu.”
 “Aku berjalan di bumi selama masa sulit dan gelap.  Aku berjalan dengan Tuhan dan mencintai-Nya, tapi Aku membiarkan kejahatan manusia menutupi kasih yang seharusnya kutumbuhkan, baik bagi Tuhan maupun orang-orang.  Aku bahkan senang meminta api untuk menghanguskan orang-orang.  Itu memang perlu, tapi sebenarnya tidak perlu bagiku untuk menikmatinya.  Aku seharusnya menangisi mereka.
 
“Yunus memiliki karunia berkhotbah terbesar hingga munculnya Yohanes Pembaptis.  Aku dipercaya dengan kuasa terbesar sejak tampilnya Musa.  Baik Yunus maupun aku tidak mengejar cinta dengan cara yang seharusnya kita lakukan, dengan cara yang harus dilakukan semua orang.  Jika saja aku lebih lagi mengasihi orang, bahkan orang yang harus kuhadapi dan kuhakimi, banyak dari mereka tidak akan binasa, tetapi akan berbalik kepada Tuhan sebagai gantinya.”
 “Tanpa kasih, aku menjadi egois, dan itulah harga yang harus aku bayar sehingga aku tidak mampu menyelesaikan tugasku.  Elisa harus menyelesaikan apa yang harus kulakukan.  Salah satu kesalahan terbesar seorang nabi adalah tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mengasihi Tuhan dan mencintai orang lain lebih dari apapun yang lain.”
 Setelah jeda singkat, seolah-olah untuk memastikan bahwa aku memahami pentingnya apa yang ia katakan, Elia melanjutkan, “Mereka yang dikenal sebagai orang-orang hebat di bumi tidak selalu dikenal di surga.  Mereka yang dikenal sebagai yang terhebat di surga adalah mereka yang paling mengasihi.
 “Kejahatan yang dilihat Henokh pada zamannya sama buruknya, dan dalam beberapa hal lebih buruk, daripada kejahatan di zamanku.  Namun ia tetap fokus untuk mencintai Tuhan dan berjalan bersama-Nya.  Karena ini, kepada beberapa orang dari jiwa-jiwa yang paling jahat dan sesat, dia menubuatkan harapan dan visi masa depan.  Dia menubuatkan kedatangan Hari Tuhan, dan awal baru yang mulia untuk seluruh bumi.  Dia adalah seorang manusia yang penuh sukacita dan orang yang penuh dengan pengharapan.”
 “Untuk menjadi nabi di masa-masa ini engkau harus melakukan beberapa hal yang kulakukan.  Kau harus menghadapi orang jahat dan menghakimi mereka.  Kau harus menghadapi guru palsu dan nabi palsu.  Kau harus menghadapi para pemimpin dan otoritas yang jahat.”
 “Untuk melakukan ini sebagaimana engkau dipanggil untuk melakukannya, engkau harus menjadi lebih seperti Henokh daripada seperti aku.  Penghakiman Tuhan adalah disiplin-Nya bagi mereka yang Dia kasihi, dan bahkan penghakiman-Nya yang mengharuskan adanya kehancuran dilakukan dengan cinta, bukan sebagai pembalasan.  Dia tidak pernah bersukacita atas kehancuran, tapi itu terkadang diperlukan untuk memelihara orang-orang yang lainnya.
 “Baik Henokh dan aku adalah teladan para nabi yang akan tampil di zaman ini, tetapi kami adalah model secara bersama-sama.  Jika engkau tumbuh dalam kasih seperti yang dilakukan Henokh, dengan berjalan bersama Tuhan, engkau akan mewujudnyatakan sukacita dan damai sejahtera Tuhan yang akan menjauhkan banyak orang dari kejahatan mereka;  tidak akan perlu ada banyak kehancuran.”
 “Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan, tetapi karena aku telah membaca kehidupanmu berkali-kali, aku pernah bertanya-tanya apakah beberapa hal yang kaulakukan dapat dilakukan secara berbeda, dan mungkin hasilnya akan berbeda, ” kataku.
 “Kepada Henokh telah diperlihatkan tentang para pembawa pesan yang luar biasa yang akan datang di hari-hari terakhir.  Kepadaku tidak.  Dia diberi kehormatan untuk menubuatkan mereka karena dalam karakter mereka akan lebih mirip dengan dia daripada denganku, tetapi mereka akan melakukan semua yang aku lakukan dan lebih lagi.”
 Bersama itu, Elia pergi ke arah yang sama dengan Henokh.  Hampir terlalu banyak yang harus kucerna.
 Saat aku melihat tongkat itu, aku merasakan hubungan dengan Henokh.  Aku ingin mengasihi orang-orang dan melepaskan mereka ke dalam sukacita Tuhan yang dimilikinya.  Aku juga tersadar dengan pernyataan Elia bahwa kita sekarang membentuk karakter yang akan kita miliki untuk kekekalan.  Ini memberi lebih banyak lagi hal-hal penting untuk dilakukan setiap hari.  Aku tidak pernah ingin melewatkan kesempatan lain untuk tumbuh di buah Roh..
 
Aku berpikir tentang apa yang Yakobus telah tulis tentang bagaimana kita harus menganggap semua hal sebagai kebahagiaan saat kita menghadapi cobaan karena ujian iman kita lebih berharga daripada emas.”
“Itu jauh lebih berharga,”pikirku.  “Bagaimana bisa sesuatu yang akan bertahan selamanya dibandingkan dengan harta atau pencapaian duniawi?”
 Saat aku berjalan kembali ke kamp, aku berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk membantu aku mengingat betapa pentingnya hal ini dan meminta urapan untuk dapat menyampaikannya kepada yang lain.  Aku sangat ingin mereka semua bertemu Henokh dan mengalami apa yang aku alami.
 Ketika aku cukup dekat untuk melihat kelompok kecil itu, aku memikirkan bagaimana beberapa menit sebelumnya aku hampir putus asa.  Aku putus asa karena aku menganggap diriku sebagai pemimpin yang buruk, berpikir bahwa aku telah memimpin orang-orang dalam pengawasanku menjauh dari aliran air hidup.  Sekarang aku merasa bahwa seluruh perjalanan di padang gurun sungguh luar biasa tak terlukiskan, dan aku benar-benar bisa menjadi seorang gembala bagi mereka yang kubantu untuk melewatinya.
 
Ketika aku masuk ke kamp, semua orang terjaga, bersiaga, dan mereka semua tertawa.
 “Ada apa?”  tanyaku.
 “Para penjaga menemukan air,” jawab William.  “Itu tepat di bawah kaki kami.  Ini, James, yang berkata bahwa dia merasa kami berada di jalan yang benar, jadi airnya seharusnya berada dekat sini;  dan jika tidak di atas tanah, maka itu pastilah tepat di bawah kita.  Dia mulai menggali dan tidak perlu menggali begitu  dalam sebelum akhirnya airnya meluap keluar.”
 “James, itulah jenis hikmat dan kepekaan yang kita butuhkan dari penjaga kita,” aku berkata, sambil membungkuk untuk minum dari sungai kecil yang sekarang mengalir di tengah-tengah kamp.
 “Di mana kau tadi?”  Mary bertanya.
 “Aku ada pertemuan,” jawabku, memperhatikan bahwa Mark menatapku dengan saksama.
 “Apa yang kamu pikirkan, Mark?”  aku bertanya.
 “Aku diberitahu tadi malam bahwa engkau akan memiliki pesan untuk kami hari ini yang akan membimbing kami di sepanjang sisa hidup kami.  Aku juga dapat melihat bahwa kepadamu telah diberi sebuah tongkat gembala.  Bisakah kau memberi tahu kami sekarang apa pesannya? ”  Mark menjawab.
 “Aku bisa.  Aku punya sesuatu untuk diberitahukan kepada kalian yang dapat membantu membimbing kalian sepanjang sisa hidup kalian,” aku memulai.
(Bersambung ke BAB EMPAT BELAS)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 32

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB TIGA BELAS
GEMBALA (1)

Aku menghampiri orang itu dan berhenti beberapa meter jauhnya.  Dia menatapku sejenak, mengangkat tongkat yang ada di tangannya, dan mengetuk di tanah.
“Ada di sini,” katanya.
 Aku melihat ke bawah ke tanah dan dapat melihat sedikit air yang menetes di tempat yang ia ketok. Aku balas menatapnya, dan dia tersenyum dengan senyum ramah yang paling indah yang pernah kulihat.
 “Aku datang untuk menunjukkan ini padamu, dan memberimu ini,” katanya sambil menyerahkan tongkatnya padaku.
 Aku melihat tongkat itu.  Sepertinya tidak ada yang unik atau luar biasa darinya.  Itu  hanya sebuah tongkat yang lurus setinggi badanku.  Tampaknya tongkat itu baru saja dipotong, dan masih ada kulit kayunya, sehingga aku tahu itu belum banyak dipakai, bahkan mungkin belum dipakai sama sekali.
 “Ini belum banyak digunakan,” dia mulai berkata.  “Tongkat ini dipotong untukmu dari sebuah pohon besar.  Jubah yang kau kenakan itu sebagai tanda kasih karunia, tapi tongkat ini kaugunakan sebagai tanda otoritas.”
 “Aku tidak pernah berpikir aku akan memiliki salah satu dari ini,” jawab aku.  “Bisakah aku menanyakan padamu beberapa pertanyaan tentang itu?”
 “Tentu saja,” katanya dengan senyuman yang begitu menarik dan sangat menyenangkan yang hampir membuatku merasa benar-benar nyaman.
 “Engkau sangat berbeda dari yang kuperkirakan.  Aku tidak mengharapkanmu  membawa apapun untukku, tapi jika aku berharap, itu bukanlah untuk kaubawakan tongkat gembala ini.  Jika ada sesuatu yang aku merasa gagal total, itu adalah menjadi seorang gembala.  Fakta bahwa engkau telah membawakanku ini pastilah mengandung sebuah pesan.  Bisakah kau menjelaskannya? ”  aku bertanya.
 “Kuasa Tuhan menjadi sempurna dalam kelemahan.  Kegagalanmu telah mempersiapkan dirimu untuk apa yang menjadi panggilanmu sekarang.”
 “Aku adalah orang pertama yang berjalan bersama Tuhan setelah Adam. Semakin aku mencari Dia, semakin Dia menjadi sukacitaku.  Kemudian waktu yang aku habiskan bersama-Nya menjadi lebih kuinginkan daripada dengan apa pun di dunia ini.  Hanya ingin bersama-Nya yang ada dalam pikiranku siang dan malam.  Dia menjadi hidupku. Ini juga yang menjadi kerinduanmu. Itu adalah dasar dari kehidupan seorang gembala. Engkau hanya akan memimpin dan merawat umat-Nya dengan baik jika engkau berjalan dengan Tuhan dan semakin dekat dengan-Nya. Saat engkau berhenti mendekat pada-Nya, engkau akan mulai gagal dalam kepemimpinanmu atas umat-Nya, karena tujuanmu adalah untuk memimpin mereka kepada-Nya.  Dia adalah padang rumput hijau mereka.  Dia adalah air hidup mereka.  Dia adalah kelegaan mereka.  Dia adalah hidup mereka,” Henokh menjelaskan.
 Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap Henokh.  Aku belum pernah melihat orang yang begitu penuh kebahagiaan atau dipenuhi kegembiraan dan cinta.  Aku belum pernah melihat senyuman yang membuat dirimu merasa sangat baik, diterima, dan dihargai.  Aku tidak berharap kalau Henokh itu seperti ini — ia mungkin orang paling bahagia yang pernah hidup!  
Lalu aku melihat dari dekat tongkat yang dia berikan padaku.
 “Aku telah terbiasa mengajar dan bernubuat, tetapi aku tidak pernah berpikir aku akan menerima tongkat in, “lanjutku.  “Aku tahu kalau aku telah dipanggil untuk memimpin orang dengan cara yang berbeda, seperti aku sekarang memimpin kelompok ini melalui padang gurun ini, tetapi aku tidak pernah melihat diriku sebagai seorang gembala.  Aku merasa terhormat tapi merasa kuatir.  Aku merasa lebih banyak mengintimidasi orang daripada membuat mereka merasa nyaman.”
 “Aku tidak ingin menjadi seperti itu dan tidak menyukainya, tetapi aku tidak tahu bagaimana mengubahnya.  Hanya bersamamu beberapa menit ini, menurutku engkau mungkin orang paling hangat yang pernah kutemui.  Aku tidak menganggap ini ringan.  Aku menganggap itu hadiah yang luar biasa, yang dibutuhkan untuk tugas ini dan sesuatu yang tidak kumiliki.”
 “Apa yang kumiliki adalah sukacita dari Tuhan,” lanjut Henokh.  “Itu bukan hadiah, tetapi buah.  Itu merupakan buah dari berjalan bersama Dia yang adalah keinginan terbesar dari setiap hati manusia.  Semakin dekat berjalan bersama-Nya, semakin banyak sukacita yang akan kaumiliki.  Sukacita yang kaumiliki di dalam Dia kemudian menjadi suatu sukacita di dalam umat-Nya, dalam ciptaan-Nya, dan dalam segala hal dimana engkau dipanggil dalam Dia.”
 
“Ini karena engkau mengerjakan-Nya bersama Dia.  Semakin dekat dengan Dia akan mengubahmu menjadi sebagaimana Ia menciptakan dirimu.  Ketika kau semakin dekat dengan api yang menghanguskan, maka kehangatan api-Nya akan ada di dalam dirimu.”
 “Beberapa hari dengan kelompok ini telah membuka sesuatu yang mendalam di diriku,” jawabku.
 “Setiap hari aku lebih peduli pada mereka.  Sesuatu dalam diriku telah berubah sehingga aku melihatnya secara berbeda daripada yang pernah aku melihat sekelompok orang sebelumnya.  Setiap orang adalah harta yang tak ternilai harganya.  Aku hanya suka bersama dengan mereka, dan aku makin bersyukur atas tugas ini setiap hari.  Aku merindukan gunung, tapi jika Sang Raja adalah menetapkan aku untuk tetap di sini memimpin kelompok-kelompok lain melalui bagian hutan belantara ini berulang kali, aku senang, ” aku menyatakan.  “Jika ini yang menjadi sebab aku diberi tongkat ini, aku sangat senang dengan hal itu.”
 “Setiap tugas yang diberikan oleh Raja memang seperti itu.  Itu adalah saat engkau berjalan bersama Dia dan melakukan pekerjaan-Nya sehingga mata air terdalam dari hatimu terbuka.  Meskipun kamu dipanggil sejak semula, bukan sebagai gembala, tetapi engkau akan meninggalkan tempat ini sebagai seorang gembala,” kata Henokh, memegang pundakku dan tersenyum lebih lebar.  “Engkau punya pertanyaan lainnya.  Silakan bertanya.”
 “Air di sini ada di bawah kaki kita?  Bisakah aku mendapatkannya seperti yang kaulakukan, melalui mengetuk tanah dengan tongkat ini? ”  aku bertanya.
 “Ya kamu bisa.  Dengan tongkat ini, kau dapat mengetuk ke tanah dan air akan mengalir.  Kau bahkan bisa memukul batu, dan air akan mengalir darinya, ”jawabnya.
 “Jadi aku tidak harus tinggal di dekat sungai yang mengalir lagi?”  tanyaku.
 “Engkau harus selalu dekat dengan air kehidupan, dan air itu memang selalu mengalir, tetapi di sini aliran itu tidak tampak di permukaan.  Saat kau pergi ke tempat-tempat yang lebih tinggi seperti ini, kau harus sering menggali air hidup.  Semakin tinggi kau naik semakin dalam engkau mungkin harus menggali air itu, tetapi aliran-aliran itu akan selalu di dekat kalian.  Mereka akan selalu dekat dengan jalan yang kalian lalui, ”tambahnya.
 “Jadi, jika aku tetap di jalan yang benar, kita harus selalu menemukan aliran air itu di dekatnya?”
 “Iya.  Faktanya, mereka berada tepat di bawah kakimu.  Jika kau tidak dapat menemukannya di bawah kakimu maka kau tahu bahwa engkau telah menyimpang dari jalanmu.”
 “Semakin tinggi kalian menuju, semakin lambat harus berjalan, karena kalian harus menggali air lebih dalam lagi.  Ini memang disengaja.  Ini adalah tempat visi, dan kalian harus berjalan cukup lambat untuk melihat semuanya hal yang dikehendaki untuk kalian melihatnya.”
 “Di tempat-tempat tinggi inilah mereka yang bersamamu harus belajar untuk melihat dan mencari lebih dalam aliran-aliran air kehidupan.  Jika mereka tidak dapat menemukan air, maka kau dapat membantu mereka dengan tongkatmu, tetapi jangan terlalu banyak memberikan membantu kepada mereka.  Mereka di sini untuk belajar mendalami dan melihat lebih lagi.”
 “Apakah Elia masih bersama kita?”  aku bertanya
 “Kami selalu bersama.”
 “Akankah mereka dapat melihatmu dan berbicara denganmu seperti yang dengan Elia?”
 
“Ya.  Kami berdua akan berada begitu dekat dengan kalian sampai kalian mencapai gunung.  Kami adalah yang pertama, dan prototipe dari para pembawa pesan yang luar biasa yang akan dilepaskan ke bumi.  Adalah kehormatan bagi kami untuk melayani mereka dan mempersiapkan mereka untuk pertempuran terakhir.
 “Kemudian seluruh bumi akan dipulihkan ke firdaus sebagaimana ia diciptakan, dan semuanya orang-orang di sini akan mengenal dan melayani Tuhan.  Kemudian semua duka dan rasa sakit akan berakhir, dan sukacita Tuhan akan menjadi bagian setiap orang.”
 Bersama dengan itu Henokh menyentuh kepalaku seolah-olah memberkati aku, lalu mengangguk dan berjalan pergi.  Saat aku melihat dia pergi, aku tidak bisa tidak berpikir dia adalah orang paling bahagia yang pernah hidup.  Aku telah bertemu banyak orang orang yang menyenangkan, tapi tidak ada yang seperti dirinya.  Dia adalah orang pertama yang menemukan rahasia sukacita sejati — berjalan bersama Tuhan.  Ada banyak orang yang memiliki kualitas yang ingin kumiliki, tetapi aku tidak pernah amat sangat menginginkannya seperti sukacita Henokh.  Aku belum pernah merasa begitu tertarik pada siapa pun sebelumnya, merasa begitu dekat atau merasa sangat nyaman dengan keberadaan mereka seperti yang kualami dengan Henokh.  Hanya sebagian kecil dari kegembiraannya akan membuat setiap hari menjadi indah dan akan membantuku menjadikan hari orang lain lebih baik.
(Bersambung ke Bagian 32)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 31

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB DUA BELAS
PENGALIHAN (2)

Aku kemudian meminta Charles untuk membagi kelompok menjadi tim yang masing-masing terdiri dari empat orang yang akan mulai bertugas. 
Mengawasi para pria dan wanita yang telah bersedia menjadi sukarelawan sebagai penjaga.  Aku meminta William untuk perkenalkan mereka kepada mereka yang saat ini telah bekerja sebagai penjaga.  Saat aku bergerak untuk pergi, William dan Andrew memulai percakapan dengan beberapa dari mereka dan tetap tinggal di situ.
 
Setelah pertemuan dengan penjaga, kami mengirim dua kelompok untuk berjalan di depan kami menuruni bukit untuk mengawasi sepanjang jalan dan mencari air.  Sekitar satu jam kemudian, para utusan kembali mengatakan mereka telah menemukan tempat yang cukup layak untuk berkemah pada malam hari, tetapi masih belum menemukan air.
 
Aku khawatir bahwa aku telah melewatkan suatu belokan dan telah membawa mereka menyimpang ke jalan yang salah.  Jika memang ini masalahnya, dalam hal ini kami harus kembali ke tempat kami melewatkan belokan itu.  Jalan yang salah tidak akan pernah menjadi jalan yang benar, tetapi akan membawamu semakin jauh dari jalan yang benar.  Berjalan kembali selalu mengecilkan hati, tetapi terkadang itu perlu dilakukan.  Keputusasaan akan semakin besar jika tidak ada makanan atau air hidup untuk diminum. Aku memutuskan untuk mendiskusikan situasinya dengan William, Andrew, dan Charles.
 Karena tidak ada dari kami yang dapat memikirkan tempat mana pun di mana kami telah menyimpang dari jalan yang seharusnya, kami memutuskan untuk terus maju, setidaknya ke tempat kami bisa berkemah untuk bermalam dan mungkin mendapatkan perspektif yang lebih baik di pagi hari.
 Setelah menetap di perkemahan, William datang untuk duduk di dekatku.
 “Aku tidak pernah menyangka apa yang kaulakukan dengan anak-anak itu hari ini.  Sepertinya dengan hanya memberi mereka suatu bagian tugas telah mengubah sikap mereka sepenuhnya.  Mereka bukanlah anak-anak seperti yang kukira.  Aku senang engkau melihat lebih banyak di dalam mereka daripada yang bisa aku lihat,” katanya.
 “William, kamu benar tentang mereka.  Mereka seperti yang kaupikirkan.  Mereka berada dalam bahaya hendak memisahkan diri dari kita, dan mungkin mereka telah melakukannya jika bukan karena serangan singa.  Serangan itu menarik perhatian mereka, tetapi mereka hanya berada di dekat kita tanpa merasa takut.  Mereka mungkin memiliki rasa takut yang lebih sedikit daripada yang lain, tetapi mereka khawatir dengan serangan itu.  Engkau telah  melihat masalah dengan benar, dan aku menghargai kau mengangkat hal ini ketika Engkau/kalian melihat hal ini.”
 “Kau terlalu baik menilaiku, tapi aku ingat apa yang kaukatakan tentang kita harus melihat setiap masalah sebagai kesempatan.  Aku tahu itu merupakan prinsip dasar kepemimpinan.  Aku gagal untuk melihat kesempatan dalam hal ini.  Yang mereka butuhkan adalah dihormati, dihargai dan diberikan suatu tujuan.  Aku gagal untuk melihatnya, ”keluh William.  “Aku mungkin akan mulai berlaku keras kepada mereka karena menjadi sangat angkuh dan sombong.  Mungkin aku juga akan mengusir mereka.”
 “Mungkin, tapi kamu tidak akan melakukannya lain kali,” jawabku.  “Aku tidak mendatangi mereka hanya untuk mencoba membuat mereka berbaur dengan anggota kelompok lainnya.  Kita memang membutuhkan mereka.  Mereka sangat penting untuk kita semua agar kita dapat melalui hutan belantara ini.  Untuk berhasil, kita perlu supaya setiap orang berada di posisi yang tepat untuk melakukan apa yang menjadi tugas panggilan mereka.
 “Anak-anak itu sangat senang dengan serangan singa.  Beberapa orang panik yang memang wajar jika begitu, tetapi sebagian besar dari mereka siap untuk bertarung walaupun mereka takut juga.  Mereka menyukai cara Elia pergi tepat setelah singa itu.  Mereka adalah pejuang.  Dengan beberapa pelatihan dan bimbingan, mereka akan menjadi kekuatan yang penuh kuasa pada saat kita sampai di gunung.”
 “Sekarang inilah bagian yang mungkin masih belum engkau lihat — mereka membutuhkanmu, dan kau membutuhkan mereka,” kataku.
 “Aku ingin sekali membantu mereka, tapi bagaimana caranya?  Aku tinggal dan berbicara dengan mereka beberapa saat setelah engkau pergi.  Aku merasa seperti aku hampir terikat dengan mereka.  Aku terkejut mengetahui betapa aku tertarik pada mereka.  Aku tidak menyangka sama sekali.  Jadi menurutmu aku bisa membantu melatih mereka? ”  tanya William.
 “William, engkau juga mempunyai karunia yang belum kau ketahui,” jawab aku.  “Mereka membutuhkan seorang mentor, dan engkau bukan hanya seorang mentor yang baik, kau adalah orang yang tepat menjadi mentor mereka.  Ada kepemimpinan di antara semua anak-anak muda itu
 dan engkau dipanggil untuk menjadi guru bagi mereka.  Mereka akan mengeluarkan air hidup itu darimu yang bahkan kamu belum sadari itu ada di dalam kamu.”
 “Aku mengakui kalau aku bersemangat untuk mencoba,” jawab William.  “Apa yang harus kulakukan selanjutnya?”
 “Dasar dari semua panggilan dan apa yang kita lakukan dalam Tuhan adalah keluarga menjadi hal yang utama.  Hubungan an niarkan mereka mengenalmu.  Hubungan dibangun di atas kepercayaan dan kasih.  Namun, mereka tidak membutuhkanmu sebagai teman mereka yang lain lagi, tetapi sebagai seorang ayah dan, terkadang sebagai sersan pelatih.
 “Kau tidak perlu berubah untuk terhubung dengan mereka sebagaimana seharusnya, dan mereka tidak harus  berubah supaya dapat terhubung denganmu.  Jadilah dirimu sendiri, dan biarkan mereka menjadi diri mereka sendiri.  Kita semua akan mengalami perubahan sepanjang perjalanan ini, tetapi harus melalui proses dari berbagai pengalaman, bukan perubahan secara permukaan saja. Mereka akan jadi dewasa, dan sebagian sifat mudamu akan dipulihkan.” 
 “Itu sangat membesarkan hati dan membebaskan,” jawab William.  “Aku agak terganggu ketika orang-orang seusiaku mencoba bertingkah seperti remaja.  Aku sudah sangat menyukai anak-anak ini sehingga aku akan melakukannya jika aku harus melakukannya, tetapi aku pikir itu akan tampak buruk.”
 
“Itu akan lebih buruk dari yang kita perkirakan, tetapi bagi kami supaya dapat menyesuaikan diri sebagaimana kita  dipanggil, kita semua harus menjadi sebagaimana yang Tuhan tetapkan, dan tidak mencoba menjadi yang lain.  Kepercayaan dan rasa hormat yang dibangun dalam semua hubungan sejati dimulai dengan kita mempercayai siapa diri kita dan menghargai diri kita sendiri untuk menjadi nyata satu sama lain.  Kita diperintahkan untuk ‘berbicara benar satu sama lain, ‘yang juga berarti menjadi sejati, menjadi nyata satu sama lain.”
 “Satu hal lagi tentang hubunganmu dengan mereka yang lebih muda ini — aku bisa melihat bahwa dengan hanya membicarakan tentang ini saja telah membangkitkan suatu kesadaran dalam dirimu.  Itulah air hidup yang mengalir di hatimu.  Ini air hidup yang hanya dapat keluar dari bagian hati kita yang paling dalam, kerinduan terdalam.  Kerinduan hati kita yang terdalam rindu menyentuh apa yang karenanya kita telah diciptakan.  Ketika engkau menyentuh tujuan itu, kalian membuka sumur air hidup di hatimu.  Kita mengikuti air hidup di sini karena itu akan membawa kita ke gunung.  Ikuti air hidup yang mengalir dari hatimu dengan cara yang sama.”
 “Engkau benar kalau aku merasa mendapat energi hanya dengan pemikiran untuk dapat terhubung dengan anak-anak itu.  Pikiran menjadi mentor bagi mereka sangat mengasyikkan.  Tapi pagi ini aku bahkan tidak  menyukai mereka, tetapi sekarang mereka adalah orang-orang favoritku.  Engkau sudah tahu ini ketika kau membawa aku berbicara dengan mereka, bukan? ”  tanya William.
 “Aku menduganya tadi,” jawabku.  “Aku tahu mereka membutuhkanmu, dan aku berasumsi bahwa engkau juga akan memerlukan mereka.  Aku berharap engkau mencoba menjalin hubungan dengan mereka, tetapi aku tidak dapat mengatakan bahwa aku yakin kalau itu akan berhasil.”
 “Bukankah akan selalu berjalan lancar jika Tuhan telah menetapkan sesuatu sebelumnya?”  William berkata, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.
 “Tidak.  Tidak selalu berjalan mulus atau secepat itu bahkan meskpun itu adalah tujuan-Nya. Kadang-kadang, dan aku bahkan sering mengatakannya, ketika sesuatu terjadi terlalu mudah atau terlalu cepat, mereka cenderung tidak penting atau kurang berharga.”
 “Jadi, jika kita menerapkan hal itu pada hubunganku dengan anak-anak ini, maka hubungan itu tidak akan begitu penting,” kata William, bertanya-tanya.
 “William, ada hukum, dan ada prinsip.  Tidak ada pengecualian untuk hukum, tapi prinsip memiliki pengecualian.  Ini adalah prinsip yang, menurutku, sering kali benar, tetapi tidak selalu demikian.  Umumnya, semakin kalian harus berjuang untuk sesuatu maka itu yang menjadi sesuatu yang semakin penting atau berharga, dan karena itu engkau akan menganggap itu sebagai sesuatu yang lebih penting dan berharga.”
 “Namun, aku tahu kau memiliki panggilan untuk menjadi mentor bagi generasi yang baru.  Untuk alasan inilah, meski hubungan awalnya tampak begitu cepat dan mudah, aku pikir kau harus sangat waspada terhadap hubungan yang masih sedang diuji ini, yang bisa jadi lebih sukar dari yang kauharapkan.  Hanya saja, jangan sampai terhempas saat ujian datang.”
 “Aku mengerti maksudmu.  Kadangkala ujian tidak langsung terjadi, tetapi akan tiba juga akhirnya.  Mendapat peringatan seperti ini bisa sangat membantu.  Aku akan mencoba untuk siap menghadapi ujian agar tidak terguncang saat itu datang, ” jawab William.
 Aku kagum pada betapa mudahnya William diajar ketika aku melihatnya berjalan menuju beberapa anak muda yang mendekat, jelas ingin berbicara dengannya.  Hubungan ini
 penting, dan mungkin hal terpenting yang pernah terjadi pada kami.  Aku juga tahu itu membuat para penjaga dilatih dan berada dalam posisi akan semakin menjadi penting setiap hari.
 Aku kemudian mengalihkan perhatianku pada krisis yang sedang kami hadapi— makanan dan air.  Semua pengintai telah datang kembali dengan laporan tidak menemukan apa-apa, dan sekarang terlalu gelap untuk mengirim mereka keluar lagi.  Semakin aku duduk memikirkannya, semakin banyak aku merasa ketakutan tentang menjadi pemimpin yang buruk bagi mereka turun ke atasku.  Ini adalah kebutuhan paling dasar yang dimiliki orang, dan aku telah membawa mereka ke suatu tempat dimana kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi.  Aku menjadi sedih karena aku telah mengecewakan mereka.
 
Saat aku melihat sekeliling, sebagian besar tertidur dengan cepat karena mereka sangat kelelahan. Mereka pasti sangat membutuhkan makanan dan air di pagi hari.  Aku juga lemah, tapi aku bahkan merasa lebih buruk karena merasa menjadi penyebabnya.  Untuk pertama kalinya sejak aku bergabung dengan grup ini, aku merasakan kembali kalau lebih baik melewati hutan belantara sendirian lagi.  Ketika aku sendirian, kesalahanku tidak akan mempengaruhi banyak orang.
 Aku tidak mengikuti prinsip paling dasar yang Elia katakan kepadaku — untuk tidak pernah jauh dari aliran air hidup.  Aku ingin tidur, terutama karena mengetahui bahwa hari berikutnya bisa menjadi hari yang sangat sulit, tapi aku tidak bisa tidur.  Aku ingin mendiskusikan situasinya dengan William, tetapi dia masih berbicara dengan beberapa dari mereka yang telah kami tugaskan sebagai penjaga.  Aku mulai berpikir bahwa tidak ada perasaan yang lebih kesepian selain menjadi seorang pemimpin dan perasaan bahwa kau  telah memimpin orang-orang yang berada di bawah tangung jawabmu dengan buruk.
 Aku memutuskan untuk bangun dan berjalan agak jauh dari perkemahan untuk berdoa.  Saat itulah aku melihat dia, berdiri di jalan setapak tepat di depanku.
(Bersambung ke BAB TIGA BELAS)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 30

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB DUA BELAS
PEMBELOKAN (1)

 Medan yang harus dilalui menjadi jauh semakin sulit.  Air hidup memang menyegarkan dan memberi energi, tapi kami telah melewati beberapa hari tanpa makanan padat.  Kami mencari pohon buah-buahan, tetapi tidak menemukan apapun.  Setelah kami melewati bukit yang sangat sulit, kami semua menjadi lemah.  Kami bahkan tidak dapat menemukan sungai untuk mendapat minum.  Saat kami duduk beristirahat, William datang duduk di sampingku.
 “Aku telah banyak memikirkan percakapan kita tentang kepemimpinan, dan seperti yang kukatakan, aku dengan senang hati membantu dengan cara apa pun yang aku bisa,” William menawarkan.
 “Adakah sesuatu yang spesifik, yang menurutmu dapat kaulakukan untuk membantu kami?”  aku bertanya.
 William melanjutkan, “Aku benar-benar peduli tentang orang-orang ini, dan aku mengaku bahwa aku sedikit protektif terhadap mereka ketika engkau muncul, tapi aku mulai mempercayaimu.  Namun, ada beberapa orang yang tidak dapat kupercaya.”
 “Silakan lanjutkan,” kataku.  “Aku pikir Engkau/kalian mengenal orang-orang ini jauh lebih baik daripada aku.”
 “Ada kelompok yang sudah terbentuk.  Sebagian besar adalah Engkau pasti menyadari bagaimana mereka tampak berbeda dari mereka yang lain dalam kelompok ini.  Aku pikir mereka punya agenda sendiri dan kupikir jika kita tidak segera menemukan air dan makanan, mereka akan memisahkan diri dan pergi.  Mereka bisa membawa banyak yang lain bersama mereka.”
 “Mengetahui ini dapat sangat membantu,” kataku.  “Apakah mereka telah menyebabkan masalah khusus?”
 “Satu-satunya masalah yang kupikir dapat mereka sebabkan sejauh ini adalah membuat beberapa yang lain tidak nyaman. Masalah yang disebabkan oleh orang-orang seperti itu hanya muncul ketika ada masalah nyata lainnya yang muncul.”  William berkata, menatapku dengan perhatian yang jelas dan serius.
 “Bagaimana kita bisa memperbaiki ini?”  tanyaku.
 “Aku sudah terbiasa berurusan dengan generasi yang lainnya, aku tidak tahu apakah aku bisa banyak membantu mereka yang muda-muda itu,” lanjut William.
 “Mereka penting bagi kita,” kataku.  “Kita mungkin ada di sini lebih untuk mereka daripada mereka di sini untuk kita.
 Menemukan solusi dan mengubah masalah menjadi solusi sangat penting bagi kita untuk padang gurun ini.  Jika ini adalah masalah besar, kita pun memiliki peluang yang besar.”
 “Tidakkah menurutmu beberapa situasi di sini hanya dimaksudkan sebagai suatu perangkap?”  tanya Andrew, petugas muda dari kapal, yang datang untuk duduk bersama kami.
 “Itu adalah pertanyaan yang bagus, dan aku setuju bahwa ada situasi-situasi di sini yang adalah perangkap yang dimaksudkan melakukan yang jahat.  Meski begitu, semua itu telah diijinkan agar kita bisa belajar mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.  Setiap perangkap itu mempunyai sesuatu yang penting untuk diajarkan kepada kita.  Andrew, apakah mereka juga seperti ini di kapal?” aku bertanya.
 “Ya, tetapi ketika kami memulai perjalanan ini, mereka tampaknya juga makin dekat dengan yang lain di kelompok ini.  Kemudian aku melihat mereka mulai menjauh lagi.  Seseorang tampaknya telah muncul sebagai pemimpin mereka, dan kupikir dia mungkin yang menjadi penyebabnya.”
 “Ayo kita kunjungi mereka,” kataku.
 Mereka yang adalah orang-orang dewasa muda dan remaja berselisih usia tidak jauh. Mereka berjumlah sekitar 24 orang.  Aku telah mengamati mereka dari jauh juga sebelumnya, dan salah satu dari mereka jelas menonjol sebagai pemimpin.  Saat aku melihat mereka sekarang, dia tampaknya sedan berbicara dengan orang-orang menyusun setengah lingkaran di hadapannya.  Yang lain berdiri di sekeliling belakangnya, tetapi semua mendengarkan apa yang dia katakan.
 Ketika aku mendekat dan menyapa mereka, mereka semua berpaling kepadaku dan mulai memperhatikanku, tetapi tidak dengan antusiasme yang tinggi.  Nyatanya, mereka bereaksi seolah-olah mereka mengira aku akan memarahi mereka.
 
“Kami membutuhkan bantuan kalian,” aku memulai.
 “Apa yang bisa kami bantu?”  sang pemimpin bertanya.
 “Kami membutuhkan penjaga terlatih dan terampil yang memiliki keberanian dan daya pengamatan,” jawabku.
 “Kami tidak terlatih atau tidak terampil menjadi penjaga,” kata salah satu dari mereka
 “Kalian mungkin belum dilatih, tetapi kalian memiliki kemampuan.  Kalian memiliki kepekaan dan suatu jenis keberanian yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan ini, ” kataku.
 
“Apa yang membuatmu berpikir demikian?”  si pemimpin menjawab.
 “Tak dapat tidak, aku perhatikan bahwa ketika singa menyerang kita, sebagian besar dari kalian tidak terlalu takut.  Kalian tidak menjadi lumpuh seperti yang lainnya.  Faktanya, kalian sepertinya siap bertarung, bahkan bersemangat menghadapi tantangan itu.  Aku mulai memperhatikan kalian saat itu, dan aku tidak mungkin tidak melihat betapa tajamnya kalian itu.”
 “Aku juga melihat betapa tertariknya kalian pada Mark dan bakatnya.  Itu karena banyak dari kalian memiliki karunia rohani yang sama.  Itu akan membangkitkan karunia kalian dalam perjalanan ini jika memang belum muncul.  Kalian tertarik pada hal-hal supranatural karena kalian memiliki panggilan dalam kehidupan supranatural, dan kalian dipersiapkan untuk itu untuk pertempuran terakhir yang juga merupakan sesuatu yang supranatural.  Banyak dari kalian akan disebut sebagai nabi. Dasar dari pelayanan kenabian adalah menjadi penjaga,” kataku.  “Kami membutuhkan penjaga, dan kalian membutuhkan pengalaman di bidang itu.”
 Hampir seluruh kelompok menjadi lebih tertarik, dan beberapa bahkan antusias.  Satu dari gadis-gadis itu tampak sangat tidak antusias, jadi aku bertanya apa yang dia pikirkan.
 “Kata orang tuaku, yang mengaku sebagai penjaga hampir semuanya pahit, orang-orang yang kritis, yang hanya menabur perpecahan dan perselisihan di antara satu sama lain,” katanya.  “Aku suka memberontak terhadap orang tuaku, jadi aku mulai mendengarkan beberapa dari mereka yang menyebut diri mereka sebagai para penjaga, dan aku bahkan membaca beberapa materi dari mereka.  Aku harus mengakui bahwa orang tuaku benar.  Mereka tampak negatif terhadap semua orang dan segala hal.  Aku tidak ingat pernah mendengar salah satu dari mereka mengatakan hal yang baik atau positif tentang siapa pun.  Jika kita menjadi seperti itu, aku tidak berpikir itu akan membawa kita ke gunung Tuhan,” katanya.
 “Itu adalah wawasan yang menarik dan penting,” aku menjawab, “Itu jenis kebijaksanaan kita perlukan.  Dia benar mengenai semangat kritis yang ada pada banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai penjaga.  Ada sejumlah alasan terkait hal itu, tetapi yang utama mungkin karena orang-orang yang memiliki karunia dan panggilan dalam bidang-bidang itu belum menempati tempatnya, sehingga orang lain yang tidak dipanggil untuk melakukannya yang kemudian mengisi kekosongan itu.
 “Siapa namamu?”  Aku bertanya pada gadis itu.
 “Alexis,” jawabnya.
 “Alexis, engkau jelas orang yang berkomitmen pada kebenaran dan kedalaman jika kau berniat mencari tahu apa yang orang tuamu katakan tentang grup ini.  Apa lagi yang kamu pelajari?”
 “Ada begitu banyak kepahitan dan semangat yang kritis dalam diri mereka sehingga itu merupakan racun rohani.  Itu menghancurkan dan tidak membangun.  Kupikir itu berakar pada hati yang tidak mengampuni, atau yang mengalami kekecewaan dan luka yang tidak pernah sembuh.”
 “Alexis, ini merupakan pandangan yang penting,” lanjutku.  “Ada perangkap unik yang dipasang untuk setiap kita semua yang ada di sini.  Menjadi terlalu kritis dan negatif adalah jebakan yang dipasang khusus untuk mereka yang sedang dipanggil untuk menjadi para penjaga dan nabi.  Mereka yang jatuh ke dalam jebakan itu akhirnya menabur ketakutan dan perpecahan, dan bukannya iman dan cinta bagi Tuhan dan bagi satu sama lain.  Racun ini bisa lebih mematikan dari gabungan semua guru palsu dan gembala palsu. Apa yang kuminta untuk kalian lakukan memang berbahaya, tapi kami membutuhkan kalian.”
 
“Tanpa melupakan peringatan yang Alexis berikan kepada kita, izinkan aku membagikan beberapa hal yang baik tentang panggilan di bidang ini.  Kita dipanggil untuk berjalan dengan iman, bukan ketakutan.  Kita harus bijak dan cukup cerdas untuk melihat jebakan, tetapi tujuan dasar kita adalah mencari jalan yang benar, bukan hanya mengetahui apa yang salah.  Untuk alasan ini, para penjagalah yang biasanya pertama kali melihat keajaiban dan kemuliaan.
 “Kita diubah menjadi sebagaimana yang kita lihat, dan jika kita hanya melihat dan belajar hanya mengenai  musuh kita (iblis) sepanjang waktu maka kita bisa mulai memiliki sifat dari musuh kita itu. Para penjaga dalam Alkitab juga dipanggil untuk memperhatikan kedatangan Sang Raja atau para utusan-Nya, untuk memperingatkan orang-orang supaya mereka bisa menyiapkan suatu penerimaan yang semestinya.”
 “Memang benar orang-orang yang kritis jarang membangun apapun, mereka hanya merobohkan.  Yang semacam itu mungkin menjadi batu-batu sandungan, tetapi mereka tidak akan ada begitu banyak jika mereka yang sejati dipanggil bangkit dan mengambil tempat mereka sebagai penjaga bagi Tubuh Kristus.  Kami membutuhkan kalian yang terpanggil untuk ini menempati posisi kalian dan belajar melakukannya dengan cara yang benar.”
 “Bukan hal kecil yang aku minta dari kalian.  Ada banyak bahaya yang terlibat.  Kalian akan berada di barisan depan, dan bila ada bahaya kalian akan menjadi yang pertama yang menghadapinya.  Ini akan membutuhkan banyak keberanian, dan itu akan membutuhkan kebijaksanaan dan ketajaman.  Meskipun beberapa dari kalian masih sangat muda, kalian akan melakukannya akan cepat menjadi dewasa dengan melakukan tugas ini.”
 
“Siapa namamu?”  Aku bertanya pada tampaknya menjadi pemimpin mereka itu.  
“Namaku Charlie”.
 
“Apakah Engkau/kalian keberatan jika aku memanggilmu Charles?”
 “Tidak.  Aku tidak keberatan.”
 “Charles, maukah engkau bertindak sebagai pemimpin dari para penjaga ini?”  aku bertanya.
 “Aku siap, tapi mengapa aku?”  tanyanya.
 “Karena dirimu seorang pemimpin, dan engkau telah menjadi dewasa melampaui usiamu.  Aku juga berpikir engkau cukup peduli pada orang-orang ini sehingga kau tidak akan meninggalkan mereka dan akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi mereka,” aku membalas.
 “Bagaimana engkau tahu begitu banyak tentang aku?”  Charles bertanya.
 “Tugasku adalah mengetahui siapa saja yang bersama kita,” jawabku.
 Setelah beberapa lama, Charles menjawab, “Aku akan membantu kalian mewujudkannya.  Aku bisa melihat bahwa menjadi penjaga yang terlatih harus bersikap kritis jika kita ingin berhasil melewati tempat ini.”
 “Semua penjaga sangat kritis, Charles, tapi pekerjaanmu akan lebih lagi,” tambahku.  “Engkau harus memperhatikan para penjaga.  Engkau juga bebas untuk datang kepadaku kapan saja untuk membicarakan apa pun yang menyangkut diri kalian.
 “Aku juga ingin mengenal kalian semua sedikit lebih baik.  Apakah kalian keberatan jika aku menanyakan beberapa
 pertanyaan?”  aku melanjutkan.
 “Tidak,” kata beberapa dari mereka.
 “Apa alasan kalian ikut dalam perjalanan ini dan meninggalkan kenyamanan yang begitu mewah di dalam kapal?”  aku memulai.
 Alasan mereka beragam, tetapi benang merahnya adalah kebosanan.  Mereka membutuhkan petualangan. Beberapa ingin mengenal Tuhan lebih baik.  Mereka berkata bahwa mereka baru saja mendengar tentang Dia di kapal itu, tetapi mereka tidak mengalami Dia.  Kedalaman dan ketulusan dari sebagian besar jawaban mereka sangat membesarkan hati, bahkan untuk William dan Andrew yang tampak jelas terkesan.
(Bersambung ke Bagian 30)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 29

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB SEBELAS
ALASAN (3)

“Sebagaimana Mark dapat meneguhkannya, dalam pengalaman kenabian ada tingkatan-tingkatan. Ada penglihatan yang begitu samar karena engkau melihatnya dengan mata hati yang begitu lembut sehingga engkau bertanya-tanya apakah itu berasal dari imajinasimu sendiri. Lalu ada pula yang seperti menonton layar bioskop.
 Begitu pula, aku merasa Dia datang dengan kelembutan yang sangat halus, tampaknya hanya untuk menghibur aku atau memberi aku kedamaian.  Kemudian aku merasakan kehadiran-Nya seperti api nuklir.  Itu begitu membakar sehingga aku berpikir tidak akan bisa hidup lebih lama di dalamnya.”
 “Ketika aku mengalami Dia sebagai api yang membara, itu bukanlah kemarahan-Nya, tetapi kesucian-Nya. Kita diberitahu dalam bahasa Ibrani bahwa Dia adalah api yang menghanguskan.  Itu menyakitkan, tapi baik apabila mengalaminya.  Itu menyakitkan sekaligus luar biasa melampaui yang dapat digambarkan.  Aku harus memohon kepada-Nya untuk meninggalkan aku saat itu karena terlalu banyak yang harus kutanggung di satu momen itu.  Aku masih terlalu duniawi untuk tinggal lama di hadirat-Nya tanpa dihancurkan olehnya.”
 “Apakah pengalamanmu melihat-Nya dalam mimpi dan penglihatan seperti itu?”  tanya Mark.
 “Beberapa memang begitu sampai taraf tertentu, tetapi semuanya berbeda.  Beberapa mimpi lembut dan halus, dan beberapa di antaranya begitu nyata sehingga aku masih mengingatnya seolah-olah itu adalah pengalaman yang sebenarnya dan bukan dalam mimpi.”
 “Pengalaman yang aku miliki di atas gunung, dan selama di gunung, sangat berdampak bagiku.  Satu pengalaman pada saat di puncak gunung adalah sepenuhnya mulia, indah, dan perasaan cinta serta kesatuan yang tidak pernah kualami sebelumnya. Ketika kalian sampai di sana, itu akan membuat semua pertempuran dan masalah dalam perjalanan ini tampaknya tidak penting.”
 “Pengalaman yang aku alami di gunung ketika aku menyaksikan penyaliban-Nya bahkan mungkin lebih berdampak lagi, tapi itu juga salah satu pengalaman paling menyakitkan dan tersulit yang pernah aku alami.  Bahkan meskipun aku tahu Dia sekarang telah bangkit dan duduk di atas segalanya, aku berduka selama berhari-hari seolah-olah aku pernah berada di sana, di penyaliban-Nya yang sebenarnya.  Aku masih heran bahwa para murid yang ada di sana, dan ibu-Nya, bisa kuat melihat semua ini.  Aku tahu mereka jauh lebih kuat dari aku. “
 “Jadi kita semua bisa melihat kemuliaan-Nya?”  beberapa bertanya sekaligus.
 
“Ya.  Kalian semua akan melihat kemuliaan-Nya, jika kita tetap berada di jalan ini.  Kita akan pergi ke gunung Tuhan.  Bahkan dengan semua pertempuran dan konflik yang harus kita hadapi, tidak ada tempat lain yang seperti itu karena hadirat-Nya di sana.  Berjuang untuk kebenaran dan tujuan terbesar memang menginspirasi, tetapi ini pun tidak bisa dibandingkan dengan berjuang bagi Yang kalian kasihi. Upah terbesar yang dapat kita terima adalah berada dekat dengan-Nya. Itulah mengapa bahkan para rasul memperdebatkan siapa yang paling dekat dengan-Nya.  Mereka tidak ingin posisi itu hanya untuk otoritas atau kemasyhuran, tetapi supaya menjadi sedekat mungkin dengan-Nya.  Ini mungkin egois, tapi tidak berpusat pada diri sendiri.  Ada perbedaan di antara keduanya.”
 “Tidak salah untuk berusaha menjadi hebat atau melakukan hal-hal besar bagi-Nya, itulah sebabnya kebanyakan orang memulai perjalanan ini.  Tetapi begitu kalian mengalami kehadiran-Nya secara nyata, begitu kalian melihat-Nya, segalanya berubah menjadi tentang melayani Dia karena Dia layak dilayani, bukan lagi demi apa yang kita bisa dapatkan. Namun, kita menerima lebih dari yang dapat kita impikan.  Untuk membawa sukacita bagi-Nya sesaat itu layak walaupun berkali-kali menderita seumur hidup hidup kita.  Ketika kalian melihat Dia, kalian akan memahami ini.”
 “Ada bobot dalam perkataanmu yang hanya bisa datang karena engkau telah pernah bersama-Nya,” Mark menjawab.
“Itu cara yang menarik untuk mengatakannya, Mark.  Urapan digambarkan sebagai beban yang berasal dari kemuliaan-Nya.  Firman berkata bahwa segala sesuatu disatukan oleh-Nya.  Berat adalah gravitasi, dan gravitasi adalah yang menyatukan semua hal bersama-sama.  Ada bobot untuk kemuliaan, dan semakin banyak kemuliaan yang kaualami, semakin besar bobot kata-katamu.”
 “Seperti yang kalian akan lihat, satu momen saja di hadapan-Nya akan membuat semua pertempuran di padang gurun ini layak dijalani berkali-kali lagi.  Ini akan mendesak kalian untuk terus menjalani banyak pertempuran di masa depan.  Meski begitu, kalian dipanggil untuk lebih dari sekadar mengalami pertempuran.  Kalian tidak hanya akan melihat kemuliaan-Nya, tetapi kalian dipanggil untuk tinggal di hadirat-Nya dan untuk menyatakan kemuliaan-Nya di bumi.  Kalian dipanggil untuk membawa kemuliaan Tuhan seperti para imam membawa Tabut Kehadiran-Nya. “
 
Pada saat ini, anggota kelompok lainnya telah berkumpul dan mendengarkan.  Saat aku melihat mereka, aku tidak bisa tidak mempertimbangkan betapa tidak mengesankannya kebanyakan dari penampilan alami mereka, namun mereka semua bisa menjadi beberapa jiwa terbesar yang pernah hidup di bumi.
 “Adalah panggilan kalian untuk membawa kemuliaan Tuhan pada di masa kegelapan terbesar.  Terlepas dari betapa gelapnya yang akan terjadi, kita tahu bahwa kemuliaan akan menang.  Ada tertulis, ‘bangsa-bangsa akan datang kegemilangan kebangkitanmu.’ Aku mungkin akan berbagi lebih banyak nanti tentang pengalamanku sendiri, tapi aku di sini untuk membantumu bersiap bagi pengalaman-pengalaman kalian,” lanjutku.
 “Elizabeth Barrett Browning pernah menulis bahwa ‘Bumi dipenuhi dengan surga, dan setiap semak biasa terbakar karena Tuhan;  tetapi hanya dia yang dapat melihat itu yang akan melepas kasutnya — sisanya duduk di sekelilingnya dan memetik buah beri.’ Kita di sini supaya mata kita terbuka dan melihat.  Kalian akan melihat kemuliaan-Nya dan mengetahui kehadiran-Nya secara nyata, tetapi kemuliaan-Nya ada di sekitar kita sekarang, dan Dia bersama kita sekarang.
 Kita di sini bukan untuk mencari Dia, tapi untuk melihat kepada Dia.  Dia tidak ada dalam ciptaan karena Dia adalah Pencipta dari ciptaan-ciptaan itu, tetapi semua ciptaan menyatakan Dia, dan kita dapat melihat Dia dalam segala hal ketika kita belajar untuk melihat.
 Jon Amos Comenius mengatakan bahwa alam adalah kitab kedua Tuhan.  Ini mungkin benar, tapi Dia punya kitab yang lain juga.  Melihat Dia lebih dari sekedar melihat Dia dalam ciptaan adalah melihat Dia di dalam setiap pengalaman. Itu juga dalam hal melihat Dia di dalam satu sama lain.  Semua orang di sini adalah surat dari Tuhan untuk satu sama lain di sini.  Itulah sebabnya tujuan kita bukan hanya mendengar firman Tuhan, tapi mendengar Sang Firman Itu Sendiri saat Dia berbicara kepada kita melalui siapapun atau apapun yang Dia pilih.
 “Yesus adalah Firman.  Dia adalah komunikasi Tuhan dengan ciptaan-Nya.  Jika kita cukup sensitif, kita akan tahu bahwa ada komunikasi di antara semua makhluk hidup.  Saat kita datang tinggal di dalam Dia kita akan mulai mengetahui komunikasi ini. Lebih penting daripada mendengarkan ciptaan adalah mendengar Sang Pencipta berbicara kepada kita.  Dia berkata dalam Yohanes 10 bahwa domba-domba-Nya mendengarkan suara-Nya, dan mereka mengikuti-Nya karena mereka mendengar suara-Nya.
 “Tujuan kita adalah untuk melihat Dia, mendengar Dia, dan merasakan Dia.  Kekasih yang hebat bisa merasakan kehadiran orang yang mereka cintai ketika mereka mendekat, terlepas dari apakah mereka dapat melihat atau mendengar mereka.  Cinta juga merupakan gravitasi rohani.  Ini adalah gaya tarik yang lebih besar dari gravitasi karena Tuhan adalah kasih.  Cinta antara manusia bisa menjadi luar biasa, tetapi tidak ada cinta yang lebih besar dari cinta Tuhan, dan dari membalas untuk mencintai Tuhan.  Inilah sebabnya mengapa tidak ada orang di dunia ini yang lebih menarik daripada orang yang semakin dekat dengan Tuhan.”
 “Yesus adalah keinginan sejati setiap hati manusia.  Ketika Dia ditinggikan semua orang akan ditarik kepada-Nya. Sudah terlalu lama kita mencoba meninggikan hal-hal tentang Tuhan daripada meninggikan Tuhan atas segala sesuatu.  Kita terkadang telah meninggikan kebenaran tentang Dia melampaui diri-Nya sendiri.  Mereka yang akan tampil akan meninggikan Dia, dan mereka akan membawa kemuliaan-Nya sehingga Dia dapat dilihat semua orang.  Kalian bisa menjadi orang-orang itu.”
 “Pertanyaan paling umum yang dimiliki orang adalahtentang tujuan hidup mereka.  Jawabannya adalah kita di sini untuk melihat Dia, mengenal Dia, mencintai Dia, menjadi seperti Dia, dan untuk menyatakan Dia.  Jika kita melakukannya kita akan menggenapi tujuan terbesar yang dapat dimiliki seseorang di bumi.  Jika kita melakukan ini kita akan menjadi manusia paling sukses yang pernah hidup di bumi. Mereka yang melakukan ini akan dirayakan oleh seluruh bumi karena mereka akan memiliki kekuatan untuk membantu memulihkan bumi seperti semula saat diciptakan.  Inilah mengapa dikatakan seluruh ciptaan mengeluh dan merasa sakit bersalin menunggu manifestasi dari anak-anak Allah.”
 
“Dia adalah Kebenaran.  Dia adalah ALASAN yang paling mulia.  Kita tidak melakukan ini hanya untuk mengejar hal-hal yang ideal, tetapi kita sedang dipersiapkan untuk melayani Raja yang mendefinisikan semua kebenaran, kemuliaan, dan semua yang baik.  Tidak ada yang pantas menerima pengabdian dan pengorbanan kita.  Tidak ada ALASAN YANG LEBIH BESAR dari yang ada pada-Nya, dan tidak ada petualangan yang lebih besar dari jalur yang kalian semua tempuh.
 
“Dan kita baru saja memulainya.”
(Bersambung ke BAB DUA BELAS)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 28

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB SEBELAS
ALASAN (2)

 “Kau pernah mengatakan bahwa dirimu merasa canggung dalam hubungan-hubungan yang bersifat pribadi.  Itulah akar dari rasa malu itu, tapi menurut aku ketidaknyamananmu bukanlah tipe karena kurangnya kepercayaan diri,” William mengamati.  “Kupikir beberapa di antara kita ini telah menjadi pemimpin ribuan orang dan sekarang bersama kelompok kecil lagi. Aku telah mengamati bahwa mereka yang merasa nyaman berbicara kepada banyak orang sering kali malu berbicara dalam kelompok kecil.  Mereka yang mungkin merasa tidak nyaman berbicara dengan kelompok besar dapat merasa nyaman dalam kelompok kecil.  Itu adalah karunia yang berbeda.”
 “Aku tahu itu memang benar.  Aku sangat nyaman berbicara dengan kelompok besar, dan merasa canggung dalam kelompok kecil, tetapi aku lebih menikmati kelompok kecil bahkan jika aku merasa lebih tidak nyaman dengan mereka.”
 
“Aku juga telah mengamatimu bersama Elia.  Ketika kami mengetahui siapa dia, kami semua diam dan merasa terintimidasi, kecuali mungkin Mary.  Bahkan Mark sedikit mengintimidasi kami ketika kami melihat karunianya.  Tapi dirimu tampaknya merasa cukup nyaman bahkan dengan Elia, ”lanjut William.  “Sebanyak-banyaknya aku pernah telah berada di sekitar orang-orang yang berkuasa, aku harus mengakui bahwa aku masih memiliki perasaan segan terhadap mereka. ”
 “Aku telah mengenal banyak orang yang sukses dan berkuasa dari banyak bidang, jadi aku terbiasa berada di sekitar orang yang berpengaruh besar, tetapi kupikir ada hal lain yang membantuku untuk tidak takut pada orang lain.  Aku telah telah melihat Sang Raja sendiri, dan sulit kemudian untuk terkesan akan siapa pun ketika engkau telah melihat-Nya,” jawabku.
 “Aku rasa engaku ini rendah hati.  Kupikir engkau rendah hati dalam suatu cara yang baik yang membuatmu mencari Tuhan dan bergantung pada-Nya, ” lanjut William. 
“Kuharap kau benar.  Bagaimana bisa orang melihat Sang Raja dan tidak merasa rendah?  Aku bertanya-tanya apakah kurangnya rasa seganku pada orang lain hanya sekedar suatu kesombongan, dan aku melihat banyak kesombongan dalam hidupku sehingga aku tidak ingin menunjukkan itu.  Tetapi aku dengan tulus ingin memiliki jenis kerendahan hati yang berkenan di hadapan Tuhan.  Aku tahu aku membutuhkan kasih karunia-Nya, dan aku pikir kasih karunia-Nya yang memungkinkan aku untuk melihat-Nya
 sebanyak yang aku pernah kualami.”
 “Merupakan keuntungan besar telah melihat kemuliaan Tuhan.  Bagaimana aku bisa berpikir terlalu tinggi diri aku sendiri atau ingin perhatian orang lain padaku setelah aku melihat Dia?  Di hadapan Anak Domba bahkan dua puluh empat tua-tua melemparkan mahkota mereka di kaki-Nya.  Siapa yang bisa berpikir dirinya layak dimuliakan atau diperhatikan di hadapan hadirat-Nya?  Siapa yang bisa memikirkan tentang kepemimpinan di hadapan Raja dari segala raja?  Di hadapan-Nya tidak akan pernah ada kebanggaan.”
 “Aku juga telah melihat orang-orang yang besar di gunung itu.  Aku telah mempelajari hal-hal luar biasa dalam sejarah dan dalam Kitab Suci.  Kita masih harus menempuh jalan panjang untuk menyamai mereka yang telah mendahului kita, tapi tak lama lagi beberapa yang terbesar dari semuanya akan muncul dalam kematangan penuh dari semua yang telah mendahului mereka.  Beberapa dari mereka di kelompok kecil ini mungkin adalah orangnya.”
 “Apakah engkau diberitahu tentang ini atau ini berasal nubuatan dalam Alkitab?”  William bertanya.
 “Keduanya.  Tuhan telah menyimpan anggur terbaik-Nya untuk yang terakhir, untuk akhir zaman ini.  Bahkan jika kita berhasil berjalan dalam kepenuhan dari apa yang akan datang, untuk memikirkan tentang kemuliaan atau posisi setelah melihat Dia akan menjadi sesuatu yang lebih tidak pantas dari apapun yang dapat kupikirkan.  Seperti yang kukatakan, aku telah bertemu dengan banyak pemimpin besar dunia dan orang-orang sukses, dan aku mencoba memberikan kehormatan kepada siapa kehormatan itu berhak, tetapi sulit untuk terkesan dengan siapa pun setelah engkau melihat Sang Raja.  Bahkan lebih sulit lagi untuk terkesan dengan dirimu sendiri.
 “Aku juga ingin jujur mengenai kekurangan dan kesalahanku sendiri pada orang yang aku pimpin.  Kita harus membangun segalanya dalam persekutuan ini di atas kebenaran.  Apa yang aku bagikan tentang diriku adalah apa adanya.  Mungkin kurangnya harga diri atau merasa layak yang membuat aku ngeri ketika orang memberiku terlalu banyak perhatian, tapi juga perasaan bahwa mereka tidak akan melihat Tuhan jika mereka terlalu banyak melihat kepada diriku.  Aku mengerti bahwa ini mungkin wajar untuk sementara waktu, tetapi jika hal semacam itu terus berlanjut aku gagal pada hal utama dalam panggilanku— untuk memimpin orang kepada Raja.
 “Seorang pemimpin gerakan besar pernah mengatakan kepadaku bahwa aku tidak akan pernah menjadi pemimpin yang sukses karena aku tidak memiliki ‘bulu halus’ yang bisa menarik orang pada diriku.  Itu mungkin benar, tapi aku tidak ingin menarik orang kepadaku.  Itu sebenarnya adalah pemikiran yang mengerikan bagiku.  Tujuanku adalah untuk berhasil dalam pekerjaan yang telah diberikan kepadaku, dan tugas itu adalah mempersiapkan mereka bagi pengabdian pada Sang Raja dan untuk mengikut Dia.  Tujuan pribadiku adalah mendengar pada Hari Penghakiman yang agung itu, ‘Baik sekali perbuatanmu,  hamba yang baik dan setia.”
 “Aku tahu itu mungkin terdengar keras untuk diterima, tetapi ketika aku melihat Raja, aku tahu tidak ada panggilan yang lebih tinggi daripada ini — untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan dan untuk memimpin umat-Nya kepada-Nya.  Tidak ada sukacita dan kepuasan yang lebih besar dari ini. Aku kadang-kadang merasa sedih karena tekanan yang selalu datang karena berada pada posisi-poisis yang berada di luar kemampuanku, tetapi aku tahu betul bahwa ini adalah pekerjaan terhebat dari yang pernah dimiliki siapa pun juga.  Karena Dia menempatkan aku di sini, aku tahu Dia akan menyediakan apa yang aku butuhkan.  Aku juga telah belajar bahwa identitas dan nilai aku bukan pada posisiku di hadapan manusia, tetapi posisiku di dalam Dia.”
 “Jadi, engkau tidak pernah merasa terancam oleh mereka yang menginginkan posisimu?”
 “Aku meyakinkanmu bahwa aku mungkin akan memberikannya dengan begitu mudah jika itu adalah hakku untuk memberikannya.  Tetapi karena ini telah ditugaskan kepadaku, aku hanya bisa melepaskannya jika itu diperintahkan oleh Dia yang memberikannya kepadaku.  Jika aku melakukan tugasku ini dengan baik maka penyerahan tugas itu akan datang lebih cepat lagi, jadi aku akan bersukacita saat itu terjadi.”
 “Aku minta maaf untuk terus mendesakmu tentang ini, tetapi ini adalah jenis kepemimpinan yang sangat asing bagi seluruh pengalamanku sehingga aku tidak dapat berhenti memikirkannya. Aku melihat kebijaksanaan, kedamaian, dan ketenangan itu akan datang dari ini.  Aku melihat bagaimana jenis otoritas kerajaan yang berpusat pada Sang Raja ini bisa menjadi satu-satunya cara agar kuasa yang sejati bisa diberikan kepada orang yang tidak akan merusak otoritas itu, ” William berpendapat.
 “Jalan ini akan membuat kita semua menjadi rendah hati.  Jika engkau tetap di jalan ini maka selubung, topeng, kepura-puraan, dan ambisi egoismu akan diangkat.  Kemudian kita bisa melihat kemuliaan-Nya.  Saat kita melihat kemuliaan-Nya dengan wajah yang tidak terselubung, kita akan diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya.  Jika kita melihat Dia dengan selubung yang masih terpasang maka gambar-Nya akan terdistoris (rusak), dan kita malah akan mencoba mengubah Dia seturut gambar kita.  Jalan ini untuk mempersiapkan kita untuk melihat kemuliaan-Nya dengan tanpa penutup apapun.”
 Aku merasakan suatu kehadiran dan berpaling untuk melihat Maria, Mark, dan sejumlah lainnya berdiri di dekatnya mendengarkan.
 “Silakan bergabung dengan kami,” kataku.
 “Ceritakan lebih banyak tentang melihat kemuliaan-Nya,” kata Maria yang lebih tua.
 
“Dengan senang hati,” aku memulai.  “Ini adalah kenang-kenanganku yang paling luar biasa, dan aku senang menceritakannya. Aku telah melihat Tuhan dua kali secara langsung.  Aku telah melihat Dia berkali-kali dalam mimpi dan penglihatan, tetapi melihat Dia secara pribadi itu berbeda.”
 “Apa bedanya?”  Mary yang lebih tua bertanya.
 “Ini seperti perbedaan antara menonton seseorang di sebuah film dan melihat mereka secara langsung.  Kalian melihat mereka berakting di film, tetapi kalian tidak benar-benar ada di hadapan mereka. Meskipun aku telah melihat Tuhan dua kali dengan mata jasmaniku, kalian tidak harus melihat Dia dengan mata kalian jika mata rohani kalian telah terbuka.  Bahkan ketika Dia tidak dapat terlihat dengan mata alami kita, berada di hadirat-Nya yang nyata adalah pengalaman terbesar yang kita bisa alami.  Tidak ada hal lain di dunia ini yang dapat memuaskan kalian seperti berada di hadapan hadirat Tuhan secara nyata.  Karena kita diciptakan untuk bersekutu dengan Tuhan, ini adalah kerinduan yang terdalam di hati manusia, dan tidak ada hal lain yang bisa dibandingkan dengannya.”
 “Aku rasa aku sudah merasakannya, tetapi tidak seperti yang kaugambarkan,” lanjut Mary yang lebih tua.  “Aku  ingin merasakannya.  Kadang-kadang aku berpikir bahwa jika aku bisa melihat Tuhan atau malaikat, maka aku tidak akan punya banyak pertanyaan.”
 
“Mary, itu mungkin benar, tetapi kupikir Dia ingin engkau memiliki pertanyaan itu.  Aku berpikir kalian dipanggil untuk mengetahui hal-hal yang dalam dari Tuhan, dan Dia telah menempatkan di dalam kalian suatu hati yang mencari, yang tidak akan menerima jawaban yang dangkal.
 “Aku tidak berpikir hal-hal yang aku alami terjadi karena aku ini istimewa.  Aku beranggapan apa pun yang aku alami dapat diterima oleh siapa saja yang cukup menginginkan semua itu dengan mencari-Nya.  Aku mulai meminta pengalaman ini ketika aku masih menjadi seorang Kristen baru.  Ketika aku membaca tentang semua itu dalam Kitab Suci, aku sangat merindukan mereka sehingga aku tidak bisa tidak untuk memohonkannya pada Tuhan.  Aku melakukan ini selama bertahun-tahun sebelum hal itu mulai terjadi, tetapi itu semua layak untuk ditunggu.  Tidak harus bertahun-tahun untukmu, tetapi kamu harus cukup menginginkan ini untuk mencari, untuk mengetuk pintu-Nya, dan untuk mengejar-Nya tanpa putus asa.”
 “Apakah kau yakin ini tidak terjadi padamu karena engkau memiliki panggilan khusus?”  Mary yang lebih muda menyela menyela.
 “Beberapa di antaranya mungkin karena itu, tetapi aku juga tahu ini adalah sesuatu yang dapat kauinginkan, kejar, dan terima. 
Tuhan menginginkan hubungan yang paling intim dengan semua orang, tetapi Dia hanya akan mendekat kepada mereka yang cukup menginginkan Dia sehingga mendekat kepada-Nya.”
(Bersambung ke Bagian 29)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 26

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB SEPULUH
PARA PENCARI (4)

“Mengapa gereja tidak memimpin umatnya ke sini?  Gereja perlu mengubah pesan yang dikhotbahkan kepada mereka juga.  Memang benar aku belum melihat banyak, tetapi aku telah mengunjungi cukup banyak gereja.  Tidak satupun di dalam mereka aku menemukan kenyataan seperti yang aku temukan di sini.  Bagaimana mereka bisa terus berkembang begitu besar sementara terlalu dangkal?” yang lain bertanya.
 “Aku telah membaca dan mendengarkan beberapa pengkhotbah besar beberapa dekade yang lalu.  Hari ini, kalian tidak akan mendengar jenis pesan-pesan mulia yang mereka khotbahkan dulu.  Secara umum, kita sepertinya semakin dangkal dan makin dangkal saja,” komentar yang lain.
 “Itu mungkin benar, tapi kembali pada beberapa bulan sebelum kalian mulai berkumpul sebagai Komunitas Bonhoeffer.  Ketika kalian pertama kali mulai berkumpul, kalian sedang mengambil langkah pertama kalian ke  gunung itu dan bahkan tidak menyadari hal itu.  Di seluruh tubuh Kristus sekarang ini ada banyak jalan cabang yang kecil yang yang mulai ditemukan orang yang akan membawa mereka ke sini, sama seperti kalian yang dituntun ke sini.”
 “Kalian mungkin berada di depan mereka saat ini, tapi itu agar kalian bisa menjadi para pelayan yang dapat menolong mereka.”
 “Meskipun kalian mungkin belum menemukannya dari pengalaman terbatas kalian dalam tubuh Kristus, ada gereja-gereja besar yang menjadi pintu gerbang kerajaan, mempersiapkan umatnya menuju jalan ini.  Mereka akan segera menemukannya, dan mereka akan menjadi bagian dari pertempuran terakhir.”
 “Tetapi kalian benar, sebagian besar dunia gereja lebih melalui teknik-teknik periklanan modern daripada dengan substansi dan kausa Kerajaan.  Hampir semua orang sekarang, termasuk orang Kristen, telah dikondisikan untuk menanggapi lebih banyak publisitas yang berlebihan daripada menanggapi kebenaran.  Engkau bisa membangun  gereja terbesar dan pelayanan terbesar dengan pemasaran yang baik, tetapi apakah Tuhan ada di dalamnya? Dapatkah kalian menemukan Dia di sana?
 “Tuhan akan memberkati banyak hal yang tidak akan Dia diami.  Dia bahkan akan mengunjungi atau melawat tempat-tempat yang Dia tidak mau menghuninya.  Tetapi di manakah tempat itu, yaitu orang-orang, dimana Dia akan berdiam?”
 “Sangat menarik bahwa engkau mengatakannya seperti itu,” jawab William.  “Ini membuatku sangat bingung mengenai ibadah yang kami hadiri di kapal.  Aku jarang merasa ditarik pada Tuhan dan jarang merasakan Tuhan dalam pertemuan-pertemuan itu.  Aku merasakannya sesekali, tetapi itu jarang terjadi. Aku terus hadir, berharap aku akan merasakan Dia lagi, tetapi dalam sebagian besar waktu, aku hanya merasakan orang-orang  tertarik pada prinsip-prinsip.  Bahkan ketika pesannya bagus, aku jarang merasa ditarik Tuhan dalam pertemuan itu.  Aku merasa lebih terdorong untuk mempelajari asas.  Aku tahu prinsip bisa jadi penting, tapi ini tidak terlalu memuaskan jiwaku.
 “Aku sudah mempertimbangkan untuk meninggalkan kapal saat aku bertemu dengan kelompok kecil di Komunitas Bonhoeffer itu.  Meskipun aku tidak punya tempat lain untuk pergi, aku tidak tahan lagi menyia-nyiakan waktuku di kapal itu, sampai aku bertemu para pencari tersebut.  Aku segera mengetahui bahwa api di dalamnya benar-benar dipicu karena mengetahui tentang jalan ini dan memutuskan untuk menemukannya dan menjalankannya.  Sekarang kita di sini.  Mereka melakukan apa yang mereka katakan akan lakukan, dan itu jauh lebih baik dari yang pernah aku duga.”
 “Apa yang ada dalam hatimu, apa yang kamu cari, adalah apa yang untuknya manusia diciptakan — persekutuan dengan Tuhan sendiri. Kita diciptakan untuk menjadi tempat tinggal-Nya.  Kita tidak akan pernah merasa damai atau puas sampai kita tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita.”
 “Kristus lahir di kandang.  Dia masih dilahirkan di kandang— yiatu di hati beberapa dari yang paling rendah hati, di tempat yang tidak semestinya.  Sama seperti dengan kelahiran-Nya di Betlehem, kalian masih membutuhkan penyingkapan untuk menemukan Dia. Aku meyakinkan kalian bahwa ada banyak tempat yang kecil, tersembunyi, dan biasanya sangat sederhana tempat kalian dapat menemukan Dia, tempat di mana Dia berdiam.  Disitulah sebagian besar utusan penuh kuasa yang akan memimpin umat-Nya kepada-Nya sedang dipersiapkan.
 “Memahami hal ini memang penting, tetapi kita juga harus ingat bahwa Tuhan juga berdiam di dalam salah satu bait paling megah yang pernah dibangun, di mana semuanya dilapisi dengan emas murni. Dia cukup besar dan bisa berada di keduanya.  Bisakah kita memiliki visi yang cukup besar untuk melihat-Nya dalam keduanya? ”
 “Engkau mencoba membuat kami melihat-Nya di segala tempat,” komentar William.
 “Itulah yang harus kita lakukan.  Kita tidak bisa hanya melihat orang atau lembaga di mana mereka berada, tapi di mana mereka telah dipanggil.  Kemudian kita harus membantu membawa mereka ke sana.  Untuk melihat Tuhan, kita terkadang harus memiliki penglihatan yang Simeon dan Hana lakukan, mampu melihat keselamatan dunia dalam diri seorang bayi semata. Kita sering kehilangan Dia karena kita mencari-Nya sebagaimana gambaran yang kita harapkan, daripada sebagaimana adanya Dia.
 Inilah sebabnya mengapa kedua orang di jalan menuju Emaus tidak dapat mengenali-Nya ketika Dia mendekat pada mereka.  Dikatakan, ‘Dia menampakkan diri kepada mereka dalam bentuk yang berbeda.’ Kupikir alasan utama kita yang sering kehilangan Dia ketika Dia mencoba untuk mendekat kepada kita adalah karena kita mengharapkan Dia muncul dalam bentuk yang biasa kita lihat dan bayangkan. Dia datang dalam bentuk yang berbeda untuk membantu membebaskan kita dari prasangka dan opini kita.
 “Maaf jika aku bereaksi sedikit keras Jen, tapi kita tidak dapat mulai melihat jalan yang kita tempuh sekarang sebagai satu-satunya ‘Kekristenan sejati’. Orang-orang di jalan menuju Emaus pasti akan mengenali Yesus jika mereka mengenal Dia dalam Roh, bukan hanya berdasarkan penampilan-Nya.  Salah satu yang utama yang harus kita pelajari di alam liar ini adalah melihat lebih jauh, lebih dalam, dan lebih luas dari yang telah kita lihat sebelumnya, atau kita akan terus kehilangan Tuhan dan kesempatan besar yang Dia berikan untuk generasi ini.”
 “Tidak, ini membantu,” jawab Jen.  “Tidak diragukan lagi, aku mulai salah jalan dengan pemikiranku.  Jalan ini sangat kontras dengan seluruh pengalamanku sebelumnya sampai-sampai aku sudah menjadi sombong.”
 “Jen, menurut Amsal, kamu adalah orang yang bijak.  Tetaplah memiliki sikap untuk dapat dikoreksi ini, dan engkau akan tetap berada di jalan ini.  Kita tidak bisa mulai menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, atau kita akan jatuh.
Jika kita telah diberi lebih banyak kasih karunia, itu pun masih merupakan kasih karunia yang lebih besar lagi.  Dia memberikan kasih karunia-Nya kepada yang rendah hati dan menolak kesombongan. Kita dapat dengan cepat berpindah dari kasih karunia Tuhan ke penolakan Tuhan, jika kita melakukan hal yang demikian.”
 Sudah lama sekali sebelum ada yang mengatakan hal lain.  Aku tidak ingin berbicara terlalu banyak dan bertanya-tanya apakah aku memang telah terlalu banyak bicara.  Sangat menyegarkan bertemu dengan begitu banyak orang yang menarik dan lapar secara rohani.  William akhirnya berbicara dan menegaskan kepadaku bahwa aku mencoba untuk berbicara terlalu banyak:
 “Hari ini mungkin tidak semenarik beberapa hari lalu, seperti saat kita diserang singa, tapi rasanya seperti mencoba minum dari hidran air.  Aku telah mencoba membuat catatan tentang apa yang aku pelajari, dan aku tidak cukup cepat menuliskannya,” keluhnya, tetapi sambil tersenyum.
 “Aku minta maaf karena mencoba terlalu banyak bicara, tapi aku menyalahkan kalian semua untuk itu,” jawabku.  “Kalian terlalu menarik dan terlalu tertarik.”
 “Kami ingin mendengar lebih banyak,” Mary angkat bicara.
 “Aku ingin menambahkan satu pemikiran lagi tentang apa yang telah kita diskusikan,” lanjutku.
 “Gereja menyimpang dari jalurnya dalam sebagian besar zaman gereja.  Ini dimulai ketika umat Tuhan mulai menyembah bait suci Tuhan lebih dari Tuhan atas bait suci itu.  Beberapa mulai menyembah kebenaran individu lebih dari Sang Kebenaran itu sendiri.  Semua ini menyebabkan kapal karam yang besar yang darinya kita masih berusaha memulihkan diri.  Terlepas dari jenis gereja apa yang di dalamnya kita menjadi bagian, kita akan mengalami kecelakaan kapal jika kita mulai menghargai kelompok kita, gereja kita, sebagai sesuatu lebih penting daripada orang lain yang berbeda dari kita.
 “Jen, masih ingat diskusi kecil kita tentang bagaimana kebanyakan berita bukanlah kehidupan normal, tapi lebih merupakan pengecualian?  Kalian sekarang hidup dalam pengecualian.  Kalian membuat berita setiap hari di surga.  Ini adalah jalan menuju panggilan yang tinggi dari Tuhan di dalam Kristus.  Meski begitu, kita tidak bisa berpikir bahwa diri sebagai lebih baik atau lebih penting daripada orang lain, tetapi kita harus memandang diri kita sebagai pelayan bagi mereka yang mungkin tidak memiliki pengalaman kita ini.  Jika kita tidak melakukan ini, kita juga akan tersandung dan tersesat dari jalur kita.  Kita disiapkan untuk kembali dan membawa lebih banyak orang lain dan membawa mereka ke jalan ini.  Kita tidak akan bisa melakukan ini jika mereka merasakan kesombongan dalam diri kita.
 “Cara terbaik kita bisa membantu mereka yang terjebak dalam sesuatu yang kurang dari kita sekarang ini adalah dengan pergi ke gunung itu dan membantu membangun jalan raya yang dapat dilalui oleh mereka yang lain.  Ketika kalian kembali kepada mereka, kalian akan kembali dengan otoritas.  Kalian akan mewakili realitas yang lebih tinggi
 realitas, dari alam yang lain.  Banyak yang akan melihatnya dan akan datang bergabung.
 “Kalian hanyalah permulaan dari tuaian besar, suatu tuaian yang terbesar yang pernah ada.  Namun, cara tercepat bagi kita untuk menyimpang dari jalan raya yang sedang dibangun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan adalah dengan menjadi bangga atas kasih karunia yang telah diberikan pada kita.”
(Bersambung ke BAB SEBELAS)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 27

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB SEBELAS
ALASAN (1)

 “Engkau sering menggunakan istilah ‘gereja sejati’. Apakah ini menyiratkan bahwa ada gereja palsu?” William bertanya.
 “Ada gereja yang benar dan gereja palsu, keduanya dinubuatkan dalam Kitab Suci, dan keduanya ada di sekitar kita,” jawabku.  “Ada yang benar (sejati) dan salah (palsu) dalam hampir semua hal: rasul sejati dan palsu, nabi sejati dan palsu.  Kita bahkan diperingatkan mengenai ‘saudara-saudara yang palsu’.
Gandum dan lalang berbaur menjadi satu saat ini dan tidak akan dipisahkan sampai saat terakhir.  Belajar membedakan antara gandum dan lalang merupakan bagian dari kurikulum (bahan pelajaran) kita.  Belajar membedakan antara gereja yang sejati dan gereja yang palsu juga adalah bagian dari kurikulum kita.”
 “Bagaimana kita bisa membedakan gereja yang benar dari yang palsu?” tanya William.
 “Kau bisa menjawab pertanyaanmu sendiri. Kalian telah memilih, dan kalian mengikuti apa yang benar. Tidak banyak yang bisa membuat perbedaan ini sekarang, sebab jika tidak begitu pasti lebih banyak yang berada di jalan ini,” jawabku.
 “Sepertinya kemarin engkau menyiratkan bahwa semua gereja dan institusi dapat terhubung ke jalan ini dan ke gunung Tuhan.  Aku jadi agak bingung, ” kata William.
 “Benar demikian.  Gereja palsu sekarang ini memiliki banyak musafir sejati di dalamnya.  Saat ini mereka seperti Daud yang melayani rumah tangga Saul.  Mereka akan dianiaya dan diusir, tapi pengalaman ini akan menjadi salah satu peristiwa penting dalam kehidupan mereka yang akan membantu mempersiapkan mereka mengerjakan panggilan mereka.
 “Saat ini, gereja palsu lebih matang dalam menjadi apa yang menjadikannya palsu dari pada gereja yang benar  dalam menjadi seturut panggilannya.  Kepemimpinan yang akan datang masih belum matang seperti Daud ketika dia mulai melayani di rumah Saul.  Karena yang sejati masih belum matang maka sulit untuk membedakannya sekarang ini, tetapi kalian akan menemukannya di tempat-tempat seperti yang kalian temukan dalam Komunitas Bonheoffer ini.  Meski begitu, gandum dan lalang terlihat serupa sampai keduanya matang.  Hanya dengan begitu perbedaan mereka akhirnya benar-benar terlihat.”
 “Izinkan aku berbagi dengan kalian beberapa perbedaan lain antara yang sejati dan yang yang palsu.  Tujuan utama  gereja yang sejati adalah menjadi Bait Suci Tuhan, jadi hal utama yang harus kita cari dalam gereja adalah kehadiran atau hadirat Tuhan.  Ketika Tuhan ada di bait-Nya, tidak masalah seperti apa bait itu.  Jika Tuhan ada di dalam bait itu, bahkan bait suci yang paling megah pun tidak akan menjadi sesuatu yang menarik perhatian kalian.  Jika kemudian bait itu yang menjadi pusat perhatian maka itu hanya karena Tuhan tidak lagi ada di dalamnya.  Cara kita menemukan gereja yang sejati bukanlah dengan mencari gerejanya, tetapi mencari Tuhan, apakah Ia ada di dalamnya.
 “Tuhan akan memberkati banyak hal yang tidak Dia diami.  Mereka yang dewasa rohani telah belajar melihat melampaui apa yang mungkin telah Dia berkati untuk menemukan apa yang Dia diami.  Adalah satu hal  untuk berada dalam sebuah sidang jemaat di mana ada pengajaran, ibadah, dan pelayanan yang baik, tetapi merupakan hal yang lain ketika kalian merasakan Tuhan bergerak di antara orang-orang, di mana Dia menjadi fokus perhatian yang sesungguhnya.”
 “Banyak yang menyembah hal-hal yang dari Tuhan daripada Tuhan dari segala hal itu.  Beberapa menyembah kebenaran-Nya lebih dari Dia.  Beberapa bahkan menyembah penyembahan itu sendiri.  Kadangkala ini hanya merupakan suatu sikap ketidakdewasaan, tetapi ada perbedaan ketika pengajaran, khotbah, penyembahan, dan pelayanan itu sepenuhnya lahir dari hadirat-Nya.”

 “Demikian juga, jika pelayananku lebih mendapat perhatian daripada  Tuhan sendiri, aku harus menyadari bahwa aku telah menyimpang dari tujuan utamaku.  Aku telah belajar mengenai kesia-siaan dengan mencoba membangun sebuah pelayanan atau pengaruh, sekalipun itu untuk alasan yang baik.  Saat kita dewasa secara rohani, kita ingin membantu mempersiapkan jalan bagi Tuhan dengan membantu mempersiapkan umat-Nya bagi-Nya.  Jika aku hanya meningkatkan perhatian orang kepadaku, maka telah aku gagal dalam misi terpentingku.”
 “Aku mengerti apa yang kaukatakan,” jawab William.  “Elia adalah contoh dari apa yang kaukatakan.  Jika aku membayangkan seperti apa dia, aku yakin aku akan menyangka bahwa dia akan lebih mengesankan dari keadannya sekarang ini.  Kau bisa tahu bahwa dia tidak pernah mencoba menarik perhatian pada dirinya sendiri, tapi dia lebih suka menyembunyikan diri daripada terlihat.a  Ketika dia muncul, itu hanya untuk membantu kita di sepanjang jalan ini.  Kau mengenali itu, bukan?”  tanya William.
 “Kurasa begitu,” jawabku.  “Aku tidak merasa nyaman menjadi fokus perhatian. Aku akan lebih banyak memimpin dengan cara tersembunyi, dengan membantu mengarahkan orang menuju takdir mereka daripada muncul di depan, bahkan dalam kelompok kecil seperti ini. ”
 “Mengapa begitu?”  William menyelidiki.
 “Aku tidak begitu tahu.  Kepemimpinan semacam ini membebaniku.  Aku melakukan karena alasan kepatuhan, tapi itu tidak nyaman bagiku.”
 “Jika engkau tidak keberatan, aku ingin berbicara lebih banyak tentang kepemimpinanmu. Aku tahu kepemimpinan di Kerajaan seharusnya berbeda, tetapi kau lebih berbeda lagi dari yang aku harapkan.  Apakah kau  keberatan jika aku menanyakan beberapa pertanyaan pribadi, sebagai petunjuk bagi diriku sendiri? ”
 “Tidak.  Aku akan dengan senang hati menjawabnya, jika itu akan membantumu, tetapi aku tidak akan merasa diriku sendiri sebagai contoh yang baik dalam hal kepemimpinan Kerajaan.”
 “Apakah ketidaknyamananmu dengan kepemimpinan karena dirimu tidak merasa cukup layak untuk memimpin sebagaimana kau telah dipanggil? ”  tanya William.
 “Aku suka caramu bertanya yang langsung itu.  Jawabanku atas pertanyaanmu adalah bahwa perasaan tidak layak bisa saja menjadi sebab mengapa aku tidak merasa nyaman dengan peran ini, tetapi menurutku bukan itu.  Aku diberitahu bahwa merasa tidak mampu adalah hal yang baik dan jika aku telah mulai merasa mampu maka aku justru akan menjadi berbahaya, jadi aku menerimanya keadaan merasa tidak mampu itu, “jawabku.
 “Awalnya, aku menafsirkan kurang nyamannya dirimu dalam posisimu sebagai pemimpin itu karena kau tidak ingin bersama kami atau bahwa dirimu merasa terbebani oleh kami,” komentar William.  “Aku pikir beberapa orang dari kelompok mungkin merasakan seperti itu, kecuali mereka kau ajak bicara banyak kemarin.  Itu sangat menolong mereka, tidak hanya dengan apa yang kausampaikan pada mereka, tetapi karena kau memang sangat ingin berbicara dengan mereka.”
 “Aku minta maaf jika ada yang merasa bahwa aku tidak ingin bersama mereka.  Itu benar-benar kebalikan dari
 apa yang aku rasakan.  Semakin aku mengenal semua orang di grup ini, kalian menjadi semakin menarik bagiku. Aku sangat menikmati bersama kalian dan yang lainnya.  Percayalah, jauh lebih menyenangkan melewati hutan belantara ini dengan kalian daripada menjalaninya sendirian.
 
“Aku tahu, kadangkala, aku bisa menjadi orang yang canggung secara sosial.  Aku merasa sedikit terhibur dengan kenyataan bahwa Elia tampaknya lebih lagi seperti itu, tetapi hal itu juga bisa menjadi rahasia kekuatannya.  Dia telah belajar untuk bersandar pada Tuhan, menaruh seluruh kepercayaannya kepada-Nya. Aku ingin melakukan hal yang sama.  Berada dalam posisi kepemimpinan membuatku bersandar pada-Nya lebih dari pada apapun yang kutahu.  Jadi aku menerimanya meskipun aku tidak merasa nyaman dengan itu.”
 
“Aku telah belajar untuk menerima perasaan tidak mampu ini karena aku tahu itu sebenarnya adalah hasil dari keberadaanku yang memang tidak memadai untuk melakukan tugas ini.  Tidak ada orang yang mampu mengerjakan panggilan mereka tanpa pertolongan Tuhan.  Itulah mengapa kita diberi Penolong.  Merasa terus-menerus tidak mampu membuat dirimu belajar bersandar dan percaya kepada Tuhan, untuk terus mencari Dia.  Aku menerima ini sebagai kesempatan, tetapi aku tetap tidak menikmati berada dalam posisi kepemimpinan.”
 “Jadi, engkau tidak pernah ingin menjadi pemimpin?”
 “Aku pikir aku memang ingin menjadi pemimpin ketika aku masih muda.  Aku ingat membayangkan seperti apa rasanya menjadi pemimpin, dan seperti apa jika aku sebagai pemimpin.  Ketika itu menjadi kenyataan, aku tidak sebaik seperti yang aku bayangkan.  Sebagai seorang pemimpin, kesuksesanmu berlipat ganda, begitu pula halnya dengan kegagalanmu.  Aku telah mengalami beberapa keberhasilan yang jelas, tetapi aku juga mengalami beberapa kegagalan yang mencolok dalam  kepemimpinan.  Beberapa kegagalan dapat membuat dirimu kehilangan kepercayaan, tetapi itu akhirnya membuktikan bahwa merasa yakin pada diri sendiri adalah sesuatu salah dibandingkan kita menaruh percaya kepada Tuhan Tuhan.”
“Jadi bagimu, kepemimpinan adalah beban?
 
“Ya, tetapi jangan salah paham, aku tahu itu adalah kehormatan dan hak istimewa terbesar yang dapat kita miliki untuk menjadi pemimpin umat Tuhan.  Aku sangat berterima kasih atas kesempatan ini, tetapi pada saat yang sama, jangan berpikir kalau aku ini pandai dalam hal ini.”
 “Aku telah menjadi pemimpin dari ribuan orang, dan sekarang sepertinya aku telah diturunkan pangkatnya kembali memimpin beberapa lusin orang dari kalian, melewati padang gurun ini.  Aku tidak masalah dengan itu.  Aku pikir beberapa lusin orang di jalur ini bisa berdampak lebih besar daripada ribuan yang aku pimpin sebelumnya, jadi aku tahu aku benar-benar telah diberi promosi jabatan.”
 “Tetapi mengenai kepemimpinan, aku telah berada dalam suatu bentuk kepemimpinan hampir sepanjang kehidupanku sebagai orang dewasa, dan aku tidak pernah merasa lebih tidak nyaman dengan kepemimpinan daripada sekarang ini.  Ini adalah salib bagiku dan aku sungguh, terkadang rindu untuk berada dalam situasi dimana aku bisa mengikuti orang lain.  Sekarang ini, itu bukan merupakan bagian yang harus kulakukan, jadi aku ingin sedapat mungkin dengan setia tetap melakukan hal ini.”
(Bersambung ke Bagian 28)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER

JALAN (THE PATH) – BAGIAN 25

Oleh : Rick Joyner
(Diterjemahkan dari buku “The Path: Fire on the Mountain”)

BAB SEPULUH
PARA PENCARI (3)

“Aku sudah berada di alam liar ini untuk sementara waktu,” seorang wanita berusia akhir tiga puluhan atau awal empat puluhan memulai.  “Ini seperti hidup di dunia lain.  Sepertinya kita sudah mulai hidup dalam novel atau film petualangan yang paling ajaib, atau bahkan lebih baik lagi dari itu.  Sepertinya kita sedang dipersiapkan untuk hidup seperti dalam bentuk lain dari Kitab Kisah Para Rasul.  Apakah ini Kekristenan yang normal?  Inikah cara hidup seharusnya?”
 “Siapa namamu?”  Aku bertanya.
 “Jennifer, tapi kebanyakan memanggilku Jen.”
 “Aku akan menjawab pertanyaanmu dengan sebuah pertanyaan,” aku memulai.  “Apakah menurutmu yang kita lihat dalam pemberitaan tiap hari adalah cermin dari kehidupan nyata? “
 “Tidak.  Hanya kejadian atau orang-orang yang paling ekstrim atau tidak biasa yang menjadi berita.  Apa yang menjadi berita hanyalah sebagian kecil dari apa yang terjadi dalam satu hari, ”jawabnya, menatapku seolah-olah dia ingin tahu apa hubungannya ini dengan percakapan kita atau pertanyaannya.
 “Itu benar,” aku memulai.  “Berita dapat membantu kita tetap mendapat informasi tentang masalah dan peristiwa penting, tetapi itu bukan merupakan suatu kenyataan yang dialami kebanyakan orang.  Seperti itu pula acara-acara dan orang-orang yang menjadi pemberitaan di dunia Kristen dan televisi Kristen adalah mirip dalam banyak hal seperti berita.  Mereka mungkin luar biasa, tetapi mereka hanyalah sebagian kecil dari semua yang terjadi dalam Kekristenan.
 “Publikasi dan program Kristen berfokus pada gereja-gereja besar, misionaris hebat, misi yang luar biasa, artis dan musisi top, tetapi secara keseluruhan kupikir itu hanya kurang dari satu persen pekerjaan Kerajaan Allah yang sebenarnya.  Mayoritas gereja tidak tampil menonjol seperti itu, namun demikian mereka melakukan sebagian besar pekerjaan kerajaan dengan setia melalui berjalan sehari-hari bersama dengan Tuhan— bersaksi, mengajar, berdoa, menasihati, dan berusaha untuk membangun orang lain serta membantu mereka menemukan jalan mereka menuju Kerajaan.
 “Selama bertahun-tahun, aku bertanya di setiap pertemuan besar Kristen yang kuhadiri, mengenai berapa banyak yang datang kepada Tuhan melalui KKR, televisi Kristen, atau kampanye penginjilan.  Kurang dari dua persen dari mereka yang aku tanya datang kepada Tuhan melalui cara-cara ini.  Sisanya, lebih dari sembilan puluh delapan persen, telah datang kepada Tuhan melalui kesaksian seorang teman atau kerabat.  Jadi dimana pekerjaan Kerajaan yang sebenarnya yang sedang berlangsung?  Apakah melalui pelayanan dan acara-acara besar, atau melalui orang percaya yang setia berjalan setiap hari bersama Tuhan? “
 “Melalui orang-orang percaya yang setia, yang setia bersaksi setiap hari,” jawab Jen.  “Aku masih belum melihat hubungan antara ini dan pertanyaanku.  Apakah ini Kekristenan yang sebenarnya seperti yang dimaksudkan?”
 “Apa yang kalian alami di sini adalah kekristenan alkitabiah yang nyata.  Apa orang lain alami, yang mungkin jauh lebih lambat dan jauh lebih tidak spektakuler daripada di sini, juga bisa menjadi suatu pengalaman Kekristenan yang nyata.  Waktu yang kalian habiskan dalam apa yang sekarang tampak seperti kehidupan Kristen yang tidak nyata dan tidak penting sungguh membantu mempersiapkan kalian untuk berada di jalan yang kalian jalani sekarang ini. Aku telah berkeliling dunia dan di dunia kegerejaan sebanyak siapa pun yang kukenal, tetapi aku terus-menerus menghadapi gerakan dan arus besar dalam tubuh Kristus yang tidak pernah kuketahui ada.  Tubuh Kristus itu besar, dan bahkan mereka yang mungkin telah bepergian sejauh aku hanya melihat sebagian saja. Aku mulai melihat setiap ekspresi Kekristenan sebagai jalan yang memungkinkan bagi mereka yang mencari jalan ini ke kota Tuhan.”
 “Jika kita ingin melihat kebenaran dan berjalan di dalamnya, kita harus ingat bahwa kita hanya melihat sebagian dan tahu sebagian saja.  Apakah kalian ingat ketika orang-orang meletakkan teleskop Hubble di orbit?  Ini memungkinkan para astronom untuk melihat lebih jauh ke langit daripada yang pernah terlihat sebelumnya.  Mereka memfokuskan teleskop pada beberapa bintang dan melihat bahwa apa yang mereka pikir adalah sebuah bintang sebenarnya adalah sebuah galaksi dengan milyaran bintang.  Seketika, alam semesta terlihat berkali-kali lebih besar dari yang sebelumnya terpikirkan.  Alam semesta selalu sebesar itu, tapi kita tidak memiliki mata untuk melihatnya sampai kita memiliki Hubble untuk melihatnya.  Ketika kalian sampai di gunung, kalian akan memiliki pengalaman serupa, melihat seberapa besar dan betapa beragamnya tubuh Kristus.”
 “Itu menarik,” balas Jen, “tapi aku masih kesulitan menghubungkannya.”
 “Berada di jalur ini juga seperti itu.  Sulit, dan berbahaya, dan itu adalah tempat pewahyuan di mana visi dan hati kalian terus-menerus diperbesar dengan intensitas sedemikian rupa sehingga mudah untuk melihat segala sesuatu yang kurang sebagai sesuatu yang tidak nyata. Kita baru saja memulai berjalan di jalan ini, dan mudah untuk kemudian memikirkan bahwa semua yang kita lakukan sebelumnya sebagai sesuatu yang dangkal dan tidak penting jika dibandingkan dengan ini, tetapi itu semua masih merupakan satu bagian saja dari keseluruhannya.
 “Ini tidak berarti bahwa beberapa, dan mungkin sebagian besar orang, saat ini terperangkap dalam suatu bentuk Kekristenan yang tidak nyata.  Sebagaimana biologi mengajarkan bahwa apapun yang berhenti tumbuh mulai mengalami kematian, jika kita berada di jalan kehidupan, kita akan terus berkembang dan bertumbuh.”
 “Kupikir orang pertama yang melihat melalui Hubble pasti heran bagaimana carasnya membatasi visinya sebelumnya. Berjalan di sini adalah seperti melihat-lihat setiap hari dengan lensa yang kuat.  Di sini kalain mulai melihat segala sesuatu dari perspektif yang berbeda.  Lalu, saat kalian sampai ke gunung maka itu akan diperbesar berkali-kali lipat.  Semua ini telah ada di sini, dan kita bisa saja telah berjalan di jalur ini kapan saja, tetapi kita tidak melihat jalan ini sampai saat ini.”
 “Itulah yang aku rasakan setiap hari kita berada di jalan ini.  Menantang dan merendahkan hati, tapi terasa luar biasa.  Mengapa ada lebih banyak orang di kapal daripada di sini?” tanya  William
 “Seperti yang Tuhan firmankan, jalan ini sempit, dan hanya sedikit yang menemukannya.  Ketika kalian melihat kemewahan dan kemegahan kapal itu dan kemudian berada di jalan ini, sungguh mengherankan jika ada orang yang akan memilih jalan ini.  Kalian tidak akan pernah memilihnya kecuali mata rohani kalian mulai terbuka. Dalam pengertian tertentu, kita harus dibawa keluar dari kehidupan duniawi yang di bumi dan dibawa ke dalam orbit rohani, seperti Hubble, sebelum kita bisa melihatnya. Saat kita berjalan di jalan ini, bukan apa yang kita lihat di alam liar ini, tetapi apa yang terjadi di dalam diri kita yang sedang diperbesar.  Hati kita diperbesar, karena kita melihat lebih banyak setiap hari dengan mata hati kita.”
 “Jadi mengapa kita bisa tiba-tiba melihat dan yang lain di kapal tidak bisa?”  yang lain bertanya.
 “Kalian mulai meletakkan hati kalian pada hal-hal di atas daripada hal-hal di bumi ini.  Ini adalah apa yang mulai membuka mata hati kalian, mata roh kalian.”
 “Itukah artinya ‘Banyak yang dipanggil, tapi sedikit yang dipilih?'” sela William.
 “Ya. Setiap orang dipanggil, tetapi tidak banyak yang menanggapi panggilan tersebut.  Tidak banyak yang melanjutkan untuk menjadilkannya panggilan dan pilihan yang pasti.”
 “Aku telah mengalami lebih banyak kemewahan daripada yang pernah aku alami di kapal itu, dan aku tidak akan menukar apapun pengalaman di dunia untuk apa yang telah kuterima di jalan ini, ”tambah William.
 “Aku hidup kembali.  Nyatanya, aku sangat merasa hidup sekarang sehingga aku bertanya-tanya apakah aku pernah benar-benar hidup sebelumnya.  Aku hanya merasa ada sebelumnya.  Sekarang orang-orang ini bersama kita telah menjadi seperti bintang yang mereka fokuskan untuk melihatnya di Hubble.  Aku minta maaf, tapi sebelumnya aku hampir tidak menaruh perhatian sama sekali pada satu pun dari mereka, tetapi sekarang aku melihat lebih banyak di dalam mereka daripada yang pernah aku lihat pada orang-orang sebelumnya.  Ini seperti apa yang dilihat melalui Hubble — masing-masing orang adalah bintang karena yang sekarang kulihat adalah seluruh galaksi.”
 “Mata hatimu terbuka, William.  Bahkan yang paling kecil dari mereka ini dapat memimpin jutaan orang kepada Kerajaan.  Orang lain di sini mungkin tidak memimpin orang lainnya, tetapi memberikan visi ke seluruh bidang pengetahuan, seperti sains, membuka mata semua orang melalui hal-hal seperti biologi atau fisika, untuk melihat kepada Dia yang menciptakan semuanya itu.  Akan ada beberapa orang yang sekarang berada di jalan ini, atau yang akan segera datang, yang akan memberikan satu pesan saja dengan kuasa yang sedemikian rupa sehingga bangsa-bangsa diubahkan.”
 “Ini telah terjadi pada waktu yang berbeda dalam sejarah, tetapi dalam skala kecil.  Itu semua adalah benihnya, dan sekarang kita akan menuai.  Ada seorang penginjil di Amerika awal koloni yang disebut ‘Johnny Appleseed.’ Dia biasa mengatakan “kalian dapat menghitung biji dalam sebuah apel, tapi kalian tidak dapat menghitung apel dalam satu biji apel itu.”  Iman itu seperti benih itu.  
“Inilah intinya.  Kenyataannya adalah alam semesta itu selalu sebesar yang kita lihat sekarang ini, tapi kita tidak bisa melihatnya.  Realitas kita, pada satu waktu, sangat kecil sehingga kita memikirkan matahari dan bintang-bintang semuanya berputar mengelilingi bumi.  Sekarang kita mengetahui secara berbeda.  Sama seperti mata kita terbuka melihat dunia alamiah, kita juga sedang dibukakan luasnya dunia rohani.  Itu sebenarnya selalu ada, tetapi hanya sedikit yang melihatnya, dan sedikit yang hidup di dalam realitasnya.”
(Bersambung ke Bagian 26)
SERI THE PATH: FIRE ON THE MOUNTAIN BY RICK JOYNER